
Tanpa mempedulikan cibiran dari Lidya, Robi tetap menetapkan tujuannya untuk membeli handphonenya serta untuk ibunya juga. Dia langsung menghampiri seorang wanita yang diduga sebagai karyawan gerai tersebut.
"Mbak, apa disini menjual handphone android yang bagus?" Robi bertanya kepada wanita tersebut sambil melihat etalase yang didalamnya terdapat beberapa merk handphone.
Wanita itu menoleh, kemudian menghampiri Robi dan menjelaskannya sambil tersenyum. "Tentu saja, Tuan pelanggan. Jika anda ingin handphone yang seperti itu, maka saya sarankan Vavi T1 5G dan karena yang tersisa hanya Ram 8Gb, maka harganya sebesar 4.100.000.00. Apa anda akan membelinya?" Jelas wanita tersebut dengan rinci.
Mendengar itu Robi tentu saja tidak perlu memikirkan apa-apa, karena dia masih memiliki uang yang lebih dari cukup untuk membelinya. Namun, saat dirinya hendak untuk mengeluarkan kartu kreditnya, tiba-tiba terdengar suara wanita yang sedang menghina dirinya.
"Memang, orang miskin hanya bisa membeli android saja. Untung saja aku bersama dengan kekasihku yang tajir, dia membeli produk Akuphone keluaran terbaru." Ucap Lidya yang entah kenapa terdengar seperti ocehan anak kecil yang sedang membanggakan kekayaan orang tuanya.
Mendengar itu, Robi menghentikan tangannya, lalu menoleh ke arah Lidya dengan tatapan datar.
"Anda kenapa?" Tanya Robi masih dengan tatapan datar nya.
Reaksi Robi yang biasa saja membuat Lidya menjadi malu, namun dirinya tetap menegaskan diri untuk terus menghina Robi hingga membuatnya menjadi menangis terus panggil mamah dan berkata "Mamah, mamah aku dikatain orang tidak mampu sama dia! Tolong belikan aku sebuah gedung!"
Tapi tenang saja, itu bukan pikiran Lidya, melainkan author sendiri.
"Kenapa? Tentu saja karena kau miskin!" Sebenarnya Lidya sudah mati langkah, tapi dirinya tetap memaksakan diri untuk terus melontarkan penghinaan.
Merasa ocehan Lidya hanya akan membuatnya emosi, Robi mengabaikannya lalu kembali menatap karyawan wanita sambil memberikan kartu kreditnya.
"Tolong dua handphone Vavi T1, dan gesek kartu tersebut." Ucap Robi kemudian dibalas dengan anggukan.
Dengan profesional wanita tersebut melayani Robi dengan baik, dia telah melakukan apa yang dikatakan oleh Robi, setelah itu dirinya memberikan barang yang diinginkan Robi berserta kartu kreditnya.
"Ini Tuan. Terimakasih telah membeli produk di toko kami!" Ucap wanita tersebut sambil tersenyum lembut.
__ADS_1
Dilayani dengan baik membuat Robi merasa senang, dia mengangguk sebagai tanda terimakasih, setelah itu dirinya berbalik dan hendak untuk pergi, tapi tiba-tiba terdengar kembali ocehan Lidya yang kini benar-benar membuatnya menjadi marah.
"Membeli dua handphone? Hmp, pasti dia membelikannya untuk ibunya yang sudah tua kerempeng seperti itu. Pasti ibunya tidak akan mengerti cara mema—"
Sebelum Lidya mengakhiri perkataannya, mendadak telinganya merasakan terpaan angin kencang ditemani oleh suara retakan.
*Kraakk
Suara itu terdengar begitu renyah hingga membuat Lidya menjadi ketakutan tanpa sebab. Mendengar suara hantaman yang begitu keras, Lidya langsung mengalihkan pandangannya ke arah belakang dan disana bisa terlihat Doni, kekasih barunya sedang terkapar tidak berdaya menghantam tembok yang menopang etalase kaca.
"Jangan sekali lagi kau hina orang tuaku!" Ucap Robi mengintimidasi kedua sejoli tersebut.
Namun, merasa Robi telah salah sasaran, meski kesakitan Doni tetap mencoba untuk bangkit sambil memegang hidungnya yang telah patah.
"B-bukankah kau telah sasaran? Padahal wanita jlng ini yang mengatakan itu, bukan aku!" Jelas Doni sambil menahan rasa sakitnya.
"Apa!? Jalng? Sayang, kenapa kau memanggilku seperti itu?" Keluh Lidya dengan suara tinggi.
Mendengar keluhan itu, Doni tak menggubrisnya, dia tetap fokus merasakan rasa sakitnya dan tak berhenti untuk mengelus-elus hidungnya yang telah patah.
"Hoya, hoya!? Apa ini, apa ini!? Apakah ini…" Melihat kondisi mereka yang sepertinya telah bertengkar, Robi merasa sangat ingin untuk memprovokasi mereka.
Namun, provokasi Robi tidak berpengaruh terhadap mereka, dan Lidya tetap melanjutkan keluhannya sambil menggoyangkan tubuh Doni hingga terguncang hebat.
"Jelaskan! Kenapa kamu mengatakan hal itu kepadaku!? Padahal aku pikir kamu itu…" Tanya Lidya kembali
Bukannya membalas, Doni malah menepis tangan Lidya dengan cepat, kemudian menatap Lidya dengan tajam.
__ADS_1
"Kau kira aku mencintaimu? Aku hanya tertarik dengan tubuhmu, tapi tidak pernah terpikirkan olehku bahwa kau mencintaiku. Tapi, akan ku jelaskan lagi, aku tidak mencintaimu dan wajahku seperti ini karena kau sendiri yang telah memprovokasi dia!" Tegas Doni menyatakan hingga membuat Lidya seolah tidak percaya dengan pernyataannya.
Dia merelakan untuk berselingkuh dengan Doni karena dia pikir pria itu sangat baik dan juga kaya, berbeda dengan Robi yang selalu mengajaknya kencan namun memakai motor matic yang jelas-jelas akan membuat riasannya menjadi hancur. Lidya telah merelakan tubuhnya beserta kepercayaannya untuk diberikan kepada Doni yang menurutnya lebih baik dari Robi, tapi yang didapatkannya hanyalah sebuah pengkhianatan.
"Pfft… apakah ini akhir dari drama yang memilukan!? Huhu… aku merasa air kencingku akan keluar deras karenanya." Ucap Robi yang masih menonton adegan dramatis itu.
Sedangkan untuk Doni, dia tidak bisa melawan Robi karena akal sehatnya masih berjalan. Mana ada manusia yang akan selamat setelah mendapatkan luka tusukan beberapa kali? Dan pastinya manusia itu tidak bisa menghentikan pendarahannya bagaimanapun Doni melakukan hal itu di jalan yang benar-benar sepi.
Mengabaikan fakta tersebut, sebenarnya pukulan Robi sudah membuat nyali Doni menjadi ciut. Dia ingin melaporkan kejadian ini kepada ayahnya, tapi untuk saat ini dirinya tidak ingin menunjukkan tindakan pengecutnya di hadapan banyak pasang mata.
"Kenapa kau memukulku? Kenapa bukan dia saja?" Tanya Doni menahan amarahnya.
Mendengar itu, Robi sejenak berpikir, setelah itu dia berkata, "Meski begitu, aku tidak memukulnya karena dia adalah cucu dari Nenek kesayangan ku. Tapi, jika wanita itu bukan cucunya, mungkin saja nyawa dia sudah melayang dijinjing layaknya anjing oleh malaikat pencabut nyawa." Jelas Robi dengan wajah yang tidak bisa diartikan.
"Terserahlah, lebih baik aku segera pergi dari sini." Ucap Doni kemudian berjalan melewati Robi dan pergi ke dalam mobil mewahnya lalu melajukan mobilnya hingga menghilangkan keberadaannya.
Sedangkan untuk Robi, dia menatap jijik ke arah Lidya yang dengan entengnya mengkhianati dirinya serta menghina ibunya yang benar-benar dihormati dan disayangi sepenuh hati olehnya.
"Lebih baik kau untuk segera pulang, nenek pasti mengkhawatirkan mu." Tegur Robi yang tidak ingin Lidya tertunduk sambil menutupi wajahnya di tengah-tengah kerumunan orang. Bagaimanapun juga wanita itu adalah cucu dari Nenek Sarah yang sangat dihormatinya.
Setelah mengatakan hal itu, Robi langsung berbalik dan berjalan menjauh dari gerai tersebut mengabaikan Lidya yang masih merasa tidak percaya dengan kenyataan.
Kini Robi sudah berada di luar mall, dirinya langsung menghentikan satu taksi kembali dan segera pergi menuju rumahnya untuk memberikan handphone yang baru saja dibeli olehnya untuk ibu dan dirinya sendiri.
Maaf saja jika konfliknya tidak seru, soalnya saya tidak bisa menulis dialog yang menyebalkan, seperti merendahkan seseorang. Setiap menulis itu, rasanya kurang yakin banget. Jadi, ya saya begini saja dah.
__ADS_1