Sisi Lainku Yang Tersembunyi. ..

Sisi Lainku Yang Tersembunyi. ..
Pria Toko Buku


__ADS_3

Perbuatan pak Rahmat belum seberapa di bandingkan yang telah pria itu lakukan padaku. Sampai hari itu terjadi, hari di mana aku tak ingin melihat tubuhku lagi bahkan menyentuhnya. Karena pria itu telah -


Flashback off


Author POV


Cahaya mengangkat tangannya dan memegang cermin besar di depannya, Dia melihat wanita cantik dengan mata yang indah tapi memiliki pancaran kesedihan yang mendalam di matanya, itu adalah dirinya.


CAHAYA POV


Aku memejamkan mataku dengan erat saat bayangan kejadian itu terlintas di benak ku, aku tak ingin mengingatnya bahkan memikirkannya pun tidak mau.


Tapi bayangan ingatan itu selalu saja muncul saat aku menatap diriku dengan penampilanku yang sebenarnya.


Aku memegang cermin di depan ku sambil menatap pantulan diriku, seakan akan sedang berhadapan dengan diri ku sendiri.


Aku menghabiskan waktuku lebih banyak dengan penampilan samaranku sehingga melupakan penampilan ku yang sebenarnya.


Entah kapan terakhir kali aku keluar rumah dengan penampilanku yang apa adanya tanpa samaran ini.


Semenjak kejadian itu aku menjadi terpuruk, aku tak ingin ke sekolah dan bertemu dengan orang lain bahkan keluargaku pun, aku ketakutan sampai aku mengalami depresi.


Tidak ada yang tau tentang kejadian itu Orang tuaku pun tak tau, aku tidak ingin menceritakannya, aku tidak bisa.


Membayangkan bagaimana perasaan mereka saat tau jika anak gadisnya -


Aku tidak bisa


Orang tuaku bingung dengan perubahan sikap ku tapi aku memilih bungkam saat mereka bertanya "Ada apa" padaku. Mereka ingin aku menceritakannya dan mereka bilang mungkin mereka bisa membantuku jika aku ada masalah tapi aku hanya tersenyum dan mengatakan aku baik baik saja.


Waktu pun berlalu sikap ku semakin hari semakin tertutup, nilai ku di sekolah menurun.


Hingga suatu hari aku melihat ibu ku menangis sambil sesenggukan di dekat ayahku, aku juga melihat ayah ku meneteskan air mata.


Ayah : "Sudah, nanti dia mendengar mu menangis " kata ayah sambil memeluk ibu yang masih menangis.


Aku melihat semuanya, aku merasa bersalah karena melihat mereka bersedih karena aku, aku memutuskan mencoba melupakan semuanya dan memulai semuanya kembali


Secara perlahan aku mulai memperbaiki hidupku yang sudah ku tinggalkan. Tidak semudah itu ternyata, aku kehilangan kepercayaan diri ku, aku tidak berani tampil di depan publik dengan diriku yang sebenarnya . Aku selalu merasa ada yang salah denganku, aku takut saat mereka menatap ku, aku takut saat seorang pria mendekati ku dan mengatakan aku cantik.


Hingga aku bertemu penampilan yang membuatku nyaman, penampilan yang membuatku tak perlu takut menghadapi tatapan lapar para pria yang membuatku takut.


Tapi sebenarnya penampilan ini adalah benteng pertahanan yang menyembunyikan ketakutan ku, memberikan kepercayaan diri padaku dan aku suka.


Aku tak perlu takut jika sewaktu waktu tak terlihat cantik seperti wanita lain, aku tidak perlu memikirkan harus memakai baju apa besok ke kampus dan hal hal lainnya.


Bohong jika aku bilang tak ingin hidup dengan penampilanku yang apa adanya tanpa penampilan samaran ini. Aku ingin, sangat ingin malah tapi aku belum seberani itu. Sampai aku bisa menghadapi ketakutan ku sendiri, maka saat itu aku akan kembali seperti dulu.


Author POV


Cahaya berjalan ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa lengket setelah seharian beraktifitas, di tambah dia harus berdiri cukup lama di bawah terik matahari yang cukup untuk membuat kulitnya terbakar.


Hari ini dia tidak punya banyak kegiatan seperti biasanya, jadi dia berencana untuk ke toko buku mencari komik kesukaannya. Karena menurut informasi yang dia dapatkan seri terbaru sudah di terbitkan. Memikirkannya saja sudah membuatnya senang, hal yang sepele tapi bisa sedikit mengurangi kebosanannya.

__ADS_1


Setelah selesai dengan kegiatan mandinya dia segera memakai baju yang biasa dia pakai.


celana juga baju over sizenya, tidak boleh ketinggalan juga yaitu kacamata tebal kesayangannya. Dia melihat ke cermin, gadis cupu dengan rambut kepang dan juga kacamata tebalnya sudah siap.


CAHAYA POV


"Sudah siap " kataku sambil tersenyum menatap ke cermin.


" Bahkan dengan baju ini aku tetap terlihat cantik " kataku dengan percaya dirinya dengan masih menatap ke arah cermin.


Aku bergegas merapikan tampilan ku lalu menuju ke toko buku dengan menaiki angkutan umum seperti biasanya.


Author POV


Sesaat setelah sampai cahaya langsung membuka pintu dan menutupnya dengan cepat yang menimbulkan suara agak bising


"kreet"(anggap saja suara pintu).


Untungnya sedang tak banyak orang di sana, mungkin hanya sekitar dua atau tiga orang termasuk penjaga toko buku di situ.


Penjaga yang duduk tak jauh dari sana tersentak mendengar pintu yang di buka dan di tutup dengan keras.


Bapak penjaga toko itu sudah terbiasa dengan kedatangan cahaya yang tiba tiba seperti itu, tapi tetap saja di buat kaget olehnya.


"yah apa kau tidak bisa masuk dengan pelan dan menutup pintunya dengan lembut" kata bapak penjaga toko itu dengan kesal sambil berdiri dan menujuk cahaya dengan tongkat kayu kecil yang di pegangnya.


"Mana? Di mana buku ku? " kata cahaya tergesah gesah saat melihat pak penjaga itu.


"Tidak bisakah kau bertanya pelan pelan? " kata bapak itu lagi.


"Aku tau kau tidak sibuk" kata bapak itu dengan acuh sambil duduk kembali ke kursinya.


Penjaga toko itu bernama pak Ali, cahaya biasa memanggilnya paman. Dia dan cahaya sangat dekat dan sudah menganggap cahaya seperti putrinya sendiri. Jadi, dia sudah terbiasa dengan keadanan ini. Saat seri baru komik yang di sukainya datang, cahaya selalu bersikap begitu jadi itu bukan hal baru untuknya.


"Ayolah paman, katakan di mana bukunya" kata cahaya memelas.


"Ah baiklah, lihat di sana di pojok kanan atas, tadi aku melihat masih ada satu di sana "katanya sambil menunjuk ke arah rak buku.


Cahaya langsung berlari ke arah rak itu. Tapi, beberapa menit kemudian dia belum kembali. Pak Ali yang bingungpun bertanya


"Kau sudah melihatnya? " tanya pak Ali.


"Sudah" kata cahaya sambil berjinjit karena rak buku yang tinggi di tambah dengan tinggi badannya yang cukup pendek jadi tidak bisa dia gapai dengan mudah.


"Lalu kenapa kau masih di sana? " kata Pak Ali.


"Aku memang sudah melihatnya tapi ti dak bi sa mengambil nya" kata cahaya terputus putus karena dia sedang berjinjit dan masih berusaha mengambilnya.


"Tidak hoshh bisakah hoshh paman hoshh membantuku? " kata cahaya yang masih ngos ngosan karena kelelahan melompat sambil berjalan ke arah kasir tempat Pak Ali duduk.


"huhh kau selalu saja menyusahkan" kata Pak Ali sambil berjalan ke arah rak buku yang di inginkan cahaya.


Saat kembali ke sana buku itu sudah tak ada, seseorang sudah mengambilnya. Posisi rak itu langsung menempel di dinding yang di lapisi kaca untuk bagian area itu saja.

__ADS_1


Sebenarnya di balik dinding kaca itu ada sebuah ruang baca rahasia yang tidak di ketahui cahaya.


Karena toko itu cukup besar dan luas jadi cahaya tidak memperhatikan jika ada orang lain selain dia di balik rak penuh buku itu, karena memang dia tidak bisa melihatnya tapi berbeda halnya dengan orang yang di dalam yang bisa melihat cahaya dengan jelas.


Pria itu sedang duduk di ruangan di balik rak itu, dia sedang membaca dengan tenang sampai seseorang datang mengganggu ketenangannya.


Dia bergumam dengan kesal karena seseorang yang baru saja membuka dan menutup pintu dengan cukup keras hingga membuatnya terganggu.


"Ada apa dengannya? " kata pria itu dalam hati sambil melirik kesal pintu di sampingnya sepertinya ada seseorang yang baru datang.


Dia melanjutkan membaca buku yang sedang di pegangnya. Dia mendengar sayup sayup suara seorang gadis yang sepertinya penyebab kegaduhan itu sedang berbincang dengan penjaga toko yang tidak jauh dari tempat duduknya yang tersembunyi.


Pria itu bernama Kivandra, biasa di panggil Andra. Pria tampan yang lebih suka menyendiri di tempat yang tenang sambil membaca buku kesukaannya.


ANDRA POV


Aku pribadi orang yang tidak terlalu suka bergaul dan hanya bisa dekat dengan orang orang tertentu, seperti keluarga atau teman yang sudah ku kenal dari semenjak aku masih kecil. Aku bukan tipe orang yang mudah dekat dan membuka hati untuk orang lain sehingga aku lebih suka menghabiskan waktuku sendiri.


Seperti saat ini, aku sedang berada di toko buku menikmati waktu ku sendiri sambil membaca buku favorite ku. Semuanya berjalan dengan damai sampai saat itu, sebelum seseorang datang dengan tiba tiba di iringi suara berisik pintu yang di buka dan di tutup dengan keras menghancurkan kedamaian ku.


Aku sangat kesal dengan sumber yang menyebabkan suara berisik itu muncul. Aku mendegar suara seorang gadis sedang berbicara dengan penjaga toko. Entah apa yang di carinya hingga dia terdengar terbaru buru.


Aku melihatnya lewat kaca ruangan tempat ku membaca, dia berjalan dengan cepat ke arah rak buku yang tepat di samping tempat ku duduk sekarang.


Dia tak melihatku karena terhalang banyak buku di depannya dan tentunya kaca ruang rahasia ini yang mungkin orang lain fikir hanya dinding kaca biasa.Tapi, karena dinding kaca ini aku bisa melihat gadis itu dengan jelas.


Gadis berambut kepang dengan kacamata tebalnya sedang berjinjit dan melompat lompat di sampingku, sepertinya dia sedang berusaha menggapai sesuatu di atasnya.


Mungkin karena tubuhnya yang pendek dia tidak bisa menggapainya dan akhirnya menyerah, aku melihatnya berjalan ke arah kasir. Sepertinya dia sedang meminta bantuan penjaga toko ini yang tidak lain adalah paman Ali untuk mengambil buku itu.


Merasa penasaran aku menggeser pintu di depanku yang merupakan rak buku itu sendiri dan berjalan menghampiri lokasi buku tersebut.


Saat mendongak ke atas, aku melihat sebuah buku yang sepertinya di incar gadis tadi.


Aku penasaran tentang buku itu jadi aku memutuskan membawanya ke tempat duduk ku tadi.


Aku berjalan kembali keruangan duduk ku tadi. Aku melihat buku yang sedang ku pegang " KOMIK" pikir ku.


Entah kenapa aku merasa penasaran dengan buku itu jadi aku memutuskan untuk membacanya. Sepertinya ini komik yang cukup bagus mengingat perjuangan gadis tadi untuk mengambilnya.


Author POV


Cahaya berjalan kembali ke arah rak buku itu di temani pak Ali di sampingnya.


" Paman bantu aku mengambil-"


sebelum menyelesaikan kalimat nya, dia lebih dulu kaget saat tidak melihat buku komik itu lagi di sana.


"Mana bukunya? Apa kau sedang mengerjai ku" kata Pak Ali bertanya ke cahaya.


"Tadi masih ada di sini" kata cahaya menunjuk rak buku itu yang kosong.


"kemana bukunya paman? "kata cahaya lagi.

__ADS_1


"Mana paman tau cahaya, bukannya dari tadi hanya kau yang ada di sini" kata paman ali.


__ADS_2