
"Jangan membenci sesuatu, karena itu bisa jadi justru pilihan terbaik yang Allah berikan untukmu."
Meski sekarang langit telah bermandikan cahaya matahari, tetapi udara dingin masih nyaman menyelimuti permukaan kulit, seakan enggan untuk meninggalkan.
Menggulung raga dengan kain tebal adalah dambaan setiap insan, untuk situasi seperti ini. Nyatanya itu semua hanya sebuah ekspetasi indah.
Bahkan, sebelum ayam berkokok Ibu sudah berada di kebun teh milik juragan Karya. Sekitar pukul tujuh Bapak juga memulai ikhtiarnya menjemput rezeki dengan berjualan syal dan kupluk rajut buatan Bapak di area perkemahan.
"Neng, nanti gorengin tempe, dan tumis kangkung nya, jangan lupa bikin sambel. Terus anterin ke Bapak, rantangnya ada di atas lemari piring." Kalimat terakhir yang kudengar dari Ibu setelah sholat subuh tadi.
Setelah menjemur pakaian, Halwa melihat benda bulat pengatur waktu telah menunjukkan pukul sembilan. Bergegas ia ke dapur, mencuci kangkung yang telah Ibunya siapkan di dalam bakul jamu, kemudian merendam tempe yang sudah dipotong-potong dengan air garam, sambil menunggu air garam meresap pada tempe Halwa mulai menumiskan bumbu untuk kangkunya.
***
Tak butuh waktu lama bagi Halwa untuk mengerjakan tugasnya, ia anak yang cekatan dan teliti dua sifat itu sangat cocok untuk prosesi seorang tenaga kesehatan. Sayangnya itu hanya angan-angan manis.
Akhir pekan kemarin menjadi hari terakhir Halwa mengenal bangku sekolah, dua Minggu tepat setelah insiden penusukan Hamdan. Beruntung saat itu ada sepeda motor yang melintas dan membantu Halwa membawa Hamdan ke puskesmas terdekat, Hamdan harus menerima lima jahitan di punggungnya, beruntung luka itu tidak terlalu dalam, sekarang Hamdan sudah kembali pada aktivitasnya, menjadi seorang pelajar.
"Sudah jam sepuluh, mendingan aku mandi dulu habis itu nganterin makan siang buat bapak," Tangan mungil Halwa dengan cekatan menyusun nasi beserta lauk pauknya ke dalam rantang stainless kuno.
***
"Assalamualaikum, Pak." Halwa menghampiri dan mencium punggung tangan Bapaknya.
"Waalaikumsalam, kamu rajin banget Neng, jam segini udah ngirimin Bapak makanan." Ucap Pak Asep melihat Halwa menjinjing rantang kuno, yang sudah sejak pertama menikah. Itu adalah hadiah pernikahan dari Ibu Pak Asep, Bapaknya Halwa.
"Biar bisa sekalian bantuin Bapak jaga lapak, makanya Halwa dateng awal."
Lapak kecil yang tersusun dari dua buah meja dengan tiang kayu berukuran tidak lebih dari satu meter, dengan lilitan kabel listrik yang sudah tidak dipakai dari ujung tiang ke tiang yang lain.
__ADS_1
Sekitar satu meter ke kanan dan kiri ada tiang bambu yang menyangga bentangan kain penutup dari plastik, berwarna biru tua.
"Kamu tungguin lapak dulu nya Neng, Bapak mau ke mesjid dulu. Mau sholat Dhuha." Pak Asep mengeluarkan kain sarung dari tas butut yang selalu setia menemaninya saat berjualan.
Sala satu kebiasaan yang masih Pak Asep jalankan sejak ia kecil sampai sekarang adalah sholat sunah Dhuha.
Banyak orang beranggapan bahwa sholat Dhuha adalah sholat untuk meminta rezeki, tapi nyatanya ada banyak sekali manfaat dari sholat Dhuha yang sering terlupakan. Misalnya dibuatkan rumah di surga atau mendapat pahala seperti orang berhaji.
"Iya, Pak,"
***
Rasa bosan mulai menjemput Halwa, ini sudah tiga puluh menit sejak Bapaknya berpamitan ke mesjid dan belum kembali, pikir Halwa Bapaknya pasti melanjutkan membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an setelah melaksanakan sholat Dhuha.
Dan sudah selama itulah Halwa menunggu pembeli, tetapi dari sekian banyak orang yang berlalu-lalang belum juga ada yang berminat pada produk yang Halwa jual.
Sungguh seorang Ayah, seorang Bapak, kepala rumah tangga adalah seorang kesatria tanpa kuda yang tetap tersenyum meski letih menggerogoti tubuhnya dikala malam.
Seorang perempuan setengah baya menghampiri lapak Halwa, warna gincu yang dipakainya senada dengan warna tas yang ada di genggamannya. Merah menyala.
"Syal nya berapa ini Neng?" Ibu itu membulak-balik syal rajut berwarna biru.
"Dua puluh lima ribu aja buk," ujar ku.
Dari penampilannya memperlihatkan kesan sosialita, terbukti dari pakaian dan lebel ternama di depan tasnya.
"Lima belas ribu ajalah Neng, lagian ini bahannya jelek, dua puluh lima ribu mah, kemahalan." Astagfirullah ku lafadzkan dalam hati, berusaha mempertahankan senyum yang kian berat.
"Maaf Bu, sebaiknya kalau ingin menawar harga barang, jangan menghina barang jualan mereka, kasian mereka bisa tersinggung." Bela perempuan setengah baya berjilbab coklat, kulitnya putih wajahnya juga berseri mungkin sering terkena air wudhu.
__ADS_1
"Jangan ikut campur urusan orang lain ya!
Barang jelek gini ko dijual." Ibu bergincu merah itu sedikit melemparkan syal yang tadi ia pegang.
"Neng, engga apa-apa?" si Ibu jilbab coklat menghampiri ku, tersenyum ramah kubalas dengan gelengan.
***
Beruntung saat kejadian itu Bapak belum kembali dari masjid, jadi ia tak perlu jadi sasaran emosi perempuan gincu tadi. Sejak dua Minggu lalu, aku tidak pernah lagi melewati jalan kecil itu, lebih aman rasanya bila menggunakan jalan terbuka.
Ku percepat langkah, khawatir jika A Hamdan sudah pulang dari sekolah dan menunggu di teras.
Ekh, tunggu sebentar! bukanya itu A Hamdan? sedang nongkrong di warung dengan teman-temannya, tapi bukan itu yang membuat heran, melainkan diantara mereka ada "pelaku" penusukan A Hamdan kemarin.
"Gara-gara elo kemari, gue jadi dapet lima jahitan nih." Satu persatu kacang kulit mulai masuk ke mulut Hamdan.
"Itu juga kan rencana elo bro, kita sampe harus pake seragam sekolah sebelah lagi." Asap rokok turut menghiasi perbincangan mereka.
"Iya, tapi rencananya kan cuman berantem aja, engga usah pake nikam juga kali." Wajah sebal Hamdan perlihatkan.
"Yang penting kan sekarang rencana loh udah beres, adik elo juga udah berhenti sekolah, jadi elo gak perlu deh putus sekolah. Luka sedikit doang biasa kali buat laki-laki." Seorang teman menepuk pundak Hamdan pelan.
"Jadi ini semua rencana A Hamdan, supaya aku berhenti dengan sekolah dengan suka rela karena rasa bersalah?"
Bersambung ...
Aku minta kritik dan saran dari kakak-adik sekalian.
Terimakasih
__ADS_1