
Kedatangan Sarah membuat keluarga Robi menjadi lebih hidup, terutama sikap Sarah yang begitu lucu meskipun sudah menjadi tua. Karena Dina sedang memasak sarapan, mereka bertiga pun memutuskan untuk sarapan bersama, tentu saja dengan makanan seadanya. Namun, Sarah yang merupakan pengusaha sukses tersebut masih bisa menerimanya dan menikmati sarapan itu seolah sudah seperti biasa memakan makanan yang sejenisnya.
Sudah menghabiskan waktu cukup lama di kediaman Robi, Sarah memutuskan untuk pulang saja, dan tentu Robi mengantarkannya menggunakan motor yang kebetulan dia memilikinya.
Berjalan di jalan yang begitu ramai, mereka tidak bisa melakukan perbincangan saat itu, dan hanya berfokus kepada jalan sekitar sambil menikmati angin sejuk yang berhembus menerpa wajah mereka.
Sesampainya di rumah Sarah, nenek tua itu langsung berteriak ke satpam yang berjaga untuk mengangkat belanjaannya ke dalam rumahnya. Dengan sigap para satpam melakukan pekerjaannya dengan sangat baik, dan membuat Sarah mengangguk puas.
"Nak, nenek mau tanya sekali lagi… apa kamu sudah selesai dengan cucu nenek?" Tanya Sarah serius, membuat Robi menjadi mati alasan dan terpaksa mengatakan sesuatu sejujur yang ia bisa.
"Benar Nek, tapi tak apa. Saya rasa cucu nenek sudah bahagia bersama orang yang memiliki kesamaan dalam segala sesuatu. Apa Nenek merasa kecewa?" Ucap Robi menjelaskan dengan wajah tak menyimpan sedikitpun rasa sedih.
Mendengar penjelasan itu, Sarah hanya bisa menghela nafas panjang, lalu menepuk-nepuk bahu Robi sambil berkata, "Tidak apa, Nak. Kamu tahu sendiri bukan? Kalau nenek akan tetap mendukungmu layaknya seperti cucu Nenek sendiri!" Ucap Sarah sambil mengacungkan jempolnya.
Didukung oleh Nenek mantan kekasih, membuatnya sedikit canggung, tapi jika mengesampingkan masalah itu, sejujurnya Robi merasa senang bisa mengenal orang-orang baik seperti Nenek Sarah.
Di dalam lubuk hatinya dia terus berterimakasih atas jasa yang telah diberikan oleh Robi asli kepadanya, dia merasa jasa seorang Robi tidak bisa dibalas meskipun sudah memberikannya sebuah gunung.
"Iya Nek, saya juga sudah menganggap Nenek sebagai Nenek saya sendiri, hihihi!" Robi menjawabnya dengan senyuman menyombongkan diri.
Melihat keadaan Robi yang ternyata baik-baik saja, Sarah memutuskan untuk berpisah dengannya karena merasa pegal untuk terus tetap berdiri.
"Baiklah nak, Nenek akan masuk ke dalam, ya? Kamu pulangnya jangan terlalu ngebut, ingat! Bahaya akan ada dimana-mana!" Sarah mengingatkan Robi dengan tatapan tajam seolah benar-benar akan marah jika Robi mengingkari janjinya.
"Nenek ini… mana mungkin saya kebut-kebutan seperti itu! Lagipula saya masih menyayangi nyawa." Jawab Robi, lalu menyalami Sarah dengan sopan.
"Nenek istirahat yang cukup, jangan ke pasar sendirian lagi! Kalau ingin mampir ke rumahku, maka bisa lewat telfon saja, nanti saya akan langsung melesat kesini untuk menjemput Nenek." Ucap Robi menawarkan niatnya.
"Cucu yang baik! Tentu saja Nenek akan melakukan apa yang cucu Nenek katakan!!" Jawabnya dengan riang.
Robi tersenyum melihat kelakuan Sarah yang tidak menunjukkan martabat sebagai orang yang lumayan memiliki peran besar di negara ini.
Merasa tidak enak jika terus berlama-lama, Robi memutuskan untuk segera pergi dari rumah Nenek, dan tentu saja akan mampir ke tukang sate untuk membeli setidaknya dua porsi sate ayam, karena Dina sangat menyukai makanan sate. Namun, sebelum itu dia harus menarik uangnya terlebih dahulu, karena untuk saat ini dirinya tidak memiliki sepeserpun yang tersimpan di dalam dompetnya.
Di perjalanan, sesekali Robi memikirkan tentang tugas yang sebelumnya. Dia bisa menyelesaikan tugas itu dengan sangat mudah, tapi rasanya hati dia merasakan sesuatu yang janggal.
'Apa mungkin Nenek sedang dalam incaran seseorang? Tapi karena aku ada di dekatnya saat itu, jadi mereka memutuskan untuk mundur terlebih dahulu? Ah… sepertinya aku sudah masuk ke dalam situasi yang merepotkan.' Pikirnya sambil memandangi jalan raya yang kini sedang dipadati oleh kendaraan.
Setelah melewati jalan yang begitu ramai, akhirnya dia sudah berhasil menarik uangnya sebesar 1 juta terlebih dahulu, karena dirinya harus hemat untuk masa yang akan mendatang. Setelah itu dia membeli sate ayam sebanyak dua porsi, dan selesainya dia langsung melanjutkan perjalanan pulangnya.
__ADS_1
Namun, saat dirinya sedang berada di jalan yang begitu sepi, tiba-tiba motornya dihadang oleh dua mobil hitam yang sengaja menutup akses jalan baginya.
Dia merasa keheranan dengan situasi itu, karena merasa kesal, dia memutuskan untuk turun dari motornya dan meminta dua mobil tersebut untuk segera memberikan akses jalan untuknya.
Tapi, saat dirinya hendak turun dari motor, tiba-tiba muncul kembali notifikasi dari sistem yang memberikan sebuah tugas kepadanya.
[Tugas: Bunuh semua musuh yang ada!]
[Durasi: -]
[Gagal: Kematian]
[Berhasil: Satu hadiah acak dan Uang sebesar Rp 20.000.000.00]
[Saya berharap lebih kepada anda!]
Melihat notifikasi itu hanya membuat Robi merasa malas, dia tidak merasakan rasa takut sedikitpun, tapi dia terlalu malas jika harus melakukan hal yang merepotkan, apalagi ibunya sedang menunggu kepulangannya.
'Sepertinya mereka adalah orang yang sama dengan kelompok penjahat yang hendak menculik Nenek.' Pikir Robi berspekulasi.
'Aku harus menyelesaikan ini dengan cepat.' Pikir kembali Robi sambil meletakkan helmnya di atas spion motor.
Beberapa dari mereka juga memakai kacamata hitam layaknya para mafia, tapi semua itu tidak membuat nyali Robi menjadi ciut. Sebab untuk dia hal ini tidak seberapa jika dibandingkan dengannya yang selalu dihadapkan dengan situasi hidup atau mati.
"Apa yang ingin kalian lakukan? Memakai jas seperti itu, tapi kelakuan seperti begal jalanan." Ucap Robi membuat provokasi, dan itu berhasil untuk menaikkan darah semua orang berjas hitam tersebut.
Namun, karena mereka merupakan seorang yang profesional, tidak ada yang berani melakukan hal gegabah dan mencoba untuk bersabar.
"Kami tidak akan berbasa-basi lebih lama lagi. Langsung ke intinya saja, kami ingin kau bekerjasama dengan kami untuk membunuh Sar—"
"Untuk itu akan ku tolak. Lebih baik kalian langsung lakukan saja yang ingin kalian lakukan saat ini juga!" Sebelum salah satu pria berjas selesai mengakhiri kalimatnya, tiba-tiba Robi sudah memotongnya dan malah menantang mereka untuk segera melawannya.
Mendengar tantangan tersebut, mereka langsung terprovokasi dan tidak tahan untuk menahan amarah sehingga memunculkan urat tegang di rahang nya.
"Sepertinya negosiasi ini tidak akan berjalan dengan baik… kalian majulah! Bunuh anak itu!" Ucap pria sebelumnya memerintahkan para algojo untuk segera menghabisi Robi yang masih berdiri tenang sambil mengorek-ngorek lubang telinganya.
"Aduh besar sekali…" Mengabaikan para pria jas yang sedang berlari menujunya, dia malah meniup kotoran telinganya yang sebesar ratu semut.
"Mati kau!" Salah satu pria berjas berteriak sambil melayangkan tinjunya yang melesat begitu cepat dan bertenaga.
__ADS_1
Namun, serangan itu berhasil dihindari oleh Robi dengan mudahnya. Lalu setelah itu dia menghindari kembali pukulan demi pukulan yang terus datang secara bergiliran.
'Satu, dua, tiga, emmm… total mereka ada enam orang. Baiklah, ini saja cukup bagiku untuk menyelesaikannya dalam kurun waktu beberapa menit.' Pikir Robi sambil terus menghindari serangan para pria berjas.
Robi terus menghindari serangan mereka hingga membuat para pria jas menjadi kelelahan, dan bahkan ada dari mereka yang berhenti melayangkan pukulan sia-sia nya.
"Kau! Jangan… menghindar… terus. Bajigur!" Salah satu pria berjas melayangkan pukulan terakhirnya, namun berhasil dihindari kembali oleh Robi.
Merasa semuanya sudah mantap untuk diakhiri, setelah menghindar, Robi langsung melakukan gerakan baru.
Kaki kirinya ia tahan dan kaki kanan dibuat sampai menekuk hadap depan. Setelah itu Robi melayangkan pukulan dari tangan kirinya yang terarah tepat ke wajah pria berjas tersebut.
*Bugghh
Terdengar suara dentuman keras serta tulang retak yang dihasilkan oleh satu pukulan Robi. Pria yang sebelumnya dipukul olehnya itu terpental hingga beberapa meter ke belakang. Hal itu membuat tubuh pria tersebut menjadi berguling tidak karuan dan berakhir dengan menghantam mobil hitamnya.
Dampak dari pukulan Robi membuatnya langsung mati ditempat, bola matanya sudah tidak menunjukan warna lain selain putih. Tulang hidungnya teengelam masuk ke dalam tengkoraknya, dan pemandangan itu membuat orang-orang disekitar menjadi bergidik ngeri dengan kekuatan Robi yang berbanding jauh dengan penampilannya.
'Sial sekali nasibku…' Pikir semua pria berjas dan pada saat hendak untuk berlari memasuki mobilnya kembali. Tiba-tiba kedua mobil itu sudah melaju jauh meninggalkan para algojo yang sudah kehabisan stamina.
Menyadari mereka telah ditinggalkan, para algojo hanya bisa bertekuk lutut di hadapan Robi yang masih belum melakukan pergerakan dari tempatnya.
"M-maafkan kami, Tuan! Saya hanya dimintai oleh mereka untuk melakukan hal ini, k-kita tidak benar-benar ingin membunuh anda!" Ucap salah satu algojo dengan suara bergetar hebat.
"B-benar katanya, Tuan!" Timpal lainnya.
"Tolong maafkan kami!!" Semua algojo serempak bersujud di hadap Robi sambil meminta maaf dengan suara yang keras.
Namun, permintaan maaf mereka tidak dihiraukan oleh Robi, dan malah mendapatkan sebuah pukulan demi pukulan keras yang diberikan oleh Robi kepada mereka. Pukulan itu terus berlanjut meskipun para algojo sudah meminta maaf dengan sepenuh hati mereka, tapi Robi tak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti melakukan hal itu.
Dia memukuli wajah mereka bertubi-tubi hingga membuat mereka tewas dengan kondisi wajah yang sudah tak mudah untuk dikenali.
Setelah puas melakukan semua itu, Robi kembali berdiri sambil membersihkan tangannya yang penuh dengan darah.
[Selamat Tuan anda telah berhasil menuntaskan tugas kedua anda!]
[Hadiah: Dessert eagle unlimited ammo dan Uang sebesar Rp 20.000.000.00 sudah masuk ke dalam rekening Anda!]
Melihat notifikasi itu, Robi merasa puas. Namun kepuasannya langsung terhenti ketika menyadari tindakannya yang terlalu gegabah. Dia memandangi satu persatu mayat para algojo yang sudah terbujur kaku dihadapannya.
__ADS_1
"Apa yang harus kulakukan pada mereka?" Robi merasa bingung dengan para mayat di depannya.