STELLA

STELLA
Part 2


__ADS_3

Saat pintu utama dibuka, pertama kali ruangan yang nampak layaknya ruang keluarga dalam rumah-rumah pada umumnya, "Ini adalah ruangan untuk bersantai" jelasnya.


Sebuah televisi LED cukup besar menempel pada dinding, serta sofa panjang menghadap tv tersebut. Meja kerja di pojok ruangan lengkap dengan satu set komputer dan printer yang di sampingnya terdapat pula dua sound system, gitar, piano, dan drum. Terdapat pula dapur mini yang lebih mirip bar kecil.


"Kamar mandi ini kita gunakan bersama, jadi jagalah kebersihannya," terangnya ketus sambil menunjuk bilik di sisi kanan ruang bersantai.


Aku hanya memasang wajah semenyebalkan mungkin untuk menunjukkan betapa aku tidak menyukai dirinya.


"Kamar mu ada di sebelah sana, dan kamar ku disini" ucapnya dengan mengangkat dagunya, memberi isyarat bahwa kamarku ada di samping kamar tidurnya.


"Lalu bagaimana dengan ID card?" tanyaku.


Untuk membuka flat ini dibutuhkan id card pemilik flat. Sementara aku belum memilikinya, karena aku murid baru jadi aku harus menunggu beberapa hari.


"Itu bukan urusan ku" jawabnya singkat yang kemudian masuk kedalam bilik pribadinya.

__ADS_1


Tangan ku mengepal, meninju-ninju udara di balik badannya. Haruskah aku tinggal dengan pria macam ini Tuhan? bantu lah aku untuk beberapa bulan ke depan.


Ku geret dua buah koper ukuran besar dan sebuah ransel yang bertengger di pundakku memasuki bilik tidur. Nafas berat menghembus di kedua lubang hidungku, lalu aku menjatuhkan diri di tepi ranjang. Ku gerakkan leher dan lengan untuk sekadar melemaskan otot yang tegang.


'Akan ku rapikan barang-barang ku nanti malam, sekarang aku terlalu lelah' ucapku pada diri sendiri.


Aku membuka map hijau pemberian Mrs. Piggie, untuk mengecek kegiatan ku hari ini. Ternyata sekolah utama hanya berlangsung dihari Senin-Kamis, untuk hari jumat akan ada bazar dan pentas seni tiap-tiap kelas. Sabtu-Minggu adalah hari libur.


Hari ini Sabtu, itu berarti tidak ada kegiatan. Setidaknya aku dapat sedikit beristirahat dan merapikan barang-barang ku.


Terdengar gemericik air di dalam kamar mandi, sepertinya si menyebalkan Jake merebut tempat itu dahulu.


Sambil menunggunya, aku duduk di sofa lalu menyalakan televisi, mengisi ruang untuk menunggu, aku sangat tidak suka menunggu. Tidak bisa diam di suatu tempat tanpa melakukan apapun dalam waktu yang lama.


Pancuran air sudah tidak terdengar dalam kamar mandi, disusul suara pintu terbuka kemudian Jake muncul hanya melilitkan handuknya di pinggang dengan telanjang dada memamerkan tubuh atletis itu. Sesekali ia menggosok rambut setengah basah dengan handuk lain yang ia bawa, raut wajahnya tidak menunjukkan rasa bersalah tampil tanpa baju di hadapan seorang wanita.

__ADS_1


Menyadari hal itu, ku putar bola mata ku mengalihkan apa yang baru saja ku lihat seolah aku tidak pernah melihatnya. Namun samar-samar mata ekorku mengikuti langkah Jake yang telah memasuki biliknya.


'Dia cukup bangga menunjukkan tubuhnya itu kepada seorang wanita! dasar lelaki penggoda. Jika itu cara untuk membuatku tertarik padanya, aku sangat tidak tertarik!' maki ku dalam pikiran.


Aku bergegas masuk kedalam kamar mandi tak sabar ingin merendamkan seluruh tubuhku dengan air hangat.


***


Suhu udara California cukup dingin, hoodie hitam telah membalut kaus putih polos yang ku kenakan. Aku sedang berjalan-jalan sekitar asrama, ingin beradaptasi dengan lingkungan baru.


Lantai dasar asrama terdapat kafetaria, mesin penarikan uang, dan kantor pengurus.


Aku menuju kafetaria berniat membeli satu cangkir kopi panas untuk menghangatkan tubuh ku. Aku memilih bangku dekat dengan jendela yang menampilkan pemandangan kolam renang dimalam hari. Banyak orang berada di tepi kolam yang hanya sekedar memetik gitar dan melantunkan lagu-lagu klasik diujung malam. Ada yang fokus pada laptop lengkap dengan headset, tak jarang pula yang tertawa bersama orang terkasih. Sementara aku hanya dapat memperhatikan interaksi mereka ditemani secangkir kopi panas yang hampir dingin.


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2