
Tanpa diduga, kekhawatirannya ternyata tidak tepat. Raisya yang mengetahui permintaan dari Robi hanya membalas dengan lengkungan bibirnya, kemudian tanpa pikir panjang wanita itu langsung menarik tubuh Robi dengan paksa dan menyerahkan motornya kepada Pak Satpam yang sedang berjaga.
"Aku titip motornya ya, Pak Tono! Ingat, jangan sampai lecet!" Titahnya kepada pria setengah baya yang sedang berdiri tegak di dekat posnya.
"Baik Non!" Sahutnya dengan tegas, kemudian berjalan keluar dan mulai menyalakan motor Robi untuk dimasukkan ke dalam mansion. Pak Tono berhasil tanpa sedikitpun kendala, apakah dia mantan pembalap!?
Sedangkan untuk Robi, dia terus menahan rasa sakit dari luka nya yang terus ditekan oleh tarikan serta langkah kakinya. Dia ingin sekali memarahi Raisya, namun dirinya juga harus bersyukur karena masih ada seseorang yang bisa dimintai pertolongan olehnya.
Sesampainya di dalam, Robi langsung dibantu untuk duduk di sofa oleh Raisya yang baru sadar bahwa keadaan Robi sedang dalam keadaan terluka.
'Sial, kenapa wanita ini begitu telmi? Tidakkah dia tahu bahwa aku telah menahan rasa sakit ini!?' Batin Robi merasa kesal.
Setelah menolong Robi untuk duduk di sofa, Raisya berbalik dan berteriak kepada Bi Ningsih untuk membawakannya kotak P3K.
Bi Ningsih mengangguk kemudian berlari kecil ke arah dapur dan mengambil kotak P3K di dalam laci atas yang terdapat di dekat tempat stok makanan disimpan.
(Kotak P3K selalu disimpan dimana sih? Saya tidak pernah diobati jikalau sedang terluka.)
"Ini Non!" Ucap Bi Ningsih memberikan kotak P3K kepada Raisya yang sedang duduk berhadapan dengan Robi.
Dengan segera Raisya menyambar kotak tersebut dan berterima kasih kepada Bi Ningsih tanpa melirik wajahnya. Setelah menerima kotak P3K, Raisya bangkit dan melangkah mendekat ke arah Robi, kemudian mulai mengobati luka Robi.
Meskipun Raisya harus dibuat lelah oleh peluru yang bersarang di dalam luka Robi. Namun dengan segenap usahanya, dia berhasil mengobatinya dengan sempurna. Dia bersyukur telah mempelajari ilmu medis, meskipun hanya tingkatan yang masih rendah. Tapi setidaknya itu berguna untuk mengobati luka-luka seperti yang dialami oleh Robi.
"Kenapa kamu sampai bisa terluka seperti itu!?" Tanya Raisya sambil menyeka keringatnya.
"Haa… aku hanya dihadang oleh preman jalanan. Maaf telah merepotkan mu…" Jawabnya sambil tersenyum kecut.
__ADS_1
"Eh? Kenapa meminta maaf? Padahal aku tidak terlalu mempermasalahkan itu." Raisya merasa canggung dengan suasana yang berubah seperti sedang berbicara dengan orang asing.
"Tidak. Ini memang sudah sewajarnya aku meminta maaf kepadamu, bahkan jika seorang dokter yang mengobati ku maka aku tetap akan meminta maaf dan berterima kasih kepadanya." Ungkap Robi dengan ekspresi lembutnya membuat Raisya sulit untuk mengatakan bantahan lagi.
"A-ah… baiklah terserah kamu saja!" Ucapnya membuang mukanya dengan cepat. Dia tidak ingin menunjukkan wajahnya yang sedang merona oleh ketulusan Robi.
"Itulah yang aku inginkan…" Gumam Robi terdengar samar-samar oleh telinga Raisya, namun wanita itu tidak terlalu memperdulikan dengan dialog Robi.
Selesai membereskan semua peralatan yang telah digunakannya, Raisya kembali memerintahkan Bi Ningsih untuk menyimpan kembali kotak P3K tersebut. Kemudian berbalik menghampiri Robi dan duduk disampingnya, membuat Robi menjadi salah tingkah karena saat ini situasi sedang sepi dan hanya ada mereka berdua di ruangan itu.
"Ada apa?" Tanya Robi sedikit melirik kesamping dan terlihat wajah seorang wanita cantik yang sedang memasang tersenyum sedikit menampilkan deretan gigi putihnya.
"Malah nyengir." Ucap Robi meledek Raisya.
"Hmp! Biarlah! Lagipula aku tidak merugikan mu! Yang ada, kamu merugikan ku!" Ungkapnya secara tiba-tiba melingkari lengan Robi dan memeluknya dengan erat sehingga dua bolanya bisa dirasakan oleh Robi.
"Baiklah, iya." Jawabnya mengabaikan tekstur kenyal yang sedang menempel di lengannya.
"Lebih baik aku segera pulang. Aku tidak tega meninggalkan ibu terlalu lama! Dan juga, kemana Om dan Tante? Aku belum melihat mereka sejak tadi." Tanya Robi kepada Raisya sambil menatap kesana-kemari.
Raisya bangkit mengikuti Robi, dia mengikuti segala arah pandangan Robi. Namun setelah itu dia berkata, "Mereka berdua telah tertidur di kamar atas." Ungkapnya dibalas anggukan oleh Robi.
"Begitu ya…? Baiklah, aku akan pulang ya? Jangan tidur terlalu larut dan sekali lagi maafkan aku yang telah menganggu waktu istirahat mu." Ucap Robi sambil mengelus pucuk kepala Raisya.
"Tidak… malahan aku sangat bahagia bisa membantumu, meskipun itu hanya bantuan kecil." Jawabnya sedikit malu-malu.
Robi tersenyum melihat sikapnya, dia kembali mengelus kepala Raisya dan berkata, "Baiklah Raisya cantik…" Ucapnya menambah rasa malu Raisya, dia semakin menunduk dan wajahnya menampilkan warna merah cerah.
__ADS_1
"Baiklah, dadah!" Ucap Robi setelah berada di depan gerbang sambil menaiki motor sportnya. Dia melambaikan tangan sedikit rendah dengan wajah menampilkan senyuman hangat.
"Dadah! Hati-hati dijalan Robi!" Ucap Raisya menampilkan senyuman yang tak kalah mempesona dari Robi.
Setelah itu Robi mengangguk kemudian melajukan motornya dengan cepat, dan lagi-lagi dia tidak menyadari keberadaan kelompok yang sedari awal telah membututi dirinya.
Mereka berdiam di dalam mobil hitamnya dengan salah satu pria memencet earphone nya dan berkata, "Tuan, semuanya hampir selesai." Ungkapnya ke pria lain yang berada di seberang earphone.
Pria yang dipanggil sebagai Tuan itu menyeringai kecil, kemudian memutar kursi kantornya dan menghadap jendela besar yang berada di belakangnya. Dengan wajah yang masih menyeringai pria tersebut berkata;
"Baiklah, jangan segan-segan untuk melakukan hal yang memungkinkannya untuk menderita." Titahnya kemudian diiyakan oleh anak buahnya yang kini sedang membututi Robi dengan berjarak sekitar ratusan meter.
Mereka semua tidak menyadari bahwasanya Robi telah mengetahui keberadaan mereka dari sebuah tugas yang kembali muncul secara tiba-tiba, padahal dia saja belum menerima hadiah dari tugas sebelumnya.
Dengan wajah yang sedikit memelas Robi bergumam di dalam hati, 'Kenapa semua masalah selalu datang disaat aku hendak untuk menikmati istirahat panjang ku…' Batinnya merasa kecewa, namun segera dirinya menggelengkan kepala berkali-kali.
[Tugas: Musnahkan organisasi ilegal bernama Gagak Emas]
[Durasi: Satu Minggu]
[Gagal: Penderitaan akan kehilangan seseorang yang berharga]
[Berhasil: Mendapatkan uang Rp 60.000.000.00 dan 100% saham perusahaan Romations]
[Saya berharap lebih akan hasil yang membahagiakan!]
Tugas tersebut membuat Robi sedikit kesal, namun bahagia juga karena dengan begitu dia bisa menghindari nasib naas yang akan menghampirinya.
__ADS_1
Di dalam hatinya dia merasa kesal dan hendak untuk berbalik, tapi semua itu berhasil ditahan sebelum Robi menentukan rencana matang yang pastinya akan membuahkan hasil yang diharapkan.
'Aku butuh kelompok yang bisa berada dibawah naunganku.' Batinnya dengan tatapan serius.