Si Anak Bungsu

Si Anak Bungsu
Part 5


__ADS_3

Part Five.


"Jangan pernah menyerah, karena orang gagal bukan mereka yang pernah jatuh berkali-kali, tetapi mereka yang pernah jatuh dan tidak mau bangkit kembali."


***


Sebelum disibukkan dengan urusan rumah, Halwa lebih dulu berkutat dengan peralatan dapur, hari ini rencananya Halwa akan mulai berjualan kue dan gorengan. Ya, setelah musyawarah panjang dua hari lalu, orang tua Halwa tetap tidak mengijinkan anak bungsunya itu mencari kerja di kota, setelah memenangkan hati karena kecewa tidak diijinkan orang tua, Halwa memutuskan akan berjualan makanan saja. Ada bakwan, risoles, dadar gulung, combro, dan bolu mangkuk yang akan Halwa jual berkeliling.


Setelah membuat adonan bakwan, Halwa memasukkan sayuran yang sudah ia potong-potong lebih dulu, disertai garam dan bumbu penyedap rasa secukupnya.


"Semangat banget kamu, Neng," ujar pak Asep.


Halwa sedikit terkejut karena bapaknya tiba-tiba muncul di belakangnya. "Bapak, ngagetin aja."


pak Asep tersenyum pada si bungsu. "Bapak, berangkat jualan dulu, ya. Kamu nanti ngidernya jangan terlalu jauh, abis Asar langsung pulang!" pak Asep memperingati.


Halwa, menjawab iya kemudian mencium tangan kesatria tanpa kudanya itu. Setelahnya ia kembali berkutat dengan segelintir tepung dan sayuran.


***


Sang mentari mulai sudah berada di atas kepala, sementara gorengan Halwa baru terjual sedikit, bahkan ada beberapa orang yang mengkasbon lebih dulu.


Ternyata mencari uang sangatlah susah, apalagi di zaman sekarang, uang semakin susah didapatkan sementara kebutuhan semakin banyak. YaAllah berikan aku kemudahan dan berikan aku rezeki yang banyak, doa Halwa pada sang Ilahi sebelum berangkat berkeliling.


"Apa aku, jualan di depan sekolah aja, ya?" Tanya Halwa pada dirinya sendiri.


Jujur saja, Halwa minder jika harus berjualan di depan sekolah, tapi di sana pasti banyak yang beli, terlebih lagi tengah hari seperti ini. Jam istirahat kedua adalah jam yang pas untuk penjualan gorengan seperti Halwa, anak-anak akan lebih banyak yang memilih jajanan padat, dibandingkan sekedar cemilan.


***


"Jual apa, Dek?" Seorang remaja yang kira-kira sesuai Hamdan menghampiri Halwa.


Dan, di sinilah Halwa, di depan gerbang sekolah menengah pertamanya. Sudah beberapa menit Halwa duduk di sanah, tapi belum ada pembeli yang tertarik, sejauh ini teman-teman Halwa banyak yang acuh mengenai keputusan Halwa berhenti sekolah karena di sini hal itu sudah lumrah terjadi.


"Jual gorengan, Kak ada kuenya juga," ucap Halwa.


"Beli 20 ribu, Dek campur-campur aja." Laki-laki itu menyodorkan uang dua puluh ribu selembar.


"Kamu engga sekolah, Dek?" Laki-laki itu duduk di atas tikar plastik bersebelahan dengan Halwa.

__ADS_1


"Engga, Kak," jawab Halwa.


"Udah lulus?" tanyanya kembali.


Halwa menggeleng, "Aku berhenti sekolah, karena faktor ekonomi, Kak." Si laki-laki itu tanpak merasa bersalah karena menyinggung perasaan Halwa.


"Maaf, Dek. Saya engga tau." Halwa tersenyum mengangguk, kemudian memberikan pesanan laki-laki itu.


"Rizal, saya Rizal." Orang itu memperkenalkan dirinya lebih dulu.


"Halwa." Halwa membalas uluran tangan Rizal.


"Kakak, bukan orang sini, ya?" Entah keberanian darimana yang membuat Halwa berani bertanya.


"Buka, saya dari Jakarta, ke sini mau liburan, saya tinggal di vila dekat kebun teh," jelas Rizal.


Halwa tertawa mendengar jawaban Rizal, sebaliknya Rizal justru bingung dengan sikap Halwa, seingatnya ia tidak sedang menceritakan lelucon.


"Di sini, semu vila dekat kebun teh, Kak. Di sinikan memang daerah perkebunan teh, rumah aku aja dekat kebun teh, loh." Benar juga, di sini hampir semua tempat menjadi perkebunan teh. Bagaimana bisa Rizal sebodoh itu.


Si empu yang ditertawakan menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak gatal, entahlah mungkin itu cara Rizal menyalurkan rasa malunya.


***


Sebentar-sebentar, bukanya ibu-ibu itu, orang yang sama dengan orang yang membantuku menangani ibu rempong di lapangan tempo hari? sepertinya ini waktu yang cocok untuk aku berterimakasih soal kejadian tempo hari, saat itu aku terlalu syok dengan insiden tersebut, sehingga lupa berterimakasih.


"Kak, boleh engga kalau aku ikut nemuin ibu, Kakak?" Rizal menatapku, yang aku sendiri tidak tahu maksud tatapannya, mungkin ia bingung atas sikapku.


***


"Zal, kamu nunggunya di mana, sih dari tadi Ibu celingukan nyari kamu?" Ibunya Rizal melontarkan pertanyaan begitu kami mendekatinya.


"Loh, ini siapa?" Belum Rizal menjawab pertanyaan pertama, kembali ibunya memberikan pertanyaan.


"Satu-satu dong, Bu nanyanya Rizal jadi bingung jawabnya kalau Ibu nanya terus," ucap Rizal.


"Ini Halwa, Halwa cerita Ibu pernah bantuin Halwa waktu di lapangan, tempat banyak orang jualan oleh-oleh." Ibunya Rizal berfikir sejenak, menatap Halwa yang menunduk. Mencoba mengingat setiap kejadian beberapa hari lalu.


"Oh, kamu yang jualan syal itu-kan?" Halwa mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


"Halwa mau bilang terimakasih sama Tante, waktu itu Halwa syok sampe lupa bilang terimakasih,"


"Jangan panggil Tante, panggil Ibu aja. Ibu ngerti posisi kamu waktu itu, gak usah dipikirin, ya sayang." Ibu Rizal memeluk Halwa. Entah kenapa Halwa merasa nyaman bila dekat dengan Ibunya Rizal padahal ini baru pertemuan kedua mereka, tapi Halwa merasa jika ia sudah kenal lama dengan ibunya Rizal. Almira namanya.


***


"Loh, ko banyak orang?" Gumam Halwa saat memasuki halaman rumahnya, banyak orang di dalam sana, bahkan ada beberapa sepeda motor juga yang terparkir di depan.


Barang jualan Halwa habis karena diborong oleh ibu Almira, awalnya Halwa menolak karena berpikiran jika ibu Almira membeli kuenya karena kasihan. Namu justru sebaliknya ibu Almira membeli kuenya karena dia memang penggemar dadar gulung, dia juga bilang jika sebagaian kuenya akan diberikan pada tetangganya sebagai hadiah perpisahan, besok ia sudah harus kembali ke Jakarta karena ayahnya Rizal sangat sibuk bekerja.


"Assalamualaikum." Halwa celingukan melihat beberapa orang di dalam ruang tamu.


Selain orang tuanya dan Hamdan, ada lagi dua orang laki-laki yang satu kemungkinan seumuran bapaknya Halwa, dan yang satu mungkin seumuran teh Isma, atau lebih tua dari teh Isma mungkin jika dilihat dari wajahnya. Ada juga dua orang perempuan yang satu seumuran dengan laki-laki pertama, Halwa menyimpulkan jika laki-laki pertama adalah suaminya, dan perempuan kedua ini adik dari laki-laki yang kedua, melihat jika perempuan ini seumuran dengan Hamdan.


Mereka tersenyum melihat kedatangan Halwa. "Ini dia yang ditunggu dari tadi." Ucapan laki-laki yang seumuran dengan bapaknya membuat Halwa semakin bingung.


"Duduk dulu, Neng. Ini juragan Junaedi sodaranya juragan Karya, tempat Ibu kerja." Halwa masih setia mendengarkan penjelasan dari ibunya, walaupun sebenarnya perasaannya sudah tidak enak.


"Nah, yang duduk di tengah itu namanya Rahmat. Juragan Junaedi ingin melamar kamu untuk Rahmat, Neng."


Deg!


Bagai tersambar petir di hari yang cerah, Halwa terkejut dan cemas sekaligus, ia terlalu syok sehingga bibirnya sulit berkata tidak.


"Nah, mumpung calon mempelai perempuannya sudah ada, kita langsung saja bicarakan tanggal yang baik, semakin cepat semakin ba---"


"Engga, Halwa engga mau, Buk!" Ucapan juragan Junaedi terpotong oleh teriakan Halwa. Mereka semua terdiam.


"Neng?" Ibunya Halwa mencoba menenangkan anak bungsunya ini.


"Halwa engga mau, Bu!" sekali lagi Halwa menolak.


"Kamu harus mau, Halwa. Ibu kamu punya hutang yang banyak pada juragan Karya sodara saya, kalau kamu menolak perjodohan ini sodara saya akan melaporkan Ibu kamu ke polisi." Lagi, bibir Halwa membisu mendengar penuturan juragan Junaedi.


Kenapa nasib Halwa menjadi seperti ini? Ia bukan barang yang bisa ditukar seenak hati, ia manusia. Dengan cara seperti ini orang tua Halwa seperti menjual anaknya sendiri. Lalu untuk apa uang itu?


Sungguh dunia sepertinya membenci Halwa sehingga Halwa harus berkali-kali jatuh tersungkur, dan merasakan sakit.


Bersambung ...

__ADS_1


Aku minta kritik dan saran dari kakak-adik sekalian.


Terimakasih.


__ADS_2