
Sari celingukan saat masuk kelas. Tak ada tanda-tanda Arumi datang. Ruangan kelas tiga IPS itu terasa lebih hening, karena memang Arumilah pembawa semangat para teman-temannya. Sari memperhatikan ketiga teman lelakinya yang sedang asyik bergosip di meja sebelah. Kebetulan sekali meja Sari dan Arumi berada di pojok kanan paling belakang dekat dengan jendela. "Hei, kalian nggak ada yang lihat Arumi pagi ini?"
Ridho, Bima, dan Rehan langsung menoleh ke samping kanan. Mengamati penampilan Sari yang masih sama seperti biasa.
"Minimal kalau sampai kelas itu ngucapin dulu salam, Sari!" Rehan kesal.
Ridho yang duduk di samping kanannya pun setuju. "Assalamualaikum gitu." Menyindir Sari langsung.
"Nah, bener itu! Masuk ruangan apa pun, wajib bilang salam." Bima menambahkan lebih jelas.
__ADS_1
Kening Sari berkerut. Memang tidak ada salahnya, tetapi sedikit aneh saja. Mereka sedang berada di jalur yang sama, kompak sekali ketiga anak lelaki itu. "Ya, ya, maaf." Sari mengalah. Tidak akan menang melawan mereka. "Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam." Rehan, Ridho, dan Bima langsung menjawab cepat.
Terlihat Ridho memperhatikan pintu masuk, barangkali sosok Arumi datang.
"Kalian beneran nggak ada yang lihat Arumi pagi ini?" Sari bertanya lagi. Menghela napas kasar, tidak biasanya. Arumi memang terlihat seperti murid yang memiliki sifat seperti lelaki, tetapi teman wanitanya itu selalu berusaha untuk mematuhi peraturan sekolah dengan masuk tepat waktu. "Tuh, anak ke mana sih?" Melepaskan ransel di belakang, menyimpan di meja.
"Jangan-jangan doi sakit lagi," tebak Rehan setelah berdiam diri sekitar dua menit.
__ADS_1
Ridho langsung menoleh ke samping kiri. "Dia kalau sakit pasti kasih tau salah satu dari diri. Kayak yang nggak kenal Arumi aja, dia itu demam biasa aja disangka mau berakhir hari itu juga." Anak lelaki itu masih ingat betul bagaimana Arumi menggegerkan mereka semua di malam hari. Bahkan Ridho sampai pergi ke rumah Arumi untuk mengecek keadaan gadis itu yang ternyata hanya demam biasa. Memang menyebalkan gadis itu.
Bima ingat betul kejadian itu. "Benar itu." Telunjuk tangannya mengarah ke depan. "Pasti si Arumi itu bolos. Ini udah fix."
Rehan dengan cepat menjewer telinga kiri Bima yang ada di sampingnya juga, posisi Rehan diapit oleh Bima dan Ridho. "Astagfirullah, ni bocah satu! Jangan suka suudzon, bumali itu."
Bima kesakitan sekaligus kesal. "Pamali, Rehan!" Mencoba melepaskan tangan kiri Rehan yang menjewernya. Begitu terlepas, rasanya plong. "Lo, kalau ngomong itu suka seenaknya aja."
Kening Rehan berkerut kencang, menurutnya tidak ada yang salah. "Beda dikit doang, Bim." Rehan membela diri.
__ADS_1
Sari tak lagi berbicara pada ketiga teman lelakinya tersebut. Bukannya mendapatkan jawaban yang menangkan, Sari justru akan terdorong ke jurang perdebatan yang tak akan ada ujungnya. "Apa Arumi sakit, ya? Aku harus chat dia." Sari memilih mengeluarkan ponsel. Kondisi kelas IPS tidaklah serapi yang lain. Suara gelak tawa dari para murid perempuan yang sedang membicarakan kekasih mereka, ada pula para murid lelaki yang lebih mementingkan bermain game sebelum kelas dimulai. Begitulah keadaan ruangan yang selalu terkenal sebagai kelas yang paling sulit diatur. Namun, tidak patut dipungkiri juga melahirkan beberapa bintang hebat di bagian olahraga seperti Ridho yang selalu juara umum untuk lomba lari. Setiap ada kekurangan pasti ada kelebihan, begitu pun sebaliknya.
Di tengah keramaian kelas juga perdebatan panjang Rehan dan Bima, Ridho tampaknya mengikuti jejak Sari. Mengeluarkan ponsel hendak mengirimkan pesan pada Arumi. Berharap temannya satu ini baik-baik saja. "Lo, itu memang nyebelin Arumi!" Ridho berbicara pelan, tetapi terdengar jelas di telinga Rehan. Sekilas ekor mata kiri Rehan melirik, hanya saja kembali fokus beradu mulut kembali dengan Bima. Jangan sampai kalah.