
Waktu berlalu cepat sekarang sudah sore. Aurora, Wilson dan Pyralis sudah selesai memilah dan memetik sayur. Sedangkan Nicholas dan Veronica mereka pergi mencari buah-buahan di hutan, dan sekarang sudah kembali.
Ting
Semua lampu kembali menyala, sepertinya Aiden sudah selesai memperbaikinya.
"Yuhu! Lampunya sudah menyala!" seru Veronica senang
Tak lama Aiden masuk bersama Caroline. Baju mereka basah kuyup karena keringat.
"Kalian berdua cepat pergi mandi" pinta Aurora yang sedang menata makanan di meja
"Baik kak" jawab mereka berdua serempak
Tak lama dengar suara gemuruh lalu turun lah hujan yang sangat deras.
"KAK! KAK! CEPAT KEMARI!" terdengar suara teriakan Caroline dari belakang
Mereka semua pergi ke belakang melihat Caroline yang sedang berdiri cemas di depan pintu kamar Wilson, Aiden dan Nicholas.
"Ada apa?" tanya Aurora cemas
"Itu kak, atap di kamar mereka bocor kak" jawab Caroline sambil menunjuk ke arah kamar para lelaki.
Aurora melihat ke dalam kamar, dia melihat Aiden yang sedang menyelamatkan buku-buku sains nya. Melihat kamar mereka basah, Nicholas dan Wilson pun segera masuk ke dalam dan menyelamatkan barang-barang yang penting.
"Astaga! Kenapa bisa seperti ini!" pekik Veronica yang melihat ke dalam
"Mereka sangat malang" sahut Pyralis yang berdiri di belakang Veronica sambil menggelengkan kepala
"Pyralis, Veronica dan Caroline cepat ambil enam ember kemari ada enam lubang di kamar mereka" pinta Aurora
"Baik kak" mereka semua pergi ke bagian belakang rumah lalu mengambil ember
"Barang-barang kalian sudah diambil semua?" tanya Aurora saat melihat mereka bertiga keluar dengan barang di tangan mereka.
Aiden membawa buku-buku sains nya, juga dengan buku-buku milik Nicholas dan Wilson. Sementara Nicholas mengambil bantal dan selimut mereka dan Wilson dia mengambil baju-baju mereka.
"Sudah kak"
"Kak ini kami sudah membawa ember" ucap Caroline yang datang dengan dua ember di tangannya diikuti Pyralis dan Veronica.
"Baiklah tampung semua air itu" ucap Aurora
Akhirnya malam itu mereka habis kan untuk membersihkan ruangan yang basah akibat hujan.
"Hah...sudah selesai" ujar Veronica yang duduk di lantai
"Kau benar ini melelahkan" sahut Pyralis yang duduk di sampingnya
"Ayo makan dulu!" ajak Aurora dan mereka semua pun makan di meja makan, sesekali berbincang dan tertawa.
Setelah selesai Aurora dan Pyralis membersihkan piring sementara yang lainnya mengantri untuk mandi.
Setelah selesai mandi kini mereka berada di kamar para perempuan.
"Baiklah karena kamar kalian bocor kalian akan tidur disini malam ini" ujar Aurora
"Hore! Tidur dengan kak Aiden" seru Caroline senang
"Kak Nicho ayo tidur dengan ku" ajak Veronica yang menepuk kasurnya
__ADS_1
"Baiklah" akhirnya Veronica tidur seranjang dengan Nicholas, begitu juga dengan Aiden dan Caroline.
Sekarang tinggal satu kasur lagi. Biasanya Aurora dan Pyralis tidur seranjang itu sebabnya hanya tiga kasur yang ada di kamar itu.
"Aku akan tidur di lantai dengan alas yang ada di lemari, Pyralis dan Wilson tidur di ranjang ya" ucap Aurora
"Tapi kak aku tidak ingin tidur dengannya" ucap mereka bersamaan sambil menunjuk satu sama lain
Aurora menghela nafas panjang sambil memegang kepalanya "kalian coba lah akrab sudah sepuluh tahun tinggal bersama tapi kalian tetap seperti kucing dan anjing"
"Kucing dan anjing saja bisa akrab" celetuk Caroline yang sedang membaca buku tentang tanaman, Aiden sedang membaca buku sains di sampingnya. Sedangkan Nicholas sedang mengelus rambut Veronica yang sedang tidur lalu ikut tidur. Tentu saja mereka sudah tidur karena lampu di samping kasur Veronica sudah mati.
"Diam kau" seru mereka berdua bersamaan lalu memalingkan wajah satu sama lain
"Sudah aku tidak mau tau, pokoknya kalian berdua harus tidur bersama" tegas Aurora lalu mengambil alas yang ada di lemari dan membentangkannya di lantai.
Setelah membentangkannya di lantai, Aurora berbaring dan tidur
"Caroline dan Aiden jangan lupa mematikan lampu, Pyralis dan Wilson tidurlah dan jangan bertengkar" ucap Aurora sambil menutup matanya
"Baik kak" jawab Caroline dan Aiden
Pyralis dan Wilson sama-sama menghela nafas, lalu berbaring di ranjang. Mereka sama-sama membelakangi dan tidur di sudut ranjang.
Satu jam sudah berlalu, Caroline dan Aiden sudah tidur. Wilson juga sudah tidur, sementara Pyralis masih belum bisa tidur. Dia menutup telinganya ketika mendengar suara petir menggelar.
Jujur saja, Pyralis mempunyai trauma dengan hujan deras apalagi dengan petir. Saat itu orang tuanya bertengkar dan berakhir perpisahan. Dia tinggal bersama ibunya sejak itu dan ibunya gugur saat melawan pengguna sihir hitam. Dan rahasia itu hanya Aurora yang mengetahuinya.
Jedar!!
Pyralis meringkuk gemetaran, biasanya saat hujan deras begini Aurora akan mengelus dan memeluknya hingga tenang.
Jedar!!
Dia menatap Pyralis yang sedang meringkuk gemetaran sambil menggenggam erat bajunya. Dia berbalik seketika Pyralis sadar dan melepaskan genggaman pada bajunya.
"Ada apa?" tanya Wilson
"Ti-tidak" Pyralis hendak berbalik tapi ketika suara petir menggelar lagi dia menarik baju Wilson dan bersembunyi di dada Wilson
Wilson yang tertarik pun hanya diam saja dan menatap saudarinya yang ia anggap menyebalkan selama ini.
"Kau takut dengan suara petir?" tanya Wilson
"Ti-tidak" jawab Pyralis yang masih bersembunyi
"Jika begitu kenapa kau gemetaran begitu? Bahkan sampai menarik bajuku" balas Wilson
Pyralis yang sadar akhirnya melepaskan baju Wilson. Ketika petir menggelar lagi, dia meringkuk ketakutan.
Melihat itu Wilson pun menarik kepala Pyralis hingga berada di dadanya.
"Jangan takut, itu hanya petir" ucap Wilson menenangkan
"A-apa yang kau lakukan? Lepaskan" ucap Pyralis memberontak tapi saat petir menggelar lagi dia semakin membenamkan wajahnya di dada Wilson bahkan sampai memeluk Wilson.
Wilson yang melihat itupun tertawa kecil "kau itu sudah takut tapi masih sok berani"
"Diam lah" ucap Pyralis yang sedang bersembunyi
"Kenapa kau sampai takut seperti itu?" tanya Wilson
__ADS_1
Pyralis menarik wajahnya lalu menatap wajah Wilson yang berada di depannya. Dia lalu menggeleng sebagai jawaban.
"Baiklah aku tau semua orang punya masa lalu masing-masing tapi jika kau ingin bercerita aku akan mendengarkannya" ucap Wilson sambil tersenyum
Pyralis seketika terhipnotis oleh senyum Wilson. Itu adalah senyum yang jarang dilihat oleh mereka. Ya! Senyum Wilson bahkan Aurora saja jarang melihatnya.
Seketika itu Pyralis menggelengkan kepalanya 'sadar Pyralis dia itu saudaramu'
"Benarkah? Biasanya kau akan menyebut ku cerewet" sindir Pyralis
"Terserah kau saja, sudah ayo tidur" ujar Wilson lalu menutup matanya
"Wil.."
"Panggil aku kakak, aku lebih tua darimu" ujar Wilson
"Cih...padahal hanya beda satu tahun"
"Kak Aiden saja memanggil kak Aurora dengan sebutan kakak walaupun mereka hanya beda satu tahun" balas Wilson membuka matanya
"Kenapa kau cerewet sekali sekarang? Biasanya suaramu itu bagaikan emas"
"Sudah lah cepat katakan apa yang ingin kau katakan tadi"
"Em..itu kenapa kau peduli padaku? Biasanya kau selalu cuek dengan apapun" ucap Pyralis kesal
"Karena kau adalah saudariku. Sekarang sudah ayo tidur atau aku akan berbalik ke belakang" ancam Wilson sambil menutup matanya
Pyralis sedikit tertegun mendengar jawaban Wilson. Raut wajahnya kembali kesal saat mendengar ancaman Wilson.
"Cih menyebalkan" gerutu Pyralis lalu tidur.
Akhirnya mereka tertidur dengan posisi saling memeluk.
Keesokkan harinya, Wilson membuka matanya lalu melihat ke arah jam di dinding. Jam 05.00 itu adalah jadwal bangunnya, dia melihat ke arah Pyralis yang masih memeluknya.
"Aku baru tau si cerewet ini ternyata imut juga" ucapnya sambil melihat wajah Pyralis dari dekat.
Setelah puas melihat, dia bangkit perlahan melepaskan tangan Pyralis darinya lalu pergi ke dapur. Di sana sudah ada Aurora yang sedang memasak air.
"Pagi kak" sapa nya lalu meminum air
''Pagi Wilson" sapa Aurora balik
"Kak aku ingin bertanya sesuatu" ucap Wilson sambil menaruh gelas
"Apa?" tanya Aurora yang memotong sayur
"Pyralis dia takut dengan petir?" tanya Wilson
"Ah iya, pantas saja aku melihat kau memeluknya. Dia memang takut petir" ucap Aurora
"Kenapa dia bisa ketakutan begitu? Bahkan sampai gemetaran"
"Ada apa denganmu? Kau sakit?" tanya Aurora sambil memegang dahi Wilson
"Tidak kak aku serius" ucap Wilson sambil menepis tangan Aurora dari dahinya
"Hahaha...biasanya kau cuek dengan apapun terutama Pyralis lalu kenapa sekarang kau bertanya tentangnya?" tanya Aurora
"Tidak ada aku hanya penasaran. Tapi jika kakak tidak mau cerita ya sudah" ucap Wilson yang berdiri hendak pergi ke kamar mandi
__ADS_1
"Kakak kurang tau ceritanya, kau tanyakan saja padanya" ujar Aurora yang kembali memasak
"Baiklah" Wilson pun pergi ke kamar mandi dan tak lama terdengar suara air mengguyur menandakan bahwa ia sedang mandi.