
Hari ini adalah hari minggu yang dimana terdapat Car Free Day -Sebuah kegiatan penutupan jalan raya yang rutin dilaksanakan setiap akhir pekan mulai dari pukul 06:00-10:00- yang berlokasi di depan gang kampung nya.
Pagi hari yang cerah. Siluet cahaya putih menembus cendela kamar tidurnya. *Ku-kuruyukkk!* Ayam berkokok mulai terdengar sampai ke kamar tersebut. Seketika itu, keduanya terbangun dari tidur lalu (Eghh ...) Meregangkan badan. Kemudian keduanya saling menatap.
"Selamat pagi, suamiku."
"Selamat pagi juga, istriku."
Kemudian seperti biasa keduanya langsung membersihkan diri secara bergantian lalu mengenakan pakaian biasa.
Kemudian keduanya langsung menuju ke dapur. Di dapur, seperti biasa Alice menyiapkan sarapan sementara Rendi menunggu nya di meja makan ruang keluarga.
Setelah hidangan siap, kemudian keduanya langsung menata nya di meja tersebut. *Krikk ...* Kursi tersebut ditarik lalu keduanya duduk bersebelahan.
(Selamat makan.)
Kemudian keduanya mulai menyantap nya dengan lahap. Beberapa menit kemudian,
(Terima kasih atas makanannya.)
Kemudian Rendi menoleh ke dia, "Oh ya. Hari ini kebetulan ada kegiatan Car Free Day. Maka dari itu, saya ingin ngamen disana."
Kemudian Alice menoleh ke dia, "Kalau begitu, saya akan menemani kamu."
"Oke."
Kemudian keduanya langsung membereskan piring sisa hidangan lalu mencuci nya di wastafel dapur. *Cling!* Piring bersih ditaruh di rak. Kemudian keduanya keluar dari dapur lalu Rendi menghadap dia, "Tolong, dua kursi itu kamu tumpuk lalu bawakan!" Sembari menunjuk dua buah kursi plastik di dekat meja makan.
Kemudia Alice menoleh ke arah yang dimaksudnya, "Oke."
Kemudian Alice menumpuk kursi tersebut lalu membawa nya sementara Rendi kembali ke kamar tidur. Di kamar tidur, dia memakai sebuah tas gitar yang di dalamnya sudah terdapat gitar akustik beserta perlengkapan nya. Kemudian membawa kotak uang lalu menghampiri kembali Alice.
"Saya kembali!" ucap Rendi.
"Kalau begitu, ayo kita langsung kesana saja!"
"Baiklah."
Kemudian keduanya menuju ke halaman rumah. Di halaman rumah, *Klik!* pintu tersebut dibuka oleh Alice lalu keduanya keluar. Kemudian pintu tersebut ditutup kembali lalu *Klik!* Dikunci oleh Alice.
Kemudian kedunya menghampiri pagar rumah, *Krekk ...* Pagar tersebut dibuka oleh Alice lalu kedunya keluar. Kemudian Alice menutup kembali lalu *Klik!* Pagar besi rumah di gembok.
Kemudian keduanya langsung berangkat ke lokasi Car Free Day.
......................
Beberapa menit kemudian, akhirnya keduanya tiba di lokasi tersebut.
Terlihat terdapat lalu-lalang orang kesana-kemari dan barisan stand pedagang berjejer dengan rapi.
(Yosh! Sepertinya disini cocok.) ucap Rendi dengan semangat.
Kemudian Alice menoleh ke dia, "Kalau begitu, ayo kita mencari tempat kosong!"
Kemudian Rendi menoleh ke dia, "Oke."
Kemudian keduanya mulai berkeliling untuk mencari tempat kosong. Beberapa menit kemudian, langkah keduanya terhenti di sepetak lahan kosong yang diapit oleh dua stand pedagang.
"Sepertinya tempat ini masih kosong!"
"Hmm ... Coba saya tanyakan terlebih dahulu."
"Baik."
Kemudian Rendi menghampiri salah satu stand tersebut di sampingnya, "Permisi ..."
Kemudian pedagang tersebut menghadap ke dia, "Iya bapak, ada yang bisa saya bantu?"
"Apakah tempat ini beneran masih kosong?" Sembari menunjuk ke tempat tersebut.
"Benar bapak."
"Oh ... Jadi begitu. Terima kasih."
"Sama-sama."
Kemudian Rendi menghampiri kembali Alice, "Ternyata beneran kosong!"
Kemudian Alice menghadap dia, "Ya sudah. Kamu bisa langsung mulai saja!"
"Baik. Tolong tata kursi itu disana ya!" Menunjuk tempat depan trotoar.
"Oke."
Kemudian Alice menata kursi yang dibawa sementara Rendi meletakkan kotak uang di depan lalu manaruh tas gitar di samping salah satu kursi. *Krekkk ...* Tas tersebut di buka. Kemudian Rendi mengeluarkan gitar akustik lalu duduk di salah satu kursi sembari memangku gitar tersebut sementara Alice duduk di samping dia.
*Jrenggg ...* Senar gitar di petik bersamaan.
(Yosh! Sepertinya ini sudah siap.) Terlintas dalam pikiran Rendi.
Kemudian dia mulai menyanyikan sebuah lagu sembari diiringi dengan irama gitar di depan lalu-lalang pengunjung Car Free Day.
"Futari no aida toorisugita kaze wa"🎶
"Doko kara sabishisa wo hakondekita no"🎶
"Naitari shita sono ato no sora wa"🎶
"Yake ni sukitootteitari shitanda"🎶
"Itsumo wa togatte tachichi no kotoba ga"🎶
"Kyou wa atatakaku kanjimashita"🎶
"Yasashisa mo egao mo yume no katarikata mo"🎶
"Shiranakute zenbu kimi wo maneta yo"🎶
"Mou sukoshi dake de ii ato sukoshi dake de ii"🎶
"Mou sukoshi dake de ii kara"🎶
"Mou sukoshi dake de ii ato sukoshi dake de ii"🎶
"Mou sukoshi dake kuttsuiteiyou ka"🎶
"Bokura taimufuraiyaa toki wo kakeagaru kuraima"🎶
"Toki no kakurenbo hagurekko wa mou iya nanda"🎶
"Ureshikute naku nowa kanashikute warau nowa"🎶
"Kimi no kokoro ga kimi wo oikoshitanda yo"🎶
Dan seterusnya.
__ADS_1
Lagu dari Nademonaiya - Radwimps
Beberapa menit kemudian, para pelanggan Car Free Day yang sedang lewat di depan dia mulai terpikat akan suara merdu dan irama gitar lalu menghampiri dia.
"Wah ... Enak sekali penampilan dia." ucap penonton satu.
"Betul sekali apa kata kamu." ucap penonton dua yang berada disamping penonton satu.
"Semangat!" ucap penonton tiga.
Seketika itu, dia menjadi lebih bersemangat dalam menghibur para pelanggan tersebut dan lama-kelamaan mulai menikmati nya. Sebuah kebahagian tepancar dari raut wajah dia.
Tidak lama kemudian, dua orang rekan kerja Alice yang mengunjungi Car Free Day kebetulan lewat di depan keduanya. Sontak, keduanya langsung menghadap mereka.
Kemudian keduanya mulai berbisik, "Eh! Bukannya itu Alice ya?" ucap Yuli.
"Sepertinya iya tuh." ucap Aliya sembari menatap tajam Alice.
"Terus siapa yang disamping dia?"
"Hmm ... Bisa jadi dia adalah suaminya."
"Ah! Yang benar kamu."
"Coba saja tanya dia."
"Baiklah."
Akhirnya penampilan pertama selesai.
*Plok! Plok!* Suara tepuk tangan dari para penonton. *Kling!* Sebuah uang koin dimasukkan ke kotak tersebut oleh beberapa penonton. Meskipun ada yang memberikan dia sebuah uang kertas.
"Terima kasih." ucap Rendi.
Kemudian para penonton tadi mulai meninggalkan keduanya sementara dia menoleh ke Alice, "Istriku, tolong belikan camilan ya!"
Kemudian Alice menoleh ke dia, "Baik."
Kemudian Alice beranjak dari kursi lalu mencari nya. Pada saat dia mulai mencari nya, tiba-tiba
"Alice sini!" Sebuah suara terdengar memanggil nama nya.
Seketika itu, dia menoleh ke sumber suara.
"Loh! Ternyata Yuli dan Aliya."
Kemudian dia menghampiri keduanya, "Ada apa memanggil saya?"
"ITU SUAMI KAMU!?" ucap Yuli sembari menunjuk Rendi.
"I-Iya ... Memangnya kenapa?" ucap Alice yang tidak bisa berkata apa-apa dikarenakan rahasia sang suami akhirnya diketahui oleh keduanya.
"Kok kamu mau menikah dengan pengamen itu?"
"Iya tuh Alice. Kan kamu bisa cari selain dia!" ucap Aliya.
Seketika itu, hati Alice seperti dihancurkan berkeping-keping oleh ucapan keduanya.
"TERSERAH SAYA!" ucap Alice sembari meneteskan air mata.
"Lah! Kok kamu marah ke kita?" ucap Aliya.
Kemudian Alice meninggalkan keduanya begitu saja tanpa berkata apapun sembari mengusap air mata yang menetes lalu melanjutkan nya.
Beberapa menit kemudian, langkah dia terhenti di sebuah stand pedagang yang menjual beragam aneka kue. Kemudian dia menghapiri nya.
"Ini harganya berapaan bu?" ucap Alice.
"Mulai dari 1.000 - 3.000 saja."
"Oke."
Kemudian Alice mulai memilih beberapa kue, (Hmm ... Enaknya pilih yang mana ya.) Terlintas dalam pikiran dia sembari melihat nya satu per satu.
Beberapa menit kemudian, "Saya ambil ini bu," ucap dia sembari memberikan kue pertama yang dibelinya.
"Baiklah." ucap pedagang sembari menerima kue tersebut lalu memasukkan nya ke kantong plastik.
"Ini juga bu,"
"Oke."
Dan begitu seterusnya sampai, "Itu sudah cukup bu!" ucap Alice yang sudah membeli tujuh aneka kue.
"Baik. Jadi total semuanya adalah 15.000!"
"Oke."
*Krekkk ...* Resleting tas kecil dibuka oleh dia. Kemudian dia mengambil sebuah dompet lalu mengeluarkan uang pembayaran.
"Ini," ucap Alice sembari memberikan uang tersebut ke dia.
"Oke. Sudah pas ya!" ucap pedagang yang selesai menghitung uang yang telah diterima.
"Ini," Sembari memberikan barang belanjaan ke Alice.
"Terima kasih." Sembari menerima barang belanjaan.
"Sama-sama."
(Oh ya! Sekalian aku belikan makan siang deh.) Terlintas dalam pikiran. Kemudian dia mencari pedagang makanan.
Tidak lama kemudian, akhirnya dia menghampiri sebuah stand pedagang yang menjual beraneka ragam lauk dan nasi. Kemudian dia membeli sebungkus makan siang untuk suami lalu kembali menghampiri Rendi.
......................
Beberapa menit kemudian, "Saya kembali!" ucap dia.
Namun, Rendi sedang dalam penampilan dengan beberapa penonton. Tidak ingin mengganggu nya, Alice langsung duduk di sebelah dia dengan raut wajah yang murung karena teringat akan ucapan teman nya tadi.
Tidak lama kemudian, Rendi menghentikan penampilan lalu menoleh ke dia.
"Lohhh ... Kenapa wajah kamu murung begitu?"
"Tadi saya bertemu dengan teman kantor. Terus dia menghina kamu." Dengan kepala sedikit tertunduk.
"Menghina yang seperti apa?"
"Kata mereka kamu pengamen dan disuruh cari pengganti kamu."
Kemudian Rendi menaruh gitar tersebut di samping lalu memeluk sang istri.
"Sudah! Tidak perlu kamu pikirkan lagi perkataan mereka."
"Baiklah."
__ADS_1
Kemudian Rendi melepas pelukan. Seketika itu, raut wajah dia kembali ceria.
"Lahhh ... Begitu dong."
Kemudian Alice hanya menganggukan kepala.
"Oh iya, sudah dapat cemilan, istriku?"
"Sudah nih!" Sembari menunjukkan sekantong plastik yang berisi aneka kue.
Kemudian Rendi melihat nya, "Emm ... Kelihatannya ini enak." lalu mengambil salah satu kue tersebut.
*Nyam! Nyam!* Dia langsung memakan nya.
"Bagaimana rasanya?"
"Enak sekali."
"Saya senang jika kamu menyukainya."
Kemudian Rendi menganggukan kepala lalu memangku kembali gitar tersebut. Kemudian dia kembali menampilkan lagu berikutnya.
Waktu terus berlalu. Rendi dengan semangat menampilkan beberapa lagu hingga, *....* Beberapa stand pedagang mulai dibongkar.
Kemudian keduanya melihat sekeliling, "Sepertinya mereka sudah mau selesai nih!" ucap Alice.
"Iya juga yah."
Kemudian Rendi menoleh ke dia, "Ya sudah, kamu bisa pulang ke rumah terlebih dahulu. Saya ingin lanjut!"
"Oke. Ini untuk makan siang kamu," Sembari memberikan sebungkus makanan ke dia.
"Terima kasih, istriku."
"Sama-sama."
"Kalau begitu, kursi nya saya bawa pulang satu ya!" ucap Alice.
"Baik. Ini," Sembari memberikan gantungan kunci ke dia.
Kemudian Alice menerima kunci tersebut lalu pulang ke rumah sembari membawa kursi plastik sementara Rendi tetap melanjutkan nya.
......................
Beberapa menit kemudian, akhirnya Alice tiba di depan rumah. *Klik!* Gembok pagar rumah dan *Krekkk ...* pagar tersebut dibuka oleh dia lalu memasukinya. Kemudian dia menutup nya kembali.
Kemudian dia langsung menuju pintu rumah. *Klik!* Kunci pintu dan pintu tersebut dibuka oleh Alice lalu keduanya memasukinya. Kemudian dia menutup nya kembali.
Kemudian dia menuju ke ruang tamu. Di ruang tamu, Alice meletakkan kursi plastik di samping meja makan.
Kemudian dia menuju ke kamar mandi. Di kamar mandi, *krek ...* Pintu luar tersebut di buka. Kemudian dia menghampiri sebuah mesin cuci.
*Tut!* Mesin cuci dinyalakan. Kemudian membuka penutup nya lalu mulai memasukkan beberapa pakaian kotor dari keranjang di samping nya.
Kemudian menuangkan deterjen lalu menutup kembali.
*Ngunggg ...* Mesin tersebut mulai mencuci pakaian kotor.
Kemudian dia duduk di sebuah kursi plastik. Beberapa menit kemudian, *Tit! Tit* Alarm mesin tersebut berbunyi dengan mengeluarkan air cucian melalui selang.
Kemudian mesin tersebut kembali membasuhnya dengan air biasa. Tidak lama kemudian, lagi-lagi alarm nya berbunyi dengan mengeluarkan air dari selang.
Kemudian dia menghampiri nya. *Click!* Penutup mesin cuci di buka lalu kembali menaruh nya ke keranjang tersebut.
Kemudian dia menutup penutupnya lalu mematikan mesin mencuci. Kemudian dia menuju ke halaman rumah sembari membawa cuciannya.
......................
Di halaman rumah, *Clik!* Pintu tersebut di buka di dalam. Kemudian dia menghampiri sebuah ... kemudian mulai mengkastok cucian lalu mencantolkan nya ke ....... tersebut.
Setelah semuanya selesai, dia langsung duduk di sebuah kursi kayu yang berada di teras rumah.
Sembari menunggu jemuran kering, dia memainkan handphone sembari mendengarkan beberapa lagu melalui headsheat. Hingga tidak terasa, siluet cahaya kuning keemasan menembus langit yang cerah. Kemudian dia menghampiri kembali jemuran tersebut.
(Seperti nya ini sudah kering nih!) ucap dia sembari memegang nya. Kemudian menaruh nya kembali ke keranjang tersebut.
Tidak lama kemudian, *Krekkk ...* Pintu pagar rumah di buka dari luar oleh Rendi. Kemudian dia memasukinya lalu menutup kembali pagar tersebut.
Kemudian dia menghampiri Alice, "Aku pulang, istriku!". Seketika itu, Alice menghadap ke dia, "Selamat datang, suamiku!". Kemudian Rendi hanya menganggukkan kepala.
Kemudian Alice menenteng keranjang yang berisi jemuran lalu keduanya memasuki rumah.
*Klik!* Pintu rumah ditutup kembali oleh Alice. Kemudian keduanya menuju ruang keluarga. Di ruang keluarga, Rendi menaruh kursi plastik di samping meja makan. Kemudian keduanya menuju ke kamar tidur.
Di kamar tidur, Rendi meletakkan tas gitar di dinding dan kotak uang di meja lalu memindahkan uang yang ada di kotak tersebut ke dompet.
Sementara Alice meletakkan keranjang tersebut di samping meja setrika lalu menyalakan setrika.
Kemudian keduanya saling menghadap, "Kamu bisa membersihkan diri terlebih dahulu! Aku ingin menyetrika jemuran." ucap Alice.
"Baiklah."
Kemudian Rendi mengambil piyama dan handuk di lemari lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Alice mulai menyetrika jemuran di meja setrika.
Beberapa menit kemudian, Rendi menghampiri kembali dia yang sedang menyetrika pakaian.
"Saya sudah selesai nih!"
Seketika itu, dia menghentikan nya lalu menoleh ke Rendi.
"Ya sudah. Tolong ini kamu lanjutkan ya lalu masukkan ke lemari!"
"Baik."
Kemudian Rendi menggantikan dia. Sementara Alice mengambil piyama dan handuk di lemari lalu menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah dia selesai, dia menghampiri kembali Rendi.
"Sudah selesai?"
"Sudah."
Kemudian keduanya menuju ke ruang keluarga. Hari berganti malam. Di ruang keluarga, seperti biasa Alice langsung menyiapkan hidangan makan malam di dapur sementara Rendi menunggu nya di meja makan sembari meletakkan kursi plastik.
Setelah hidangan nya selesai, keduanya langsung menata nya di meja makan ruang keluarga. *Krek ...* Kursi ditarik lalu keduanya duduk bersebelahan.
(Selamat makan.)
Kemudian keduanya mulai menyantap nya dengan lahap. Beberapa menit kemudian,
(Terima kasih atas makanannya.)
Kemudian keduanya langsung membereskan piring sisa nya dari meja tersebut lalu Alice membersihkan nya di wastafel dapur. *Cling!* Beberapa piring bersih ditaruh ke rak.
Kemudian keduanya menuju ke kamar tidur. Hari semakin malam. Di kamar tidur, keduanya langsung membaringkan badan ke ranjang lalu saling menatap.
"Selamat tidur, suamiku."
__ADS_1
"Selamat tidur juga, istriku."
Kemudian keduanya tertidur dengan pulas.