Si Anak Bungsu

Si Anak Bungsu
Part 1


__ADS_3

Menjadi kesayangan ?


Selalu di prioritaskan ?


Atau, bahkan memiliki kasih sayang terbanyak ?


Nyatanya itu semua tak selalu bisa didapatkan oleh anak bungsu. Ada saatnya justru anak bungsu-lah yang berkorban untuk kakak-kakaknya, seperti kisah ini, kisah gadis kecil yang beranjak dewasa. Halwa Miranti namanya, dan dia seorang anak bungsu.


***


Riuh, suara riang bersahutan dengan suara bel yang melengking. Menandakan awal hari dimana calon para pemimpin bangsa akan memulai start perjalanan mereka. Sekolah.


"Nah, Yuyun kalau sudah besar mau jadi apa ?" saat itu Bu Rahma bertanya dengan sabar pada setiap muridnya.


" Yuyun mau jadi guru Bu, biar bisa bantu orang lain," suara Yuyun penuh dengan ambisi ia punya mimpi mulia, mencerdaskan anak bangsa.


"Kalau Rian mau jadi apa ?" kembali Bu Rahma bertanya, guru honorer ini benar-benar luar biasa ia mampu merendam emosi saat murid kelas satunya ini banyak berulah, mampu memberikan segudang maaf untuk mereka.


"Rian mau bantuin Emak, jadi kaya Abah ngurusin vila orang kota, biar dapet duit banyak Bu," tak jarang ada pula anak-anak yang memilih putus sekolah dan meneruskan perjalanan orang tua mereka.

__ADS_1


Di desa kami mayoritas penduduknya mengandalkan pada objek wisata, banyak orang berjualan atau justru merawat vila orang kota, seperti yang dilakukan oleh bapaknya Rian. Puncak benar-benar wisata yang bisa memanjangkan mata, dan menenangkan hati.


"Nah, kalau Halwa mau jadi apa ?"


"Halwa mau jadi dokter Bu," saat itu aku menjawab tanpa banyak berpikir, yang ada di pikiranku kalau tidak menjadi dokter yah, menjadi guru.


Dua profesi, yang menjadi alternatif jika ada yang bertanya mengenai cita-cita saat sekolah dasar.


***


Seorang gadis remaja tersenyum geli mengigat momen sembilan tahun lalu, rasanya baru kemarin ia mengenakan jilbab putih dengan miring, sekarang ia sudah bisa mencuci pakaian sendiri.


"Tugas bahasa Indonesia buat besok kita kerjain bareng yuk, di rumah aku aja, Mamah sama Bapak pulang dari kebun tehnya sore, aku bosen kalau sendiri," ini bukanlah pertama kali aku menemani Anggi, sebagai anak tunggal Anggi selalu kesepian bila orang tuanya pergi ke kebun. Sebenarnya, bukan kesepian melainkan Anggi takut bila sendirian di rumah.


Ada alasan mengapa Anggi menjadi penakut seperti ini, dulu Anggi adalah anak indigo. Anak sepesial, yang karena kelebihannya ia dijauhi oleh teman-temannya, anak yang menjadi topik obrolan saat ia melintas, anak yang dianggap gila oleh sebagian orang.


Tapi, itu dulu saat kami masih sama-sama berada di kelas tiga SD, ada seorang guru yang menyarankan agar Anggi dibawa ke pesantren yang terletak di kawasan Jawa, Anggi di "obati" oleh ustadz di sana, aku sendiri tak tau apa namanya, yang jelas cara itu tidak keluar dari aturan agama Islam.


"Boleh, sekarang aku pulang dulu mau ganti baju, terus masak buat Bapak sama Ibu , kalau mereka pulang belum ada makanan bisa ada pengajian dadakan di rumah hehehe ...." Ya, itu benar urusan rumah diserahkan sepenuhnya pada ku, sebagai "anak bungsu" sudah tugasku untuk menunggu rumah.

__ADS_1


Anggi mempertemukan telunjuk dan ibu jarinya membentuk huruf O, ia berjalan tersenyum, karena tak akan takut lagi menunggu orang tuanya di rumah bila bersama Halwa.


***


"Buk, bukanya Isma engga mau, tapi Ibu juga kan tau anak-anak Isma tahun depan udah masuk TK, pengeluaran Isma semakin banyak," langkah lebar Halwa terhenti di teras rumahnya.


Mengurungkan niatnya untuk mengucap salam dan masuk, Halwa lebih memilih mendengar suara gaduh dari ruang tamu rumahnya.


"Udahlah Pak, biar Halwa berhenti aja sekolahnya, Hamdan udah mau masuk kelas dua SMA, udah ditengah jalan Pak, lagian Halwa itu perempuan, engga perlulah sekolah tinggi, ujung-ujungnya juga ngurus dapur, lagian Halwa itu anak bungsu. biar dia nungguin rumah aja, jagain Ibu sama Bapak juga," kali ini suara bas Hamdan yang terdengar di gendang telinga Halwa.


Sakit, perih, dada Halwa terasa sesak, seakan pasokan oksigen disekitarnya sudah menipis, air mata-pun turut menghiasi wajah lugunya.


Tak sanggup mendengar lebih banyak ucapan yang membuat hatinya teriris, Halwa berlari membawa batu besar yang saat ini menghantam dadanya, dipikirannya hanya ada satu nama Anggi.


Bersambung ...


Aku minta kritik dan saran dari kakak-adik sekalian.


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2