Senja Untuk Sandykala

Senja Untuk Sandykala
Bab #7


__ADS_3

"Kaka saranin, kamu temuin Kala sekarang juga" Syabila tidak mungkin melanggar permintaan Kala, jadi ia hanya bisa membantunya sampai disini sambil menepuk pundak Asha pelan.


Asha mengernyitkan alisnya,


"Kak Kala?" gumamnya


"Kak, memangnya dia punya jabatan yang tinggi ya? jadinya sepenting itu?" bisik Asha


Asha benar-benar penasaran, karena prediksinya itu salah total! dia sungguh dalam masalah saat ini karena kabur begitu saja saat bersama Kala tadi.


"Stt, nanti kamu tau sendiri, mending kamu samperin dia dulu sebelum masuk waktu Salat Dzuhur" jawabnya


Asha yang mendengar itu hanya bisa memajukan bibirnya, ia benar-benar malas untuk bertemu dengan Kala karena ia tau ia telah membuat masalah sebelumnya. tapi mau tidak mau ia tetap harus pergi agar tidak mengecewakan kelompoknya.


"Tringg" Handphone Keswoo kini berbunyi


"Duh, dek. Maaf kayaknya gue ngga bisa nemenin lo lagi, gue masih ada agenda, ini temen gue telepon" ucapnya


"Iya ngga papa, sana deh, btw thanks"


_______________________________________


"Assalamualaikum" ucap Asha saat memasuki masjid, ia mencari ke setiap ujung masjid, namun tidak menemukan keberadaan Kala disana. Ia pun memutuskan untuk bertanya kepada salah seorang, "Permisi, mau tanya, disini ada kak Kala ngga ya?" tanyanya


"Oh, coba ke teras belakang masjid, dia biasanya disana"


Asha mengangguk paham, "Terimakasih ya kak"


Asha kini menyusuri teras belakang masjid untuk mencari keberadaan Kala, sampai pada akhirnya ia mendengarkan lantunan merdu dari seseorang yang membaca Alqur'an.


"Masya Allah, suaranya bisa bikin orang yang denger jatuh hati, untung gue manusia bukan orang, jadi kebal"


Asha pun mendekati arah suara tersebut, benar saja, ternyata itu adalah Kala.


"Ternyata dia lancar juga bacanya" batin Asha


"Assalamualaikum kak"

__ADS_1


Kala melirik sekilas lalu menutup Al-Qur'annya, "Waalaikumsalam, Kenapa balik lagi?" saat ini Kala memang ingin mengerjai Asha yang asal pergi saja tadi.


"Anu, maaf kak yang sebelumnya itu bercanda doang, Asha mau minta tanda tangan kaka boleh ya kakk, peace" balas Asha sambil menunjukkan dua jarinya.


Kala yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Sekarang udah tau salah?"


Asha dengan sigap langsung meretupkan kedua telapak tangannya, "Kanjeng gusti Kala, Saya mengakui kesalahan saya, sekarang sisa sepuluh menit lagi, tolong segera berikan tanda tangan gusti Kala" batin Kala ingin sekali tertawa melihat kelakuan aneh gadis didepannya, berbeda dengan Asha yang menahan malu saat ini.


"Boleh, sini duduk dulu didepan saya" perintah Kala pada Asha yang kemudian diturutinya.


Kala membuka Al-Qur'an pada Juz 29 surah ke 76, "Coba kamu baca, lalu beri pendapat kamu mengenai surah ini".


Asha pun mengangguk, ternyata syaratnya tidak sesulit yang dibayangkan, apalagi untuk sumpah Al-Qur'an sebelumnya, ternyata salah pahamnya sudah sangat besar!


"Bismillahirrahmanirrahim" lantunan ayat demi ayat diucapkan dengan sangat baik, setiap nada yang terdengar membuat Kala tersihir sejenak, mata bulat Asha yang terfokus pada setiap ayat, bibirnya yang fasih, argh, tidak bisa dibayangkan seberapa salah tingkahnya Kala saat ini. Ia menunduk lalu beristighfar, tanpa ia sadar ternyata Asha telah menyelesaikan bacaannya.


"Shadaqallahul Adzim" Asha menutup Al-Qur'an tersebut dan menatap lekat Kala, "Ekhem, sudah kak, gimana, merdu kan kak?" Ucap Asha dengan bangganya.


"Langsung pendapat kamu aja" MALU! ia tertangkap basah sedang salah tingkah saat ini, namun Kala berusaha menutupinya sekuat mungkin.


"Minimal bilang bagus gitu" gumamnya pelan namun masih bisa terdengar jelas oleh Kala.


Asha semakin menekuk wajahnya, ia dibuat sangat kesal oleh laki-laki didepannya saat ini. Tapi ia harus tetap berusaha untuk profesional agar bisa cepat menyelesaikan tugasnya.


"Jadi gini kak, dari penuturan surah Al-Insan yang berarti Manusia dijelaskan dengan jelas bahwa manusia diciptakan dengan sifat dan bentuk yang berbeda namun juga sebaik-baiknya. Jadi menurut Asha  manusia itu mahluk yang unik, bisa merasakan cinta, benci, stress, marah, lupa itu hal yang wajar, tapi dibalik itu juga Allah memberikan perintah serta larangan-Nya yang bisa diterapkan untuk membatasi hal-hal tersebut, pendapat aku ini bisa diterima kan kak?" Tanya Asha


"Kamu paham maknanya?" Kala masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya, bahkan gadis ini menguasai surah itu. Mau tidak mau ia harus menepati janjinya.


"Iyalah kan Asha belajar agama sama papa, tanda tangan dulu kak, kan udah janji" balas Asha


"Iya bawel" Kala segera menandatanganinya, walaupun hati Kala saat ini tidak berhenti untuk kagum karena pemahaman Asha terhadap Al-Qur'an.


Setelah menerima tanda tangan itu, Asha pun segera berlari ke lapangan kembali, karena ia tau ia sudah hampir telat untuk mengumpulkan tugasnya. Bahkan Asha tidak mengucap terimakasih dan salam untuk itu membuat Kala sangat terkejut sampai akhirnya bayangan Asha hilang didepannya.


"Sisa satu kelompok lagi nih, mana temen kamu" tanya MC pada teman-teman Asha


"Duh, sebentar ya kak, 2 menit lagi deh" jawab Bia khawatir

__ADS_1


"Kalau gitu kita tunggu lagi deh 2 menit, kalau lewat berarti hangus ya"


"Asha kemana deh, kok dia lama banget?" kini Zia yang bertanya


"Udah tunggu aja, ngga gampang juga minta tanda tangan OSIS itu, pasti dia jadi babu dulu" jawab Jena yang sudah tidak heran akan sistem organisasi di sekolah


"Kok bisa?, emangnya bakal..." sebelum Zia melanjutkan pertanyaannya terlihat Asha sedang berlari menghampiri MC untuk menyerahkan tugasnya.


"On time" kata Asha pada MC tersebut sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah lalu memberikan buku kecil berisikan tanda tangan dan kotak kecil yang ia temui.


MC tersebut hanya menaikkan jempolnya memberi tanda "kerja bagus" untuk Asha. Setelah mengumpulkannya, Asha kembali ke barisan bersama temannya.


"Sorry guys lama, nyari mereka ngga gampang, soalnya mereka sengaja lepas blazer jadi kamuflase kayak bunglon!, untung tadi ada kaka kelas yang bantuin, mana pas mau minta tanda tangan harus menuhin syarat dulu" Asha memberikan penjelasan kepada temannya agar tidak membuat mereka kecewa.


"Gue paham kok, namanya juga challenge, gue malah bangga lo bisa nyelesain semuanya, keren loh, tapi sayang aja kita kurang satu kotak lagi" jawab Jena


"Sorry ya, gue sama Kak Terra ngga bisa nyelesain tugas dengan baik, padahal cuma nyari kotak doang" Ica merasa bersalah karenanya kelompok mereka jadi gagal pikirnya.


"Bukan salah kamu ca, ini salah saya yang tidak bisa banyak membantu sebagai Penanggung Jawab disini" kata Terra


Jena melirik kearah Asha, ia paham betul ekspresi Asha yang sudah sangat jengah melihat dua orang didepannya saling menyalahkan seperti itu, padahal mereka bisa berusaha, namun mereka malah menghabiskan waktu dengan santai dan mengobrol. Hal itu membuat Jena juga merasa dongkol.


"Udah deh ngga usah dibahas, buat kotak kecil satu itu udah gue temuin pas kalian lagi mesra-mesraan. Lo kak, lebih baik balik aja ketempat lo sama OSIS yang lain biar ngga dikira pick me" sinis Asha


"Maaf, gue ngga bermaksud, tapi lo jangan gitu sha, mau gimanapun dia kaka kelas kita, ini salah gue" Ica mengeluarkan ekspresi menyedihkan, entah itu benar atau hanya akting belaka. Sedangkan Terra, ia malah merasa senang, bukankah tandanya Asha cemburu? itu yang ia duga saat ini.


"Udah udah, ngga usah dibahas, baris aja yang bener terus perhatiin MC nya bilang apa" Biu kini menengahi keributan itu


"Ngga bisa, kita harus selesain masalah ini dulu, salah lo juga si sha, malah ngambil tugas yang bukan seharusnya punya lo, kan jadi kita susah nyarinya, gue tau lo sama Kak Terra punya masa lalu, tapi ngga gini caranya, lo cemburu kan?" Bukannya menuruti apa kata Biu, Ica semakin keras kepala dan memanas membuat masalah semakin besar.


Asha menghela nafas sejenak, "Maaf, masa lalu tidak akan pernah menjadi masa kini, ataupun masa depan. Lagian itu urusan gue, lo ikut campur karena udah kemakan omongan kadal kayak dia kan? kalo lo suka si ambil aja, gue juga udah muak, satu lagi, gue nemuin kotak ini di dekat pot yang ada di lapangan waktu kejadian kalian pelukan, dan gue yakin kalian bakal ngelewatin aja dan ngga akan balik lagi ketempat itu, jadi gue ambil" Asha dengan tenang namun dingin membalasnya.


"LO! GUE NGGA MAU JADI TEMEN LO LAGI!"


_______________________________________


idieh idieh si najis, udah pick me, rela berantem sama temen demi cowok, nyebelin banget deh ini uler satu.

__ADS_1


stay tuned buat part selanjutnya guys!


__ADS_2