
Pagi hari yang cerah. Siluet cahaya putih menembus cendela kamar tidur keduanya. *Kukuruyuk ...* Ayam berkokok mulai terdengar. Keduanya langsung tebangun dari tidurnya lalu, (Egh ...) Meregangkan badan. Kemudian keduanya saling menatap.
"Selamat pagi, suamiku."
"Selamat pagi juga, istriku."
"Aku mandi terlebih dahulu ya!" ucap Alice.
"Baiklah."
Kemudian Alice langsung beranjak dari ranjang lalu menuju kamar mandi dalam, *Click!* Saklar lampu kamar mandi dinyalakan lalu memasuki nya.
*Byur! Byur!* Percikan air terdengar dari kamar mandi tersebut.
Beberapa menit kemudian, *Klik!* Pintu kamar mandi dibuka. Kemudian Alice kembali menghampiri suaminya, "Sudah selesai nih. Sekarang giliran kamu!"
"Oke."
Kemudian Rendi langsung beranjak dari ranjang lalu menuju kamar mandi tersebut sementara Alice mengenakan seragam biasa kantor yang diambilnya dari lemari tersebut.
*Click!* Pintu kamar tersebut ditutup lalu mulai membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian, dia keluar dari kamar mandi lalu menutup kembali pintunya. Kemudian dia mengenakan kaos berkerah dan celana kain panjang yang diambilnya dari lemari tersebut lalu menghadap ke dia, "Sudah selesai nih!?"
"Kalau begitu, ayo kita langsung sarapan!"
"Baik."
Kemudian keduanya langsung menuju ke dapur. Di dapur, seperti biasa Alice langsung menyiapkan beberapa hidangan sarapan sementara Rendi menunggu nya di meja makan yang berada di ruang keluarga.
Beberapa menit kemudian, akhirnya hidangan sudah siap untuk disantap. Kemudian Rendi membantu dia untuk menata nya di meja makan. Setelah semuanya selesai, keduanya langsung duduk di meja tersebut.
(Selamat makan.) ucap keduanya.
Kemudian keduanya mulai menyantap sarapan pagi dengan lahap. Beberapa menit kemudian,
(Terima kasih atas makanannya.) ucap keduanya.
Tidak lama kemudian, *KRINGGG!!!* Sebuah notifikasi panggilan masuk dari aplikasi Aterus di ponsel Rendi berbunyi.
Kemudian dia membuka nya lalu mengangkat panggilan dengan menempelkan jempol tangan kanan di ikon sidik jari.
"Selamat pagi, Rendi." ucap Arga.
"Selamat pagi juga, Arga. Ada apa?"
"Saya punya tugas untuk kamu!"
"Apa itu?"
"Mengambil uang para koruptor di ATM bank!"
"Oke!"
"Dengan ini, apakah kamu bersedia menerima tugas ini?"
"Saya terima."
"Baiklah. Seperti biasa, kamu akan diantar lagi menggunakan van putih yang akan menunggu kamu di depan rumah!" ucap Arga.
"Oke."
*Click!* Panggilan diputus oleh Arga.
Kemudian Rendi memasukkan ponsel ke saku celana lalu Alice memberikan bekal makan siang ke dia.
"Terima kasih, istriku."
"Sama-sama."
Kemudian keduanya langsung membereskan piring sisa sarapan dari meja tersebut lalu Alice membersihkan nya di wastafel dapur sementara Rendi mengambil sebuah perekat gurita dan headshet bluetuth lalu menempelkan perekat tersebut di belakang ponsel.
Kemudian keduanya melihat jam dinding di ruang keluarga yang sudah menunjukkan pukul 07:00.
"Waktunya aku berangkat kerja nih!" ucap Alice.
"Kalau begitu, aku juga deh."
Kemudian keduanya langsung menuju ke garasi rumah. Di garasi, *Krik ...* Pintu tersebut dibuka oleh Rendi. Terlihat ruangan nya yang cukup luas dengan dua sepeda motor yang sudah lama terparkir.
Kemudian Alice menghampiri salah satu motor lalu menaikinya sementara Rendi mengambil topeng tadi di karung lalu membuka pintu luar garasi.
*Brem!* Mesin sepeda montor dinyalakan oleh Alice lalu menuju gerbang rumah sementara Rendi menutup kembali pintu nya.
Kemudian Rendi menuju ke gerbang rumah. Gembok gerbang dan gerbang tersebut dibuka oleh dia.
Kemudian keduanya saling menghadap, "Aku berangkat kerja terlebih dahulu ya!" ucap Alice.
"Ya sudah. Hati-Hati di jalan!"
"Oke."
Kemudian Alice langsung berangkat ke kantor yang kebetulan tidak jauh dari rumah. Kemudian dia mengunci pintu rumah lalu keluar halaman nya.
kemudian menutup gerbang nya lalu menggembok nya.
Kemudian Rendi melihat sebuah van putih yang sedang terparkir lalu menghampiri nya,
*Tok-Tok!* Kaca depan van dekat pengawas di ketuk. *Tuttt ...* Kaca tersebut diturunkan oleh dia. Terlihat terdapat pengawas dan sopir di dalam.
"Permisi ... Kata nya saya akan diantar!"
"Buka aplikasi nya lalu scan ini," ucap pengawas sembari menunjukkan sebuah barcode.
"Baik."
Kemudian Rendi membuka kembali aplikasi nya lalu menekan gambar kamera di pojok kanan atas.
Kemudian dia mendekatkan kamera ke barcode tersebut,
[Memulai memindai]
[0--100%]
[Penjemputan telah diverifikasi]
Kemudian layar ponsel kembali ke halaman peta digital. kemudian Rendi menuju pintu belakang Van.
*Click!* Pintu tersebut di buka oleh dia. Terlihat terdapat kursi kecil, seutas tali dan beberapa helai kain di pojok tengah beserta dua orang yang sedang duduk bersebelahan. Kemudian keduanya saling menghadap,
Kemudian Rendi menaiki nya lalu pintu tersebut di tutup kembali oleh dia.
(Hmm ... Sepertinya itu barang buat untuk seseorang. Apakah seseorang yang dimaksud adalah target saya? Untuk apa ada mereka jika saya cuma disuruh mengambil uang korupsi?) Terlintas dalam pikiran dia dengan raut wajah yang sedang serius sembari memegang dagu dengan tangan kanan.
Sementara salah satu orang yang berada di hadapannya yang kebetulan melihat nya, "Ada apa?"
"Ti-tidak papa." Sembari memegangi belakang kepala dengan tangan kanan.
Tiba-tiba, *KRING!* Sebuah notifikasi panggilan masuk dari aplikasi nya di ponsel pengawas. Kemudian dia mengambil nya dari saku baju balik jas lalu mengangkat nya dengan menyambungkan ke headsheat bluetuth.
"Saya beri lokasi target pertama!" ucap Arga
"Siap."
Kemudian muncul sebuah peta digital aplikasi nya di layar ponsel dia.
[Memulai pencarian target]
[0--100%]
[Target berhasil ditandai]
"Sekarang kalian pergi ke lokasi target tersebut!"
"Oke."
*Klik!* Panggilan ditutup oleh Arga.
"Mari kita langsung menuju ke target pertama!" ucap pengawas.
"Baiklah." ucap sopir.
Kemudian van tersebut berangkat ke lokasi target tersebut.
Satu jam kemudian, van tersebut berhenti di depan gerbang sebuah bangunan pemerintahan.
Lagi-lagi, *KRING!* Sebuah panggilan masuk dari aplikasi nya di ponsel pengawas. Kemudian dia mengangkat nya dengan menyambungkan ke headsheat bluetuth.
"Sebentar lagi, target akan keluar bangunan tersebut!" ucap Arga.
"Baik." ucap pengawas.
Tidak lama kemudian, keluarlah seorang dari gerbang bangunan tersebut yang hendak menuju ke suatu tempat.
"Kamu melihat seorang penjabat negara yang menggunakan tas slempang sedang menuju ke arah mu?"
"Iya."
"Sekarang lakukan pekerjaan kalian. Setelah itu, ambil uang nya di ATM terdekat!"
"Siap!"
*Clik!* Panggilan ditutup oleh Arga.
Kemudian dia memasukkan kembali ponsel di saku baju balik jas lalu melirik ke kaca dalam mobil, "Kalian yang di belakang!"
Kemudian mereka menoleh ke depan, "Ada apa?"
__ADS_1
"Orang itu adalah target kita hari ini. Segera laksanakan tugas kalian!" Sembari menunjuk ke orang tersebut.
"Siap!" Ucap mereka sembari menatap tajam orang tersebut.
*Krek ...* Pintu samping van dibuka oleh pengesekusi. Kemudian dia menunggu moment yang pas untuk menyergap nya sembari memegangi sebuah sapu tangan yang sudah dilumuri dengan obat tidur.
Di saat target melewati van tersebut, *Grap!* hindung disumbat dengan sapu tangan tersebut dan badan dia dirangkul dengan salah satu tangan oleh pengesekusi.
Seketika itu, target mencoba untuk memberontak namun tidak mampu dikarenakan efek obat yang terlalu kuat dan kedua tangan tertahan. Tidak lama kemudian, dia mulai tak sadarkan diri.
Kemudian pengesekusi membawa dia masuk ke van tersebut lalu meletakkan tas nya. *Krek ...* Pintu van ditutup kembali oleh pengintrogasi. Kemudian van tersebut berangkat ke bank target.
Selama perjalanan, target di dudukkan di kursi tadi lalu kedua kaki dan badan diikat ke kursi lalu mata nya ditutupi dengan sehelai kain oleh pengesekusi sementara Rendi yang dari tadi melihat nya.
(He! Kok jadi penculikan orang!) Terlintas dalam pikiran dia dengan raut wajah yang sedang bingung.
Selama perjalanan, target tersebut mulai sadarkan diri.
(Sepertinya saya sedang berada di mobil yang sedang melaju.) Terlintas dalam pikiran dia saat merasakan getaran mobil di kakinya.
(Saya tidak bisa melihat dan badan ku seperti terikat sesuatu.) Sembari mencoba mengerak-gerakkan badan namun tidak bisa.
"ADA APA INI! SAYA MAU DIBAWA KEMANA?!" teriak dia sembari mencoba untuk memberontak dengan menggerakan kursi.
Kemudian pengesekusi menahan kursi tersebut sementara *Dug!* Perut dia ditinju dengan keras oleh pengintrogasi.
*Guk!*
"DIAM KAMU!" ucap pengintrogasi.
Kemudian target tersebut kembali tenang sementara Rendi hanya bisa terdiam saja.
Satu jam kemudian. Akhirnya van tersebut berhenti di depan gerbang sebuah ATM. Kemudian pengawas menghadap ke belakang, "DIMANA KARTU ATM KAMU?!"
"TIDAK AKAN KUBERITAHU!" teriak target.
"KUTANYA SEKALI LAGI. DIMANA KARTU ATM KAMU?!" ucap pengintrogasi dengan tegas.
"PERCUMA SAJA!"
"BAIKLAH KALAU BEGITU!"
Kemudian dia mengeluarkan sebuah pisau lipat dari kantong celana. *Click!* Sebuah bilah pisau yang sangat tajam muncul.
*Dug!* Ditusukkan nya ke salah satu paha kaki target oleh dia.
"AARGHHHH!!!" Teriak target.
(Se-sekarang penyiksaan!) terlintas dalam pikiran Rendi.
"JAWAB SEKARANG!" ucap pengintograsi dengan tegas.
"TI-TIDAK AKAN!" Sembari menahan rasa sakit yang dialami nya.
Kemudian dia mulai mengoyak nya agar luka target semakin parah.
"AARGHHHH!!!" Terak target yang sedang merintih kesakitan.
"MASIH TIDAK INGIN MENJAWAB?!"
"I-IYAA ... AARGHHH!!!" Teriak target sembari menahan rasa sakit yang masih dialaminya karena luka nya terus dikoyak oleh dia yang tidak kunjung mendapatkan jawaban.
Beberapa menit kemudian, "BA-BAIKLAH SAYA BERITAHU!" teriak target sembari bibir bergetar dan keringat bercucuran.
Kemudian dia menghentikan nya dengan darah keluar dari paha target.
"ADA DIMANA?!"
"Di-di tas slempang saya."
Kemudian pengesekusi menoleh ke Rendi, "Kamu, coba periksa kartu ATM nya di tas itu!" Sembari menunjuk ke tas target yang tergeletak.
"Baiklah." ucap Rendi.
Kemudian dia menghampiri nya. *Krek!* Resleting tas tersebut dibuka lalu mulai mencari kartu nya.
Beberapa menit kemudian, "Saya dapat nih!" Sembari menunjukan sebuah kartu ATM mandiri ke mereka.
"Kerja bagus!" ucap dia.
"BERAPA PIN NYA?!" ucap pengintrograsi sembari melanjutkan mengoyak luka target.
"AARGHHHH!!! .... SA-SATU ... EM-EMPAT ... LI-LIMA ... TU-TUJUH ... EN-ENAM ... DU-DUA." teriak target dengan nafas tersenggah-senggah sembari menahan rasa sakit.
Kemudian dia mencabut pisau lipat dari paha kaki target lalu mengambil sebuah koper hitam kosong di samping.
Kemudian dia menoleh ke Rendi, "Masukkan ke sini uang nya," Sembari memberikan nya.
"Baik." ucap Rendi sembari mengambil nya.
"Sekarang giliran tugas kamu! Apakah kamu masih ingat PIN nya yang barusan disebutkan?"
"Oke. Lanjukan tugas kamu!"
"Baiklah."
*Click!* Salah satu pintu belakang van tersebut di buka oleh Rendi. Kemudian dia menuruni nya lalu menutup nya kembali.
Kemudian dia menuju ke mesin ATM tersebut yang kebetulan sepi akan pengunjung. *Click!* Pintu kaca nya dibuka lalu menghampiri salah satu mesin nya.
Kemudian dia memasukkan kartu nya ke tempat nya di sebelah kiri layar. *Click!* Kartu tersebut langsung ditelan oleh mesin nya. Kemudian muncul menu di layar tersebut.
[Silahkan masukkan bahasa!]
[Indonesia.]
[Inggris.]
*Tit!* [Bahasa indonesia.] ditekan.
[Silahkan masukkan PIN anda!]
[.........]
(Hmm ... Kalau tidak salah, satu-empat-lima-tujuh-enam-dua.) Terlintas dalam pikiran dia sembari menekan beberapa tombol angka di bawah layar dengan menutupi nya.
[Rp. 1.000.000]
[Rp. 1.500.000]
[Rp. 2.000.000]
[Rp. 2.500.000]
[Jumlah lainnya]
[Transaksi lainnya]
Tiba-tiba, *DING!* Sebuah notifikasi pesan muncul dari aplikasi nya di ponsel dia. Kemudian dia mengeluarkan ponsel dari kantong celana lalu mengecek nya.
[Sekarang ambil uang nya sebesar Rp. 50.000.000]
*Tit!* Menu [Jumlah Lainnya] ditekan.
[Masukkan nominal yang diinginkan]
[.....]
[Oke]
*Click! Clik!* Tombol angka ditekan sesuai jumlah yang disebutkan oleh nya.
[Rp. 50.000.000]
*Tit!* Menu [Oke] ditekan.
*Click!* Kartu nya kembali keluar. Kemudian dia mengambil nya sementara *Clinggg!!!* Mesin tersebut mulai memproses penarikan nya.
Beberapa menit kemudian, *Click!* sejumlah uang keluar dari tempat keluar uang di bawah nya dengan pecahan Rp. 100.000.
Kemudian dia memasukkan nya ke koper tersebut lalu kembali ke van tadi yang sedang menunggu nya.
*Click!* Salah satu pintu belakang van dibuka dari luar. Kemudian dia menaiki nya lalu menutup kembali pintu nya.
"Sudah dapat nih!" ucap Rendi sembari menunjukkan koper tersebut yang berisi uang target ke mereka.
Kemudian pengintrogasi menoleh ke Rendi, "Kerja bagus. Masukkan kembali ATM target ke tas nya!"
"Baiklah." ucap Rendi.
Kemudian dia memasukkan nya kembali ke tas tersebut lalu menutup nya sementara *KRING!* Sebuah panggilan masuk dari aplikasi nya di ponsel pengawas.
Kemudian dia mengangkat nya dengan menyambungkan ke headsheat bluetuth.
"Saya beri lokasi target kedua!" ucap Arga
"Siap."
[Memulai pencarian target]
[0--100%]
[Target berhasil ditandai]
"Lakukan pembersihan target terlebih dahulu sebelum sampai ke target kedua!"
"Oke."
__ADS_1
*Klik!* Panggilan ditutup oleh Arga.
"Mari kita langsung menuju ke target kedua!" ucap pengawas.
"Baiklah." ucap sopir.
Kemudian van tersebut berangkat ke lokasi target tersebut. Selama di jalan raya yang kebetulan ramai akan kendaraan, Pengawas melirik ke kaca dalam van.
"Lakukan pembersihan target sekarang!" ucap dia.
Kemudian pengesekusi menoleh ke depan, "Siap." lalu melepas ikatan tali target.
"Pegang ini!" Meletakkan tas nya ke tangan target. Kemudian membawa dia mendekat ke salah satu pintu belakang van dekat Rendi.
(Mau dibawa kemana dia? Padahal van sedang melaju.) Terlintas dalam pikiran Rendi dengan raut wajah yang sedang bingung.
Kemudian pengesekusi berada di samping nya sembari memegang ikatan kain penutup mata.
*Duk!* Punggung target didorong oleh dia. *Click!* Pintu tersebut terbuka tiba-tiba. *CRITTT!!!* Sebuah truk tidak bermuatan yang melaju di belakang nya mengerem mendadak karena kaget. Namun, sudah terlambat untuk itu. Akhirnya dia tewas terlindas sementara van tersebut tetap melaju.
Seketika itu, Rendi langsung merangkul erat badan Pengesekusi.
"KE-KENAPA KAMU MEMBUNUH DIA?!" ucap Rendi sembari meneteskan air mata.
"LEPASKAN BADAN SAYA!" Sembari mencoba melepaskan kedua tangan dia sekuat tenaga.
Namun, terlalu sulit bagi nya. Kemudian pengesekusi menoleh ke pengintrograsi, "BANTU SAYA!"
"BAIK."
Kemudian dia menarik badan Rendi. Beberapa menit kemudian, *Duk!* Kepala belakang Rendi membentur pembatas dengan keras setelah rangkulan dia berhasil dilepaskan. Seketika itu, dia terbaring tidak sadarkan diri. Kemudian eksekutor menutup nya kembali.
Satu jam kemudian, van tersebut berhenti tidak jauh dari target kedua. Kemudian Rendi mulai sadarkan diri.
(Aduhduhduh ...!) Guram dia sembari memegangi kepala belakang.
"Ada apa ini?" Seolah-olah lupa terhadap kejadian yang dia alami barusan.
"Tidak papa." ucap pengesekusi.
"Ho ..."
"Ya sudah minggir kamu dari sana!" ucap pengesekusi.
"Baiklah."
Kemudian Rendi kembali ke tempat nya. Lagi-lagi, *KRING!* Sebuah panggilan masuk dari aplikasi nya di ponsel pengawas. Kemudian dia mengangkat nya dengan menyambungkan ke headsheat bluetuth.
"Kamu melihat seorang pejabat negara yang sedang berdiri di trotoar dekat kafe itu?"
"Iya." sembari menatap target tersebut.
"Sekarang lakukan pekerjaan kalian. Setelah itu, ambil uang nya di ATM terdekat!"
"Siap!"
*Clik!* Panggilan ditutup oleh Arga.
kemudian pengawas melirik ke kaca dalam mobil, "Saatnya lakukan pekerjaan kalian!"
"Siap." ucap mereka.
Kemudian Van tersebut menghampiri target tersebut. *Krek ...* Pintu samping van dibuka oleh pengesekusi.
Seketika itu, target mencoba untuk melarikan diri. Namun tidak sempat sehingga dia berhasil disergap oleh pengesekusi.
Kemudian target mencoba untuk memberontak. Namun, tidak mampu. Tidak lama kemudian, dia mulai tidak sadarkan diri.
Kemudian dia membawa target masuk ke van tersebut lalu meletakkan tas nya. *Krek ...* Pintu van ditutup kembali oleh pengintrograsi. Kemudian van tersebut berangkat ke bank target.
Seperti biasa, target langsung memberontak setelah mulai sadarkan diri dengan badan terikat di kursi tersebut dan mata tertutup. Namun, dia kembali tenang setelah mendapat pukulan keras di perut oleh pengintrogasi.
Satu jam kemudian, van tersebut berhenti di depan gerbang sebuah ATM. Kemudian pengintrogasi mulai menancapkan bilah pisau lipat ke paha kaki kanan target demi mendapatkan jawaban yang diinginkan.
"AAARGGHHHHH!!!" Teriak dia yang sedang merintih kesakitan dengan keringat bercucuran.
Namun, dia tetap berusaha untuk tidak memberitahu nya. Justru dia mendapat penyiksaan yang lebih parah dengan darah mulai keluar dari paha kaki.
Berberapa menit kemudian, akhirnya dia mau memberitahu nya. *Click!* Salah satu pintu belakang Van dibuka oleh Rendi. Kemudian dia menuju ke ATM tersebut yang kebetulan terdapat beberapa pengunjung sembari membawa kartu ATM BCA dan koper hitam.
*Click!* Pintu nya dibuka. Kemudian dia langsung mengambil uang target di salah satu mesin tersebut sesuai dengan jumlah yang disebutkan dari aplikasi nya sebesar Rp. 80.000.000.
Beberapa menit kemudian, *Click!* sejumlah uang keluar dari tempat keluar uang di bawah nya dengan pecahan Rp. 100.000.
Kemudian dia memasukkan nya ke koper tersebut lalu kembali ke van tadi yang sedang menunggu nya.
*Click!* Salah satu pintu belakang van dibuka dari luar. Kemudian dia menaiki nya lalu menutup kembali pintu nya.
"Sudah dapat nih!" ucap Rendi sembari menunjukkan koper tersebut yang berisi uang target ke mereka.
Kemudian pengintrogasi menoleh ke Rendi, "Kerja bagus. Masukkan kembali ATM target ke tas nya!"
"Baiklah." ucap Rendi.
Kemudian dia memasukkan nya kembali ke tas tersebut lalu menutup nya. Kemudian van tersebut menuju ke target berikutnya sesuai arahan dari aplikasi nya.
Sebelum melewati rel tanpa palang pembatas, terlihat sebuah kereta yang sedang melaju dari kejauhan. Seketika itu, pengesekusi langsung melepaskan ikatan tali lalu membawa target ke dekat pintu belakang van sementara pengintrograsi duduk di sebelah Rendi.
Di saat Van melewati rel tersebut, *Duk!* Punggung target didorong oleh dia. *Click!* Pintu tersebut terbuka tiba-tiba. *CRITTT!!!* Kereta mengerem mendadak karena kaget. Namun, sudah terlambat untuk itu. Akhirnya dia tewas terlindas sementara van tersebut tetap melaju.
Di saat Rendi ingin merangkul dia untuk yang kedua kalinya, *Dug!* Kedua tangan dia ditahan dengan erat oleh pengintrogasi sementara pengesekusi menutup nya kembali.
"LEPASKAN TANGAN SAYA!" Teriak dia sembari mencoba melepaskan kedua tangan dengan sekuat tenaga. Namun, tidak mampu.
"TIDAK AKAN!"
"KE-KENAPA KALIAN TEGA MELAKUKAN HAL INI?!" Teriak Rendi sembari meneteskan air mata.
"SUATU SAAT KAMU PASTI AKAN MELAKUKAN NYA JUGA!"
"HE! Ya-yang benar saja!" Sembari menunjukkan raut wajah yang sedang tertegun dengan badan dia yang mulai melemas.
Kemudian Pengintrogasi melepaskan dia. seketika itu, dia kembali tenang.
(Si-siapa mereka sebenarnya? Menculik-menyiksa-membunuh dengan mudah nya!) Terlintas dalam pikiran Rendi.
Satu jam kemudian, lagi-lagi Van tersebut berhenti tidak jauh dari lokasi target berada. Kemudian Rendi tetap melanjutkan pekerjaan seolah-olah tidak terjadi apa-apa meskipun melihat kejadian yang sama bersama mereka sampai target ke lima.
Waktu terus berlalu, Rendi dengan sengaja melewatkan makan siang hingga tidak terasa siluet cahaya orange menyinari langit yang cerah. Akhirnya pekerjaan mereka beres dengan uang yang terkumpul sebesar 250.000.000. Kemudian mereka mengantar pulang Rendi ke rumah.
Satu jam kemudian, Van berhenti didepan gerbang rumah Rendi. *Ding!* Sebuah notifikasi pesan aplikasi nya muncul di ponsel Rendi.
Kemudian dia membuka ponsel lalu mengecek nya.
[Pekerjaan kamu selesai. Silahkan ambil gaji kamu sebesar Rp. 2.500.000]
kemudian dia menoleh ke mereka, "Saya ingin mengambil gaji saya!" sembari menunjukkan nya.
"Baiklah." ucap Pengesekusi.
Kemudian dia membuka koper tersebut lalu mengambil sejumlah uang sembari menghitung nya. "Ini," Memberikan uang ke Rendi.
"Terima kasih."
Kemudian Rendi membuka pintu belakang Van lalu menuju ke gerbang rumah sementara Van tersebut langsung pergi. Tidak lama kemudian, datanglah Alice yang baru pulang dari kantor.
Kemudian dia membuka gembok nya dan gerbang rumah.
Kemudian Alice langsung menuju ke garasi rumah sementara Rendi memasuki nya lalu menutup kembali gerbang tersebut kemudian mengunci nya.
"Kling!" Jaglang sepeda montor diturunkan oleh Alice Kemudian turun dari sepeda tersebut, *Krek ...* Pintu luar tersebut dibuka.
Kemudian Alice memasukkan sepeda montor ke garasi rumah diikuti dengan Rendi setelahnya. Kemudian Alice mematikan sepeda tersebut. *Kling!* Jaglang sepeda motor diturunkan oleh dia. *Krek ...* Pintu luar garasi tersebut ditutup kembali oleh Rendi. Kemudian keduanya menuju kamar tidur.
Di kamar tidur,
"Makan malam nanti, aku makan bekal tadi siang aja ya!" ucap Rendi.
"LOH! Tumben kok tidak di makan di jalan?"
"Y-Yaaa ... Ada hal yang membuat aku tidak ingin makan siang." Sembari memegang kepala belakang dengan tangan kanan.
"Apa itu?"
"Po-pokoknya ada deh hehehe ..." Lagi-lagi berusaha untuk menyembunyikan kenyataan agar dia tidak khawatir.
"Terserah kamu deh." Mengurungkan rasa penasaran.
Kemudian Alice langsung mengambil piyama di lemari sementara Rendi meletakkan gaji ke dompet tersebut. Kemudian Alice menuju ke kamar mandi sembari membawa nya untuk membersihkan diri sementara Rendi menyiapkan piyama.
Beberapa menit kemudian, Alice selesai membersihkan diri dengan piyama yang dikenakan lalu menghampiri Rendi.
Kemudian Rendi menaruh bekal nya di meja makan di ruang keluarga lalu menuju ke kamar mandi sembari membawa nya untuk membersihkan diri sementara Alice menyiapkan hidangan makan malam di dapur.
Setelah hidangan nya selesai, keduanya langsung menata nya di meja makan ruang keluarga. *Krek ...* Kursi ditarik lalu keduanya duduk bersebelahan.
(Selamat makan.)
Kemudian keduanya mulai menyantap nya dengan lahap. Beberapa menit kemudian,
(Terima kasih atas makanannya.)
Kemudian keduanya membereskan lalu mencuci nya di wastafel dapur. *Cling!* Beberapa piring bersih dan kotak makan ditaruh di rak.
Kemudian keduanya menuju ke kamar tidur. Hari semakin malam. Di kamar tidur, keduanya langsung membaringkan badan ke ranjang lalu saling menatap.
"Selamat tidur, suamiku."
__ADS_1
"Selamat tidur juga, istriku."
Kemudian keduanya tertidur dengan pulas.