
"Masya Allah, Isma." Bu Rossa berteriak penuh kegembiraan. Temannya itu kini berada di depan mata. Sungguh ... kejutan luar biasa. "Ayo, masuk."
Tangan kanan Bu Isma ditarik ke dalam oleh Bu Rossa, sehingga suka tak suka anak lelaki itu bergeser ke kanan.
"Ya Allah, aku senang sekali kamu datang." Wajah Bu Rossa penuh dengan kegembiraan.
Arumi terdiam sekaligus terharu melihat pemandangan yang cukup luar biasa. Pertemanan yang langgeng tanpa memandang kasta ataupun status sosial. Sebuah persahabatan yang pastinya akan langgeng sampai memberikan kesan mendalam.
Bu Rossa beralih pandangan pada Arumi. Menatap lekat anak muda yang hampir sama dengan anaknya tersebut. "Dia anakmu, Isma?" Bu Rossa menunjuk Arumi.
Sontak saja Arumi mengangguk pelan sebagai bentuk rasa hormat pada yang lebih tua. Tak lupa lengkungan senyum diberikan pada Bu Rossa.
__ADS_1
Bu Isma tersenyum kecil. "Iya, Ros. Dia Arumi, yang sering aku ceritakan di telepon."
Rupanya hubungan persahabatan itu tidak terputus begitu saja. Buktinya, Bu Isma dan Bu Rossa masih terus menjalin komunikasi satu sama lain.
Bu Rossa berjalan dua langkah ke depan. Merangkul Arumi dengan penuh kehangatan seraya berkata, "Masya Allah, Nak, akhirnya kita bisa bertemu secara pribadi." Suara Bu Rossa yang lembut menghampiri telinga Arumi. Terasa menenangkan jiwa.
Arumi terdiam, terlalu shock mendapatkan perlakuan manis. Sampai akhirnya perempuan manis itu sadar dan berkata, "Iya, Tan. Aku juga senang bertemu Tante."
Bu Rossa melepaskan pelukan. Menoleh ke belakang dan berkata, "Iya, Isma. Arga, namanya. Dia anak baik."
Arumi sekilas melihat Arga, rupanya itu nama lelaki yang bisa membuat darah tinggi di sekolah. Namun, jika dipikirkan lagi, Arga terlihat berada di sekolah dan memakai baju tanpa seragam. Mungkinkah lelaki itu datang untuk mendaftar? Jika diperhatikan lebih detail, dari postur tubuh Arga. Lelaki muda itu tidak bisa disamakan dengan anak sekolah menengah atas lainnya, Arga bahkan sangat pantas disebut sebagai anak kuliah.
__ADS_1
"Arga ini mau pindah sekolah di sini. Kemarin coba ke sekolah favorit itu," lanjut Bu Rossa.
Kalimat ini semakin meyakinkan Arumi, jika memang pemikirannya tidak salah. Arga ini bisa jadi akan menjadi calon siswa baru di sekolahnya. Ah, pasti menyebalkan. Semoga saja tidak sampai satu kelas.
"Eh, kok, malah ngobrol di sini. Ayo, masuk." Bu Rossa berbalik badan, mengajak semua orang di sana masuk dan terus berjalan ke arah ruangan tamu dari rumah ini.
Setiap kali Arumi melangkah, ia rasanya sulit bernapas. Rumah ini tampak indah dengan cara yang sangat pas dan terkesan minimalis. Tidak terlalu banyak barang, hanya yang memang sangat penting. Biasanya orang kaya akan selalu memakai barang berkualitas, tetapi tidak terlalu mencolok. Hanya saja, ada sebagian yang memang suka mengoleksi barang.
Arga yang berjalan sejajar dengan Arumi hanya lurus ke depan. Merasakan kejanggalan dari samping, tetapi santai saja. Tak ada yang perlu dibahas.
Mereka hendak sampai sopa, Arga dengan cepat berjalan melewati Arumi sambil berkata, "Lo, mau tinggal di sini, ya?" Entah dari mana pertanyaaan itu muncul, yang jelas berhasil membuat Arumi berhenti dan terpaku.
__ADS_1