Sistem Kebalikan

Sistem Kebalikan
Makan malam bersama


__ADS_3

Semua orang kecuali Robi tercengang bukan main dengan ucapan Robi yang secara tiba-tiba itu. Bahkan ibu Raisya sampai membuka mulutnya dengan tangan hampir menutupi semua mulutnya yang sedang berbentuk "O" besar. 


Tapi, tak lama kemudian mereka tertawa, namun ayah Raisya hanya tersenyum tipis dengan kepala di geleng-geleng kan secara perlahan. 


Raisya yang sedang tertawa kemudian menghampiri Robi, lalu menepuk-nepuk pundaknya dengan keras sehingga membuat Robi sedikit meringis karena pukulannya sedikit menyakitinya.


"Haha…!! Kamu benar-benar berpikir bahwa ayahku itu seorang satpam? Berarti kamu telah masuk ke dalam rencananya!" Ucap Raisya terengah-engah karena lelah terus tertawa.


"Kamu benar-benar telah berhasil menipu anak muda ini, sayang!" Ibunya pun sama-sama mengatakan hal yang membingungkan bagi Robi.


Namun tak selang beberapa lama, Robi langsung mengetahui apa maksud dari perkataan mereka. Dia langsung kesal, namun semuanya hanya dilampiaskan di dalam batinya sendiri.


'Sialan, mereka benar-benar mengerjai ku!' Batinnya merasa kesal.


"Dasar anak muda yang polos." Ucap ayah Raisya secara mengejutkan, karena suaranya terdengar lembut seperti penuh dengan kepercayaan.


Semua orang langsung terdiam ketika mendengar perkataan dari ayahnya Raisya. Bahkan keluarganya pun sama-sama terdiam karena mereka merasa tidak percaya bahwa kepala keluarganya benar-benar bisa berkata lembut seperti itu.


Namun, keheningan tersebut langsung dibuyarkan oleh Robi yang tiba-tiba menghampiri mereka dan menyalami kedua orang tua Raisya secara bergilir.


Setelah melakukan itu, Robi kembali berdiri tegak sambil tersenyum lembut dan berkata, "Maaf Om, Tante, saya telah bertamu tanpa izin. Dan juga saya minta maaf juga telah membawa Raisya jalan-jalan tanpa meminta persetujuan kalian." Saat ini Robi mengabaikan rasa kesalnya, dan berkata jujur dengan permintaan maaf yang telah memenuhi benaknya.


Kedua orang tua Raisya dibuat terdiam kembali oleh kesopanan Robi yang sangat jarang didapatkan dari pemuda seusianya. Banyak sekali pria yang pernah bermain ke rumah Raisya, namun baru kali ini mereka melihat pemuda sebaik dan sesopan Robi.


Memang, dunia yang hampir didominasi oleh kriminalitas tentu saja penduduknya banyak yang sedeng. Entah kenapa mereka bisa bersikap seperti itu, padahal sopan di depan orang lain merupakan sebuah kebaikan yang seharusnya dimiliki oleh setiap manusia yang ada..


"Ah… daripada berdiri terus, lebih baik kita duduk saja agar perbincangannya semakin bisa dinikmati." Ajak Raisya kemudian dibalas anggukan oleh semua orang.

__ADS_1


Mereka kemudian duduk dengan saling berhadapan. Robi dan Raisya duduk dalam satu sofa yang sama, dan berhadapan langsung dengan ayah dan ibu Raisya yang berada di sofa seberang.


"Jadi, Nak. Apa sepanjang kencan, Raisya merepotkanmu?" Tanya ibu Raisya kepada Robi.


"Aduh Tante, anak Tante ini sangat membuat repot saya. Terutama saat di dalam bioskop! Dia menangis tak henti-hentinya. Untung saja saya membawa satu bungkus tisu penuh, meskipun semuanya habis olehnya." Sahut Robi sedikit bercanda dan tentunya diterima baik oleh kedua orang tua Raisya yang mengetahui hal tersebut.


"Ih… apa sih kamu! Padahal kamu selalu kesal dengan filmnya yang plotnya tidak sesuai keinginanmu!" Raisya tidak ingin kalah sehingga mengatakan kelakuan Robi saat di dalam bioskop.


"Tapi aku hanya berekspresi saja, sedangkan kamu tidak." Robi pun sama-sama tidak ingin kalah, namun dirinya hanya bercanda saja, tidak seperti Raisya yang benar-benar kesal oleh perkataan Robi.


"Ah yasudah! Aku tidak akan menerima ajakanmu untuk menonton bioskop lagi!" Ucapnya sambil membuang muka, dan reaksi tersebut membuat Robi menjadi tidak tega sekaligus terkekeh karena sifat imutnya kembali keluar.


"Hmm… apa kamu begitu marah kepadaku? Hoya, hoya? Apa benar begitu…" Ucap Robi sambil memencet pipi Raisya yang begitu tembem.


Sikap Robi yang seolah sedang menganggapnya seperti anak kecil membuat dirinya menjadi kesal, tapi senang juga, karena begitu dia diperlakukan seperti itu entah kenapa hatinya merasa bahagia.


"Cih, padahal aku hanya ingin mengusir rasa gatal di tenggorokan. Tapi kenapa kalian menghentikan keromantisan itu?" Ucap ayah Raisya dengan ekspresi seperti sedang kecewa oleh mereka berdua.


Mendengar perkataan tersebut bukannya membuat mereka bahagia, namun malah sebaliknya. Ungkapan tersebut ternyata semakin membuat kecanggungan diantara mereka menjadi lebih meningkat.


"Sayang… kamu malah semakin membuat suasananya menjadi aneh!" Tegur ibu Raisya sambil mencubit kecil perut suaminya.


"Aku lagi, aku lagi…" Keluh ayah Raisya dengan wajah memelas.


Reaksi tersebut membuat Robi dan Raisya menjadi terkekeh, tanpa mereka sadari kecanggungan telah menghilang seperti diterpa oleh udara. 


Setelah itu, mereka semua kembali ke dalam perbincangan ringan yang memakan waktu cukup lama. Karena sudah waktunya Robi untuk pulang, dia beranjak kemudian berpamitan dengan kedua orang tua Raisya.

__ADS_1


"Tante, Om, saya akan pulang. Terimakasih atas sambutan hangatnya." Ucapnya sambil menyalami orang tua tersebut.


Namun, bukannya bahagia karena tamu sebentar lagi akan pulang. Mereka berdua malah terlihat sedih dengan kepulangan Robi, terutama ayah Raisya yang tampak kecewa berat akan keputusannya.


"Bukankah kita selesai masak sesuatu, kan?" Tanya ayah Raisya kepada istrinya dan dibalas dengan anggukan. "Lalu, kenapa kita tidak makan terlebih dahulu sebelum kamu pulang kerumah?" Ajaknya kepada Robi.


"Ah, benar! Nak Robi, sebaiknya kita makan malam dulu ya? Tante tidak ingin kamu pingsan ditengah jalan karena perut kosong!" Ucapnya semakin mendesak Robi.


Melihat keraguan terpampang jelas di wajah Robi, Raisya bangkit kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Robi dan berbisik, "Sepertinya ayah dan ibu ingin kamu tetap berada disini untuk sementara waktu, dan tenanglah, mereka tidak akan sampai melarang kepergianmu!" Ucap Raisya yang sama-sama tidak ingin Robi pulang.


Merasa penolakan tidak ada artinya, Robi menghela nafas berat kemudian mengangguk dan menyetujui permintaan mereka bertiga. Tentu saja persetujuan tersebut membuat wajah mereka menjadi berseri, tanpa basa-basi lagi mereka langsung pergi ke dapur sambil menarik tangan Robi.


"Cepatlah! Kita akan makan malam bersama!" Desak Raisya sambil menarik tangan Robi dengan ekspresi bahagia.


Mereka berempat pun sampai di ruang makan, disana sudah tersedia nasi beserta lauk pauknya. Aroma kenikmatan menembus lubang hidung Robi dan membuat nafsu makannya semakin meningkat sehingga menimbulkan suara gemuruh di dalam perutnya.


"Tuh kan! Kamu benar-benar lapar! Untung saja kamu tidak jadi pulang tadi, kalau tidak mungkin saja kekhawatiran ibu benar-benar terjadi." Ucap Raisya sambil tersenyum tipis, begitu pula dengan kedua orang tuanya.


"Cepatlah Nak, duduk di kursi dekat Raisya. Dan Raisya, tolonglah Nak Robi untuk memilih lauk pauknya!" Titah ibunya kepada Raisya.


"Baiklah ibuku tersayang…" Ucap Raisya mengiyakan, kemudian mengambil satu piring dan mulai menaruh satu persatu lauk pauk beserta nasi yang cukup banyak.


"T-tidak perlu sebanyak itu!" Robi merasa makanan yang diberikan terlalu banyak.


"Eh… tidak perlu malu, dan makanlah! Jika tidak, maka mulutmu akan kugigit hingga berdarah!" Ancam Raisya kemudian meletakkan piring tersebut ke hadapan Robi.


"Baiklah, terimakasih Raisya…" Robi menyerah kemudian mulai menyendok satu nasi ke mulutnya.

__ADS_1


'Padahal jika memang dicium beneran, maka akan ku terima secara lapang dada.' Batin Robi merasa kecewa.


__ADS_2