
"Cut ! Oke break dulu." Ucap seorang sutradara yang sedang menjalankan projek syutingnya.
Juna langsung menuju kursi nya untuk bersandar sekedar melepas penat yang ia rasakan. Sang manajer, David segera mengipasi Juna perlahan.
"Jun, emang kamu gak capek kerja terus kayak gini? Kamu kan udah jadi CEO + pemilik salah satu perusahaan ternama pula." Ucap David membuka pembicaraan dengan sang artisnya.
"Sstt gak boleh banyak orang tau tentang itu." Kata Juna sembari menyuruh David berkata pelan-pelan.
"Iya tapi badan kamu kan gak kuat juga kalau harus kerja tiap hari gini. Pagi siang malam, tanpa istirahat." Kata David lagi, ia tau betul kalau Juna jarang istirahat. Disamping itu, David lah yang selalu mampir ke apartment tempat tinggal Juna.
"Sekarang malam apa?" Tanya Juna tiba-tiba mengabaikan perkataan David tadi.
"Malam Jum'at." Kata David.
"Bukan itu. Bulan purnama kan?" Tanya Juna lagi memastikan.
"Iya." Jawab David.
"Atur jadwal syutingku, gak ada jadwal syuting malam sekarang." Ucap Juna kemudian memberi perintah pada manajer nya.
"Oke. Mau istirahat ya?" David pun mengiyakan perintah itu. Dan sebelum-sebelumnya ia juga sudah mempersiapkan semuanya. Ia sangat tau dimana hari-hari tertentu yang harus ia atur untuk sang artisnya. Disamping itu juga, David tidak menaruh sedikit kecuriga apapun terhadap Juna. Karena menurutnya Juna adalah pemuda yang baik, yah walaupun sikapnya sedikit cuek dan acuh.
"Iya." Jawab Juna singkat.
__ADS_1
Dengan cepat Juna menyelesaikan syutingnya hari ini. Sore hari, Juna sudah bisa kembali ke apartment nya. Tapi seperti biasa ia akan pergi ke perusahaan Young Textile terlebih dahulu. Ya itu adalah perusahaan miliknya. Disana ada beberapa kerabatnya. Maksudnya kerabat dengan darah yang sama yaitu darah serigala. Atau bisa kita sebut sebagai manusia serigala. Mereka berkamuflase menjadi manusia-manusia biasa seperti yang lainnya. Ini semua demi Juna. Ribuan tahun mereka tinggal. Perubahan demi perubahan sudah mereka lewati.
Luna adalah sosok serigala wanita yang parasnya sangat cantik dan elegan. Serigala manapun sangat menyukainya termasuk David, manajer Juna. Tapi David tidak tau kalau Luna adalah sebangsa dengan Juna. Ia juga tidak tau siapa Juna sebenarnya. Yang ia tau adalah Juna teman semasa kuliahnya dulu. Dan Juna lah yang membantunya agar mewujudkan impian nya untuk menjadi seorang manajer artis. Juna dikenal sebagai artis sejak lama. Namun semua itu tidak menutup kemungkinan bahwa Juna harus selalu memperbarui kewarganegaraan nya. Selama ribuan tahun mereka hidup hanya untuk mencari seseorang yang diyakini adalah jodoh Juna di masa lalunya.
----*----
Malam hari tiba, Juna dan kawan-kawan yang sebangsa serigala sudah ada di hutan. Hutan yang tidak terlalu jauh dari perkotaan dimana Juna tinggal. Di hutan ini juga menyimpan sebuah vila untuk mereka tinggali. Tengah malam hampir tiba. Disaat yang tepat mereka akan berubah menjadi serigala yang ganas dan harus menahan diri untuk tidak memangsa manusia karena rasa lapar yang amat mencekam.
Juna berjalan-jalan menyusuri hutan. Tanpa di sengaja, ia melihat seorang perempuan yang sepertinya sedang kebingungan. 'Siapa perempuan itu? Kenapa malam-malam gini ada dihutan yang sepi?' batin Juna penuh tanda tanya. Tanpa ia sadari, waktu nya tinggal sedikit lagi. Tapi Juna masih asik dengan lamunannya sembari melihat kearah perempuan itu. Suaranya menggema meminta pertolongan. Juna akhirnya tersadarkan dan melihat ke arah langit. Ini sudah tengah malam, sudah waktunya. Longlongan suara serigala saling bersahutan yang menandakan mereka sudah berubah. Tinggal Juna yang masih berdiam diri di sana. Entah bagaimana caranya, ia tak berubah sedetik pun. Juna melihat ke sekujur tubuhnya, ia benar-benar tak berubah. Disaat-saat yang mencekam, ia melihat perempuan itu ketakutan dan sudah ada seekor serigala yang hendak menerkamnya. Juna reflek keluar dari tempat persembunyiannya. Menyelamatkan perempuan itu. Untungnya serigala itu cepat pergi ketika melihat Juna yang ada didepannya. Sudah pasti serigala itu mengenal Juna. Juna juga memeriksa bau darah perempuan itu. Dia manusia, tapi ada bau vampir ditubuh perempuan itu. Yang membuat Juna tidak mengerti dengan Indra penciumannya. Ia mencoba lebih fokus lagi, takut kalau disekitarnya benar-benar ada vampir. 'Tidak. Ini tidak salah. Baunya dari perempuan itu. Tapi dia bukan vampir' batin Juna. Perempuan itu masih berdiam diri tak berani melangkah mendekati Juna. Akhirnya Juna yang mendekatinya.
"Kamu gak papa?" Tanya Juna.
"Gak papa." Jawab perempuan itu dengan sedikit takut.
"Aku tersesat. Tadi mencari kayu bersama temanku, tapi aku terpisah." Jawabnya menjelaskan.
Juna melihat lekat matanya. Menandakan perempuan ini sedang tidak berbohong.
"Sekarang kamu mau kemana?" Tanya Juna lagi.
"Tenda ku di pinggir hutan. Tapi aku tidak tau jalannya." Jawabnya pelan.
"Ayo aku bantu." Kata Juna menawarkan jasanya.
__ADS_1
"Kamu tau jalannya?" Tanya nya kembali. Sepertinya perempuan ini sudah tidak terlalu takut pada Juna. Bisa di dengar melalui suaranya yang sedikit berbeda dari sebelumnya.
"Tidak baik malam-malam begini sendirian di hutan. Bagaimana kalau ada seekor serigala lagi yang menyerangmu nanti?" Ucap Juna. Ia melihat perempuan itu bergidik ngeri saat dirinya melantunkan kalimat terakhirnya.
"Baiklah." Jawab perempuan itu mengikuti langkah Juna.
Dengan pendengar Juna yang seribu kali lebih baik dari pada manusia biasa. Dia dengan mudah mengetahui letak tenda yang perempuan itu maksud. Perempuan itu juga tidak banyak berbicara, ia hanya mengikuti Juna sampai ke tempat dimana tendanya berada. Juna tidak benar-benar mengantarnya sampai tepat didepan tendanya.
"Itu tenda mu?" Tanya Juna dari kejauhan sembari menunjuk kearah yang Juna maksud.
Perempuan itu melihat ke arah yang Juna maksud dengan mata yang berbinar-binar. "Iya. Makasih ya." Lanjutnya sembari tersenyum.
"Kembali ke tendamu dan hati-hati jangan sampai tersesat kembali." Ucap Juna kepada perempuan itu.
"Kamu gak mau ikut aku? Kamu mau kemana?" Tanya perempuan itu.
"Aku masih ada urusan." Jawab Juna sembari mencari alasan agar ia bisa cepat pergi.
"Urusan? Dihutan ini?" Tanya perempuan itu lagi membuat Juna kehabisan akal.
"Pergilah." Juna mendorong perempuan itu agar melangkah menuju tendanya. Dan dengan cepat ia pergi dari tempat itu. Sehingga pada saat perempuan itu menoleh ke arah belakang, Juna sudah tidak terlihat lagi.
'Hei kemana perginya laki-laki tadi?' batin perempuan itu.
__ADS_1
Juna masih bersembunyi dibalik pohon besar yang berada dibelakang perempuan itu. Memastikan perempuan itu pergi ke tendanya dengan aman. Dan tak berpikir panjang, perempuan itu segera kembali berkumpul dengan teman-teman nya di tenda. Melihat hal itu, Juna juga bergegas kembali kedalam hutan.