
Keputusan sudah ditentukan. Selang beberapa hari Arumi sudah pindah dan menempati kamar di samping Arga. Suka atau tidak, tetap saja lelaki muda itu harus menerima Arumi di rumah ini.
Perpisahan antara Bu Isma dan Arumi berlangsung mengharu biru di teras depan rumah Bu Rossa. Akhirnya hari itu tiba, Arumi ditinggalkan oleh ibunya. Bu Rossa dan Pak Brian pun menghibur sebisa mungkin. Yakin jika hati Arumi sedang tidak baik-baik saja.
Keesokan hari setelah perpisahan, Arumi bangun begitu suara azan berkumandang. Kantung mata terlihat jelas, matanya sembab karena terus menerus menangis. Siapa pun akan terluka ketika berpisah, tetapi ini masih bisa berkomunikasi. Lantas bagaimana rasanya berpisah karena kematian? Jelas saja akan lebih menyakitkan. Namun, semua harus tetap berjalan sesuai kehendak Tuhan.
"Aku masih ngantuk, tapi harus bangun. Ibu udah sampai belum, ya." Arumi mengucek kedua mata. Tak menyadari jika ia sedang berada di kamar lain.
Anak gadis itu memakai setelan piyama panjang berwarna biru muda polos. Tanpa ragu dengan cepat berdiri, merasa sedang ada di rumah sendiri. Perlahan bergerak ke arah pintu luar, hendak ke toilet mengambil wudu. Lupa akan hijab dan masih beranggapan rumah sendiri.
Pintu kamar terbuka, Arumi melangkahkan kedua kaki keluar. Belum sadar juga. Ia bergerak jalan ke depan dua langkah sampai terdengar suara dari samping.
"Lo, mau ke mana?" tanya Arga yang kala itu sudah siap pergi ke masjid dengan sang Ayah.
Mendengar suara dari samping kanan berhasil membuat Arumi menghentikan langkah, menoleh ke arah sumber suara. "Kamar mandi lah! Ngambil wudu." Dengan suara yang tenang gadis itu menjawab.
Arga memperhatikan penampilan Arumi yang acak-acakan. Selain rambutnya mengembang, perempuan itu sepertinya belum sadar betul. "Sebaiknya lo lebih jaga-jaga. Ini bukan rumah lo sendiri!" Arga melirik rambut Arumi. Hijabnya hilang.
Arumi tertampar. Kedua manik-maniknya melotot, memperhatikan penampilan dari atas sampai bawah, serta meraba rambut. "Astagfirullah." Secepat kilat gadis berusia muda itu langsung masuk kamar. Tak sadar keluar tanpa memakai hijab.
Arga melirik tajam ke arah pintu kamar Arumi. "Gadis aneh!" Tak ingin berlama-lama di sana, Arga segera turun ke lantai bawah. Kebiasaan baik ini memang sudah ditanamkan sejak dini, sehingga Arga terbiasa dengan bangun pagi dan pergi salat ke masjid.
Sementara itu Arumi sendiri masih bergetar. Bisa-bisanya menampakkan diri tanpa hijab di depan lelaki. "Duh, ceroboh banget. Kenapa sih aku harus lupa?" Gadis itu menepak kening sekali. Selalu saja begini.
Setelah diingat kembali, ternyata setiap kamar di sini memiliki toilet masing-masing. Dengan kata lain, Arumi tidak perlu bersusah payah turun ke lantai bawah untuk sekadar ke kamar mandi. Ini jelas berbeda dengan rumah kecilnya, yang hanya memiliki satu kamar mandi saja. "Aku nggak bisa tinggal di rumah mewah. Wajar aja." Arumi menggaruk kepala, tak gatal.
__ADS_1
Setelah kejadian memalukan tadi, Arumi sendiri langsung mengambil wudu dan salat Subuh. Di sini ia menumpang, tentu harus tahu diri. Membantu sedikit pekerjaan rumah mungkin bisa dilakukan sebagai bentuk terima kasih.
Setelah selesai salat, Arumi keluar kamar dan turun ke bawah. Hebatnya, di sana sudah ada Bu Rossa yang sedang memasak nasi goreng. Di rumah ini tidak ada pembantu tetap, hanya ada seorang wanita paruh baya yang akan datang pagi dan pulang sore untuk membersihkan rumah saja. Ini berbanding terbalik dengan yang sering ditemui Arumi.
Sedikit canggung Arumi mendekati Bu Rossa. Bagaimanapun ia perlu lebih dekat dengan sesama penghuni rumah. "Eh, maaf, Tan. Ada yang bisa aku bantu?" Suaranya lembut dan menenangkan. Padahal aslinya sangat keras.
Bu Rossa menoleh ke samping kanan, tersenyum simpul. "Nggak, Sayang. Tante cuma buat nasi goreng aja." Perempuan paruh baya itu lebih lembut dari ibunya. "Kamu duduk manis aja di meja makan. Tunggu yang lain."
Arumi canggung. Mana mungkin bisa melakukan itu. Ini bukan rumahnya.
Tangan kanan Bu Rossa terus mengaduk nasi goreng yang sudah hampir jadi. Harumnya semerbak menggoda perut siapa pun di pagi hari. Memberikan rasa ingin segera cepat menyambangi dapur dan melahap habis, itulah yang dirasakan Arumi saat ini.
"Oh, ya, kamu satu sekolah, kan, sama Arga?" Bu Rossa baru menyadari itu.
Arumi secepat kilat menjawab. "Iya, Tan." Sepengetahuannya begitu. Arga kemarin menyebut nama sekolah yang memang dipakai untuk menimba ilmu olehnya.
Sontak saja kedua bola mata Arumi membulat sempurna. Tidak salah dengarkah dirinya? Berangkat bersama dengan Arga. Tidak mungkin! Baru sehari satu rumah pun, rasanya Arumi akan gila. Bagaimana mungkin ia bisa berangkat bersama? Bisa tambah gila.
"Arga itu bawa mobil ke sekolah, kadang juga motor. Dia udah dilatih buat mandiri dari kecil." Bu Rossa segera fokus mengaduk lagi nasi goreng. Suasananya berubah sendu, Arumi merasakan sedikit rasa bersalah. "Lebih tepatnya dipaksa untuk lebih dewasa dari umurnya."
Arumi terdiam. Ingin berkomentar, tetapi itu bukan ranahnya. Ia hanya perlu mendengarkan tanpa ingin tahu lebih lanjut. Sebab, semua yang menjadi privasi orang lain itu bukanlah konsumsi publik. "Aku naik angkutan umum aja, Tan. Lebih enak." Arumi menolak.
"Loh, memangnya kenapa, Sayang?" Bu Rossa merasa terluka. Padahal ia berusaha untuk membuat Arumi bisa merasakan kebahagiaan. "Arga itu jinak, lho."
Arumi terkekeh geli. Lucu saja.
__ADS_1
Bu Rossa ikut tertawa kecil. "Iya, maksudnya dia itu nggak bakal berani ngapa-ngapain. Kalau sampai berani, Tante kirim dia langsung ke luar negeri." Bu Rossa tak sedang bermain-main. Lihat saja raut wajahnya, serius. "Dia anaknya penurut, kamu pasti senang kalau udah dekat."
Arumi menghela napas. Bahkan berbicara dengan Arga saja adalah hal yang tidak ingin ia lakukan, apalagi sampai terlibat jauh dengan lelaki itu. Entah apa kabar jiwanya nanti?
"Nah, sekarang sebaiknya kamu mandi dan siap-siap. Jam enam turun lagi, sarapan," kata Bu Rossa.
Arumi paham. Sebaiknya memang begitu, karena ia bisa saja gila jika terus saja membahas tentang Arga. "Iya, Tan." Arumi menurut. Ia kembali keluar dapur dengan perasaan campur aduk. Batinnya menggerutu, tidak sanggup satu mobil dengan Arga. Namun, mulutnya jelas tidak bisa menolak lebih jauh.
Semoga saja dia nolak.
Nasi goreng selesai. Bu Rossa hanya tinggal membuat lauk pelengkapnya seperti telur ceplok juga kerupuk udang. Sudah dipastikan akan sangat nikmat sarapan kali ini. "Habis ini selesai, aku harus mandi dan siap-siap kerja. Mas Brian juga pasti udah selesai olahraga."
Di dapur yang luasnya cukup lumayan tersebut itulah Bu Rossa setiap pagi menyiapkan sarapan untuk anak dan suaminya. Menyempatkan diri untuk terus mempersembahkan yang terbaik, karena keluarga adalah nomor satu.
Waktu terus berjalan sampai akhirnya pukul enam pun tiba. Semua anggota keluar sudah berada di meja makan dan mengambil sarapannya sendiri termasuk Arumi.
Arga lebih suka makan nasi goreng dengan dua telur ceplok tanpa kerupuk, lelaki itu lebih banyak mengkonsumsi protein dan sayur juga buah dibandingkan karbo.
Posisi Arga berada di samping Arumi, sedangkan Bu Rossa dan Pak Brian di depan mereka. Mereka seperti keluarga sederhana yang lengkap.
Arga mengambil segelas air, meneguk sebentar dan bersamaan dengan itu kalimat ibunya pun menyapa telinga.
"Sayang, ajak Arumi berangkat bareng, ya," imbuh Bu Rossa.
Terlalu kaget, sampai akhirnya Arga menyemburkan lagi air dari mulut. Posisinya sedang menoleh ke samping kanan, lebih tepatnya ke arah Arumi. Jelas saja air itu menyembur ke wajah gadis manis tersebut.
__ADS_1
"Astagfirullah, Arga!" Arumi kesal. Tak sadar jika sedang ada tengah keluarga lain.
Arga sendiri diam, masih belum sadar. Perkataan ibunya terlalu gila, menurut Arga.