
Di sebuah rumah didekat hutan tinggallah tujuh saudara. Mereka nampak bahagia, bermain bersama, makan bersama, saling membantu, saling menemani di suka dan duka.
"Hei Caroline jangan membuat wajahku basah!" teriak seorang gadis sambil mengelap wajahnya yang basah
Gadis itu bernama Veronica Angeline, dia berumur 18 tahun. Dia memiliki rambut orange panjang serta bola mata kuning.
Sedangkan gadis yang diteriaki malah tertawa terbahak-bahak. Gadis ini bernama Caroline Alexa dia berumur 17 tahun. Rambutnya panjang berwarna hijau tua, matanya berwarna hijau terang.
"Hei kalian hentikan" ujar seorang gadis yang membawa ember berisi baju
Gadis ini bernama Aurora Luisa, dia berumur 25 tahun. Dia memiliki rambut panjang berwarna coklat serta bola matanya yang berwarna coklat juga
"Kakak lihatlah dia membuat wajahku basah" Veronica mengadu kepada kakaknya
"Memangnya siapa yang membuat wajahmu basah?" tanya seorang pemuda di belakangnya. Pemuda itu memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
Pemuda itu bernama Nicholas Dawson. Dia berumur 23 tahun. Dia memiliki rambut berwarna putih serta bola mata biru.
"Dia!" Veronica menunjuk ke arah Caroline yang bersembunyi di balik Aurora yang sedang menjemur baju
"Oh, dia hanya anak nakal. Ayo kita pergi" ajak Nicholas
"Hei, siapa yang kau panggil anak nakal. Dia itu sangat imut" ujar pemuda yang baru keluar dari dalam pintu rumah diikuti seorang gadis yang berlari keluar dari dalam
"Kak Aiden!" seru Caroline lalu memeluk pemuda itu
"Cih dasar manja" cibir gadis berambut biru di sampingnya
Pemuda itu bernama Aiden Irven. Dia berumur 24 tahun, memiliki rambut abu-abu, mata kuning. Sedangkan gadis di sampingnya bernama Pyralis Lauren. Dia berumur 19 tahun, memiliki rambut biru dan bola mata berwarna pink.
"ih...kak Aiden aku lebih imut" ujar Veronica cemberut
"Itu benar" sahut Nicholas
"Kalian sudah hentikan! Tidak bisakah kalian diam sehari tanpa bertengkar? Kepalaku pusing mendengar kalian" omel Aurora
"Coba saja kalian mirip Wilson pasti rumah ini tidak akan berisik" lanjutnya sambil melihat pemuda yang berdiri di sampingnya
Pemuda yang dibicarakan hanya diam saja sambil membantu kakaknya mengangkat jemuran.
"Hoi es batu sampai kapan kau akan diam?" tanya Pyralis
Pemuda itu hanya diam saja, tidak memperdulikan ocehan saudari nya itu.
Itulah sikapnya, Wilson Rainer namanya. Dia berumur 20 tahun. Memiliki rambut hitam serta bola mata merah.
"Dasar gunung es batu" ucap Caroline
"Dia tidak akan pernah menjawab kita jika bukan pertanyaan penting. Kecuali jika itu Kak Aurora" ucap Aiden sambil melipat tangannya di dada
"Wilson tolong lanjutkan ya, kakak harus memasak" ucap Aurora
"Baik kak" balas Wilson
"Nah akhirnya keluar juga suaramu, dasar es batu" ejek Pyralis
Nah, pasti kalian bingung bukan karena mereka saudara tetapi tidak ada yang mirip? Biar kita lihat di masa lalu.
Sepuluh tahun yang lalu, terjadi sebuah musibah yang mengerikan menimpa dunia sihir. Yaitu dimana sang pengguna sihir kegelapan hidup kembali. Terjadilah musibah yang mengerikan, tanaman mulai layu, air mulai hitam dan beracun, langit gelap gulita bahkan udara saja terasa sesak.
Semua orang dewasa berusaha melawan pengguna sihir kegelapan itu, sementara anak-anak dipindahkan di sebuah rumah.
Di sana terlihat seorang gadis berusia 15 tahun, dia adalah Aurora. Dia tidak memiliki orang tua sejak kecil. Dia berjalan mengelilingi seluruh rumah yang berisi penuh dengan anak-anak itu. Sampai akhirnya ia melihat seorang anak perempuan yang sedang menangis.
Dia berjalan mendekati anak itu. Seorang anak kecil berumur 7 tahun, berambut hijau dan mata hijau.
"Halo" sapa Aurora
Anak itu melihatnya lalu menangis kembali.
"Hei jangan menangis ini untukmu" Aurora memberikan sebutir coklat
Anak itu mulai berhenti menangis, dia mengambil coklat itu lalu memakannya. Tiba-tiba Aurora merasa baju nya ditarik di belakang.
Dia menoleh dan mendapati seorang gadis kecil berambut kuning sedang menarik bajunya.
"Ada apa?" tanya Aurora
__ADS_1
Gadis itu tidak menjawab hanya menunjuk ke arah anak yang memakan coklat
"Kau juga mau itu?" tanya Aurora lagi
Gadis itu mengangguk. Aurora pun merogoh sakunya dan memberikan coklat kepada gadis itu.
"Terima kasih" ucap gadis itu, suara sangat imut
"Sama-sama. Siapa namamu?" tanya Aurora
"Aku, Veronica Angeline. Kakak siapa?" tanya Veronica
"Aku Aurora. Oh iya kau kenal dengan anak ini?" tanya Aurora sambil menunjuk ke arah anak berambut hijau
"Dia tetanggaku namanya Caroline" jawab Veronica sambil memakan coklat di tangannya
"Ah...Caroline ya" Aurora berjalan ke arah Caroline
"Hai Caroline"
"Ha-hai"
"Kenapa menangis?" tanya Aurora dia menggendong Caroline
"Ayah dan ibu pergi" jawabnya
"Ayah dan ibuku juga pergi" sahut Veronica dia memeluk kaki Aurora
"Bukankah ayah dan ibu kalian pergi melawan penjahat?" tanya Aurora dia berjalan sambil menggendong Caroline dengan Veronica yang mengikutinya
"Aku takut" ucap Caroline lalu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Aurora
"Aku juga" sahut Veronica dia memeluk kaki Aurora dengan erat
"Jangan takut! Kalian hanya harus berdoa dan berharap agar orang tua kalian selamat" ucap Aurora
"Pyralis!" seru Veronica
"Siapa Pyralis?" tanya Aurora
Sedangkan Veronica berlari menuju seorang gadis berambut biru yang sedang duduk di pojokan
"Ini temanku namanya Pyralis" jawab Veronica
"Pyralis ini kak Aurora" lanjutnya
"Halo kak" sapa Pyralis
"Hai..kau sendirian?" tanya Aurora
"Iya kak" jawabnya sambil tersenyum
"Menunggu orang tuamu juga?"
Pyralis mengangguk. Aurora menurunkan Caroline lalu duduk di samping Pyralis sambil memangku Caroline diikuti Veronica
Tak lama terdengar suara ribut-ribut. Aurora menoleh ke arah samping. Dia melihat tiga remaja lelaki sedang tertawa. Dia berdiri lalu menuju ke sana.
Dia melihat seorang anak kecil berambut hitam sedang menunduk takut
"Hei lihatlah dia sudah tidak mempunyai orang tua! Hahaha anak yatim tidak berguna. Kira-kira dia makan apa ya? Sampah?" ejek seorang lelaki diikuti tawa kedua temannya
Aurora yang mendengar itu pun merasa kesal "Siapa yang bilang anak yatim tidak berguna?"
Ketiga lelaki itu berhenti tertawa lalu menatap Aurora "Hei lihatlah gadis cantik ini. Siapa namamu?" tanya lelaki itu hendak menyentuh Aurora tapi langsung ditepisnya
"Heh...gadis ini sombong juga" ucap lelaki lainnya
"Apa yang kalian lakukan pada anak itu hah?!" bentak Aurora
"Anak yatim ini? Hahaha...kami hanya membuatnya sadar diri bahwa anak tanpa orang tua itu tidak berguna" jawab mereka lalu tertawa
Emosi Aurora langsung memuncak tanpa basa basi lagi, ia langsung melayangkan tendangan ke para lelaki itu
Brukk
"Bos!" seru kedua teman lelaki itu
__ADS_1
"Sial! Aku akan membalasmu suatu hari nanti!" ucap lelaki itu lalu pergi dipapah Oleh kedua temannya
Aurora berjalan mendekati anak itu. Dia mengelus kepalanya. Anak itu mendongak melihat siapa yang mengelus kepalanya.
"Siapa namamu?" tanya Aurora
Anak itu menggeleng.
"Kau tidak tau?" tanya Aurora lagi
Anak itu mengangguk.
"Baiklah ayo ikut aku! Kita akan memikirkan nama untukmu nanti" ucap Aurora, dia menggandeng tangan anak itu lalu kembali ke arah Veronica berada
"Siapa itu kak?" tanya Pyralis
"Dia em...kakak tidak tau namanya. Tapi kakak harap kalian bisa berteman, karena dia tidak mempunyai orang tua" ucap Aurora
Pyralis langsung berdiri lalu menyodorkan tangannya "Namaku Pyralis Alexa senang bertemu denganmu"
Anak itu tidak menjawabnya dan membuang muka membuat Pyralis kesal.
"Dasar sombong! Jika orang menyapa itu dibalas" ucap Pyralis kesal
"Hahaha...mungkin dia malu. Ya sudah ayo kita duduk, kakak mempunyai banyak coklat" ucap Aurora lalu memberikan banyak coklat
"Kakak lihat itu! Kakak itu mempunyai mata yang indah" seru Veronica
"Kakak yang disampingnya juga tampan" ucap Caroline
Mereka semua melihat ke arah dua anak lelaki yang sedang menatap mereka. Dua anak lelaki itu lalu berjalan mendekat
"Hei gadis manis boleh kami bergabung?" tanya anak yang berambut abu-abu
"Tentu!" jawab Caroline
"Kalian siapa?" tanya Aurora
"Kami hanya dua anak lelaki yang sedang menunggu orang tua" jawab nya
"Oh..."
"Kakak siapa namamu?" tanya Veronica pada anak yang berambut putih
"Nicholas" jawabnya
"Ah...kak Nicho ayo coba ini, ini sangat manis!" ucap Veronica sambil menyodorkan coklat di mulut Nicholas
Nicholas membuka mulutnya, sambil memakan coklatnya.
"Kau siapa namamu?" tanya Aurora pada anak berambut abu-abu
"Namaku Aiden Irven"
Dalam sekejap mereka menjadi akrab. Banyak canda dan tawa.
"Ah aku punya ide" ucap Aurora
Semua mata tertuju padanya "Ide apa kak?" tanya Pyralis
Aurora tersenyum lalu mengelus kepala anak berambut hitam di sampingnya "Namamu Wilson Rainer, kau suka?"
Anak itu mengangguk
"Pastikan kau tidak melupakan namaku" ucap Pyralis
Wilson tidak menghiraukannya hanya memakan coklat di tangannya
Pyralis mendengus kesal "lebih baik berbicara dengan patung dari pada berbicara denganmu" teriaknya
"Aku tidak memintaku untuk berbicara denganku" ucap Wilson semua mata tertuju padanya lalu tertawa
Setelah dua hari, kabar tentang kematian pengguna sihir hitam pun menyebar membuat semua orang merasa bahagia. Tapi tidak bagi mereka yang kehilangan orang tua. Veronica, Caroline, Pyralis, Nicholas serta Aiden sedang menangis di samping jasad orang tuanya. Orang tua mereka telah gugur karena melawan pengguna sihir kegelapan.
Aurora yang melihat itupun menjadi iba, para petugas mengatakan bahwa anak-anak itu akan tinggal di tempat penampungan anak. Namun Aurora tau tidak semua penampungan anak aman karena banyak yang memperlakukan anak-anak sebagai pembantu.
Sebagai anak yatim yang pernah menempati banyak tempat seperti itu dia tentu tau banyak. Akhirnya dia meminta izin kepada petugas untuk membawa semua anak itu bersamanya. Karena walau bagaimanapun dia sudah menganggap mereka seperti sahabatnya.
__ADS_1
Mulai hari itu mereka tinggal bersama dan hidup bahagia hingga sekarang.