
Delapan belas tahun lama nya kini Hamidah menjadi anak perempuan yang cantik.
Tapi sayang sikap nya begitu tomboy.
Dia sangat pemberani, dan tak segan segan memberi pelajaran kepada siapa pun yang berani meledek nya.
"Haaaiiii kau anak miskin, ngapain loe ke kantin emang loe punya uang buat beli jajan hahhaahh". Diana meledek hamidah yang hendak beli jajan di kantin.
Diana memang sedikit sombong dan dia suka meledek Hamidah.
"Hai kau mak lampir diam kau bacott aja" Hamidah menghampiri Diana dan teruss
***Plakkkk!!!
"Aaauuu*** Hamidah brengsek kau!! lepasin sakit tau" Hamidah menampar pipi Diana dan lalu menjambak rambut nya.
"he kau berani berani nya ngetawain gue, cari ****** loe!!! awas yaa sekali lagi loe berani gangguin gue, bakal gue kasi loe pelajaran yang lebih dari ini. Inget itu baik baik!!!!!"
Hamidah pun pergi dari kantin dan menuju ke perpustakaan.
Hamidah memang tomboy tapi dia juga pandai. Bahkan dia mendapatkan beasiswa karna kecerdasannya.
"Assalamualaikum, aku pulang Buu" Hamidah menuju dapur dan mencari ibu nya.
__ADS_1
"ehh anak ibu da pulang gimana tadi di sekolah nak??" Ambar tersenyum manis terhadap anak nya.
"Seperti biasa bu Hamidah selalu memdapat kan nilai terbaik di kelas. Ohh ya bu tadi Hamidah di panggil ke kantor kepala sekolah"
Amabar terkejut dan melotot ke arah Hamidah. " apa kamu membuat kesalahan??" Tanya Ambar sambil memegangi dada nya, dia takut jika anak nya melakukan kesalahan di sekolah.
"tidak bu tenang aja Hamidah gak akan buat kesalahan kok. dan gak akan membuat ibu kecewa."
"syukurlah kalau begitu, ibu kawatir nak. kita kan orang tak mampu jadi jangan sampi kamu berbuat kesalan nanti kita makin di hina orang nak!!" Ambar mengelus dadanya dan bernafas lega mendengar perkataan anak nya.
"Tadi hamidah di panggil kepala sekolah dan katanya Hamidah mendapt beasiswa agar bisa menjutkan sekolah ke perguruan tinggi bu" Hamidah memeluk tubuh Amabar dan menjelas kan nya.
"Alhamdulillah ya kalau kamu dapat beasiswa lagi. Ibu senang jika kamu bisa melanjut kan kuliah dan menjadi seorang sarjana" Amabar memeluk anak nya dan bersyukur di anugrahi seorang anak yang pandai dan berbakti kepada orang tua.
"Ya , nanti kita omongin ini sama bapak mu yaa. Mana yang terbaik buat kamu" sebenernya Ambar juga berat melepas Hamidah karna dia putri satu satu nya yang ia miliki.
"Asalamualaikumm" terdengar suara pak Darmo yang baru pulang dari bekerja.
Dia begitu kelihatan lelah karna seharian bekerja.
"Waalaikumsalam.. tumben pak pulang agak sore. biasa juga jam empat sore? "
"tadi banyak barang yang datang bu jadi bapak pulang agak telambat. Banyak barang yang harus di pindahin ke gudang"
__ADS_1
"ya sudah ibu siapin air hangat dulu ya buat mandi bapak?" Ambar begitu kasihan melihat suami nya yang terlihat begitu lelah sepulang kerja. dia segera membuat kopi dan menyiap kan air hangat untuk suaminya mandi.
Setelah sholat isyak mereka berkumpul di ruang tengah untuk menonton televisi bersama.
" Bu mbok ya di ganti chenel nya bosen bapak melihat film ini ini mulu. dikit dikit menyanyi kumenangisss membayangkann" sambil menyanyi Pak Darmo menirukan gerakan yang ada di film tersebut , sontak Hamidah dan bu Ambar tertawa terbahak bahak.
"hahahahhaahaha.....bapak lucu" Hamidah tertawa lepas sambil memegangi perut nya. karena melihat tingkah bapaknya yang konyol.
"Emang gitukan lagu nya, huhh uda hafal bapak mahh.kalau uda ada senetron kayak gini mah auto remot di kuasai sama ibu huhh" Darmo mencoba protes tapi Ambar tak menghiraukan nya. Ambar tetap memegang remot nya dan tak membiarkan Darmo mengambilnya.
"oh ya pak Hamidah mau ngomong sesuatu sama bapak!!" Hamidah merasa ragu buat ngomong ke bapak nya. dia khawatir kalau bapak nya tidak memperbolehkan nya untuk melanjutkan kuliah ke Jakarta.
"kamu mau ngomong apa Da?" sambil mengkerutkan keningnya dan bertanya ke pada Hamidah.
"*gini pak, tadi di sekolah Hamidah di panggi kepala sekolah. Dan Hamidah mendapat kesempatan untuk kuliah di Jakarta secara gratis! Gimana pak. apa boleh Hamida menlanjutin kuliah di Jakrta?"
"Jakarta kan jauh Da. bapak takut kalu kamu kenapa napa disana*!" pak Darmo masih berfikir gimana nanti kalau Hamidah ke Jakarta.
"insyalloh pak Hamidah bisa jaga diri kok, Hamidah kan anak yang kuat, aku janji pak akan jaga diri baik-baik" Hamidah bedo'a dalam hati nya smoga bapak nya mau mengijin kan nya. agar Hamidah bisa mengejar cita-cita untuk menjadi orang yang sukses.
"Kamu yakin sama keputusan kamu Da. kehidupan di Jakarta itu keras loo nak banyak pergaulan bebas" Darmo begitu kawatir terhadap putrinya. Tapi dia juga ingin jika putri nya menjadi orang yang sukses. biar gak hidup susah seperti nya.
" bapak tenang aja Hamidah bisa kok jaga diri baik-baik. Hamidah janji gak akan bikin bapak dan ibu kecewa" dia mendekati bapak nya dan berharap bapak nya mau mengabulkan permintaan nya.
__ADS_1
"bailah kalau begitu bapak percaya sama kamu. Semoga kamu bisa mengejar cita-cita mua ya..." Darmo tersenyum ke Hamidah dan memeluk putrinya.