STELLA

STELLA
Part 6


__ADS_3

Hari mulai gelap, namun kami masih di rumah sakit tempat Marie -Ibu Jake- di rawat. Hampir 2 jam kami berbicara banyak hal dengan Ibu Jake, ia mulai mengenal ku sebagai teman perempuan Axel, bukan Jake. Saat Jake menanyakan tentang kerinduan Ibunya terhadap dirinya, Marie berteriak histeris serta memaki-maki kasar Jake. Sekarang, aku mengerti hidup ku jauh lebih beruntung dibandingkan dengan Jake. Ia harus menelan kepahitan ditinggal pergi sosok Ayah dan kehilangan sementara dari ingatan Ibunya. Seharusnya aku lebih bersyukur karena Tuhan masih menyisakan seorang Ayah terbaik untuk ku.


Kami duduk di taman belakanh rumah sakit, se-cup frappucino berada di genggaman Jake, yang telah ia teguk hingga tersisa setengah. Serta sebatang rokok terhempit diantara jari telunjuk dan jari tengahnya itu, "Maaf kan aku Stella," ucapnya lirih.


"Untuk apa?" jawab ku dengan tatapan datar.


"Ucapanku kemarin,"


"Tidak perlu, Jake. aku yang berlebihan...aha..ha.." timpalku dengan tawa paksa.


"...Bertahun-tahun aku melupakan kata itu, lalu baru kemarin aku mendengarnya lagi"


Jake memandang wajahku sejenak, sebelum menatap lurus kembali. Ia menghisap rokok terakhirnya, lalu menginjaknya.


"Kau ingin makan sebelum kita pulang?" tanyanya padaku.


"Aku ingin langsung pulang saja,"


"Baiklah, kalau begitu malam ini aku yang akan memasak untuk mu" ucap Jake kemudian bangkit dari duduknya.


Kami meninggalkan rumah sakit saat langit sudah gelap, Jake berhenti di sebuah supermarket tengah kota untuk membeli beberapa bahan yang aku tidak tau, maklum saja aku tidak pandai dalam urusan memasak. Tidak, sebenarnya aku tidak pandai dalam segala hal.

__ADS_1


Saat perjalanan menuju asrama, suasana dalam mobil sedikit lebih cair, kami saling menanyi dan banyak bercerita satu sama lain. Ternyata dibalik sikap menyebalkan Jake, ia adalah seseorang yang mempunyai selera humor tinggi. Andai saja dia tidak menyebalkan, mungkin aku jatuh cinta padanya.


"Ya Tuhan, kau bicara apa Stella!" pekik ku dalam hati.


***


"Uhh...." aku merebahkan tubuh ku diatas sofa asrama. menatap langit-langit flat, lalu memejamkan mata sejenak.


Sementara Jake telah sibuk mempersiapkan makan malam di bar mini dalam flat kami. Aku tidak begitu yakin dengan apa yang ia kerjakan sekarang. Seorang pria seperti Jake? Bisa memasak?


"Stella.. kemarilah" suara Jake terdengar cukup nyaring dari ruang tengah.


"Kau yakin dengan masakanmu ini?" tanya ku padanya ragu-ragu, membuat raut wajahnya yang sebelumnya berseri-seri menjadi masam.


"Aku selalu melakukan apapun dengan sangat baik, dibandingkan dengan kau," jawabnya ketus.


Aku hanya mendengus kesal sembari memotong kecil daging sapi masakan Jake, lalu memasukkannya dalam mulutku.


Rasanya.... lumayan lezat.


"Jake, seharusnya kau selalu memasak untuk ku setiap hari"

__ADS_1


Aku melahap habis steak itu kurang dari sepuluh menit. Begitu pula Jake, yang juga menghabiskan daging dan salad itu tanpa tersisa.


Jake membawa botol bir itu menuju ruang tengah, aku menyusulnya lalu duduk disofa dekat dengannya.


"Akan ada film the conjuring, kau mau menontonnya?" tanya Jake.


"Tentu saja. tolong matikan lampunya," Aku termasuk orang yang suka dengan film horor dengan sensasi ingin menontonnya dalam keadaan gelap atau lampu padam, namun setelahnya aku selalu takut untuk melakukan apapun seorang diri. Aku memang aneh dan payah.


Jake bergegas mematikan lampu ruang tengah, kami hanya disinari cahaya dari televisi. Aku menungkan bir ke masing-masing gelas sambil menunggu iklan sebelum film dimulai.


Aku menutup setengah wajahku dengan bantal tangan, sementara Jake tetap dengan gaya sok pemberaninya itu hanya melipat kedua tangannya dibawah dada.


saat adegan pintu terbuka sendiri, kami berteriak kompak...


"Ahhhh..."


reflek aku dan Jake saling mendekat, jarak wajahnya hanya beberapa sentimeter dari ku. Mata kami saling bertemu, tatapan hangat Jake membuat hati ku berdesir cepat.


Lalu...


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2