
Kedatangan Arumi dan Bu Isma disambut baik dengan sangat antusias. Perihal tujuan dari Bu Isma pun sudah tersampaikan dan dengan senang hati Bu Rossa menerimanya.
Berbanding terbalik dari Bu Rossa, Arumi sendiri kurang senang. Beberapa hari lagi akan segera terjadi, yang artinya perpisahan itu akan tetap berlangsung. Rumah yang Arumi tempati pun sudah terjual sebenarnya, hal ini diketahui ketika sang Ibu bercerita dengan Bu Rossa. Jelas saja Arumi kaget, hal yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
"Kamu pasti bakal menjaga Arumi dengan baik, Isma." Pak Brian mencoba menenangkan diri Bu Isma yang menjadi teman sekolahnya dulu. "Kami pasti akan jaga Arumi dengan baik. Semoga kamu bisa lewati semua masalah ini."
Bu Isma terdiam. Melihat ke depan dengan lurus. Takdir memang tidak memilih siapa yang harus dimenangkan dan siapa yang harus kalah. Oleh sebab itu, kita hanya perlu berbaik sangka pada Tuhan.
Bu Rossa yang duduk di samping kanan Bu Isma pun meraih tangan kanan temannya itu seraya berkata, "Isma, aku benar-benar terkejut pas kamu bilang sudah jual rumahmu. Andaikan si pembeli mau mengembalikan, kami mau membelinya. Tapi, kamu bilang mereka tidak mau. Maaf."
Tarikan napas Bu Isma terasa berat sekali. Takdirnya kurang beruntung, padahal ia dan Rossa dulunya hampir sama. Berasal dari keluarga kurang mampu. Namun, begitulah alur takdir berjalan, tak ada satu pun yang bisa kita tebak. "Aku senang sekali kalian mau menerima Arumi."
__ADS_1
Arumi diam. Arga sesekali melirik perempuan manis itu, lalu diam mendengarkan. Sekali pun tampangnya terlihat arogan, tetapi lelaki itu bisa diam jika diminta ibunya.
"Kapan kamu mau berangkat?" tanya Bu Rossa pada Bu Isma.
"Minggu ini, Ros." Dari nada bicaranya saja Bu Isma sudah tampak terpaksa. Harus ikhlas meninggalkan anak satu-satunya. "Arumi mungkin akan pindah sebelum aku berangkat."
Arumi menunduk, tak ada kata-kata yang perlu diucapkan. Lebih tepatnya susah sekali untuk membuka mulut. Pada akhirnya perpisahan itu akan terjadi.
Arga diam, sedikit kurang setuju. Sekali pun memang yang memiliki andil di rumah ini tetaplah orang tuanya, tetapi ia merasa akan terganggu sedikit dengan kehadiran Arumi. Terlebih perempuan itu terlihat menyebalkan dengan mulut yang cerewet.
Jelas saja Arga tersentak. Semakin tidak setuju, lelaki itu berdiri dan berkata, "Kenapa dia nggak tinggal di kamar lantai bawah? Di sana juga kosong, Ma?" Ini bentuk protes Arga terhadap keputusan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Arumi akhirnya mengangkat kepala ke atas, menatap Arga lekat. Rupanya keberadaannya di sini kurang disambut baik oleh lelaki muda yang bahkan nanti akan menjadi teman satu rumah.
Bu Rossa dengan lembut meraih tangan kanan Arga, mengajak anak lelakinya itu duduk kembali. "Sayang, Arumi ini anak perempuan. Anggap saja dia adikmu, kalian lahir di tahun yang sama. Tapi, beda bulan saja. Kamu lima bulan lebih tua dari dia."
Arumi baru mengetahui.
"Seharusnya kamu senang, Nak. Kamu nggak akan kesepian lagi di sini kalau Mama sama Papa kerja." Pak Brian ikut mengambil alih di perbincangan itu.
Arumi semakin menatap Arga. Dari pandangan juga bahasa tubuh lelaki itu, ia bisa menyimpulkan jika memang Arga kurang suka adanya anggota lain di rumah ini selain anggota inti saja.
"Aku lebih suka sendiri, Pah." Dengan cepat Arga berdiri. Penolakan ini akhirnya anak lelaki itu keluarkan. "Dia itu perempuan yang cerewet, aku bakal tambah gila kalau ada dia di sini!"
__ADS_1
Arumi tidak terima. Dengan keberanian yang dimiliki akhirnya berdiri juga, berhadapan dengan Arga. "Enak aja!" Gadis itu tak suka dikatakan cerewet. "Kalau bukan terpaksa, aku juga nggak mau satu rumah sama kamu. Yang ada tiap hari mataku ternodai."
Bu Rossa, Pak Brian dan Bu Siti saling melempar pandangan. Entah harus berbuat apa untuk menyatukan kedua anak remaja yang sedang mencari jati diri ini.