
"Juna, udah balik?" Tanya Luna yang melihat pintu terbuka dan terlihat sesosok pria yang ia kenal.
"Mana yang lain? Tadi aku lewat kok gak ada diruangannya?" Tanya balik Juna yang menanyakan Juliet dan Frenky.
"Oh, mereka sedang pergi bertemu klien." Jawab Luna.
"Bagaimana perkembangannya?" Tanya Juna lagi menanyakan tentang perusahaan nya.
"Bagus." Ucap Luna singkat.
"Kasih aku suatu laporan." Kata Juna yang menuju tempat duduk nya.
"Sudah ada di laptopmu." Ucap Luna dengan sigap.
"Baik." Juna membuka laptopnya dan memeriksa beberapa berkas yang di kirim oleh Luna.
"Bagaimana dengan perempuan itu?" Tanya Luna yang sedikit penasaran.
"Tidak tau." Jawab Juna pendek.
"Kamu tidak menemukan nya?" Tanya Luna lagi memastikan.
"Tidak. Aku membutuhkan Juliet." Kata Juna sembari masih fokus dengan laptop nya.
"Juliet tidak bisa melihat perempuan itu." Kata Luna memberitahu Juna yang belum tau soal itu.
"Kenapa?" Tanya Juna penasaran.
"Entahlah." Jawab Luna tak acuh. Walaupun sebenarnya ada sedikit keyakinan di dirinya bahwa perempuan itu adalah jodoh Juna. Menurut perkataan Daniel, ia bisa berpikir demikian.
"Apa karena aroma vampir itu?" Tanya Juna pada dirinya sendiri. Namun Juna masih belum sadar dengan ciri-ciri yang di keluarkan oleh perempuan itu.
__ADS_1
"Aku tidak tau." Jawab Luna yang mendengar pertanyaan Juna. Walaupun sebenarnya pertanyaan itu untuk dirinya sendiri.
Hening. Masing-masing sibuk dengan kegiatannya. Tiba-tiba Juna berdiri dan ingin pergi dari ruangan itu.
"Jun, mau kemana?" Tanya Luna yang melihat Juna tiba-tiba melangkah.
"Ke suatu tempat." Jawab Juna.
"Boleh aku ikut?" Tanya Luna.
"Ayo." Jawab Juna mengiyakan.
Luna segera membereskan sedikit kekacauan di mejanya. Sebelum akhirnya ia menyusul Juna keluar dari ruangan itu. Banyak pasang mata yang melihatereka berjalan bersama. Sebagian dari mereka sangat senang melihat pemandangan yang jarang mereka lihat. Juna dan Luna terlihat sangat cocok jika berjalan bersama. Bahkan banyak dari mereka yang menginginkan Luna agar menjadi kekasih Juna. Pasangan yang serasi, begitu mereka menyebutnya. Beberapa orang memberi tanda penghormatan saat berpapasan dengan mereka. Juna dan Luna memang bukan orang sembarangan di perusahaan ini. Nasib nya bergantung pada kedua orang itu jika sudah masuk di perusahaan. Seorang satpam membuka pintu keluar untuk mereka dan sedikit membungkuk.
"Sudah mau pergi lagi tuan?" Tanya satpam itu pada Juna.
"Iya." Jawab Juna sembari mengukir senyuman dibibirnya.
Juna menyetir mobilnya keluar dari area perusahaan. Bersama dengan Luna ia menuju ke suatu tempat. Tempat dimana tidak ada bangsa serigala yang menapakkan kakinya di sana. Ya, perbatasan wilayah vampir dan serigala.
"Juna, untuk apa kita ke sini?" Tanya Luna yang kebingungan melihat Juna yang terus berjalan tanpa memikirkan resikonya.
"Melihat-lihat." Jawab Juna acuh.
"Ini berbahaya Juna. Tidak ada bangsa serigala yang ke sini. Kita bisa di serang tiba-tiba." Kata Luna mengingatkan Juna yang sudah melewati garis perbatasan antara vampir dan serigala.
"Aku hanya ingin mencari satu aroma saja." Ucap Juna yang masih berjalan.
"Perempuan itu? Dia tidak mungkin ada di sini. Kalau dia ada di sini, mungkin sudah menjadi santapan para vampir itu." Kata Luna berusaha menjernihkan pikiran Juna yang sudah tidak masuk akal.
"Tapi kita tidak akan tau kalau tidak mencarinya dulu." Ucap Juna yang masih bersikeras.
__ADS_1
"Juna jangan." Luna menghentikan langkah Juna. Menahan tangannya agar Juna tidak berjalan lebih jauh lagi.
Hutan ini sangat rapat sehingga tidak ada cahaya matahari yang masuk. Meski begitu mereka tetap bisa melihat dengan jelas menggunakan mata serigala nya yang jauh lebih tajam dari pada mata manusia biasa.
"Hei kalian. Mau apa ke sini?" Tiba-tiba suara seseorang mengagetkan mereka. Beberapa orang itu muncul tepat dihadapan Juna dan Luna.
"Vampir?" Ucap Luna pelan tapi Juna bisa mendengarnya.
"Mau apa bangsa serigala ini kesini?" Tanya salah satu seorang vampir dari mereka.
"Nyalinya besar juga. Sudah lama tidak ada bangsa serigala yang menapakkan kaki nya kesini." Timpal salah satu dari mereka lagi.
"Sepertinya santapan kita sangat lezat hari ini. Darah serigala." Mereka menampakkan gigi taring nya yang tajam. Darah serigala adalah darah yang paling segar dan kekuatan mereka bisa jauh lebih hebat dari sebelumnya karena darah itu. Apalagi darah yang di minum adalah sosok serigala yang memiliki kekuatan tertentu.
"Kalian mundurlah, aku hanya ingin mencari seseorang." Kata Juna mencoba untuk bernegosiasi.
"Seseorang? Siapa itu? Vampir kah?" Tanya salah satu seorang vampir. Kini Juna dan Luna di kepung oleh beberapa vampir. Semakin lama mereka di sana, semakin banyak vampir yang datang.
"Bukan. Dia manusia." Kata Juna lagi.
"Hei anak muda. Tidak ada manusia yang berlalu lalang di sini. Dia tidak akan hidup lama di sini." Ucap salah satu vampir lagi.
"Juna, apa yang dikatakan mereka adalah benar." Luna membenarkan ucapan vampir itu agar Juna mau pergi dari tempat itu secepatnya.
"Tapi Lun ---" Juna belum menyelesaikan kata-katanya, tapi Luna segera memotongnya. Tidak peduli apa yang akan Juna katakan, Luna merasa keadaannya semakin mencekam.
"Sebaiknya kita pergi, sebelum para vampir ini berdatangan. Ayo Juna." Luna menggenggam tangan Juna agar pergi bersamanya tapi jalan keluar sudah tertutup oleh banyaknya vampir.
"Kalian mau pergi? Itu tidak mudah." Kata salah satu vampir diantara mereka.
Juna dan Luna mempersiapkan diri. Mereka tau tidak akan pergi tanpa adanya sedikit perkelahian. Juna dan Luna segera berubah menjadi seekor serigala yang besar. Menyerang satu persatu vampir yang menutup jalannya. Sayangnya Luna sempat terpental jauh karena serangan salah satu vampir. Juna yang melihat itu, langsung mengeluarkan cahaya ungu dari badannya. Menandakan bahwa ia sedang marah. Para vampir yang melihat itu, langsung berjaga-jaga. Ini adalah kekuatan terbesar Juna. Dan kekuatan itu hanya muncul ketika ia benar-benar marah. Sudah lama para vampir tidak melihat cahaya itu. Juna dengan mudah merobohkan puluhan vampir yang ada disana bahkan ada yang sampai terbunuh olehnya. Vampir-vampir itu semakin banyak tapi Juna juga semakin gila. Tidak butuh waktu lama, Juna dan Luna bisa keluar dari sarang yang berbahaya itu. Mereka kembali ke mobil Juna. Juna segera menyetir mobilnya menuju villa hutan yang ia tinggali. Keadaan Luna tidak baik. Beberapa luka menyayat di lengannya. Kulitnya terlihat robek. Juna melajukan mobilnya dengan cepat. Luna butuh bantuan Daniel. Daniel bisa menyembuhkannya dengan obat-obatan herbal yang ia punya.
__ADS_1