Si Anak Bungsu

Si Anak Bungsu
Part 2


__ADS_3

13 April, 2013.


"Neng, Ibu belum punya uang untuk beli seragam sekolah baru, kemarin uangnya kepake buat bayar ujian Teh Isma, buat sekolah besok, kamu pake bekas seragam Teh Isma aja yah, masih bagus ko,"


"Kalau Ibu sudah punya uang, Ibu belikan baju yang baru." Kalimat sembilan tahun lalu masih tercetak jelas pada ingatan Halwa.


Saat teman-teman sebayanya tersenyum ceria, menggunakan seragam baru dihari pertama mereka masuk sekolah dasar, Halwa justru tersenyum ceria karena bisa sekolah, penantian dan doa-doanya selama dua tahun akhirnya terwujud.


Ya, Halwa harus "cuti" dua tahun karena orang tuanya belum mempunyai cukup uang untuk menyekolahkan Halwa saat itu. Tahun pertama, uang tabungan mereka sebenarnya sudah ada, tapi ada musibah berupa Isma sakit, ia terkena usus buntu dan harus dioperasi.


Tahun ke dua, sehari sebelum mendaftarkan Halwa ke sekolah, Hamdan pulang dari sekolah membawa surat teguran karena sudah lima bulan belum membayar uang SPP, maka Halwa juga masih harus bersabar saat itu. Maka tahun ini Halwa benar-benar senang, meski hanya menggunakan baju bekas yang warna putihnya sudah mulai memudar menjadi kuning.


***


"Hal? Halwa? Halwa!" Anggi sedikit berteriak pada akhir katanya.


Srap!


Seperti tersambar sesuatu kesadaran Halwa kembali pada raganya.


"Iy-iya, ada apa Anggi?" Titik fokus Halwa tak beraturan, ia celingukan seperti orang linglung.


"Kamu teh, ada masalah apa? cerita atuh sama aku, kemarin pas dateng ke rumah aku juga kamu nangis, sekarang di kelas kamu ngelamun." Sebagai sahabat Halwa, Anggi tau betul jika sahabat baiknya sedang menghadapi masalah yang rumit, tapi, itulah Halwa ia paling sungkan untuk bercerita tentang kehidupan pribadinya. Dia pendiam, padahal orang-orang menganggap jika Halwa adalah anak periang, senyum selalu terpatri pada wajahnya.


Halwa tersenyum, tepatnya senyum palsu yang ia berikan, "Engga apa-apa, cuman kemarin memang ada masalah kecil aja, tapi sekarang udah selesai ko."


"Ekh, nanti siang kita mau jengukin Yuyun, diakan baru aja lahiran, kalian mau ikut engga?" Ica membawa satu plastik cilok yang cukup merah karena saus, dia duduk menghadap ke Anggi.


Yuyun kami, gadis lesung pipi yang selalu tersenyum, sekarang dia sudah menjadi seorang Ibu, dia Yuyun yang sama dengan yang ada diingatanku, Yuyun yang bercita-cita menjadi seorang guru.

__ADS_1


Orang tuanya tidak punya cukup uang untuk memasukan Yayun ke SMP, akhirnya ia dijodohkan, menikah diusia belia. Tiga belas tahun.


Mimpi mulia Yuyun tidak terhenti, hanya saja Allah kabulkan dengan cara yang lain, sekarang ia akan menjadi seorang guru, menjadi sekolah pertama untuk anaknya.


"Mau, mau, tapi aku harus pulang dulu, kita ketemu di pertigaan ke rumah Yuyun aja yah." Anggi mengangguk, sementara Ica memilih fokus memasukan bulatan aci dengan bumbu pedas pada mulutnya.


***


"Ekh, ada Ade cantik, mau kemana dek ?" Sekelompok remaja SMA menghadang Halwa di pertengahan jalan.


Sebenarnya ada dua jalan untuk ke rumah Halwa, ada jalan raya dan jalan gang kecil. Halwa lebih sering melewati jalan kecil itu karena akan lebih cepat sampai ke rumah, jika menggunakan jalan raya itu lebih lama, di sana pula banyak pedagang kaki lima dan pembeli yang membuat jalan sedikit padat, itu sedikit berbahaya karena kendaraan beroda juga melewati jalan itu.


Tidak seperti jalanan kecil ini hanya sesekali ada yang melintas.


"Mau pulang kak." Halwa hendak berbalik arah, tapi salah satu dari mereka menghalangi jalan Halwa.


"Ade manis, bagi duit dong! duit kita udah abis buat beli rokok, kita mau jajan, laper." Remaja berambut gondrong mengadakan tangan.


"Aku engga punya kak, aku mau pulang, permisi!"


"Eits, mau kemana? kamu pasti bohong." Seseorang dari mereka merebut paksa tas gendong Halwa, memberikan pada teman perempuannya untuk digeledah.


"Kalian lagi ngapain ?" Halwa mengenal betul suara dibelakangnya, itu suara Hamdan.


"Eits, ada anak sekolah sebelah nih." fokus mereka berganti pada Hamdan.


"A, Hamdan?" Halwa bergegas ke belakang badan Hamdan.


"Oh jadi ini kakaknya ...." Remaja berambut gondrong tadi mendekati Hamdan, diikuti teman-temannya.

__ADS_1


"Awas, kita mau lewat. Ini jalan umum, bukan tempat nongkrong." Hendak melewati kelompok remaja itu, langkah Hamdan terhenti karena remaja yang bernama Dika memutar badan Hamdan, memukulnya tiba-tiba.


"A, Hamdan!" Jerit Halwa, dia berharap ada seorang yang mendengar suaranya.


Tak terima atas apa yang Dika buat, Hamdan membalas meninju perut Dika, tak sampai disitu bahkan teman-teman Dika pun ikut menyerang Hamdan.


Ironisnya dua perempuan teman Dika justru dengan santai menonton perkelahian itu seakan melihat televisi. Berbeda dengan Halwa yang beberapa kali menjerit melihat Hamdan terkena pukul, mau menolongpun ia tak bisa.


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Srak!


"A, Hamdan!" Halwa menjerit melihat Hamdan tertusuk pisau di bagian punggungnya.


"Ekh, ngapain loh nusuk dia?" Dika panik melihat Hamdan mulai mengeluarkan darah.


"Cabut, cabut, ayo kabur!" ucap remaja perempuan yang ikut panik.


Halwa mendekati Hamdan yang terduduk lemas, "A, Hamdan? gimana ini? astaghfirullah," Halwa tambah bingung melihat darah Hamdan semakin banyak.


Bersambung ...


Aku minta kritik dan saran dari kakak-adik sekalian.


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2