Si Anak Bungsu

Si Anak Bungsu
Part 4


__ADS_3

***Jangan lupa like, komen, dan follow akun author ... terimakasih***


Sang Surya saja masih malu-malu untuk memberikan sinar hangatnya, tapi Halwa sudah bergerak ke sana-kemari mengerjakan pekerjaan rumah.


Sekarang ia tengah menyiram bunga di teras, dengan air bekas cucian beras yang ia kumpulkan tadi pagi.


"Neng?" panggil Ibunya.


"Ibu? Ibu sejak kapan ada di belakang Halwa?" Senyum kepalsuan Halwa terbitkan agar Ibunya tak curiga.


"Ibu perhatikan dari kemarin-kemarin kamu sering ngelamun, kamu ada masalah, Neng? cerita aja sama Ibu atuh, jangan takut." Aminah duduk di bangku panjang kayu yang sudah reot dimakan waktu. Halwa pun duduk mengikuti.


Sudah dari beberapa hari lalu Aminah memperhatikan tingkah putrinya itu, ingin sekali ia bertanya, tapi waktu belum memihaknya.


Maka saat hari Jumat ini ia libur bekerja, Aminah menggunakan kesempatan itu untuk berbincang dari hati ke hati dengan Halwa.


"Engga apa-apa, Buk. Itu cuman perasaan Ibu aja, Halwa sama, ko kaya biasanya," elak Halwa.


Ibu itu seperti cenayang, dia bisa tau perasaan anaknya, bahkan, tanpa harus menunggu anaknya berbicara.


Ia tahu saat anaknya sedih atau bahagia, tanpa harus melihat tangis anaknya lebih dulu.


Seperti sekarang, Halwa memang tak bercerita tentang apa yang membuatnya menjadi pendiam, tapi Aminah sudah lebih dulu mengetahui ada yang salah dengan putri bungsunya. Jangan lupakan ada "tali gaib" yang mengikat Ibu dan anak.


"Kalau ini tentang sekolah, Ibu minta maaf, yah, karena kamu harus putus sekolah." Embun menghiasi mata sipit Aminah, ia merasa telah gagal menjadi seorang Ibu.


"Ibu jangan nangis, Ibu engga salah. Halwa belum terbiasa aja, Buk." Tak mungkin Halwa cerita, kalau yang membuat ia termenung karena ternyata Hamdan berbohong. Ternyata Hamdan-lah yang merancang rencana perkelahian tempo lalu.


Beruntung saat percakapan itu, hari masih terlalu pagi untuk orang berlalu-lalang.


"Loh, ini lagi pada ngapain di sini, seru pisan kayanya." Pak Asep menyembulkan kepalanya dari dalam, ia tersenyum melihat interaksi ibu-anak tersebut.


"Ikh, Bapak kepo. Ikan urusan perempuan, iya, kan, Buk?" Aminah mengangguk dan tersenyum membenarkan ucapan putrinya.


Pak Asep geleng-geleng kepala dengan tingkah anak bungsunya.


***


"Assalamualaikum, Buk." Isma celingukan mencari keberadaan orang-orang di rumah.


Setelah Isma menikah, ia diboyong suaminya ke kota, hanya sesekali saja ia bisa mengunjungi orang tuanya, tapi sekarang saat ia berkunjung justru tidak ada orang di rumah.

__ADS_1


"Waalaikumsalam ..." Aminah sedikit berlari dari dapur ketika mendengar salam putri sulungnya.


Senyumnya terpatri sempurna karena akan bertemu 2 cucu kesayangannya, Zidan dan Syafira.


"Cucu-cucu Nini, cepe engga di perjalanannya?" Zidan dan Syafira berebut untuk mencium punggung tangan Nini mereka.


"Cucu-cucunya aja ditanyain, anaknya sendiri dicuekin," sindir Isma.


"Masa cemburu sama anak sendiri atuh, Teh? Teteh, kan udah besar. Udah punya anak malahan." Yang bisa Isma lakukan hanya tersenyum seperti mengiklankan produk pasta gigi.


"Halwa sama Bapak ke mana, Buk?" tanya Isma.


"Bapak ke masjid sholat Jum'at, kalau Halwa ke warung beli kopi." Aminah masih asik menciumi kedua cucunya, maklumlah hanya satu sampai dua kali dalam sebelum ia bisa bertemu dengan cucu-cucunya.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumsalam," jawab Isma dan Aminah.


"Teh, Isma kapan nyampe?" Halwa mencium tangan Isma begitu melihatnya duduk di kursi ruang tamu.


Ruangan kecil yang diisi oleh tiga set kursi berwarna coklat dan meja kayu yang sudah usang, bukan hanya sekedar menjadi ruang tamu, tetapi juga menjadi ruang keluarga dan ruang makan.


"Baru aja sampe, Wa," jawab Isma.


"Teh, makan dulu sana, ajakin sekalian cucu-cucu Ibu, pasti mereka udah pada laper," titah Aminah pada si sulung.


"Syafila masih kenyang, Mah. Tadi, kan udah mam roti," ucap si sulung.


"Nanti aja, deh, Buk. Anak-anak udah makan roti di jalan, Isma juga belum laper. Isma mau sholat Dzuhur dulu," ucap Isma.


"Yaudah, Teteh sholat dulu sana, biar Ibu sama Halwa yang jagain dua krucil ini." Aminah melihat Halwa yang sedang bermain tebak-tebakan dengan Zidan di gendongannya.


***


"Teh?" Halwa berucap dengan ragu-ragu.


"Hmm," dehem Isma.


Mereka berdua berada di dapur, mencuci piring setelah makan siang bersama, dengan lauk seadanya. Ikan asin goreng, sambal terasi, dan tempe goreng tepung menjadi pelengkap nasi mereka siang itu, meski seadanya, tapi itu tak membuat mereka mengeluh karena tak bisa makan ayam, justru mereka bersyukur karena masih bisa memakan nasi walau dengan lauk seadanya.


Terkadang kita sebagai manusia justru sering mengeluh tentang apa yang Allah berikan, padahal di luar sana justru ada banyak orang yang ingin seperti kita. Ada orang yang punya uang banyak, tapi dia sakit-sakitan di rumah sakit, sehingga hanya bubur dengan garam dan air putih yang bisa mereka makan. Ada pula orang yang sehat, punya uang banyak, tapi mereka terlalu sibuk bekerja sehingga tak punya waktu untuk sekedar makan bersama keluarga, jika kalian masih bisa makan dan berkumpul dengan keluarga maka hargai dan syukuri hal itu. Di luar sana banyak yang rela membayar mahal, untuk sekedar bisa berkumpul dengan keluarganya.

__ADS_1


Bersyukurlah atas apa yang Allah berikan, jangan membenci karena Allah pasti memberikan yang terbaik untukmu, meski hadiah itu tak selalu terbungkus oleh kebahagiaan melainkan oleh luka dan rasa sakit.


Ingat, "Barang siapa yang bersyukur pada Allah, maka Allah akan tambahkan kenikmatan padanya,"


Sementara di teras, Asep dan Aminah sedang main bersama cucu-cucunya. Dan Hamdan sendiri belum pulang dari sekolah, biasanya dia akan pulang sekitar pukul 02:00 siang.


"Teh?" Tanya Halwa yang ke dua kalinya.


"Ada apa?" Isma menghentikan kegiatan mencucinya, ia berfikir pasti ada yang ingin Halwa bicarakan dengan serius pada dirinya. Itu filing seorang kakak agaknya.


"Boleh engga ... kalau Halwa ikut, Teteh aja ke Jakarta, Halwa mau nyari kerja di sana." Isma terdiam setelah mendengar penuturan Halwa yang membuat hatinya seperti sersentil sesuatu.


"Kamu ... udah bicara sama Bapak dan Ibu?" Halwa menggeleng sebagai jawaban.


"Tolong, yah, Teh. Halwa pengen banget punya kerjaan, pengen punya uang sendiri. Halwa gak mau terus-terusan menjadi beban Bapak sama Ibu," ujar Halwa.


"Bapak engga ngijinin! kamu itu bukan beban, Neng, kamu tanggung jawab Bapak sama Ibu." Pak Asep muncul dari balik pintu, netra teduhnya memandang Halwa dan Isma bergantian, sementara kakak-beradik itu justru menundukkan kepala. Layaknya maling yang tertangkap basah.


***


"Pak, tolong izinin Halwa kerja, yah." Halwa mengiba pada Bapaknya, ada Aminah dan Isma juga yang ikut berkumpul di ruang tamu, sementara Hamdan sedang makan ditemani dua krucil yang merecokinya.


"Halwa engga akan pernah bisa bales jasa Bapak sama Ibu, maka dari itu Halwa engga mau ngebenanin terus," ucap Halwa.


"Kamu tanggung jawab Bapak, bukan beban!" ucap Pak Asep yang ke dua kali.


"Neng, apa yang membuat kamu pengen kerja kaya gini?" Aminah mencoba berbicara dari hati ke hati sebagai perempuan.


"Halwa ...."


"Halwa, mau sukses, Buk. Maafin Halwa, Buk, tapi engga mau jadi "si penunggu rumah" Halwa, bukanya engga mau ngurusin Bapak sama Ibu, tapi ... Halwa pengen banget ngejar cita-cita Halwa." Ucapan Halwa sukses membuat semua orang bungkam, bahkan Hamdan yang dari tadi ikut mendengarkan urung memasukkan suapan nasi ke mulutnya.


"Mah ... Mamah kenapa? huaa ... huaa ..." anak-anak Isma berlomba menangis, ketika keluar dari dapur melihat Ibunya menangis.


"Ekh, dasar bocil," batin Halwa.


Bersambung ...


Aku minta kritik dan saran dari kakak-adik sekalian.


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2