Sistem Kebalikan

Sistem Kebalikan
Lagi dan lagi


__ADS_3

Sepulangnya Robi di rumah, dia langsung berteriak sambil mencari keberadaan ibunya. 


"Ibu! Aku pulang, dan lihatlah apa yang ku beli!"


Tak lama kemudian datanglah Dina dengan rambut basahnya, sepertinya dia selesai mandi. 


"Ada apa, Nak? Kenapa kamu berteriak-teriak seperti itu, malu didengar tetangga!" Ibunya menegur Robi dan dibalas dengan tawa kering sambil mengusap-usap kepala yang tidak gatal.


"Hehe, maafkan aku…" Robi meminta maaf dengan malu. 


"Sudahlah lupakan, tapi jangan diulangi lagi! Jadi? Apa yang kamu bawa sampai bahagia seperti itu?" Setelah memberi peringatan, Dina bertanya kembali sambil melihat kresek putih menggantung di tangan anaknya.


Menyadari hal itu, Robi langsung mendongak dengan wajah yang cerah dia menjelaskan, "Oh iya! Aku sudah membeli handphone untuk ibu dan menggantikan punyaku yang sudah rusak! Nih barangnya!" Robi menyodorkan kresek putih itu ke ibunya yang masih berdiri di depannya.


Dina menerimanya, kemudian dibuka dan secara mendadak matanya langsung terbelalak tak percaya melihat barang yang dibelikan oleh anaknya. Namun tidak lama setelah itu, dia langsung mengernyit heran sambil menatap anaknya yang sedang nyengir kuda.


"Nak? Apa kamu membeli ini untuk ibu? Tapi, dari mana uang nya? Ibu tidak ingin sampai kamu meminjam kepada seseorang untuk membeli barang yang setidaknya tidak terlalu dibutuhkan oleh ibu." Ucap Dina sambil memasang wajah kusut, dia sepertinya beranggapan bahwa anaknya telah meminjam uang kepada temannya untuk membeli barang tersebut.


Mendengar itu, Robi hanya bisa iba dengan ibunya yang mempunyai anak tidak berguna seperti dirinya. Setelah menghela nafas berat, Robi pun menjelaskan dengan sedikit kebohongan tapi itu semua untuk kebaikan nya sendiri, dan dia juga tidak ingin ibunya merasa tidak nyaman setelahnya.


Robi memegang kedua bahu ibunya, lalu menjelaskan dengan wajah serius, "Ibu… Robi membeli ini dengan uang hasil keringat Robi sendiri, dan juga aku yakin bahwa setelah aku membeli handphone ini ibu pasti tidak akan merasa bosan lagi ketika sendirian di rumah." 


Dina yang tiba-tiba diperlakukan seperti itu hanya bisa tertegun tidak percaya, namun di dalam hatinya dia bersyukur mempunyai anak yang baik, meskipun di masa lalu dirinya selalu diperlakukan dengan tidak baik oleh anaknya sendiri. Dia tidak peduli alasan dibalik kebaikan anaknya, tapi satu hal yang pasti; Dina tidak pernah menaruh rasa benci kepada anaknya yang sudah dibesarkan olehnya dengan penuh kasih sayang.


"Baiklah… ibu akan menerimanya. Tapi, Nak! Bagaimana caranya untuk memakai benda ini? Selama 45 tahun ibu hidup, tapi tidak pernah sekalipun memegang benda ini…"

__ADS_1


Robi mengetahui kebenaran itu, dia juga tidak pernah sekalipun melihat ibunya ghibah maupun berkumpul layaknya ibu-ibu sosialita. Dengan kenyataan itu, dia bisa bersyukur karena dilahirkan dari rahim ibunya dan dibesarkan oleh keluarga baik seperti ini.


"Aku tahu itu, hahaha! Tapi tenang Bu! Anakmu ini, akan mengajarkan semuanya yang ingin ibu ketahui, dan aku akan menjelaskannya dengan terperinci soalnya anak ibu ini jenius!" Robi mengatakan itu dengan penuh kepercayaan diri sambil melakukan gerakan-gerakan aneh seperti orang narsis. Ketika dia melakukan hal itu, rasanya seperti melihat karakter "Pipi Zalo"


Kebenaran!!


Melihat sikap anaknya, Dina terkekeh sambil menutup mulutnya dengan tangan. Dan penampakan itu bisa membuat hati Robi menjadi meleleh, sepertinya hati dia sudah ditaklukan oleh ibunya, tapi dalam artian keluarga.


Setelah itu Robi menarik ibunya ke ruang tamu yang dimana disana tempatnya televisi disimpan. Dia langsung mempersilahkan ibunya untuk duduk di sofa, setelah itu dia mulai memasukan kartu di handphone kemudian menyalakannya. Selesai dengan semua persiapannya, Robi kemudian menjelaskan bagaimana caranya memakai handphone, dan dia juga menjelaskan kegunaan dari "Googel" tentu saja dirinya mengatakan bahwa itu tempatnya untuk mencari informasi yang diinginkan.


Dia tidak ingin ibunya melakukan hal-hal aneh, seperti melihat gosip para artis dsb.


Setelah semuanya selesai, Robi kemudian membuka handphonenya sendiri dan mengoprek dengan sesuai keinginannya. 


***


Lidya tidak melihat keberadaan keluarganya seperti Ibu, Ayah, Nenek, dan Kakeknya. Karena dia juga sadar bahwa mereka semua orang yang sibuk, dan karena hal itu, dirinya tidak pernah mendapatkan perhatian yang diinginkan oleh anak.


Tapi, dia tidak pernah sekalipun mengetahui kebenaran bahwa dirinya selalu diperhatikan oleh keluarganya. Setiap saat mereka selalu mengirim setidaknya satu pengawal untuk mengamati setiap gerak gerik Lidya ketika berada di luar rumah. Tentu saja mereka mengetahui situasi dari hubungan antara anaknya dengan Robi, mereka tahu itu, tapi memilih untuk tutup mulut agar tidak merugikan salah satu pihak.


"Haah… Hari ini sangat melelahkan. Aku tidak percaya akan bertemu dengan Robi dalam keadaan yang menyedihkan, saat itu aku pasti terlihat seperti cewek bajigur. Tapi… aku tidak ingin dia terlibat dalam situasi yang akan terjadi di masa depan, apalagi aku sudah memiliki ini karena dia." Ucap Lidya kepada dirinya sendiri setelah berada di dalam kamarnya sambil mengusap-usap perutnya yang terlihat cukup kecil untuk seukuran anak konglomerat.


Lidya tidak mengetahui kejadian dimana Robi dan mantan kekasihnya bertengkar hingga terjadi penusukan. Sebab, saat itu Lidya langsung bersembunyi di dalam mobil agar keberadaannya tidak diketahui, atau mungkin juga karena tidak kuasa dengan perasaan Robi yang melihatnya dalam keadaan tidak senonoh. 


Yang dia ketahui bahwa mantan pacarnya keluar dari mobil, dan terjadi pukulan demi pukulan yang menghasilkan dentuman keras. Hanya itu yang dia ketahui.

__ADS_1


Mengabaikan fakta tersebut.


Kini Lidya sedang menyayangkan tindakannya yang merendahkan Robi sedemikian rupa, dia melakukan itu bukan karena keinginannya sendiri, tapi semua itu dilakukan olehnya untuk menutupi sebuah kebenaran yang pastinya akan menghasilkan perdebatan.


Kembali kepada Robi yang kini sedang menatap layarnya kembali dengan tatapan lesu.


"Tolonglah… kenapa semua ini selalu terjadi ketika aku ingin istirahat!!" Kesal Robi sambil berguling-guling di atas ranjangnya sendiri.


Tentu saja dia merasa kesal, karena hari ini sudah hampir malam, juga Robi merasa lelah secara fisik dan mental atas kejadian sebelumnya. Namun, semua itu berubah menjadi kekesalan karena secara tiba-tiba muncul sebuah tugas yang selalu muncul di timing yang buruk.


[Tugas: Selamatkan seorang gadis dari pencabuln!]


[Durasi: 15:56]


[Gagal: Tidak ada hukuman.]


[Berhasil: Satu hadiah acak dan Uang sebesar Rp 30.000.000.00]


[Semoga anda berhasil!]


Dengan itu, Robi merasa sedih karena waktu istirahatnya harus tertunda lagi. Tapi disisi lain dirinya merasa kasihan dengan gadis yang hendak untuk dicabuly, karena bagaimanapun juga Robi masih memiliki hati nurani meskipun di sudah berganti kepribadian.


***


Maaf telat update karena saya sedang terkena bintitan sialan!! Mata saya jadi tertutup sebelah, dan itu sangat menggangu tentunya.

__ADS_1


Saya juga akan berterimakasih kepada anda! Satu orang yang memencet tombol permintaan update, ya anda! Hoho, terimakasih banyak kakak.


__ADS_2