Senandung Rindu Dalam Doa

Senandung Rindu Dalam Doa
bab 6


__ADS_3

"Vanesa tidak selembut yang kau kenal" ucap Martin


" apa tujuan nya "


" Dia terobsesi pada mu "


" jangan bicara omong kosong "


" baiklah tidak perlu percaya dengan kata-kata ku, duduk dan lihat lah hasil investigasi ku " kata-kata Martin membuat Adrian mengernyitkan dahinya.


lalu Adrian duduk di sofa, Martin membawa serta laptop ke hadapan Adrian dan memutar rekaman CCTV 2 Minggu sebelumnya, dan 2 bulan sebelumnya tepat setelah kejadian Ana yang dianggap selingkuh.


" ini Vidio pertama yang harus kau lihat " ucap Martin menyodorkan potongan rekaman antara Vanesa dan Ana.


" Ana, apa kau bermuka tembok masih mengejar-ngejar Adrian? "


" apa kau menggunakan kulit badak masih mengejar suamiku?"balas Ana


dengan gerakan cepat Vanesa menarik Ana dan menamparnya. tapi Ana tidak merespon, hanya memegang pipinya yang memerah.


" cepat atau lambat, Adrian akan menjadikan aku nyonya rumah nya, sebaiknya siapkan mental mu"


" apa kau pikir aku akan mengalah demi wanita jalang sepertimu?" jawab Ana menahan amarah


" kamu bilang apa?" hardik Vanesa


" aku bilang, kamu wanita jalang, apa itu salah?" jawab Ana melipat tangan di depan dada


saat Vanesa hendak menamparnya kembali, Ana lebih cekatan menangkis serangan nya, dan menarik lengan Vanesa ke arah belakang sampai ia mengaduh kesakitan.


" kamu wanita bodoh Ana, Adrian tidak mencintaimu " teriak Vanesa menahan amarah dan kesakitan


" aku tidak mau tau dia mencintaiku atau tidak, tapi dia menikahi ku " jawab Ana tidak terima


" apa kau tidak ingin melihat dia bahagia?" ucap Vanesa seperti kehabisan akal


" jika dia tidak bahagia dengan ku, bukan jaminan juga dia akan bahagia dengan wanita ular sepertimu" lalu Ana melepaskan Vanesa dari pegangannya, karena Vanesa yang meronta-rota saat Ana memegangnya, saat dilepaskan Vanesa jatuh tersungkur dengan tersendirinya karena tidak bisa menahan keseimbangan.


"Lihatlah, betapa tangguhnya istrimu" ucap Martin dengan senyum sumringah


Adrian "...."


"jika saja dia bertemu denganku lebih awal, sungguh aku akan menjadi suami yang sangat beruntung"


ucap Martin kemudian bergegas bangun dari sisi Adrian untuk mewanti-wanti agar tidak terkena bogem mentah.


dan benar saja, semua bantal berhasil berantakan karena Adrian melemparinya, bahkan dokumen yang baru saja dirapikan Martin sudah berantakan tidak beraturan.


" Apa kau tidak ingin melihat rekaman lainnya?" sergah Martin yang kewalahan menghindari amukan Adrian


" berikan aku informasi akurat, atau bonusmu akan lenyap"


" iya,,,iya melihat ini kau akan puas "

__ADS_1


lalu Adrian memutar Vidio yang dimaksudkan Martin.


terlihat Vanesa dan seorang pria yang sedang berbicara di taman belakang kampus, karena terlalu bising akhirnya suara Vanesa tidak dapat di dengar.


"lihatlah dengan teliti"


ucap Martin sambil menekan zoom untuk melihat wajah dari pria tersebut.


sesaat kemudian Adrian membeku, bukankah ini pria yang bersama dengan istrinya saat itu? ada hubungan apa dia dan Vanesa?


" kata-kata ku benar bukan?"


"kejadian istrimu ada dalangnya"


" apa kau punya Vidio lainnya? " Tanya Adrian ingin tahu lebih banyak.


" untuk sementara hanya itu, aku sangat sibuk, perusahaan di tinggal olehmu dan aku yang harus menghandle semuanya, jadi maklum saja, jika informasi tidak sebanyak yang kau mau" ucap Martin acuh.


" bekerjalah lebih giat, bonus liburanmu akan ku tambah " jawab Adrian sambil menepuk bahu Martin.


" sekarang semuanya sudah jelas bukan, kau sudah tidak perlu kuliah lagi " kata Martin


" untuk sekarang, aku masih ingin kuliah" jawab Adrian santai


tentu saja ini menjadi Boomerang bagi Martin karena dia harus menyelesaikan tugas Adrian selama dia tidak ada.


" bukankah kau menyuruhku untuk kos?" timpal Adrian


" iya, tapi keadaannya sekarang berubah, sebelum kau melangkah tapi bukti sudah di depan mata, apa itu belum cukup? "


" dia bini lu, tinggal kunci kamar juga bisa langsung Deket " ucap Martin kesal


" itu menurut kamu, aku ingin merebut hatinya kembali "


" sebagai Udin ?"


" euum, sebagai sahabat Ana "


" kamu punya waktu 1 Minggu lagi, setelah itu aku tidak mau berurusan dengan kerjaanmu.


" baiklah, atur tempat dan dimana aku bisa tinggal "


Adrian beranjak keluar, sebelum pintu di buka Martin berceloteh kembali


" istrimu sungguh luar biasa, tangguh luar dalam, dia pasti idaman pria dimasa depan "


Adrian tanpa menoleh mengambil vas bunga di dekat pintu langsung melempari ke arah Martin, jika saja dia tidak cekatan maka vas kesayangannya itu akan berakhir menjadi kepingan pecahan.


" teganya dirimu, tega nya, tenganya, teganya ooooooh pada diriku " Martin masih bisa membuat lelucon di saat seperti itu.


" jangan pernah berfikir tetang istriku jika kau ingin bonus dan liburan mu full "


lalu Adrian menghilang dibalik pintu.

__ADS_1


" lihat saja Vanesa permainan mu akan segera berakhir " ucap Martin dengan suara kesalnya.


*****


di kediaman Adrian


saat Adrian tiba di rumah sudah pukul 05.00 sore, dia bergegas masuk ke rumah untuk memastikan Ana baik-baik saja, tapi saat pintu kamar terbuka, ruangan kosong melompong. Adrian menghampiri bi Ijah.


" BI, Ana dimana? "


" Bibi juga ingin bertanya, dimana Ana, sudah sore begini tapi belum pulang juga "


Adrian terdiam, mendapati istrinya belum pulang kerumah semenjak mereka berpisah 3 jam yang lalu, Adrian menuju kantornya sedangkan Ana pasti sudah pulang, itu yang difikirkan Adrian.


sesaat kemudian, ada suara memberi salam di depan dan Adrian menoleh melihat ke arah suara, ternyata itu Ana, Adrian terpaku sesaat, melihat penampilan Ana tidak seperti terakhir kali mereka berpisah tadi.


baju yang di kenakan Ana sekarang berwarna marun dengan aksen lengan yang lebih besar.


Ana yang melihat Adrian menatapnya juga berdiri mematung, mata mereka saling bertatapan untuk sesaat, lalu Ana berpaling dan langsung ingin menaiki tangga.


sementara bi Ijah yang melihat mereka berdua sudah di rumah langsung saja menyiapkan hidangan makanan untuk mereka.


setelah membersihkan diri, Adrian turun ke ruang makan, disusul Ana dari belakang masih dengan pakaian nya barusan. Adrian menyipitkan mata melihat kondisi tangannya.


" istri yang cerdik, kita lihat sampai kapan kau akan menyembunyikan lukamu itu " Adrian membatin


keduanya telah duduk di meja, Ana masih terdiam melihat makanan diatas meja, begitupula dengan Adrian yang memperhatikan gerak-gerik Ana, melihat tidak ada tindakan Ana untuk mengambil makanan, maka Adrian berinisiatif mengisi piringnya dengan banyak makanan.


"makanlah yang banyak, wajahmu terlihat sangat pucat " ucap Adrian tanpa menoleh ke arah Ana


Ana "....."


" jangan berfikir terlalu jauh, jika kau sakit saat aku tidak ada, itu akan sangat merepotkan bi Ijah "


lagi, dan lagi harapan yang mulai tumbuh sirna kembali.


" ternyata hanya karena jangan merepotkan ,hufff " Ana membatin.


suasana di meja makan sangat hening, mereka sama sekali tidak bersuara sampai akhirnya Ana mendahului Adrian lalu pergi ke kamarnya untuk langsung meminum obat pereda nyeri karena tangannya sudah terasa nyeri.


Adrian memperhatikan Ana tanpa berkedip, kemudian beranjak bangun mengikuti Ana dari belakang.


Ana sedang membuka obat yang akan diminumnya tapi tiba-tiba pintu terbuka dan membuat nya terkejut sampai obatnya berjatuhan. Adrian dengan wajah datar mendekati dan berjongkok untuk memungut obat yang terjatuh tanpa mengatakan apa-apa. tepat saat akan memberikan obat pada Ana, dia bertanya


" obat apa yang kau minum? "


" bukan apa-apa, aku hanya sedang tidak enak badan " ucap Ana mengambil obat ditangan Adrian.


mendengar jawaban Ana, Adrian sedikit kesal, itu artinya Ana tidak akan memberitahunya tentang lukanya, jadi Adrian hanya mengikuti permainan istrinya.


" kita lihat, sampai kapan kamu bisa menutupi semuanya dariku " Adrian membatin.


*****

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2