Seven Element Heroes

Seven Element Heroes
EPISODE 5 : Ikatan Saudara


__ADS_3

Veronica, Caroline, Aiden, Nicholas bahkan Aurora saja terpenganga tidak percaya. Bagaimana tidak? Dua orang yang biasa bertengkar layaknya kucing dan anjing itu sekarang sedang mencuci baju bersama.


"Kak Wilson tolong angkat ember baju ini" pinta Pyralis


"Iya" Wilson datang dan mengangkat ember penuh baju itu


"Apa mereka sakit?" bisik Aiden dari kejauhan


"Entahlah bahkan Pyralis yang biasa memanggil Wilson 'patung' sekarang menjadi namanya" balas Nicholas


"Bahkan dengan tambahan 'kak' di depannya" tambah Veronica di samping


"Mereka aneh" ucap Caroline


"Kak, kau tau sesuatu?" tanya Aiden pada Aurora


Aurora menggeleng sebagai jawaban "aku tidak tau, apa karena perkataan ku semalam ya?" tanya Aurora sambil menggaruk kepalanya


"Memang apa yang kakak katakan semalam?" tanya Veronica


"Semalam Kak Aurora menyuruh mereka untuk tidur seranjang, tapi mereka malah tidak mau. Jadi kakak bilang 'kalian coba lah akrab sudah sepuluh tahun tinggal bersama tapi kalian tetap seperti kucing dan anjing' seperti itu" jelas Caroline


"Benarkah lalu apa yang terjadi?" tanya Veronica penasaran


"Akhirnya mereka tidur seranjang tapi, saling membelakangi"


"Tapi saat tengah malam, aku melihat mereka saling berpelukan" ujar Aiden


"Benarkah?" tanya Nicholas


"Iya"


"Sangat aneh"


"Sudahlah, mau sampai kapan kalian bergosip?" tanya Aurora yang sedang mencuci sayur


"Hehehe...kak Aiden ayo meneliti tanaman" ajak Caroline menarik tangan Aiden


"Ayo Nica kita cari buah-buahan di hutan" ajak Nicholas


"Iya ayo" mereka berdua pun pergi ke hutan


"Pulang lah saat tengah hari, jangan melewatkan makan siang" teriak Aurora dari dapur


"Baik" ujar mereka bersamaan


Aurora pun memasak makan siang di dapur, tak lama terdengar suara Pyralis memanggilnya.


"Kak, pakaiannya kami jemur di depan rumah ya?" tanya Pyralis yang datang bersama Wilson di belakangnya


Aurora berbalik menatap mereka "iya jemur saja di sana"


"Baiklah, ayo kak Wilson" Pyralis menarik tangan Wilson ikut bersamanya


"Iya" hanya kata itu yang keluar dari mulut Wilson


"Hm...mereka berdua benar-benar aneh hari ini, tapi aku senang setelah sekian lama mereka akhirnya bisa akrab" gumam Aurora


Sementara Wilson dan Pyralis sedang menjemur baju di luar. Pyralis melirik Wilson yang ada di sampingnya. Dia menyeringai ketika mengingat sebuah ide nakal yang terlintas di kepalanya.


Dia mencelupkan tangan nya ke air sabun lalu mengolesnya ke pipi Wilson.


"Hahaha...lihatlah wajahmu" Pyralis memegang perutnya sambil tertawa


"Berani-beraninya kau membuat wajahku begini" ujar Wilson sambil membasuh wajahnya dengan air


"Hahaha..." Pyralis terus tertawa, sampai akhirnya dia melarikan diri karena Wilson mengejarnya dengan tangan bersabun juga


"Kemari kau!" teriak Wilson


"Hahahaha...tidak mau. Coba saja kejar aku jika bisa wlee...."Pyralis terus berlari sambil menjulurkan lidahnya


Aurora yang mendengar keributan pun menyikap tirai jendela. Matanya membelalak ketika melihat Wilson dan Pyralis kejar-kejaran.


"Hah...sepertinya aku harus membawa mereka ke dokter" gumam Aurora


Sedangkan Pyralis dan Wilson masih kejar-kejaran. Sampai akhirnya Pyralis mengambil sebuah nampan lalu mengipas nya ke arah Wilson guna menghindar.


Tapi saat dia mengipas nya, angin kencang dari belakang Pyralis berhembus. Pyralis memang tidak terbang tapi semua barang di sana terbang termasuk Wilson yang terbang dan akhirnya menabrak pohon


Brakk!!


Aagghh...


Wilson berteriak kesakitan sambil memegang punggungnya yang sakit akibat membentur batang pohon dengan keras.


Pyralis yang melihat itu pun segera berlari ke arah Wilson. Bahkan Aurora yang tadi berada di dalam rumah segera berlari keluar


"Wil...maksudku kak Wilson kau baik-baik saja?" tanya Pyralis


Wilson tidak menjawab, dia berdiri di papah Pyralis namun baru beberapa langkah batang pohon tadi retak dan hendak tumbang ke arah mereka.


"AWAS!" teriak Aurora


Mereka berdua panik, hendak lari tapi Wilson kesakitan dan tidak bisa berlari.


Aurora yang berlari tersandung karena ada akar pohon yang mencuat di atas tanah.


Seketika tanah bergetar, mereka bertiga menutup mata mencoba pasrah pada keadaan.

__ADS_1


Pyralis dan Wilson membuka matanya ketika tidak merasa ditimpa sesuatu. Mereka bingung ketika tidak melihat apa-apa melainkan hanya kegelapan.


"A-apa kita sudah di surga?" tanya Pyralis


"Surga, kau itu sangat suka menggangu orang bagaimana bisa kau masuk surga?" cibir Wilson di sampingnya


"Iya iya astaga kenapa kau jadi cerewet" ucap Pyralis lalu mencoba meraba di sekitar


"Eh? Ini seperti batu" ucap Pyralis sambil terus meraba benda itu


"Benarkah?" tanya Wilson mencoba meraba tapi karena punggungnya yang sakit ia tidak bisa bergerak bebas


"Kak Aurora! Kak! Kau mendengar kami?" Pyralis mencoba teriak


"Astaga suara melengking mu merusak telingaku"


"Terserah"


Sementara Aurora, ia membuka matanya alangkah terkejutnya ketika ia melihat sebuah kubah dari batu yang berada di tempat Wilson dan Pyralis berdiri tadi.


Kemudian ia berdiri dan berlari ke sana ketika mendengar suara Pyralis berteriak.


"Pyralis..Wilson kalian mendengar ku?" teriak Aurora sambil memegang kubah tanah itu


"Itu suara kak Aurora" seru Pyralis


"Kak! Kak! Kau berada di mana kak?" balas Pyralis


"Aku berada di luar!" terdengar sahutan


"Hah? Luar? Memangnya kami dimana kak?" tanya Pyralis


"Kalian berada di dalam kubah yang terbuat dari batu"


"Kubah? Tanah?" gumam Pyralis dan Wilson bersamaan


"Apa maksudnya kak?"


"Nanti akan ku jelaskan sekarang adalah mencari cara agar kalian bisa keluar"


Aurora masuk ke dalam rumah dan mengambil palu, dia mencoba menghancurkan kubah itu dengan palu tapi kubah itu tak kunjung hancur.


"Kak apa yang kau lakukan?" tanya Pyralis saat mendengar ketokan palu dari luar


"Kakak mencoba menghancurkan kubah ini"


Aurora terus mencoba menghancurkan sampai akhirnya terdengar suara di belakangnya.


"Kak apa yang terjadi?" tanya Nicholas dari belakang yang datang bersama Veronica dengan tangan penuh buah di tangan mereka


"Nanti akan ku jelaskan yang penting kita harus menghancurkan tanah ini. Pyralis dan Wilson terjebak di dalam" jawab Aurora


"Kau tau itu kubah?" tanya Aurora


"Tentu saja, aku banyak melihatnya di buku sains"


"Tapi kenapa mereka berdua bisa terjebak di sana?" lanjutnya


"Nanti ku jelaskan kita harus menghancurkannya dulu"


Mereka mencoba semua usaha untuk menghancurkan kubah itu, tapi kubah itu tidak hancur bahkan retak pun tidak. Waktu sudah berlalu sekarang sudah menjelang siang


Mereka semua duduk di tanah karena kelelahan.


"Sebenarnya kenapa bisa begini kak?" tanya Veronica


Aurora lalu menceritakan semuanya dengan detail.


"Jadi seperti itu"


"Hm...kejadian aneh lagi" ujar Aiden


"Eh..tunggu jika aku tadi terjatuh dan tanganku menyentuh tanah lalu kubah itu muncul. Jika aku menyentuh tanah lagi apa kubah itu akan runtuh" ucap Aurora


"Bisa saja"


"Baiklah akan ku coba"


Aurora bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati kubah itu. Dia berjongkok lalu meletakkan telapak tangan nya di tanah dan kemudian ia menghentakkan tangannya di tanah dengan keras.


Sementara di dalam


"Kau baik-baik saja? Masih bisa menahan?" tanya Pyralis khawatir karena baju punggung Wilson berwarna merah akibat darah yang mengalir.


Wilson meringis menahan sakit "aku baik-baik saja"


"Aku minta maaf, jika saja aku tidak mengipas kan nampan itu kau pasti tidak akan menabrak batang pohon itu" sesal Pyralis


"Tidak, jika aku tidak mengejar mu ini semua tidak akan terjadi"


"Tapi aku yang memulainya jika aku tidak..." Pyralis terdiam ketika Wilson meletakkan jari telunjuknya di mulut Pyralis


"Kau berisik sekali" gerutunya


Pyralis seketika cemberut mendengar itu. Tak lama sebuah cahaya menerangi dari atas kepala mereka. Lalu perlahan mereka melihat wajah Aurora dan saudara mereka yang lainnya.


"Kalian baik-baik saja?" tanya Aurora


"Aku baik-baik saja tapi tidak dengannya" ujar Pyralis sedih sambil menatap Wilson

__ADS_1


"Astaga!" Aurora segera berlari ke arah Wilson yang duduk di tanah sementara mereka berempat yang tadi duduk di tanah segera berlari membantu Wilson.


"Kak Wilson kau baik-baik saja?" tanya Caroline


Nicholas dan Aiden mencoba membopong tubuh Wilson


"Aku baik-baik saja kalian jangan khawatir" ucap Wilson sambil tersenyum sendu


Mereka semua terpaku melihatnya. Bagaimana tidak? Wajah Wilson itu sangatlah sempurna apalagi saat dia tersenyum sendu seperti itu sangatlah menenangkan.


Tak lama ia pun jatuh pingsan, seketika mereka semua tersadar dan panik.


"Bagaimana ini? Jika kita membawanya ke kota waktunya tidak akan cukup!" ucap Veronica panik


"Kita bersihkan saja lukanya dulu, cepat! Itu bisa infeksi nanti dan bisa berbahaya bagi nyawanya" ucap Aiden


"Baiklah kami akan membersihkan lukanya dulu, sementara kalian berdua cari obat untuk menahan luka itu sampai kita membawanya ke kota nanti!" ucap Aurora


Aurora berjalan diikuti yang lainnya meninggalkan Caroline dan Aiden berdua yang memikirkan obat


"Kak! Aku tau sesuatu" ucap Caroline


"Apa itu?"


"Aku pernah membaca suatu tanaman di buku. Tanaman itu bisa menjadi obat mengurangi memar dan menutupi luka"


"Baiklah kalau begitu ayo kita cari di hutan"


"Ayo"


Mereka berdua pergi ke hutan mencari tanaman obat itu. Mereka mengelilingi seluruh hutan dan sampai di ujung tebing gunung.


"Itu dia tanaman nya" seru Caroline sambil menunjuk sebuah tanaman yang tumbuh di tepi tebing


"Aku akan mengambilnya" ucap Aiden


"Hati-hati kak, itu ada di tepi tebing"


"Baiklah jangan khawatir" Aiden tersenyum sambil mengelus kepala Caroline lalu berjalan ke tepi tebing itu


Dia berjalan dan memetik satu persatu daun tanaman itu. Tiba-tiba tanah di ujung tebing itu retak


"Kakak cepat kemari!" teriak Caroline


"Iya iya" baru saja Aiden berjalan tanah itu runtuh dan Aiden pun terpleset


Dia menggantung di ujung tebing itu dengan tangan kiri yang memegang sisi tebing dan tangan kanan yang memegang daun tanaman itu


"Kak!" Caroline berlari hendak menarik tangan Aiden


"Ini ambil dulu daunnya"


"Tapi keselamatan mu lebih penting kak!"


"Walau begitu Wilson juga penting! Dia terluka parah"


"Tapi..."


"Cepatlah Carol aku sudah tidak bisa menahannya lagi"


Aiden sudah mulai kelelahan "cepatlah ambil dulu daun ini"


"Baik" Caroline mengambil daun itu lalu menyimpannya di sebuah kantung


Baru saja dia selesai menyimpan daun itu, ujung tebing yang dipegang Aiden retak lalu runtuh.


"KAKAK!!"


Aiden tersenyum sesaat lalu memejamkan matanya 'mungkin ini akhir bagiku, tapi tak apa aku melakukannya demi adikku yang kaku itu'


Tiba-tiba ia merasa tubuhnya diikat sesuatu. Ia membuka matanya dan melihat Caroline sedang menarik akar pohon berwarna hijau yang melilit di tubuhnya


Caroline menariknya dengan sekuat tenaga hingga ia berada di atas tebing.


"Apa.." baru saja ia hendak membuka mulut, Caroline memeluknya dengan erat seraya menangis.


"Hiks...aku pikir aku tidak akan bisa melihat kakak lagi. Kakak tau aku tadi sangat takut setengah mati" Caroline mengatakan itu dengan badan gemetar


Aiden tersenyum lalu membalas memeluknya sambil mengelus kepalanya


"Jangan takut, buktinya kakak masih berada disini. Kau yang sudah menyelamatkan kakak, adik kakak yang imut ini sudah besar"


Tangis Caroline semakin kencang, Aiden membiarkan adik kesayangannya itu menangis di bahunya. Selang 15 menit sudah tidak ada suara tangisan


"Sudah tenang?" tanya Aiden


"Iya"


"Kalau begitu ya sudah ayo kita pulang, kakakmu yang kaku itu membutuhkan obat" ujar Aiden


Caroline melepaskan pelukannya lalu menyodorkan jari kelingkingnya "kakak berjanji tidak akan meninggalkanku sendirian bukan?"


Aiden tersenyum lembut lalu mengaitkan kelingkingnya "iya, kakakmu yang tampan ini tidak akan pernah meninggalkanmu" ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya


"ih...kakak percaya diri sekali. Tapi memang benar sih"


"Hahaha tuh kan, kakak memang tampan"


"Iya iya"

__ADS_1


Mereka lalu berjalan pulang bersama ke rumah.


__ADS_2