
" Ana, kamu ngerasa aneh gak sih dengan kelakuan orang tuanya Vanesa?"
" iya, sangat-sangat aneh"
" apa suamimu, menekan mereka?" ucap Farah penasaran?
" yang bener aja, peduli aja kagak" jawab Ana sewot.
mereka melenggang pergi ke perpustakaan, tiba-tiba dari belakang terdengar seseorang memanggil Ana
" Ana, tunggu"
serempak Ana dan Farah berbalik, melihat Udin yang bergegas berlari ke arahnya.
" lu buntutin kita ya" ucap Farah
" emang gak ada kerjaan buntutin kamu?" jawab Udin sewot
" lah, ngapain dimari kalau enggak ngikutin kita?" Farah menatap Udin curiga
" tuuuuu lihat di Mading, makanya aku kejar kalian" Udin menunjuk dengan mengarahkan mulutnya.
Ana dan Farah bergegas menuju Mading dan matanya berhasil melotot melihat pengumuman di Mading.
" brengs*k kelakuan siapa ini?" ucap Farah berapi-api.
Adrian/Udin yang melihat itu hanya tersenyum tipis, dia ingin melihat reaksi istrinya.
"percuma juga Far dinrobek, toh pasti ada di semua tempat, aku yakin itu"
" kamu masih bisa santai?"
" yaaaah mau gimana?"
" mikir gak sih, suami breng**k lu gak mau ngakuin kamu, terus tiba-tiba ada yang buat dan nyebarin ini semua, gak mikir kedepan nya gimana nasib kamu?" ucap Farah ngos-ngosan menahan amarahnya.
" aku capek Far, entahlah, biarkan saja mengalir apa adanya" jawab Ana sendu.
Adrian terpaku mendengar penuturan Farah yang sangat benci terhadap dirinya, memangnya dia salah apa sehingga mereka mengira Adrian sebejat itu?
" kamu lagi punya masalah Ana?" tanya Udin memecah keheningan diantara mereka.
" sudahlah, namanya hidup, jika tidak ingin ada masalah maka jangan hidup, bereskan" jawab Ana asal dan berlalu
Adrian masih saja mengejar Ana dan mengajaknya ngobrol
" memangnya suami mu tidak menerima dirimu?"
" entahlah Din, semua diluar nalarku" jawab Ana tersenyum.
******
selesai jam kuliah Ana langsung bergegas ingin pulang, bohong jika dirinya tidak merindukan Adrian, tapi mau gimana dia hanya istri yang tidak dianggap, itulah yang Ana lihat dari sorot mata suaminya.
__ADS_1
" kamu mau langsung pulang?" tanya Udin basa-basi
"euum" hanya itu jawaban Ana
" makan es krim?" tawar Udin
" gak usah Din, aku mau cabut"
" Ana setiap masalah itu ada jalan keluarnya, jangan berfikir untuk keluar dari Masalah jika hanya lari dari masalah"
entah rasa nyaman dari mana, meskipun penampilan Udin sedikit mencolok tapi Ana nyaman saat berbicara dengannya, seolah ada yang berbeda tapi dia sendiri bingung karna apa.
******
sudah 3 hari berlalu dari semenjak Adrian mengatakan keluar negeri, semenjak itu pula, Vanesa tidak menampakkan wajahnya di kampus setelah pertemuan tempo hari bersama orang tuanya. sehingga menguat dugaan Ana bahwa suaminya memang pergi dengan vanesa.
sakit, tentu saja, tidak ada wanita yang sanggup memikirkan suaminya punya WIL di luaran sana bukan. dan karena kegelisahan hatinya pula dia semakin dekat dengan Udin, dalam artian dia lebih terbuka dan sering curhat dengan Udin, diluar kebiasaan yang biasa dilakukan Ana, tapi Udin berhasil membobol pembatas diantara mereka saat dalam penyamaran.
*****
(Pov Adrian)
sore itu selesai mereka dari kampus, Adrian melihat Ana memilih jalan kaki sambil menetralkan pikiran yang entah bagaimana,
susah lima hari terahir tapi Adrian tidak memberi kabar padanya, jangan kan menelpon, sebatas SMs aja tidak Adrian lakukan.
" ada apa?" tanya Martin di seberang sana
" sampai kapan aku harus menyamar?"
" kalau cuma begini doang kapan taunya?" geutu Adrian berang
" waktumu tinggal dua hari sebelum kamu balik dari luar negeri, usahakan dapat kan bukti dan buat Vanesa mengakui semua perbuatannya yang membuat kalian salah faham.
" percuma aku kasih kamu bonus jika semua harus aku yang melakukan nya" jawab Adrian sewot.
" hahahaha baiklah, besok aku akan memancing Vanesa untuk hadir di kampus" ucap Martin.
" naaah aku juga ingin tanya itu, kemana dia? udah libur selama 4 hari.
" katanya CEO itu pandai, tapi heran pemikiran kamu sempit" jawba Martin.
" terussss, perjanjian kita baaaaaa"
" iyaa,,,iya... itu aja marah" sahut Martin buru-buru sebelum sempat Adrian memangkas bonusnya.
"ikuti saja apa yang aku sarankan besok" faham?? tukas Martin.
seperti yang dijanjikan Martin hari ini aku melihat Vanesa muncul di kampus dengan pakaian serba hitam dan anehnya dia memakai topi seperti ingin menghindari orang lain lebih tepatnya biar orang tidak mengenali dirinya, tapi untuk apa???
sesuai yang dikasi tau Martin, dirrijya harus mendekat dan mendengar pembicaraan Vanesa nantinya, dengan perlahan dan pasti, Adrian mendekati Vanesa dan duduk tidak jauh dari meja Vanesa. selang beberapa menit kemudian, muncullah lelaki yang disebut Vanesa sebagai selingkuhan istrinya.
" jadi ini tujuan Martin?" bibir datar itu tersenyum tipis dan memasang telinga dengan seksama
__ADS_1
" Ness, gua butuh duit" seloroh pria yang duduk di hadapan Vanesa.
" lu butuh duit ya kerja, ngapain bilang gue, emang gue emak lu" jawab Vanesa sewot
" aku udah kerja buat kamu" ucapnya sambil mengedipkan mata
" jangan peras gue, Bram" geram Vanesa
" tergantung, sekarang aku lagi kepepet, dan butuh duit, jika tidak bisa mendapatkan darimu, maka aku akan menjual informasi dan kelakuan mu itu pada pujaaan hatimu itu, siapa namanya ? OOO iya Adrian" ucap Bram sambil mengedipkan matanya ke arah Vanesa
" jangan macam-macam kamu Bram" terlihat Vanesa sudah mulai marah.
" baiklah, aku tunggu smpai nanti sore, transfer kan aku 20 juta, untuk tutup mulut" lalu Bram beranjak pergi.
" jangan berharap, sepeserpun aku tidak akan memberikan nya padamu" ucap Vanesa
" tetaplah dengan pendirianmu, maka aku juga akan tetap dengan pendirianku" lalu Bram berlalu sbil bersiul.
ternyata dia dalang dari semua ini???
sungguh bodohnya aku yang mudah terhasut dengan tipuan Vanessa,
" eheeem" Adrian berdehem di belakang Bram yang berjalan santai
Bram menatapnya sewot
" ada apa? kamu ngikutin aku?" Bram kesal karena Adrian menatapnya
" kamu butuh duit?" to the point.
" jika aku butuh duit, apa aku bisa dapat dari orang culun seperti dirimu?" ngejek Bram sambil terkekeh
" kamu butuh 20 juta? 30 juta?, tinggal sebutkan saja"
" hahaha kamu mau apa heum" Bram mengejek Adrian, karena memang iya, penampilan Adrian jauh dari kata orang berduit.
merasa kesal dengan hinaan nya, aku keluarkan uang tunai dari saku celana dan mengibaskan di depan matanya.
" kamu butuh ini, tinggal sebutkan saja nominalnya"
Bram yang mendewakan uang seketika menatap bahagia ke arah tangan Adrian yang masih mengibaskan.
" apa yang kamu inginkan?" jawab Bram
" tidak banyak, kamu cukup bekerja untukku, dan uang ini akan jadi milikmu"
" katakan" jawab Bram cepat
" jelakan dan berikan bukti tentang kejadian 3 bulan yang lalu di sebuah hotel, tentang perselingkuhan Ana altafunnisa"
Bram syok memdengar penuturan ku.
" tidak usah syok, aku tau dalangnya adalah dirimu dan juga Vanesa, benar bukan?"
__ADS_1
bersambung...