
Indonesia,
Sumatera Utara, Pematang Siantar,
Apartemen xxx, Lantai 3,
Dalam suatu ruangan,
Terlihat ruangan yang cukup luas dan mewah, dengan berbagai mebel dalam ruangan yang mengsiasi di setiap sisi ruangan.
Ruangan tersebut dibagi atas, ruang tamu, ruang makan dan dapur, kamar tidur, kamar mandi serta ruang terbuka yang menyuguhkan pemandangan keluar dari lantai tiga di apartemen tersebut.
Terlihat seorang Mahasiswa yang keluar dari Kamar Mandi. Dengan tubuh yang atletis dan kekar, dimana handuk hitam melingkar dipinggangnya menutupi area pribadinya.
Pria tersebut terlihat berumur 20 tahun dimana dirinya bersekolah di tahun ke-2 dalam kuliahnya. Dengan rambut hitam sealis, iris mata yang berwarna hijau, wajah tampan dan bersih berkulit seputih salju, Pria tersebut bernama Rom Steven.
"Ah... Segarnya...."
Rom pun mengambil sebuah handuk kecil yang berbeda dengan handuk yang melingkar dipingganya. Dia pun mengelap wajah dan rambutnya lalu beralih kebadannya.
Rom pun pergi ke kaamr tidurnya dan berganti pakaian. Dirinya pun memakai kaus putih dan celana pendek berwarna hitam diatas lutut dengan corak garis-garis putih yang bersilangan.
Dirinya masih mengeringkan rambutnya dan pergi kesebuah cermin yang ada dipintu lemari pakaiannya.
Ia pun mengambil sisir rambut dan menyisir rambutnya kebawah dan kemudian mengacak rambutnya agar terlihat mengembang.
"Hem... Sempurna."
Dirinya pun keluar dari kamarnya dan pergi ketempat dimana terdapat gantungan handuk. Setelah itu, Rom pun melihat kearah atas bagian belakang dimana terdapat jam dinding yang tergantung. Jam tersebut menunjukkan pukul 09.02. Dirinya pun langsung pergi kedapur untuk memasak.
Karena ini hari minggu, dimana dirinya tidak kesekolah. Rom pun membuka lemari es dan melihat persediaan makanannya. Ia hanya melihat sayur sawi dan 2 butir telur yang tersedia. Dirinya yang belum cukup yakin dengan persediaan ini pun memikirkan sesuatu.
Rom pun menutup lemari es dan pergi menuju kamarnya dan mengambil dompetnya. Lalu dirinya pun keluar dengan memakai sandal jepit berwarna hitam dan berjalan kearah elevator.
Rom pun sampai didepan elevator dan menekan tombol yang mana pintu elevator tersebut terbuka dengan perlahan. Rom pun masuk dan menekan tombol 0 disebelah kanannya dimana elevator pun bergerak turun dengan perlahan.
Ting-
Bunyi notifikasi elevator pun terdengar menyatakan bahwa sudah sampai. Pintu elevator pun terbukan dan Rom pun berjalan keluar.
Tujuan Rom adalah supermarket yang mana jaraknya cukup dekat dengan apartemen tempat Ia tinggal. Cukup berjalan maka itu sudah sampai.
Rom pun keluar dan berbelok kekanan. Dia berjalan dan melalui berbagai tempat dan orang. Setelah itu, sampai di Zebracross dimana lampu lalu lintas sudah beralih warna menjadi merah dan simbol pejalan kaki pun menyala, Rom pun berjalan.
Akan tetepi terlihat mobil van yang melaju kencang dari sisi kanan Rom yang mana membuat Rom ketakutan dan panik serta kaget.
Lantas seorang Pria tua dengan rambut pendek berwarna putih tersisir kebelakan dan berewokan, berpakaian jas hitam dengan rapi menarik bahu kanan Rom kebelakang dan menyelamatkan Rom.
Deg-deg...
Jantung Rom berdetak kencang dan keringat bercucuran diwajahnya. Dirinya baru saja melewati kematiannya dan berakhir selamat.
"Nak, Kau gak kenapa-kenapa kan?" Tanya Pria tua berjas hitam tersebut yang mana menggoyangkan tubuh Rom.
"Y-ya, Aku baik-baik saja. Huft... Terima kasih, Pak Tua." Ucap Rom sambil tersenyum kecut dan menundukkan kepalanya menghormat kepada Pria tua berjas tersebut.
"Hahaha, baiklah. Yang penting selamat. Mobil tersebut ingin kuhancurkan. Masa gak lihat lampu lalu lintas. Lagian kencang pula dari sana." Ucap Pria tua berjas hitam tersebut dengan wajah serius.
Rom yang mendengar hal tersebut pun mengangguk setuju. Ini perkotaan, jelas masa tidak melihat rambu lalu lintas. Rom pun berusaha untuk berdiri tapi kakinya tak bisa karena perasaan takut masih hinggap dalam dirinya.
Pria tua berjas hitam tersebut memperhatikan Rom yang mana kakinya bergetar. Pria tersebut tersenyum dan membantuk Rom berdiri.
"Bisa berdiri?" Tanya Pira tua tersebut sambil menjulurkan tangan kanannya berniat membantu
"Ah... Ini sedikit susah." Ucap Rom yang menggapai tangan Pria tua tersebut dan berusaha dengan kuat untuk berdiri.
"Hop- Ah, akhirnya. Makasih Pak Tua." Ucap Rom yang sudah berdiri dan menundukkan kepalanya sebentar lalu mengibaskan celananya yang kotor.
"Hmm... Jangan panggil Aku Pak Tua, namaku Amos. Amos Steven." Ucap Pria Tua tersebut.
"Eh!?" Ucap Rom yang terkejut.
Rom mengenal nama yang disebutkan Pria Tua didepannya dan itu benar-benar membuatnya terkejut. Apa ini kebetulan atau tidak. Yah, walaupun dirinya sudah sangat jarang menemui orang yang bernama Amos Steven tersebut tapi kini orang tersebut ada didepannya.
"Hmmm... Kenapa Kamu terkejut? Ada apa dengan namaku?" Ucap Pria Tua yang mengaku bernama Amos Steven.
"Ehehe, maafkan Aku, Kakek." Ucap Rom.
"Eh, kenapa Kamu memanggilku Kakek? Emang Kita pernah bertemu atau Kenal?" Ucap Amos yang memperhatikan Rom dari atas sampai bawah mencoba untuk mengenalnya. Tapi dirinya tak bisa karena faktor usia yang gampang melupakan sesuatu yang penting.
"Ini Aku cucumu, Rom Steven. Ayahku adalah Omas Steven." Ucap Rom sambil menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal.
"Eh, Kau anak si Omas!? Ya ampun! Hahahaha, Aku bahkan sampai melupakan cucuku. Cucuku yang dulu waktu kecil sering bermain denganku!" Ucap Amos lalu memeluk Rom.
Rom pun membalas pelukan Kakek dari Ayahnya. Sungguh hal nostalgia saat dirinya kini memeluk Kakeknya yang sudah lama tidak pernah bertemu.
Rom pun merasakan perasaan yang nyaman dan hangat. Karena waktu kecil, dirinya sering bermain dengan Kakeknya tapi semenjak berumur 7 tahun dirinya pun harus bersekolah dan pindah bersama Orangtuanya yang mana Ayahnya pindah tugas dimana Ayahnya bekerja sebagai Tentara Angkatan Darat. Sedangkan Ibunya bekerja sebagai Dokter.
Saat Rom mulai memasuki jenjang pendidikan menengah atas, Rom pun memutuskan untuk mandiri dan tinggal sendiri yang mana kini Ia tingga di apartemen. Orangtuanya pun setuju dan sedikit sedih dengan keputusan Rom. Tapi mau bagaimana lagi, Ayahnya yang sering pindah tugas dan Ibunya yang sering kerja dan pulang malam bekerja di Rumah Sakit.
Rom tak mau lagi yang mana repot-repot pindah sekolah terus-menerus. Lagi pula dirinya sendirian dirumah. Jadi, lebih baik dirinya tinggal sendiri dan berpisah dari Orangtuanya. Ayah dan Ibunya pun mengirim setiap bulan uang sakunya dan uang pendidikan dan sewa apartemen. Kadang Orangtuanya langsung membayar kepada pemilik Apartemen dan hanya mengirim Rom uang saku dan uang sekolah serta lainnya.
Amos pun melepaskan pelukannya dan menyentuh wajah Rom dengan lembut walaupun kulit tangannya kasar.
"Ternyata Kamu sudah besar ya, Rom." Ucap Amos sambil tersenyum.
"Itu benar, sudah 13 tahun berlalu." Ucap Rom sambil menyentuh tangan Kakeknya.
"Jadi, apa Kamu tinggal disini?" Tanya Amos yang melepas tangannya dari wajah Rom.
"Ah, Aku tinggal di Apartemen xxx dijalan xxx." Ucap Rom.
Terlihat keduanya berdiri diantara pinggiran jalan yang menghambat orang-orang yang tadinya berhenti karena mobil van yang melaju kencang.
Amos yang melihat ini pun melihat sekitar dan terlihat ada sebuah tempat duduk yaitu kursi panjang dekat dengan sebuah tempat penjual makanan.
"Ah, sebaiknya Kita duduk disana." Ucap Amos yang menunjuk kursi panjang sebelah kanan belakangnya.
Rom pun mengangguk dan berjalan bersama Kakeknya menuju ke kursi panjang. Keduanya pun duduk bersampingan dan Amos meletakkan kopernya dipangkuannya dan memeluknya.
"Jadi, apa kalian tinggal disini?" Tanya Amos sambil menatap Rom dengan antusias.
"Tidak, hanya Aku yang tinggal sendirian. Ayah dan Ibu tinggal bersama." Ucap Rom menghadap kedepan tanpa menoleh Kakeknya sambil melipat tangannya.
"Kenapa? Kalo Kamu kesepian, Kamu bisa tinggal dirumah Kakek." Ucap Amos yang khawatir dengan cucunya.
"Ah... Tidak usah Kakek. Aku yang memutuskan untuk tinggal sendiri. Biar Aku mandiri. Lagipula, Ayah sering berpindah tugas membuatku selalu pindah sekolah yang mana membuatku sedikit susah dalam sekolah." Ucap Rom yang menatap Kakeknya dengan senyum hangat.
Amos yang mendengar hal tersebut dan melihat senyum hangat dari cucunya pun tersenyum. Ia memang menyadari, semenjak Anaknya masuk kemiliteran, sepertinya terlalu sibuk dan sering pindah, apalagi menantunya yang terus bekerja di Rumah Sakit. Amos hanya menghela nafas dan pasrah dengan keputusan Rom yang dianggapnya itu sudah keputusan yang bijak.
Amos pun mengangkat lengan kanannya dan melihat jam tangannya menunjukkan pukul 08.45, Amos pun berdiri dan menepuk kepala Rom.
__ADS_1
"Lain kali kita berbicara." Lalu Amos memasukkan tangannya kedalam jasnya dan mengeluarkan kartu nama.
"Kartu ini terdapat nomor telepon Kakek. Kamu bisa menghubungi Kakek jika ada perlu. Kakek pergi dulu ya. Nanti telat." Ucap Amos yang mengacak-acak rambut Rom lalu pergi menyebrang Zebracross sambil melambaikan tangan kanannya.
Rom hanya tersenyum sambil menatap kartu nama Kakeknya lalu menyimpannya disaku celananya sebelah kanan. Rom pun beranjak dan menyeberang Zebracross.
Telihat Kakeknya berjalan lurus kedepan, Rom pun berbelok kekanan dimana terlihat papan spanduk supermarket tersebut. Rom pun berjalan dan memasuki supermarket.
Rom pun mengambil keranjang belanja dan mengambil beberapa mie instan, daging ayam sebungkus dan susu kotak dan sepaket telur berisi 10 butir.
Rom pun berjalan ke Kasir dan meletakkan keranjangnya. Sang Kasir wanita pun menghitung jumlah harga barang dengan alat khusus yang tersedia.
Rom pun mengeluarkan dompetnya dan mengambil Kartu Bank-nya dan menyerahkannya kepada Kasir untuk melakukan pembayaran. Kasir tersebut menggesek Kartu Rom dan mengecek pembayarannya berhasil. Setelah mengembalikan Kartu Rom bersamaan dengan kantung plastik yang berisi belanjaannya berlogo merek supermarket tersebut.
Rom pun mengambil Kartu-nya serta belanjaannya lalu pergi keluar dan kembali ke Apartemen
Setelah Rom sampai dirumah, Rom pun merebus mie instan dan memotong beberapa bagian daging ayam dan sayur sawi serta rempah-rempah lainnya. Lalu mencampurnya dengan menuangkan sebutir telur.
Setelah mengaduknya dengan rata, Rom pun menuangkan bumbu mie instan lalu mengaduknya sekalian menyiapkan semangkuk kecil nasi.
Setelah mask, Rom pun menuangkan mie tersebut kedalam mangkuk yang cukup besar. Lalu dirinya menuangkan susu dan air minum mineral lalu duduk dimeja makan dan menghidupkan televisi.
Rom pun sarapan sambil menonton televisi yang berisi Animasi kartun lucu.
Slurp-
Tet... Tet... (Bunyi dering smartphone Rom)
Rom pun mengambil Smartphone-nya yang ada dimeja dan membukanya.
...----------------...
...[📲Panggilan Masuk...]...
...⧼Mama❤️⧽...
...[Jawab]...
...[Tolak]...
...----------------...
Rom pun menekan opsi 'Jawab'.
Rom :「Halo Mama」
Mama :「Halo Nak. Apa kabar? Baiknya Kau disana kan? Gak ada kendala kan?」
Rom :「Iya Ma. Aku baik-baik aja disini. Ada apa Ma?」
Mama :「Ah, syukurlah. Mama udah transfer Kamu uang di nomor Rekening Kamu. Jadi, pakai dengan baik. Mama udah transfer uang sekolahmu ke kesekolah, jadi tidak usah khawatir.」
Rom :「Oke Mama. Mama baik-baik saja disana kan? Bagaimana dengan kerjaan Mama?」
Mama :「Mama baik-baik saja kok. Kerjaan Mama lumayan sibuk.」
Rom :「Bagaimana dengan Bapak?」
Mama :「Ah, Bapak-mu kini ditugaskan ke Negara asing. Ibu kurang tau negara mana, tapi itu hanya latihan dan sekaligus liburan untuk divisi Bapak-mu.」
Rom :「Oh, begitu....」
Rom hanya menghela nafas sejenak dan melanjutkan sarapannya.
Rom :「Ah, hanya mie instan campur sama sayur , daging dan telur ayam. Mama udah makan?」
Mama :「Wah, enak ya. Mama udah makan. Pakai bubur.」
Rom :「Eh, kenapa cuma bubur Ma?」
Mama :「Hehe, coba tebak~」
Rom yang disuruh menebak pun memcoba berpikir sejenak. Dengan memikirkan hal yang paling berhubungan dengan bubur pun membuat Rom terkejut dan panik.
Rom :「Apa Mama sakit!? Kenapa Mama bohong awal tadi! Aku akan pulang segera.」
Rom secara panik beranjak dari meja dan menuju kekamar untuk berganti pakaian. Tapi tindakannya terhentikan oleh perkataan Ibu Rom.
Mama :「Siapa yang bilang Mama sakit!?」
Rom :「Eh? Jadi?」
Mama :「Masa Kamu gak ngerti? Mama sedang hamil. Kamu akan menjadi Kakak. Hihi~」
Rom tertegun dengan perkataan Ibunya. Dirinya tak menyangka bahwa jawaban Ibunya membuatnya menjadi Idiot dan berhenti mematung.
Sekejap, Ia menyadari bahwa dirinya adalah Anak satu-satunya dari Ayah dan Ibunya. Tentu ada kemungkinan bahwa Ibu hamil atau adanya anggota keluarga baru yang akan lahir. Rom tak menyangka bahwa dirinya tak memikirkan hal tersebut.
Rom :「Be-benarkah!? Wah, semoga Perempuan?」
Rom berharap mempunyai Adik Perempuan yang imut. Dirinya pasti akan menjadi Kakak yang baik dan selalu melindung dan menyayangi Adiknya. Dirinya juga tak masalah jika yang lahir Laki-laki.
Mama :「Entahlah. Ibu baru saja mengeceknya setelah Bapak-mu pergi bertugas. Tentu Kamu tahu apa yang terjadi sebelumnya. Hihi~」
Seketika wajah Rom pun memerah memikirkan hal tersebut. Rom pun tahu apa yang terjadi diantara Ibunya setelah Ibunya berkata seperti itu.
Rom :「Ma-mama, jangan menggodaku seperti itu!」
Mama :「Hahaha! Nak, sepertinya Kamu belum ada perkembangan juga.」
Rom :「Hmph, nanti Aku akan mendapatkannya dan akan mengenalkannya pada Ibu.」
Mama :「Sudah-sudah. Hihi~」
Rom pun tertawa sejenak dan seketika air matanya terjatuh. Ia sungguh senang dengan percakapan antara Ibunya. Walaupun hidup jauh tapi dirinya tetap menyayangi dan merindukan kedua Orangtuanya. Rom pun mengelap air matanya.
Tentang pembicaraan seperti ini, Rom sudah terbiasa karena Ibunya adalah seorang Dokter. Tentu hal tersebut biasa bagi Ibunya dan Rom pun membiasakan diri dan Ibunya sering memberitahunya tentang hal-hal yang begitu.
Rom :「Oh iya, apa perlu Aku pulang kerumah dan menemani Mama?」
Rom masih khawatir dengan Ibunya yang kini sedang hamil.
Mama :「Oh, tidak usah untuk kali ini. Ada pembantu dirumah yang menemani Mama.」
Rom :「Fiuh, baiklah Ma.」
Mama :「Oh iya... Nak, hati-hati saat keluar. Tadi diberita diberitahu kalau ada Penjahat yang keluar dan berkendara mobil van berwarna putih dan itu dekat dengan daerah mu. Hati-hati ya Nak!」
Rom yang mendengar hal ini pun terkejut. Ia melihat mobil van tersebut yang mengebut kencang yang hampir menabraknya dimana dirinya lolos dari malaikat pencabut nyawa.
Rok pun tak ingin memberitahu hal ini tapi Ia pun teringat bahwa dirinya bertemu Kakeknya yang menyelamatkannya.
__ADS_1
Rom :「Baik Ma. Oh iya, tadi saat dijalan ingin belanja, Aku bertemu dengan Kakek Amos.」
Mama :「Benarkah!? Itu bagus. Kau waktu kecil suka bermain dengan Kakekmu itu. Jadi, apa yang kalian lakukan selajutnya?」
Rom :「Kami hanya duduk sementara. Kakek Amos memberikanku Kartu Namanya dan langsung pergi. Mungkin Kakek sedang bekerja. Kulihat dirinya memakai jas dan membawa koper dan pergi saat melihat jam tangannya」
Mama :「Ah, Kakek mu itu Presiden Direktur di Perusahaan punya Kakek-mu. Pantes... Tapi, apakah Kakek-mu jalan sendirian?」
Rom :「Iya Ma.」
Mama :「Ha, tumben. Biasanya Kakek-mu itu selalu diantar pakai mobil pribadi. Kurasa Kakek-mu sedang jalan-jalan....」
Rom :「Mungkin....」
Mama :「Baiklah, Ibu sudah memberitahumu dan akan mengirim bukti transfer uang sekolah dan uang saku serta lainnya. Hati-hati ya Nak tentang Penjahat yang berkeliaran itu.」
Rom :「Oke Ma」
Mama :「Yaudah, Mama tutup. Dadah~」
Rom :「Dadah Ma~」
Tut... tut...
Rom pun meletakkan smartphone-nya dimeja dan kembali duduk ke meja makan dan melanjutkan sarapannya yang udah mulai dingin.
Slurp-
Rom pun mengambil Remote tv dan mengganti siaran kartun menjadi sebuah berita.
『Liputan Pagi』
...『Selamat pagi para pemirsa, kali ini Kami akan menyiarkan sebuah berita tentang para Pen-』...
Buar-
Krek-
Duar-
Sekerika ruangan yang ditinggali Rom pun meledak-ledak.
Boom-
Boom-
Diluar Apartemen,
"Kyaa-"
"Waaaa!! Lari, gedung itu akan roboh!!" Teriak seorang lelaki berjaket hitam.
Orang-orang sekitar pun berlari kencang dan berteriak kuat. Terlihat Apartemen bertingkat 10 tersebut meledak dibagian bawah hingga lantai 4 dan kini tumbang mengenai daerah sekitar.
Kring-
Kreak-
Boom-
Pecahan kaca dan beton dinding apartemen berserakan. Segala jenis mebel dan hiasan berserakan bersamaaan dengan kobaran api dan asap hitam yang berterbangan dimana-mana.
Beberapa orang ada yang terjatuh saat berlari dan ada yang tertimpah. Lalu saat beberapa waktu kemudian, Polisi dan pihak Rumah Sakit berdatangan.
......................
Disalah satu Mansion,
Disuatu tempat,
Diruangan tersebut, terlihat seorang wanita berpakaian gaun terusan berwarna cokelat. Wanita berambut hitam panjang sepinggang diarahkan kesamping kanan, wajah cantik seputih salju layaknya sebuah giok yang bercahaya. Badan ramping dengan perut yang sedikit membengkak menandakan bahwa wanita tersebut hamil.
Terlihat wanita bergaun cokelat tersebut ditemani oleh para pembantu yang menggunakan baju maid hitam putih yang menemani wanita hamil tersebut.
Wanita tersebut adalah Ibu Rom, Citra Laura. Yang kini menggemgam sebuah smartphone yang mana mendapat sebuah panggilan dari pihak Rumah Sakit.
Citra terkejut dengan informasi yang diberitahukan oleh pihak Rumah Sakit. Dirinya pun menyuruh pembantunya menyalakan televisi dan membuka saluran siaran yang menyiarkan tentang berita Liputan Pagi.
『Liputan Pagi』
『Pagi ini, jam 09.41 WIB, terjadi ledakan di jalan xxx dimana lokasi terjadinya ledakan adalah sebuah Apartemen xxx milik xxx』
『Diduga, ledakan tersebut disebabkan oleh bom yang terpasang di Apartemen tersebut. Korban yang mata berju-』
Citra yang melihat dan mendengar berita tersbeut pun terkejut dan sesak nafas. Air mata pun membanjiri pipinya dan dirinya menytup menutup mutupnya yang tak menyangka danvtak mau menerima apa yang didengarnya tadi.
Para pembantu disana pun ikut terkejut dan menangis lalu mengkhawatirkan keadaan Nyonya mereka.
"Ro-Rom...." Ucap Citra dengan tubuh bergetar.
Citra pun terjatuh pingsan yang man ditangkap oleh para pembantu. Lalu diantaranya pun ada yang menelepon pihak Rumah Sakit untuk merawat Nyonya mereka. Dan ada yang menelepon Tuan mereka yang kini bertugas di Negara Asing.
Berita tersebut pun berlanjut hingga memberitahukan beberapa identitas korban terutama, Rom Steven.
...🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳...
...🅑 🅔 🅡 🅢 🅐 🅜 🅑 🅤 🅝 🅖...
...🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳🔳...
Terima kasih sudah membaca :
...💠 Sistem Kostumisasi Iblis 💠...
Jika ada Kesalahan dalam Penulisan atau Typo, berikan Saran dan Kritikan Anda di kolom Komentar.
ℹ️ Dukung terus novel Sistem Kostumisasi Iblis dengan cara :
•Like 👍
...•Komen 💬...
^^^•Vote 🎫^^^
•Hadiah 🎁
...•Favorit ❤️...
^^^•Bagikan 👥^^^
...----------------...
__ADS_1
...🇮🇩 ⧼ R'56 ⧽ 🇮🇩...
...----------------...