Senandung Rindu Dalam Doa

Senandung Rindu Dalam Doa
bab 7


__ADS_3

setelah berhasil menghindari pertanyaan suaminya, Ana merasa sedikit lega, lagi pula untuk apa memberitahunya jika akhirnya dia akan percaya pada Vanesa.


sebelum shalat isya saat Adrian keluar untuk membeli keperluannya, Ana segera menyiapkan barang bawaan suaminya yang dia ketahui akan keluar negeri, bi Ijah juga dipanggil Ana agar suaminya tidak curiga kalau yang menyiapkan keperluan nya adalah dirinya.


sepulang Adrian 2 koper yang berukuran besar dan kecil sudah bertandang di depan ruang tamu, Adrian tidak ambil pusing, dan langsung menuju ke kamar.


saat pintu terbuka Ana sedang berdiri di balkon , Adrian menghampirinya berdiri tepat disamping istrinya, Ana sedikit terkejut melihat Adrian dan reflek berbalik ingin menjauh.


" aku akan pergi, ada yang ingin kau sampaikan padaku " ucap Adrian datar, berharap Ana akan terbuka dengannya dan mengatakan kondisi nya sekarang.


" tidak ada, pergi lah " Ana menjawab singkat


"baiklah, sekarang bersiaplah, kita akan ke rumah Oma"


sejujurnya Adrian ingin mempercayai istrinya, tapi dia ingin melihat seperti apa dan apa tujuan istrinya ini.


" euum " jika menyangkut dengan Oma, Ana tidak akan pernah keberatan sekalipun harus bersandiwara dengan Adrian di hadapan mereka.


sepuluh menit menunggu, akhirnya Ana turun dengan menggunakan long tunik putih tulang dipadukan dengan celana scuba coklat susu dan jelbab senada. Adrian memperhatikan istrinya malam ini terlihat berbeda memakai kerudung dari rumah tidak seperti biasanya.


"Oma selalu memintaku berhijab" Ana menjelaskan, tentu saja itu tidak sepenuhnya bohong karena memang Oma mengatakan suka melihat Ana yang berhijab.


"baiklah, ayo kita berangkat" ucap Adrian sambil melirik ke arah istrinya.


dalam perjalanan tidak ada pembahasan apapun, Ana memalingkan wajahnya keluar jendela menatap arah jalanan yang lengang.


" Ana, selama aku tidak di rumah, jangan pernah macam-macam dengan membawa lelaki lain ke rumah"


lagi, kata-kata itu menusuk tempat yang paling dalam.


"apa aku serendah itu, membawa lelaki lain ke rumah?"


" aku hanya mengingatkan mu, apa itu salah?"


" tidak salah, jika Mas juga bisa mengontrol diri dengan tidak membawa perempuan lain bersama" ucapan Ana menohok.


Adrian tahu, kondisi Ana sedang tidak baik-baik saja maka dia hanya memilih diam, dan tidak lama setelahnya mereka sampai di rumah Oma.


" Assalamualaikum Oma" sapa Adrian


"waalaikum salam cucu Oma tersayang, jadi kamu berangkat?"


" jadi Oma, ini mau nitip Ana di rumah Oma"


" emang Ana kenapa mesti di titip-titip"


" biasa Oma, biar dia gak kabur, Karena mungkin Adrian akan sedikit lama"


" ooh percaya sama Oma, biar Oma yang jaga dia" jawab Oma sambil melirik ke arah Ana.


*****


"Oma, sehat?" Tanya Ana sedikit berbasa-basi setelah mereka memasuki kamarnya.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Oma masih sehat mau nunggu Cicit dari kalian" jawab Oma menahan senyum.


sebenarnya Oma Ratna tau gimana kondisi rumah tangga cucunya, tapi lebih memilih diam agar Ana tidak malu berhadapan dengan dirinya.


" doakan saja ya Oma" ucap Ana memegangi tangan Oma.


" boleh Ana bertanya Oma?"


" sejak kapan bertanya itu dilarang sayang?"


" Oma, sebenarnya apa Ana masih mempunyai orang tua?" Ana bertanya sambil memilih ujung bajunya.


bukan tanpa alasan Ana bertanya pada Oma, karena selama ini hanya Oma yang perhatian padanya dan membiayai hidupnya sebelum dia sah menjadi istri cucu kesayangan nya Adrian.


mendengar pertanyaan dari Ana, Oma hanya bisa menerawang jauh, mengingat bagaimana kebaikan keluarga Ana dalam membantu dirinya, sekaligus menjadi sahabat yang membantu dirinya sehingga bisa berdiri tegak diatas kakinya.


" Ana, jika sudah saatnya, Oma akan bercerita semuanya, sekarang belum saatnya sayang" ucap Oma Ratna lirih


" kenapa Oma?"


" karena belum saatnya sayang, setelah Oma punya cicit baru bisa mengatakan semuanya pada kamu dan suamimu, untuk sekarang jalani dulu kehidupan kalian "


Oma aneh, untuk bertanya saja mereka harus punya anak dulu agar tau silsilah keluarga dirinya, bukankah itu sangat aneh?


" bagaimana dengan kuliahmu ?" ucap Oma ingin mengetahui perkembangan Ana.


"Alhamdulillah lancar Oma"


" kamu yakin"


Oma hanya tersenyum melihat tingkah Ana,


kamu persis seperti ibumu Ana, tidak ingin membebani orang lain dengan masalah mu, kamu tidak sendirian Ana, ada Oma yang akan selalu ada di belakang mu.


*****


pagi ini, Ana berangkat melenggang sendiri menuju kampus, berasa ada yang aneh dan janggal tidak seperti hari biasanya, semua menoleh ke arahnya, ada yang berbisik, ada juga menatapnya seperti merasa heran.


"Anaaaaa" suara menggelegar Farah terdengar memanggil-manggil namanya.


" ada apa sih?"


" kamu pake pelet apa sih?"


" hah,, pelet?"


" apaan sih"


" itu bonyok Vanesa nyariin lu, dari tadi"


" serius?"


"iya, ngapain juga bohong" ucap Farah sewot

__ADS_1


" anehnya mereka berdua langsung terjun yang nyariin kamu"


" omegatt ada apa ya?" Ana juga terlihat bingung.


lalu Ana berlalu ingin menemui orang tua Vanesa.


" emang kamu tau mereka dimana?" timpal Farah.


Ana yang sudah melangkahkan kaki, menoleh ke belakang


" hehehe, enggak" jawab Ana polos


" makanya, sini bareng- bareng" Farah langsung menggandeng tangan Ana.


dengan langkah pasti dan fikiran yang tidak menentu akhirnya Ana berhadapan dengan orang tuanya Vanesa. segala kemungkinan pahit sudah Ana Persiapkan diri dengan apa yang akan menimpa nya.


" selamat pagi Bu, pak" ucap Ana pelan.


orang tua Vanesa berbalik menatap siapa yang datang.


" syukurlah, akhirnya kamu datang nak" ucap ibu Vanesa lembut


Ana dan Farah saling pandang, mereka sedikit kaget dengan sikap ibunya Vanesa.


Ana akhirnya masuk ke dalam kelas dan langsung duduk di bangku biasanya. suasana terlihat aneh, ada Vanesa juga disana dengan wajah di tekuk seperti sedang menahan amarah.


" Ana, bapak kemari ingin minta maaf atas kelakuan Vanesa yang buat kamu malu dan menyiram mu dengan minuman" sambil mengatup tangan, bapaknya Vanesa mendekati Ana..


" sudahlah pak, Bu, tidak usah di besarkan, kami tidak sengaja" ucap Ana merasa tidak enak.


" tidak sengaja apanya, jelas-jelas dia kemarin sengaja nyiram Ana saat kami sedang makan" ucap Farah tidak terima.


" benar Vanesa?" tanya ayahnya berang, wajahnya me merah.


Vanesa hanya menunduk


" tapi mereka juga membalas ku kan dad" ucap Vanesa tidak ingin disalahkan


" Vanesa cepat minta maaf" ucap ibunya


" mom, plis, jangan tekan Nessa seperti ini"


Vanesa menolak minta maaf.


" kamu masih ingin kuliah disini?" hardik ayahnya marah"


" dad, Vanesa udah bilang kan ini urusan Vanesa dengan wanita murah**n itu" Vanesa menunjuk Ana.


" baiklah, jika kamu tidak ingin minta maaf, pulang dan kemasi barang-barangmu, hari ini juga Dady akan mengirimmu ke luar negeri"


"what?" Daddy lebih memilih membela orang asing dari pada aku???" ucap Vanesa kesal


ana dan Farah hanya saling pandang tanpa tau kenapa keadaan bisa berubah seperti ini.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2