Seragam Kita Sama

Seragam Kita Sama
Berangkat Bersama


__ADS_3

Dengan sangat terpaksa karena permintaan sang ibu, Arga akhirnya mengangkut Arumi sekalian bersamanya di mobil. Siswa menengah atas itu tidak membuka suara sejak pertama masuk mobil.


Arumi tau diri, ia duduk di bangku belakang. Sibuk mengamati sekitar dari balik jendela sampai akhirnya berteriak kencang karena Arga melakukan pengeraman mendadak. "Astagfirullah!" Sontak menoleh ke arah depan. "Kamu bisa nyetir atau nggak, sih?" Suaranya penuh kekesalan.


Arga tak menoleh, hanya mengamati sekitar. Anak muda itu melakukan hal demikian karena melihat mobil di depannya pun melakukan hal yang sama. "Lo, diam aja!" Si lelaki itu kesal.


Setelah diselidiki, rupanya kemacetan ini karena ada kecelakaan di depan. Entah berapa kendaraan yang mengalami kecelakaan beruntun ini. Akan tetapi, Arga bisa menebak lumayan banyak dari keramaian yang terjadi.


Arumi menurunkan kaca jendela kiri, melihat lurus ke depan, lalu berkata, "Aku bisa telat ke sekolah, nih." Perempuan manis itu menghela napas kasar.


Arga tak berekasi apapun. Yang akan telat bukan hanya Arumi, tentu ia juga. Namun, siswa muda itu tidak ingin banyak bicara.

__ADS_1


Arumi mendengar beberapa klakson kendaraan yang tidak sabar menunggu kemacetan. Pagi hari memang menjadi waktunya orang-orang berangkat bekerja maupun sekolah, pantas saja mereka akan bersikap arogan. Sebab, harus sampai tepat waktu.


"Ya Allah, apa kecelakaannya parah, ya?" Arumi melihat tiga ambulance yang baru datang dari arah belakang. Suara sirine itu lumayan mengganggu, terlebih saat di keadaan semua orang sedang sangat panas karena emosi.


"Lo, bisa diem nggak? Jadi perempuan itu jangan kebanyakan bicara!" Arga akhirnya angkat bicara. Telinga lelaki itu terasa panas karena ocehan Arumi.


Wajah Arumi berubah kesal. Ingin rasanya menerkam bulat-bulat Arga saat ini. Perempuan itu menoleh ke depan, menatap punggung Arga. "Kalau sampai telat, aku bisa dihukum!"


Arumi berdecak kesal. "Ok, aku tau. Tapi, masalahnya ini bisa dipastikan bikin telat. Kamu nggak lihat kemacetan di depan?" Telunjuk tangan kanan Arumi menuding ke depan.


"Kalau ini jalan punya nenek moyang lo, baru protes!" Arga memalingkan wajah ke samping kanan. Tetap harus menunggu sampai bisa melewat.

__ADS_1


Dua puluh menit menunggu, akhirnya semua kendaraan bisa berjalan lagi. Arumi sudah pasrah, andaikan tadi Tante Rossa tidak memaksanya untuk ikut bersama Arga, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi. Namun, anak wanita itu berusaha menerima keadaan. Ini kali pertamanya telat. Sebab, sesibuk apapun di malam hari, Arumi selalu berusaha untuk tidak telat masuk sekolah.


Mobil Arga berjalan lagi menuju sekolah. Sekitar lima menit akhirnya sampai. Seperti yang sudah diduga, jika gerbang sudah ditutup. Mereka telat sekitar lima belas menit dan pastinya guru akan memberikan hukuman.


Arga menghentikan mobil di depan gerbang, terdiam dengan wajah yang terus berpikir. Arumi seketika membuka sabuk pengaman, melihat itu Arga langsung berkata, "Pakai lagi!"


Arumi tertegun, kemudian berujar, " Apa maksudnya?"


Arga memundurkan mobil, membuat Arumi semakin bingung. "Hei, kamu mau ke mana?" Melihat terus ke samping kanan, menurunkan kaca mobil dan melihat sekeliling. Satpam sekolah rupanya berada di dalam ruangan, tidak melihat mereka.


"Pakai sabuk pengaman lo dan jangan banyak tanya!" Arga sudah meluruskan mobil lagi, melaju lumayan kencang meninggalkan area sekolah ditemani dengan berbagai pertanyaan dari Arumi yang tidak ingin bolos.

__ADS_1


__ADS_2