Senandung Rindu Dalam Doa

Senandung Rindu Dalam Doa
bab 9


__ADS_3

" aku tidak tau tentang itu semua" kilah Bram


" baiklah, sungguh sayang sekali tadinya uang ini akan jadi milikmu tapi ternyata dia masih betah bersamaku" jawab ku sambil membalikkan badan.


" tunggu dulu"


" iya, apa kamu bersedia?"


" baiklah, temui aku di hotel imperial, dan aku akan memberikan buktinya padamu"


Dasar preman ingusan, apa kamu pikir aku tidak tau trik mu, kau memancingku ke sarang buaya?


" aku tidak memerlukan waktu, jika kau bersedia, sekarang adalah waktu yang tepat"


" aku tidak membawanya" jawab Bram ketus.


" ya sudah lupakan saja, aku juga tidak butuh bukti darimu"


" ba-baiklah, berikan nomor ponselmu aku akan mengirim buktinya sekarang juga" jawab Bram terbata merasa di intimidasi oleh sosok culun di depannya.


" baiklah, dengan senang hati"


lalu aku memberikan no handphone dan dia segera mengirim bukti yang memang terlihat dia kerja sama dengan Vanessa, ternyata Bram cukup licik, dia mempunyai beberapa Vidio Vanesa yang mengajak dirinya untuk bekerja sama, dan tentunya dia akan menjadi lintah untuk menghisap kekayaan Vanesa.


sesaat kemudian semua bukti terkumpul dan aku langsung mengamankan sebelum preman itu bertindak, secara tidak ada preman yang bisa di percaya bukan.


" semua bukti yang mengarah ke vanesa sudah ku kirimkan, maka tepati janjimu"


" baiklah, setelah ini kau juga bisa memeras wanita itu dalam tempo 2 hari, lakukan sesukamu dan dapatkan sesukamu, tapi ingat jangan pernah ganggu Ana, faham?"


" tergantung situasi"


" baiklah, semua bukti dan percakapan kita sekarang terhubung ke seorang Intel" ku angkat sedikit jaket untuk memperlihatkan penyadap suara yang sudah terpasang di tubuh, dan itu berhasil membuat Bram ketakutan.


" kau mempermainkan ku" ucap Bram gemas dengan tingkahku


" tergantung dari dirimu, Bram"


"aarrrgh dasar culun brengs**k


" turuti perkataan ku, atau kau sendiri akan menyesal, ini uang 10 juta lebih dari cukup untuk berobat istrimu" lalu ku letakkan uang di beton pembatas tempat nongkrong mahasiswa.


" bagaimana kau tau?"


tanya Bram agak panik


" tidak ada yang istimewa dari dirimu, hal sekecil itu cukup mudah bagiku" ucapku sedikit membuatnya merasa tertekan.


" ambillah dan jangan pernah nampak kan lagi wajahmu di depan Ana, atau kau akan tau akibatnya".


********


drrrrt...drrrtttt


Martin segera merogoh kantong untuk melihat siapa yang menelepon dirinya.


" hai bos bro Udin, ada kabar baru?" tanya Martin sambil terkekeh


" jangan terlalu senang mengejek ku, lakukan tugasmu dengan benar"


" iya,,iya orang bawahan mah selalu salah, maju-mundur kena, nasib-nasib"

__ADS_1


" aku sudah membereskan Bram, apalagi?"


" what..? kamu gak salah nanya ke aku apa lagi? itu isi kepala dipakek gak sih, semua harus di dikte, heran gue"


" yang bos disini disapa sih? wajar dong seorang bos menolak tua untuk berfikir terlalu berat" ucap Adrian enteng


Martin yang mendengar kata-kata itu berhasil bungkam, tentu saja bos bisa seenaknya tanpa perlu memikirkan perasaan nya.


" semua bukti yang barusan kuterima akan aku telusuri dulu, awasi saja istrimu dan buat dia klepek-klepek padamu" titah Martin


" apa aku harus segera mengatakan yang sebenarnya pada Ana?"


" lihat situasi dan kondisi, jangan membongkar penyamaran mu di depan Ana karena itu akan menyakiti hatinya"


" maksudmu?"


" dia akan berfikir bahwa dirinya sedang di mata-matai dan itu pastikan akan membuatnya tidak nyaman.


" ooh, baiklah, 30 menit lagi temui aku di tempat biasa"


" siiip, aku akan segera meluncur"


********


setelah perbincangan dengan Martin akhirnya aku menuju tempat dimana kami biasa bertemu, sudah lebih dari 30 menit tapi Martin belum juga menampakkan dirinya nya. kemana dia.


karena tidak ingin membuang waktu, akhirnya aku mencoba menelepon dirinya, tersambung tapi tidak diangkat, ada apa dengan nya? tidak seperti biasanya Martin seperti ini.


akhirnya aku putuskan untuk tetap menunggu 10 menit lagi, dan ternyata Martin muncul di menit-menit terahir diambang batas kesabaran yang kumiliki.


" maaf bro, aku telat sedikit " ucap Martin sambil mengangkat 2 jari tanda damai.


" dari mana sih? lama amat, daaan kenapa kamu langsung dari belakang? kamu mau ngerjain aku? ucapku sewot"


" katakan "


" barusan aku melihat Juan "


" serius??"


" euum, tebak dia bersama siapa?"


" aku sedang tidak ingin berfikir "


" baiklah tuanku , Juan disini bersama mantan kekasihmu dulu Amira"


" apa pentingnya sih kamu ngikutin mereka?"


" omegaaatttt ini Adrian atau Udin sih?, lambat banget loding nya"


" aku muak mendengar nama nya"


" iya, tapi ini berkah buat kamu juga, bukannya Amira ingin menuntut dirimu atas kehamilannya?" ucap Martin sambil menaik turunkan alisnya


" iya, itu hanya fitnah" jawabku ketus


" fitnah atau bukan, kita itu butuh bukti udiiiiiin "


" buktinya sudah ada" jawabku enteng.


" maksudmu?"

__ADS_1


" bukti anak itu bukan anakku, dan jugaaa Vidio rekaman Amira sedang dengan seorang pria disaat aku melangsungkan pernikahan"


" appaaa??? jadi ini alasan nya kamu terlihat tenang?"


" sungguh terlalu, aku sampai ngumpet di dalam toilet hanya untuk mendapatkan informasi bagus untuk mu, tapi ini balasannya"


" hahahaahhaa siapa yang menyuruhmu" ucapku terkekeh


" setidaknya berterima kasih padaku karena tidak perlu kau suruh aku Sudi membantumu".


" oke, oke baiklah, maaf. aku sudah menyelediki kasus ini dengan menugaskan Baron melacak kemungkinan Amira memperalat diriku, dan ternyata benar, dia ingin mengincar hartaku, dramatis bukan?"


" serah deh, seebeellll" ucap Martin yang langsung membuat ku tertawa terpingkal-pingkal.


" oke, katakan padaku, apa kau mengikuti Vanesa?" tanyaku heran


" dia cuma kelas teri, tak payah-payah menjebaknya" ucap Martin santai


" kenapa dia seperti orang yang sedang bersembunyi?"


" itu trik nya untuk membuat istrimu cemburu"


" maksudmu "


" dia manfaatkan kepergianmu seolah-olah kalian pergi berdua, dan itu untuk membuat istrimu cemburu, sampai disini faham?"


" ooh "


" hanya ohh, dasar"


" terus apa lagi?"


" katakan padaku apa tindakanmu selanjutnya dalam 2 hari ini " ucap Martin


" aku akan mempersiapkan diri, untuk berhadapan dengan Ana, dan meminta maaf darinya"


" oke, lanjutkan, setelah ini jangan lagi mengusik ketenangan ku" Martin menunjuk ku kesal.


" baiklah, setelah ini janji ku akan kutepati"


" apa kamu puas?"


" syukurlah, semoga ini bukan bualan mu udiin"


" nama ku Adrian, Markonah"


setelah membahas beberapa percakapan tentang pekerjaan akhirnya kami berpisah.


aku langsung menuju tempat kost yang selama satu Minggu ini kutempati.


rindu,,,iya aku sangat merindui istriku,


ingin rasanya aku bergegas pulang untuk langsung menemui nya, tapi pasti nanti Ana akan berfikir yang tidak-tidak. akhirnya aku mengetik sebuah pesan untuk nya hanya sekedar untuk basa-basi.


" Assalamualaikum, apa kamu sudah tidur "


2 menit, 5 menit berlalu tapi tidak ada tanda-tanda kalau Ana akan membalas pesanku, Wa nya juga centang satu. apa dia baik-baik saja?


akhirnya aku menelpon nya langsung, baru beberapa kali berdering akhirnya kami terhubung.


"assalamualaikum mas" jawab suara diseberang

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2