
Di cuaca yang sangat panas, Cahaya masih berdiri di tepi jalan menunggu angkutan umum yang lewat.
"Panas, huhft" sambil menghela nafas dan mengibas ngibaskan tangan ke wajahnya.
"Pada ngapain sih ni semua pak supir, Nggak tau apa kalau ada penumpang di sini dari tadi nunggu" sambil berdecak pinggang Karena kesal.
Walaupun begitu cahaya tetap setia menunggu sambil mengomel juga pastinya,
Saat masih menunggu dia melihat ada sebuah cafe yang tidak jauh dari sana.
karena cuaca hari Itu terasa sangat panas dan dia juga harus berdiri di bawah sinar matahari yang menyengat cukup lama jadi, cahaya pun memutuskan ke cafe itu sebentar untuk mendinginkan tubuhnya yang dari tadi terpapar sinar matahari.
Cahaya berjalan dengan langkah pelan ke arah cafe tersebut. Saat sampai, dia langsung membuka pintu cafe itu dengan cepat dan hawa AC yang dingin langsung menerpa kulitnya.
"Ahh dingin " kata cahaya tersenyum sambil membuka pintu cafe itu.
Setelah masuk ke cafe itu dia langsung mencari tempat duduk yang tidak terlalu ramai, saat mencari dia melihat sebuah tempat duduk di pojok yang cukup sepi jadi dia memilih tempat itu.
Setelah duduk cahaya memanggil salah satu pelayan untuk memesan minuman dingin dan juga makanan karena dia juga sangat lapar, karena tadi pagi kesiangan jadi dia hanya sarapan sedikit.
Beberapa menit kemudian makanan dan minumannya pun datang, dan cahaya langsung mengambil minuman dingin yang tadi dia pesan.
"Ahh segarnya" kata cahaya sambil tersenyum.
Lalu beralih ke mie goreng yang tadi dia pesan.
"wah kayaknya enak nih mie gorengnya" kata cahaya sambil menatap mie goreng di depannya.
"Selamat makan" katanya lagi untuk dirinya sendiri, sambil mengambil garpu dan melahap suapan pertamanya.
"Emm, beneran enak ternyata" kata cahaya sambil melahap mienya dengan cepat Karena sangat lapar.
Saat sedang asyik makan, dia melihat Daffin dengan laras yang ternyata ada di cafe itu dan juga mereka sedang makan di sana.
"Apa mereka dari tadi di situ? Kenapa aku tidak melihatnya? " tanya Cahaya bingung entah kepada siapa.
Daffin dan laras lebih dulu ada di cafe itu sebelum cahaya datang, mungkin karena terlalu lelah jadi cahaya tidak melihat mereka saat berjalan masuk tadi.
"ah biarkan saja, apa peduliku" kata cahaya sambil meneruskan makannya dengan lahap.
__ADS_1
Saat sedang berbicara dengan Daffin, laras tanpa sengaja melihat cahaya yang sedang duduk di pojokan cafe yang cukup jauh dari tempat mereka duduk.
"si cupu ngapain ada di sini" kata laras pelan sambil menatap cahaya.
"kenapa? " tanya Daffin
"Ah Nggak sayang, itu aku lagi liat si cupu" kata laras sambil menatap ke arah cahaya dan di ikuti dengan Daffin.
"si cewek aneh di perpus tadi" kata Daffin dalam hati saat melihat cahaya.
"ihh apaan sih cara makannya kayak nggak pernah makan enak aja" kata laras sambil melihat cara makan cahaya yang aneh menurutnya.
Daffin hanya menatap sekilas ke arah cahaya lalu berbalik tak peduli, Karena menurutnya dia tidak tertarik dengan apa yang di lakukan cahaya, berbeda dengan laras yang terus berbicara dan menjelek jelekkan cahaya di depan Daffin.
Merasa jengah melihat laras berbicara terus menerus, Daffin kemudian bertanya ke laras perihal sesuatu yang penting yang katanya ingin dia katakan, jadi karena itu dia menemaninya sekarang di sini.
"Jadi apa yang ingin kau katakan? " kata Daffin yang mulai lelah berada di sana.
"oh ini aku.. " kata laras gugup karena Sebenarnya laras hanya berbohong, dia hanya ingin bertemu dengan Daffin.
"katakan" kata Daffin dengan dingin.
"Apaan sih, kita udah putus" sambil menghentakkan tangan laras.
"Tapi, aku nggak mau fin, aku nggak salah apa pun"kata laras lagi karena bingung di putuskan tanpa alasan.
"Jadi kau mengajakku ke sini hanya untuk berbicara omong kosong ini?" Kata Daffin dengan dingin.
"Kalau begitu katakan kenapa kau ingin putus denganku? " kata laras
"entahlah mungkin karena bosan" kata Daffin dengan cuek.
Laras yang mendengarnya kaget karena biasanya dia yang selalu memutuskan pria terlebih dahulu, tapi sekarang..
"Apa? Bosan? "kata laras sambil meyangkinkan dirinya kalau dia tidak salah dengar.
"Karena tidak ada hal yang perlu di katakan lagi, jadi aku akan pergi" kata Daffin lagi.
Laras hanya menatap Daffin dan merutuki kebodohannya yang mau saja di permainkan oleh Daffin, bukannya tidak tau tentang Daffin, dia sudah sering mendengar tentang sikap Daffin yang selalu bergonta ganti wanita tapi dia berfikir bisa menaklukkan Daffin dengan wajah dan tubuhnya.
__ADS_1
"Aku katakan sekali lagi, jangan menemui dan mengganggu ku lagi karena kita sudah tidak punya hubungan apa pun". Kata Daffin sambil beranjak pergi meninggalkan laras yang mematung.
Laras yang tersadar Daffin sudah pergi, langsung berlari mengerjarnya keluar cafe.
Cahaya yang melihat mereka kebingungan.
"Apa mereka sedang syuting drama" kata cahaya sambil meminum jusnya.
"Dia pasti di campakkan" kata cahaya sambil tersenyum mengejek karena kesal jika mengingat semua kelakuan laras padanya.
"Tapi kasihan juga sih, kayaknya dia udah cinta mati tuh sama si cowok perpus"kata cahaya lagi karena dia tidak tau nama Daffin, jadi dia memanggilnya si cowok perpus.
Setelah menyelesaikan makannya, cahaya lalu keluar cafe dan berjalan jalan sebentar sambil menunggu kendaraan yang lewat.
Tidak lama kemudian dia melihat ada kendaraan umum menuju ke arahnya jadi dia melambaikan tangannya dan naik ke sana lalu pulang.
Setelah beberapa saat, dia sudah sampai di tempat tinggalnya yaitu sebuah kamar kos kosan yang tak jauh dari pinggir jalan.
Karena cahaya ingin hidup mandiri jadi dia memberanikan diri untuk tinggal terpisah dari orang tuanya dan berkerja part time di sebuah cafe untuk tambahan uang jajannya, dan juga dia membantu temannya yang lain untuk sebuah bisnis.
Walaupun begitu orang tuanya tetap memberikan uang kuliah padanya padahal cahaya sudah bersikeras menolaknya dengan halus, tetapi mereka tidak mau tau dan selalu mengirimkannya setiap bulan.
Karena cahaya bukan anak yang boros jadi dia menabung uang dari orang tuanya dan hanya memakai uang gajinya untuk kebutuhan setiap harinya.
Walaupun gajinya pas pasan dia tetap bersyukur atas itu semua, dan uang dari orang tuanya hanya di pakainya saat keadaan penting saja.
Cahaya berjalan menuju pintu kamar kosnya sambil mengeluarkan kunci dari dalam tasnya.
"ceklek" (suara pintu) sambil tangannya membuka pintu.
"huff, Capek banget " kata cahaya sambil duduk di sebuah kursi di dekat pintu.
Kamar kos cahaya ini terdiri dari ruang tamu yang cukup kecil, ada kamar mandi dan juga dapur yang sederhana di sana.
Cahaya berjalan ke sebuah cermin yang cukup besar dan membuka kacamata, kepangan rambut, dan juga pakaian all size yang selalu di pakainya kemudian berdiri di depan cermin besar tersebut.
Cahaya menatap pantulan di cermin besar di depannya, dia menatap wajah dan seluruh tubuhnya.
"Cantik" kata cahaya yang masih menatap cermin.
__ADS_1
Jika ada yang melihat, pasti mereka tidak percaya jika wanita yang berdiri sekarang ini adalah wanita yang sama bernama 'Cahaya'.