STELLA

STELLA
Part 1


__ADS_3

"Berbaurlah dengan teman-teman mu, sayang" Ayah memelukku hangat, sementara tangannya membelai rambutku penuh kasih.


Hari ini adalah hari kepindahan ku di sekolah baru, sekolah asrama. Karena pekerjaan Ayah, ia harus meninggalkan California untuk pergi menuju Paris dalam beberapa waktu, dengan terpaksa ia memilih sekolah asrama dibanding membiarkan aku tinggal sendiri di rumah. Aku sangat tidak pandai mengurus pekerjaan rumah, segalanya. Setidaknya meskipun asrama, sekolah ini adalah sekolah seni, aku tidak akan menjumpai angka matematika dan sains. Aku mencintai musik dan drama, sejak kecil bakat ku tersebut cukup menonjol. Awalnya Ayah membantah dengan niat ku, namun sedikit demi sedikit hatinya luluh karena rayuan dari putri semata wayangnya ini. Ia benar-benar Ayah terbaik di dunia.


Aku memeluk Ayah erat, lalu mencium kedua pipinya, "Aku menyayangimu, cepatlah kembali".


Beberapa orang berkeliaran di sekitar sekolah, hampir sebagian dari mereka berpenampilan berantakan layaknya seniman sejati, aku berharap hari pertama ini sangat berkesan bagiku. Aku berharap akan mendapatkan banyak teman disini.


Aku melangkah menuju pintu utama sekolah, sesekali aku membalik badan untuk melambaikan tangan pada Ayah yang masih berada di samping mobilnya.


Mata ku sibuk mencari-cari letak ruang guru berada, dibantu dengan peta sekolah yang ku bawa aku berusaha mencari ruangan tersebut.


'bruukk'


Tanpa sengaja aku menabrak seseorang yang sedang membawa tumpukan kertas cukup banyak, kertasnya berserakan di lantai reflek aku merapikannya dan mengucapkan banyak-banyak maaf pada pria itu. Tetapi pria itu hanya berdiri di hadapan ku dengan kedua tangan terlipat di bawah dadanya, tidak membantu ku sedikitpun. Sombong sekali dirinya! pekik ku dalam hati.


Jika dalam film romantis, bagian ini awal dari dua orang saling bertemu lalu berkenalan kamudian laki-laki nya akan menyatakan cinta dan mereka hidup sempurna. Namun tidak berlaku pada apa yang baru saja terjadi padaku. Memang seharusnya aku tidak perlu menonton film romantis.


Kesal dengan sikapnya yang sombong aku pun berkata, "Kau tidak ingin membantu ku?" tanyaku yang masih merapikan kertas-kertasnya.


Dia berlutut, mengambil dua lembar kertas yang tersisa disampingnya lalu merebut kertas yang kurapikan dalam gengamanku, "Jika aku menabrak mu, apakah kau akan membantuku?" Ia kembali berdiri kemudian memasuki sebuah ruangan yang tidak lain adalah ruang guru. Aku bergegas bangkit serta memperhatikan pria itu, dia benar-benar menyebalkan.


"Miss Johnson?" seorang pria berkacamata sekitar berumur 35 tahun, bajunya tersemat name tag 'Tonny Foster'.


Aku hanya mengangguk serta tersenyum manis, kemudian pria itu mempersilahkan aku masuk ke dalam ruang kepala sekolah.

__ADS_1


"Silahkan duduk. Aku Piggie Quinn, kepala sekolah Violet High School. Senang bertemu dengan mu," ucap wanita gemuk diharapanku.


"Senang bertemu dengan mu juga, Mrs. Piggie"


"Ini seragam olahraga mu dan jadwal kegiatan sekolah" katanya sembari memberikan satu stel pakaian olahraga berwarna abu-abu muda dan map hijau yang berisi jadwal kegiatan sekolah.


"Oh ya.. kau akan tinggal di asrama A kamar nomor 27, sebentar lagi teman kamar mu akan datang"


Aku hanya mengangguk mengerti serta tersenyum padanya, selang beberapa waktu suara ketukan pintu terdengar disusul pintu yang terbuka. Terlihat pria yang muncul di balik pintu kayu itu.


LELAKI TADI?!!


"Stella, dia akan menjadi teman flat mu" ucap Mrs. Piggie.


"Ka...kau.?!!" jari telunjukku mengarah padanya. Dia pria yang ku tabrak beberapa menit yang lalu. Akan menjadi teman flat ku? mimpi buruk macam apakah ini, Tuhan.


"Tidak" jawab ku kilat.


Masih dengan raut wajah datar menyebalkan, ia bersandar di tembok dengan tangan kiri yang masuk kedalam saku jins nya. Jika boleh jujur, dia memang terlewat tampan, pahatan wajah hampir sempurna serta pancaran karismanya sangat terasa. Namun segala kesempurnaannya hilang karena satu sifat sombongnya itu. Aku benar-benar tidak suka.


"Aku tidak berharap kau menyukai ku," ucapnya membuyarkan lamunanku. Ba..bagaimana bisa ia mengerti apa yang aku pikirkan, jangan-jangan ia bisa membaca pikiran orang lain?


"Mrs. Piggie apakah tidak ada kamar lain untuk ku?" tanya ku sedikit memelas.


"Maaf kan aku Stella, untuk asrama hanya flat nomor 27 yang tersisa"

__ADS_1


"Ak..aku tidak mungkin tinggal satu ruangan dengan seorang pria, bukan? Ayah ku tidak akan setuju dengan ini"


"Jangan khawatir, dalam flat terdapat 2 kamar berbeda dan soal Ayah mu. Kurasa ia tau tentang ini, karena pihak sekolah telah menginformasikan sebelumnya,"


Aku menghela nafas berat, sengguh sial sekali hari pertama ku di sekolah.


Kami meninggalkan ruang kepala sekolah lalu menuju asrama yang berada di belakang sekolah. Ada 2 bangunan asrama A dan B, tidak semua siswa tinggal di asrama beberapa siswa hanya bersekolah lalu pulang ke rumahnya masing-masing. Kami memasuki lift, pria itu menekan tombol 7 yang berarti flat kami berada di lantai 7.


"Namamu Stella?" lelaki disamping ku ini membuka suara, terdengar sedikit lebih ramah dibandingkan ucapan sebelumnya.


"Ya! bagaimana kau tau?".


"Wanita bertubuh langsing itu memanggilmu dengan sebutan Stella".


Ia menyebut Mrs. Piggie dengan sebutan wanita bertubuh langsing, benar-benar sarkasme ia mengatakan hal kebalikan tentang kepala sekolah.


"Itu memang nama ku" ucap ku ketus.


Pria itu hanya mengerdikkan bahunya,


Tiingg...


Lift berhenti tepat diujung obrolan singkat kami. Ia melangkahkan kaki, melewati beberapa kamar dan segelintir siswa yang lalu lalang menatap kami dengan tatapan tidak biasa. Meski mendapat tatapan seperti itu, pria ini sama sekali tidak bergeming padahal disepanjang perjalanan telah ku hitung setidaknya sepuluh wanita melayangkan sapaan "hai" atau hanya sekedar mengucapkan penggalan kata....


"Jake"

__ADS_1


Aah... ternyata pria menyebalkan ini bernama, Jake. mulai detik itu juga, aku membenci nama JAKE.


Bersambung...


__ADS_2