Serigala Tampan

Serigala Tampan
Luka


__ADS_3

"Daniel." Ucap Juna sedikit berteriak memanggil nama Daniel di villa yang sangat luas itu.


"Ada apa? Kenapa Luna?" Daniel datang secepat kilat mendengar namanya di panggil seperti meminta pertolongan.


"Cepat obati dia. Sepertinya luka nya parah." Ucap Juna yang menggendong tubuh Luna ke sebuah sofa yang lebih lebar.


"Apa yang terjadi?" Tanya Daniel yang masih melihat luka itu.


"Aku memasuki kawasan terlarang." Jawab Juna.


"Kawasan vampir?" Tanya Daniel untuk memastikan, meskipun sebenarnya ia tau apa yang di maksud kawasan terlarang oleh Juna.


"Ya." Kata Juna.


"Hentikan kebodohanmu. Kau akan bertemu perempuan itu lagi, kalau memang dia jodohmu." Ucap Daniel memperingati.


"Maafkan aku." Kata Juna sembari melihat ke arah Luna yang meringis kesakitan.


"Tidak Juna. Tidak apa-apa. Sebentar lagi akan membaik." Ucap Luna disela-sela sakitnya.


Juna duduk di sofa sementara Daniel berusaha mengobati luka yang tergores lebar di lengan Luna. Ia kemudian mengambil beberapa ramuan yang hanya diketahui oleh dirinya saja. Juliet dan Frenky menghampiri mereka setelah tau apa yang terjadi dengan Luna.


"Luna? Ada apa? Kenapa bisa begini?" Tanya Juliet bertubi-tubi setelah melihat luka di lengan Luna yang sangat lebar.


"Tidak apa-apa, aku hanya luka sedikit." Ucap Luna agar tidak terlalu mengkhawatirkan dirinya.


"Ini bukan luka sedikit. Ia terkena racun vampir. Untungnya racun itu tidak sampai masuk ke tubuh Luna, hanya saja ia akan terus membesar." Kata Daniel memberi penjelasan di sela-sela kesibukannya mengobati Luna.


"Apa bisa di sembuhkan Daniel?" Tanya Frenky yang juga terlihat ngeri dengan luka yang Luna alami.


"Tentu saja. Ini tidaklah sulit bagiku." Jawab Daniel dengan cekatan mengobati luka itu.


"Dia ikut denganku memasuki kawasan terlarang." Juna tiba-tiba mengeluarkan suaranya yang sedari tadi hanya diam.


"Kasawan terlarang? Untuk apa kamu kesana?" Tanya Frenky yang heran dengan apa yang Juna lakukan.


"Entahlah, aku ingin mencari seseorang." Kata Juna.

__ADS_1


"Aku sudah memperingatkan untuk tidak melakukan hal bodoh lagi." Daniel berdiri dari sofa yang di tempati Luna. Menandakan dirinya sudah selesai mengobati luka Luna.


"Istirahatlah, aku akan pergi dulu. Besok tidak usah ke kantor sampai luka itu benar-benar sembuh. Biar Juliet yang mengambil alih sementara perusahaan. Besok aku ada jadwal syuting lagi." Ucap Juna kepada Luna dan meminta Juliet untuk mengurus perusahaan nya besok.


"Baiklah." Jawab Luna dan Juliet bersamaan. Lalu Juna pergi meninggalkan mereka.


"Luna, apa itu sakit?" Tanya Juliet pada Luna. Melihat luka yang ada di tubuh Luna, ia pun bergidik ngeri. Tak pernah ia bayangkan bagaimana rasanya terkena racun vampir.


"Sedikit. Tapi sudah lebih membaik setelah Daniel mengobatinya." Ucap Luna sembari tersenyum menandakan dirinya baik-baik saja.


"Juliet, temani Luna disini. Daniel, ikut aku." Tiba-tiba Frenky mengeluarkan perintah.


Tanpa basa-basi Daniel langsung mengikuti langkah Frenky. Mereka berada di luar villa. Frenky melihat mobil Juna yang sudah tidak terlihat lagi disana.


"Masuklah Daniel." Ucap Frenky meminta Daniel agar mengikutinya ke kota.


"Kita mau kemana?" Tanya Daniel.


"Menemui Juna." Jawab Frenky.


"Apa itu penting?" Tanya Daniel lagi. Ia sangat malas jika harus ke kota yang ramai itu.


"Baiklah." Daniel mengikuti Frenky memasuki mobilnya. Ia sangat jarang untuk pergi ke kota.


Kehidupannya ia habiskan di villa dan hutan itu. Meskipun begitu, tak ada rasa penasaran di dirinya tentang perkotaan. Yang ia tau, kota itu sangat ramai tidak seperti hutan yang sepi. Dan hutan lebih nyaman untuknya. Kunjungan Daniel ke kota bisa di hitung dengan jari. Ia tak akan memasuki kota kalau tidak ada suatu yang mendesak dan mengharuskan nya untuk bertemu dengan Juna. Dengan cepat Frenky menyusul Juna yang ada di apartemen nya.


"Frenky, Daniel ada apa?" Tanya Juna yang melihat mereka menyusulnya.


"Ada sesuatu yang akan aku bicarakan. Apa di sini aman?" Tanya Frenky.


"Aman. Ini adalah kawasanku juga. Katakan." Kata Juna mempersilahkan mereka untuk duduk di sofa empuk miliknya.


"Klien kita ada kunjungan ke sini. Dan kamu akan menemuinya tepat dimana hari itu terjadi gerhana matahari." Ucap Frenky membuka masalah yang ingin ia katakan.


"Apa kamu sudah benar-benar memperhitungkan nya?" Tanya Juna dengan penuh pertimbangan.


"Ya." Jawab Frenky dengan pasti.

__ADS_1


"Apa kita butuh kerjasama ini?" Tanya Juna lagi. Ia tau ini adalah hal yang bisa dikatakan berbahaya baginya.


"Sepertinya begitu. Perusahaan Era Djaja juga termasuk perusahaan yang besar. Kita akan mendapatkan keuntungan yang besar jika kerjasama ini berhasil. Beberapa perusahaan sudah ingin menjalin kerjasama dengannya, tapi perusahaan kita lebih beruntung." Ucap Frenky menjelaskan kepada Juna.


"Apa tidak bisa kita atur untuk mundur?" Tanya Juna yang masih berpikir.


"Sepertinya tidak. Mereka tidak suka mempermainkan waktu. Mereka akan tiba tepat sehari sebelum hari H tiba dan akan beristirahat sebentar." Jawab Frenky. Inilah kelebihannya. Ia bisa mendeteksi waktu, pikiran seseorang dan rencananya.


"Bagaimana Daniel? Apakah kamu punya solusinya?" Tanya Juna kepada Daniel. Ia tau hanya Daniel yang bisa mengatasi ini.


"Akan ku carikan. Tapi mungkin tidak akan bertahan lama. Ingat Juna, dihari itu kita bisa saja berubah menjadi serigala. Waktu tidak bisa di tebak." Ucap Daniel. Ada sedikit keraguan didirinya. Tapi tidak akan pernah ia tau sebelum mencarinya.


"Aku mengerti. Sepertinya aku harus cepat-cepat mencari perempuan itu." Ucap Juna.


"Jangan terlalu berambisius, ingat gunakan akalmu." Kata Daniel yang mengingatkan kembali kejadian yang menimpa Luna.


"Aku akan mengingatnya." Kata Juna.


"Kita hanya memiliki waktu 2hari untuk itu." Ucap Frenky menengahi dan kembali ke topik utama.


"Dimana aku akan bertemu mereka?" Tanya Juna memastikan tempat yang akan ia kunjungi nanti.


"Di resto Ageanis." Jawab Frenky. Ia juga memberikan berkas-berkas yang harus diketahui oleh Juna mengenai kerjasamanya itu.


"Apa kamu tidak akan membawa Luna?" Tanya Frenky. Mengingat Luna lah yang biasanya menghandel segalanya.


"Dengan keadaannya yang seperti itu, tidak mungkin." Kata Juna.


"Baiklah. Kamu akan pergi sendiri?" Tanya Frenky lagi.


"Ya. Aku bisa mengatasinya sendiri. Terlalu berbahaya jika ada yang mengikutiku." Jawab Juna yang memikirkan resiko terbesarnya. Resto itu memang cukup luas, tapi ia tidak mau mengambil resiko lebih besar lagi.


"Aku mengerti." Kata Frenky.


"Jadi Daniel, pikirkan sesuatu untukku selama aku tidak menemukan perempuan itu." Ucap Juna kepada Daniel untuk mengingatkan.


"Pergilah ke villa besok. Aku akan memberitahu jawabannya." Kata Daniel.

__ADS_1


"Baiklah." Ucap Juna.


Frenky dan Daniel kembali ke villa di hutan. Untuk sementara Luna akan tinggal di villa itu sampai lukanya benar-benar sembuh tanpa goresan apapun. Sementara Juliet dan Frenky kembali ke kota. Masih ada kehidupan yang menanti mereka disana.


__ADS_2