
"Bagaimana Daniel, apa kamu sudah menemukan caranya?" Tanya Juna khusus kepada Daniel.
"Hhh hidup di kota memang menyusahkan. Ayo ikut aku." Ucap Daniel sembari menarik nafas lelah.
Juna mengikuti langkah Daniel ke ruangan nya. Disinilah ruangan pribadi Daniel. Tidak ada yang bisa masuk keruangan ini kecuali Daniel sendiri atau bersama Daniel. Karena ruangan ini dikunci oleh sistem yang Daniel buat dan hanya dirinya lah yang bisa membukanya. Didalam ruangan ini terdapat banyak sekali buku. Seperti buku sejarah dan ilmuan-ilmuan lainnya. Sangat banyak sehingga hanya Daniel yang tau dimana letak-letak suatu buku yang perlu dibaca.
"Sudah lama aku tidak ke ruangan ini." Ucap Juna ketika keduanya sudah berada didalam ruangan itu.
"Karena hanya aku yang berada di ruangan ini." Kata Daniel.
"Baiklah. Kamu benar." Juna menyetujui perkataan Daniel.
"Lihat ini." Daniel memperlihatkan sesuatu di depan matanya. Sesuatu yang berkilau, di lindungi dengan lapisan kaca disekelilingnya. Juna yang melihatnya langsung terpukau.
"Apa ini?" Juna melihat dengan jeli. "Cincin permata?" Lanjutnya.
"Yah, didalamnya terdapat bunga matahari. Coba kamu perhatikan." Daniel sedikit demi sedikit menjelaskan
"Benar. Tadinya aku tidak melihatnya." Ucap Juna.
"Hanya mata serigala yang bisa melihatnya. Manusia biasa akan melihatnya seperti cincin biasa." Kata Daniel lagi menjelaskan.
"Bagaimana kerjanya?" Tanya Juna dengan semangat.
"Kamu cukup menggunakannya. Cincin ini tidak boleh sampai tersentuh air. Dan ketika kamu melepaskannya, tubuhmu tidak akan langsung berubah. Masih perlu beberapa menit untuk kembali seperti manusia serigala." Jawab Daniel dengan rinci.
"Oh benarkah? Temuanmu sangat berguna." Ucap Juna senang.
"Setelah selesai, kembalikan cincin itu kepadaku." Ucap Daniel lagi.
"Kenapa? Bukankah cincin ini untukku?" Tanya Juna serius.
"Tidak. Ini hanya bisa dipakai sehari saja. Selanjutnya aku harus menempatkannya ketempat semula agar kekuatannya kembali lagi." Kata Daniel membuat Juna mengerti semuanya.
"Baiklah aku mengerti." Ucap Juna menyetujuinya.
__ADS_1
"Ambil besok saja. Sekarang kamu bisa tinggal disini saja." Pinta Daniel.
"Baiklah." Tanpa pikir panjang Juna langsung menyetujuinya. Ia tau Daniel lebih tau segalanya dibanding dirinya. Juna juga sudah malas bertanya, yang penting ia tau inti dari cincin itu.
"Ayo keluar." Ajak Daniel.
Mereka keluar dari ruangan tersebut.
"Bagaimana keadaan Luna?"
"Sudah membaik."
"Syukurlah. Aku akan pergi tidur sekarang."
Daniel hanya mengangguk dan membiarkan Juna pergi ke kamarnya.
---*---
"Daniel aku sudah siap." Ucap Juna dengan mantap.
"Apa kamu yakin Daniel?" Tanya Frenky sedikit khawatir.
"Ya." Jawab Daniel dingin. Ia tak suka dengan keraguan yang seseorang berikan untuknya.
"Jun, apa kamu tidak akan membawaku? Lukaku sudah lumayan sembuh." Tanya Luna.
"Cincin ini hanya ada satu." Ucap Daniel menengahi.
"Dengar apa kata Daniel? Kalian harus tetap di kawasan hutan ini. Aku tidak ingin kalian memiliki masalah." Ucap Juna mengingatkan yang lainnya.
"Baiklah." Jawab Frenky dan Juliet serentak.
"Aku akan cepat kembali." Ucap Juna lagi.
"Kami menunggumu Juna." Kata Juliet.
__ADS_1
"Frenky, berkas-berkas nya sudah kamu siapkan?" Tanya Juna memeriksa.
"Sudah." Jawab Frenky dengan sunggguh.
"Baiklah aku akan berangkat sekarang." Ucap Juna.
"Hati-hati Juna." Kata Luna.
Juna hanya tersenyum memandangi Luna. Juna melajukan mobilnya dengan cepat menuju resto yang sudah ia sepakati. Juna duduk di tempat yang sudah ia persiapkan. Klien nya masih belum datang. Sesekali ia mengecek jam di tangannya. Sebentar lagi akan tiba. Dan benar saja, klien yang ia tunggu sudah datang. Juna menjabat tangannya, terlihat cincin mewah yang dipakai oleh Juna.
Klien itu tersenyum menyapa Juna.
"Selamat siang, sudah lama menunggu?" Sapa klien tersebut.
"Ah tidak. Itu tidak masalah untuk proyek sepenting ini." Jawab Juna dengan penuh keramahan.
"Terimakasih." Kata klien itu sembari tersenyum.
Juna mengangguk dan mulai membicarakan rincian kerjasama nya. Pertemuan dengan klien tersebut berjalan lancar. Bahkan mereka sudah saling akrab satu sama lain. Di satu sisi, Juna merasa bahwa kliennya sering memerhatikan cincin yang ia kenakan.
"E maaf pak Juna, apakah anda sudah tunangan atau punya istri?" Tanya klien tersebut yang sejak tadi sudah. penasaran.
"Oh tidak. Belum dua-duanya." Jawab Juna dengan sedikit candaan.
"Oh saya pikir." Klien tersebut menunjuk ke jari manis Juna. "Maaf pak Juna." Lanjutnya lagi.
"Oh tidak apa-apa." Jawab Juna dengan ramah.
"Baiklah semoga kerja sama kita bisa berjalan lancar seperti yang sudah kita bahas tadi." Ucap klien tersebut menutup pembahasan.
"Pasti pasti itu pak." Jawab Juna dengan sangat meyakinkan.
"Mari saya pamit lebih dulu." Ucap klien tersebut sembari menyodorkan tangannya.
"Ya, silahkan." Jawab Juna dengan menjabat tangannya.
__ADS_1
Sebelum pergi dari resto itu, Juna berjalan ke arah toilet. Disana ia membuka cincinnya dan membasuh wajahnya. Juna melihat dirinya di cermin. Wajah tampannya terpapar disana. Sebelum pada akhirnya Juna keluar dari toilet tersebut. Ia lupa kalau cincinnya masih berada disaku celananya. Juna tidak memakai cincin itu sesaat. Tiba-tiba tubuhnya terasa panas dingin. Ia merasakan energi di dalam tubuhnya yang akan keluar merubah dirinya menjadi serigala. Seketika Juna panik, ia melupakan cincinnya berada dimana. Dengan cepat, Juna kembali ke toilet tersebut. Ia mencari cincin yang bersamanya tadi tapi hasilnya nihil. Ia benar-benar tidak terkendali. Untungnya tidak ada seorang pun di toilet ini. Juna mulai memutar otaknya mengingat-ingat letak cincin itu kembali. Tapi tubuhnya benar-benar melawannya dengan sangat hebat. Sampai ketika Juna sudah akan berubah, tiba-tiba ia merasakan energi itu melemah. Tubuhnya langsung lemas seketika. Perlahan ia bangun dan mulai mencium aroma yang sangat familiar. Yah, aroma yang ia temui saat di hutan. Itu artinya seseorang sedang berada di dekat sekitarnya. Juna segera mencari kembali cincinnya sebelum aroma itu menghilang atau menjauh. Akhirnya ia menemukannya. Juna memakainya kembali lalu keluar dari toilet sembari mencari aroma itu berasal. Aroma nya sangat khas. Juna. bisa dengan mudah membedakan aroma ini dengan yang lainnya. Tidak ada yang memilikinya selain wanita yang ia temui saat dihutan itu. Dengan cepat, Juna menemukannya. Aroma itu seperti berasal dari toilet wanita disebelah toilet pria tadi. Sangat tidak mungkin untuk Juna memasukinya. Akhirnya ia menunggu cukup lama. Dengan sabar Juna menunggu sampai akhirnya wanita yang ia tunggu pun keluar dari toilet tersebut. Juna melihat ke arah wanita tersebut. Terlihat wanita tersebut melihat Juna dengan tatapan aneh. Tentu saja wanita tersebut takut dengan Juna. Karena saat ia keluar dari toilet, Juna langsung menatapnya dengan intens. Beruntung wanita tersebut tidak melaporkan kejadian itu kepada security disini.