Senandung Rindu Dalam Doa

Senandung Rindu Dalam Doa
bab 10


__ADS_3

pov Ana


"assalamualaikum Mas"


" waalaikum salam, kamu belum tidur" tanya Adrian


" belum, sebentar lagi mungkin"


" aku akan pulang dalam 2 hari lagi, apa ada yang ingin kamu pesan" tanya Adrian


Deg...


tiba-tiba aku tercengang mendengar pertanyaan Adrian yang tidak biasanya.


"Ana" panggil Adrian


"i-iya, tidak perlu apa-apa Mas, makasih"


" apa kamu sehat? kamu baik-baik saja?"


tanya Adrian kembali


lagi...


hatiku seperti sedang lari maraton mendapatkan perhatian, tapi segera kutepis karena memang Adrian hanya akan melukai ku nantinya setelah aku tersanjung maka dia akan menjatuhkan seperti biasanya bukan.


" Alhamdulillah, aku baik-baik saja"


" kamu masih di rumah Oma?"


" enggak Mas, kemarin cuma 2 hari saja "


" ohh " desis Adrian


" tidak ingin mengatakan sesuatu padaku? " tanya Adrian


Deg,,, lagi, ada apa dengannya, tidak seperti biasanya, apa ini bentuk rasa bersalah karena dia meninggal kan ku dan pergi dengan selingkuhannya???


aku mulai bermonolog sendiri


" eumm tidak ada Mas "


" jaga dirimu "


hanya itu yang dapat aku ucapkan, sejujurnya hatiku sakit saat membayangkan suamiku berada dengan wanita lain.


" Jaga hatimu, tunggu Mas pulang "


ucap Adrian yang berhasil membuat ku melongo, apa dia kesambet? atau apa dia terbentur pintu pesawat? oh tuhan ada apa dengan ku? jangan hadirkan lagi rasa itu ya Rabb jika akhirnya akan di hancurkan berkeping- keping.

__ADS_1


" Ana altafunnisa , Assalamualaikum, istirahat lah, sudah larut ".


" baik, Mas"


setelah hampir seminggu akhirnya Suami yang tidak menganggap ku ada menghubungi ku, aneh bin ajaib, kata-katanya juga seperti aneh. aku tidak ambil pusing, setelah meletakkan handphone di nakas aku berlalu ke kamar mandi untuk berwudhu dan shalat isya.


suasana hening dan hujan rintik tidak serta Merta membuat ku bisa terlelap dalam tidur, semua percakapan dengan mas Adrian berputar dikepalaku, apa yang sedang dia lakukan disana, dengan siapa??? selalu saja hal ini yang membuat luka ku tak berdarah namun mampu mengoyak rasa yang sudah ku tanam semenjak lama.


*****


pukul tiga dini hari aku terbangun, sudah kegiatan rutin aku bermunajat padanya memohon ampunan dan meminta kesabaran dan kelapangan hati dalam menerima dan menjalani lika-liku hidup yang tak menentu.


"ya Rabb, ampuni aku jika cintaku pada hambamu melampaui batas.


ya Rabb, ampuni aku, jika dengan rasa cintaku membuat ku jauh darimu.


ya Rabb jangan jadikan aku jauh darimu karena terlalu mengagumi makhluk ciptaanmu.


ya Rabb jangan engkau berpaling dariku karena kesalahanku dan hawa nafsuku.


tuntunlah aku dijalan yang engkau Ridhai. berkahilah rumah tangga kami dengan sebaik-baik ridhamu ya Rabb.


berilah kejelasan dan titik terang dalam ikatan suci ya Rabb. hanya padamu aku mengadu, hanya padamu aku berharap ya Rabb."


ada rasa lega tersendiri setelah mengadukan semua kegundahan hati, saat seperti ini, aku teringat akan nasehat ibu, meskipun saat itu aku masih kecil dan baru bersekolah di Sekolah Dasar, namun semua ajaran dan apa yang ibu ajarkan masih sanggup aku jalani sampai sekarang, terima kasih ibu, terimakasih atas semua cintamu.


lelehan bening di pipi tak mampu ku bendung lagi, rasa rindu akan orang tua dan kesedihan karena menjadi istri yang tidak dianggap seolah membuat hidupku tidak ada yang berarti. aku seperti layangan yang terputus di awang-awang tanpa kejelasan dan tanpa keputusan. semua harus aku lakukan, semua harus ku jalani.


" BI Ijah, masak apa bi" aku menyapa Bi Ijah yang sudah sibuk di dapur setelah shalat shubuh.


" ini non, bibi lagi buat sarapan " jawab BI Ijah singkat sambil tersenyum ke arahku.


" nanti sore, bibi jangan masak ya, biar Ana beli aja"


ucapku pada BI Ijah karena melihat bi ijah sepertinya kurang sehat, keningnya yang di tempeli koyo menandakan kalau dia sedang tidak sehat.


" tak apa non, di rumah masih banyak persediaan "


" gak usah masak Bi, biar Ana beli aja, sekali-kali kan gak apa-apa bi, apalagi mas Adrian juga tidak dirumah"


" tapi kan si Asep dan mas satpam ada toh " ucap BI Ijah tidak mau kalah.


" itu mah gampang bi, untuk hari ini bibi istirahat aja, oke" ucapku sambil menaikkan kedua jempol ku.


" baiklah non "


setelah sarapan nasi goreng yang di buatkan BI Ijah, aku bergegas bersiap-siap agar segera ke kampus.


setelah turun diantar mang Asep aku melangkah memasuki gerbang kampus dan tanpa sengaja bertabrakan dengan Udin.

__ADS_1


gedubraaaaaaaak


semua buku bawaan ku berhamburan, untuk sesaat aku sedikit linglung mendapat hantaman keras tanpa sengaja.


" Maaf Ana, maaf aku tidak sengaja "


ucap Udin


setelah nya aku baru sadar ternyata pria yang aku tabrak tadi Udin.


" iya tidak apa-apa, aku pun terburu- buru tadi " ucapku padanya.


Udin memungut semua buku-buku yang berhamburan, dan tanpa sengaja aku melihat ada yang aneh.


" Udin ini punyamu?"


Udin seperti gelagapan menghadapi pertanyaanku.


" i-itu "


cincin ini persis seperti punya mas Adrian, cincin pernikahan kami.


" ini punyamu?" aku memastikan kembali.


" i-iya itu cincin pernikahan ku " jawab Adrian menunduk


lalu ku sandingkan dengan cincinku, sama persis cuma kenapa bisa kebetulan seperti ini?


" ooh "


lalu aku mengembalikan cincin itu dengan perasaan yang berbeda, bukankah dulu Oma pernah mengatakan padaku bahwa itu khusus dipesan untuk pernikahan kami?


aaaah sultan mah dimana-mana, bisa saja seleranya juga banyak yang sama kan.


setelah mengambil buku aku langsung berjalan melewati Udin, dan langsung menuju pustaka.


setelah memasuki perpustakaan aku seperti melihat orang yang tidak asing di seberang rak buku yang memang aku juga akan menuju kesana untuk meletakkan kembali buku yang ku pinjam, tapi sedikit aneh, saat aku tegur dia malah mengacuhkanku.


setelah meletakkan buku akhirnya aku kembali ke meja untuk membaca, masih ada waktu sekitar 30 menit sebelum dosen masuk, dan itu cukup untukku sekedar membaca ketimbang harus duduk di ruangan dan terbengong-bengong.


tidak ada yang istimewa, aku memilih membaca buku pengetahuan psikologis, entah kenapa aku merasa tertarik, dan setelah membaca isinya rasa tertarik menjadi lebih menarik, tanpa membuang waktu aku terhanyut dalam bagaimana cara mengetahui lawan bicara kita yang menyembunyikan sesuatu, atau lawan bicara yang sedang berbohong, bahkan dijelaskan secara rinci, mimik wajah dan postur tubuhnya akan seperti apa.


kemudian aku melanjutkan membaca bagian dari ekspresi wajah, atau lebih jelasnya cara membaca wajah dan apa yang memang ada dalam pikiran lawan bicara. jujur aku tidak bisa percaya 100% karena dalamnya laut masih bisa di ukur, tapi dalamnya hati hanya orang tersebut dan Rabb ku yang tau. itulah akidah yang selalu melekat dalam hatiku.


setelah kurasa cukup akhirnya aku meletakkan kembali buku tersebut di rak perpustakaan, dan setelahnya


bruuuuuk...


pandangan ku menghitam, dan semuanya gelap

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2