
" a-apa? " Luna membelalakkan matanya ketika Adam menyebut dirinya pacar.
" bukannya kau sendiri yang bilang pada pria itu kalau aku pacarmu? " Adam menaikkan alisnya.
" ha?? A-Adam se-sepertinya kamu salah paham. aku menyebutmu pacar karena aku berusaha menolongmu. "
" kenapa kau menolongku? memangnya kau tahu dia siapa? "
" aku tidak tahu. aku hanya merasa aneh denganmu saat pria itu datang. kurasa dia memang mencarimu. makanya aku menolongmu tadi. " Luna memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan Adam yang bisa membuatnya terlena.
" ck..ck.. ck! " Adam menggelengkan kepalanya. " kalau kau tidak tahu lebih baik diam. sekarang kau tahu apa akibatnya? aku salah paham dan kau harus tanggung jawab sekarang. "
" tanggung jawab apa? "
" tentu saja tanggung jawab karena membuatku salah paham. jadi mulai hari ini kita resmi pacaran. "
" apa?!" teriak Luna.
sementara disisi lain, Andi dan Yoga sedang memperhatikan pasangan itu dari luar jendela.
" sejak kapan mereka jadi akrab gitu sih? " Tanya Andi tak suka. pemuda itu sudah lama menaruh hati pada Luna namun ia sama sekali tak pernah diberi kesempatan untuk mendekatinya karena Shela selalu berdiri digaris depan untuk menghalaunya.
" loe cemburu? "
" iyalah. gue aja mati-matian deketin Luna tapi itu cowok dengan gampangnya deketin Luna. "
" loe kalah ganteng kali bro. Luna mana mau sama model Playboy kelas teri kayak loe. "
Pletak!
" aww. " Yoga mengaduh saat Andi menjitak kepalanya.
" loe tuh ya, nggak bantuin teman malah ngatain. "
" ya habisnya gue aja nyadar kalau si Adam jauh lebih ganteng daripada loe. kalau gue jadi Luna pasti bakalan pilih yang lebih gantenglah. "
" si*lan loe ya! udah akh. gue mau kekantin beli es batu." Andi menyenggol bahu Yoga dan berjalan melewatinya.
" buat apaan beli es batu?"
" mau nyegerin otak gue. panas nih panas. " Yoga tertawa terbahak-bahak. dia tahu temannya itu menaruh hati pada Luna sejak kelas 1 SMA hanya saja keberuntungan belum berpihak pada Andi. selalu saja ada yang menghalangi. seperti hari ini, belum maju selangkah sudah ada yang menikung duluan.
♥♥♥
sementara ditempat lain.. di kediaman keluarga Roosevelt.
__ADS_1
" jadi kalian tidak bisa menangkap anak itu? " tanya seorang pria paruh baya pada salah seorang bawahannya. pria itu menunduk lebih dalam lagi saat menyadari kegagalannya.
" maaf Tuan. tapi saya yakin yang bersama dengan gadis itu adalah Tuan Muda Adam. "
" kalau kalian tahu itu Adam kenapa kalian tidak seret saja anak itu? kenapa malah membiarkannya lolos? " Pria bernama Austin itu menggertakkan giginya.
" maaf Tuan. karena suasana tidak memungkinkan jadi kami membiarkan Tuan Muda Adam lolos kali ini. "
Austin menghela nafas kasar dan memijit pelipisnya. usahanya membawa anaknya kali ini gagal lagi. entah harus dengan cara apa lagi agar Adam mau kembali kerumahnya.
" baiklah. kalian boleh pergi. siapkan rencana selanjutnya dan pastikan itu akan berhasil. "
" baik Tuan. "
selepas kepergian para bawahannya. Austin melonggarkan dasinya dan duduk merebahkan diri pada kursi kerjanya. baru saja dirinya melepas penat, muncul seorang perempuan paruh baya dari arah pintu.
" kau sudah berhasil membawa Adam pulang? " Tanya perempuan itu sinis. yang tak lain adalah Madeline, istrinya.
" aku sudah mencoba kali ini tapi dia berhasil lolos. "
" bukan lolos, tapi kau yang tidak becus mengurus bawahanmu. "
Austin menatap istrinya dengan amarah. sungguh ia tidak ingin berdebat hari ini. memikirkan Adam yang tak kunjung pulang kerumah saja sudah membuat dirinya stres.
" apa kau bilang? " Austin beranjak dari kursinya. " kau ibunya Madeline! kalau saja kau lebih memperhatikan anakmu maka dia tidak akan pergi dari rumah. "
" dengan uang? Adam tidak perlu uang darimu. kekayaanku cukup untuk menopang hidupnya hingga tua. buat apa kau susah payah bekerja? "
" ini demi masa depan kita Austin. aku tidak bisa mengandalkan semua kekayaanmu. kau tahu, perusahaanmu bisa saja bangkrut dan aku tidak mau diriku dan Adam sengsara kelak. "
Austin benar-benar kehilangan kesabaran. ia mengepalkan Tangannya erat. andai saja dia tidak berhadapan dengan Madeline sudah pasti tinjunya melayang saat itu juga.
" kau benar-benar egois Madeline. "
" aku tidak merasa seperti yang kau katakan. aku melakukan ini Demi Adam dan Demi kelangsungan keluarga kita. "
Madeline berbalik arah menuju pintu. ia keluar dari sana sembari menutup pintu dengan keras.
" ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan pada istriku? " gumam Austin. ia sungguh lelah menghadapi Madeline yang begitu keras kepala mempertahankan pekerjaannya daripada mengurus anak dirumah. sungguh malang nasib Adam. membiarkan dirinya bergelimang harta tapi ia benar-benar miskin kasih sayang.
♥♥♥
sepulang sekolah Luna sengaja pulang terlebih dahulu ketimbang harus pulang bersama dengan Adam. itu dilakukannya agar dia tidak semakin terjebak dengan status baru mereka.
Adam hampir saja membuka pintu pagar tapi pandangannya teralihkan ketika mendengar suara seseorang dari sebelah rumahnya.
__ADS_1
" baru aja pulang? " Tanya Mama Tari ketika ia hendak membuka pintu gerbang rumahnya.
" i-iya tante. " jawab Adam kikuk.
" kenalin saya Tari, saya Mamanya Luna. " Tari mengulurkan tangannya untuk menjabat pemuda tampan dihadapannya.
" salam kenal tante. saya Adam.teman sekelas Luna. "
" oh.. kalian satu sekolahan? kok Luna nggak cerita ya sama Tante. "
" mungkin Luna lupa Tante. " Adam menggaruk tengkuknya.tiba-tiba..
kruuuukkk..
suara perut Adam berbunyi. ia sungguh kikuk saat ini. sebisa mungkin Mama Tari menahan tertawa. pemuda ini sungguh lucu. batin Mama Tari.
" makan siang dirumah tante yuk. kita makan sama-sama. "
" eh. tapi.. " Adam ingin menolak tapi Mama Tari langsung meraih lengan Adam untuk mengikutinya. " udah Ayo. "
diruang makan, Mama Tari dengan cekatan mempersiapkan makan siang untuk Adam. ada nasi dan sayur mayur tak lupa beserta lauk pauk diatas meja. Adam hanya duduk memperhatikan tanpa bisa berbuat apa-apa.
" udah tante cukup. " ucap Adam menghentikan aktifitas tangan Mama Tari sebelum semua lauk pauk itu pindah kepiring Adam semuanya.
" makan yang banyak ya Dam. anak cowok harus kuat. " Mama Tari seperti menemukan sebuah berlian ditengah gurun pasir. matanya berbinar ketika menatap Adam. ia seperti merasa mempunyai Jino dan Juno dalam wujud lain.
" terima kasih tante. "
Adam terlihat kikuk saat ia menyantap makanannya dikarenakan Mama Tari yang terus memandanginya.
" Tante berasa punya anak lagi. " ucapan Mama Tari membuat Adam tersedak.
" hati-hati dong Dam makannya. " ia menyerahkan segelas air putih pada pemuda itu.
" astaga! " pekik Luna dari arah belakang ketika melihat Adam duduk bersama dengan Mamanya diruang makan. ia berniat untuk mengambil air didapur tapi saat kakinya hendak melangkah kedapur, samar-samar terdengar suara pemuda sedang terbatuk-batuk.awalnya ia mengira itu adalah Juno atau Jino tapi saat ia mendengar dengan seksama. itu bukan suara dari kakak kembarnya. saat ia melangkahkan kakinya kearah ruang makan ia terkejut bukan main ketika suara pemuda itu ternyata adalah Adam.
" kamu.."
.
.
.
.
__ADS_1
.
.