
Sinar mentari samar-samar menyapa pagi, menyinari separuh wajah gadis yang sedang tertidur lelap. Matanya menerjap-nerjap sebelum sepenuhnya terbangun, jam di atas meja menunjukkan pukul 8 pagi. Seketika matanya terbuka sempurna.
Aku akan terlambat ke sekolah! ucapku dalam hati.
Bergegas keluar dari bilik tidur, aku mendapati Jake yang telah membaca koran serta menggigit sebuah apel, di pundaknya bertengger handuk putih ukuran sedang, ia sedang duduk dalam bar mini. Jake memperhatikan tingkah ku yang tergesah masuk ke kamar mandi ia sedikit berteriak, "Hei kau mau kemana? jangan pakai kamar mandi!"
Aku tidak memperdulikannya, siapa cepat dia yang dapat! aku ingin mencuci rambut ku dengan sampo aroma vanilla favorit ku, aku memijat lembut kepala ku sambil bersenandung kecil. Jake memutar lagu-lagu dari Magic membuat hati serta mulutku ikut bernyanyi.
Tiba-tiba saja air shower mati begitu saja, sementara kepalaku masih dipenuhi sedikit busa sampo. Aku melilitkan handuk yang menutupi tubuh ku, lalu keluar dari kamar mandi.
"Huahahahaha!" Jake tertawa begitu puas, sepertinya ia sangat gembira melihat ku keluar dengan busa diatas kepala, sangat konyol. Ia memberikan kertas padaku, ku baca kertas itu yang ternyata pemberitahuan dari pihak sekolah jika terjadi pemadaman air pagi ini.
"mengapa kau tidak beritahukan padaku?!" aku meremas kertas itu kesal. Sementara Jake masih tertawa geli hingga wajahnya hampir kemerahan seperti akan terbakar.
"Sudah ku katakan pada mu jangan memakai kamar mandi, kau tidak mendengarkannya. Ya sudah" ucap Jake disela-sela tawanya.
Aku mengambil dua buah botol minum ukuran besar di atas meja bar, kemudian Jake berkata "tunggu lah beberapa menit air akan kembali menyala,"
"Aku akan terlambat ke sekolah Jake!"
__ADS_1
"Ku rasa kau lupa jika ini hari Minggu" ujarnya disambung dengan tawa.
Bisa-bisanya aku lupa jika hari ini adalah hari Minggu. Di pagi hari aku telah dipermalukan dua kali, dengan menahan rasa malu aku tetap menuju kamar mandi bersama dua botol air dalam pelukan ku.
"Kau perlu bantuan untuk membilas rambut mu?" tanya Jake dengan nada menggoda.
"Tidak perlu! dasar otak mesum" teriak ku dalam kamar mandi disusul oleh tawanya kembali.
***
Aku menggosok-gosok rambut basah ku dengan handuk, lalu duduk di sofa. Tak lama kemudian Jake datang dengan dua cangkir teh hangat serta duduk di samping ku.
"Minumlah, sebagai tanda terima kasih ku kau membuat ku tertawa dipagi hari" ucapnya menyodorkan cangkir itu pada ku.
Ia menyentuh rambut ku, "Sepertinya kau harus membutuhkan air lebih banyak,".
Aku menepis tangannya yang berada diatas kepala ku namun ia masih berusaha untuk menyentuhnya.
"Lepaskan sialan." kepala ku menghindari tangannya.
__ADS_1
"Ah.. apakah Ibu mu tidak pernah mengajarimu untuk berkata sopan kepada orang yang telah membuat kan mu teh?" ucapnya serta memasang mimik wajah yang tidak serius dan tawa ringan.
Namun..
Kata-katanya cukup membuat hati ku berdetak kencang, kata yang ku hindari kembali terucap, kata yang selama ini tidak pernah aku menyebutnya, bahkan aku sangat membencinya. Hari ini sakit hati ku kembali terulang.
Aku meletakkan cangkir itu diatas meja dekat sofa, lalu berlari kecil menuju kamar ku. Aku tidak ingin Jake melihat air mata yang mengalir dikedua pipi ku.
Jake menghentikan tawanya, lalu menyadari jika aku tersinggung dengan ucapannya.
"Stella..."
Air mata ku mengalir tak hentinya, entah sejak kapan aku kembali teringat oleh kata 'Ibu'. Sebelumnya aku tidak pernah menangisi kepergiannya, untuk apa aku menangisi wanita jalang sepertinya. Selama bertahun-tahun aku tidak percaya cinta, keculi cinta dari Ayah ku. Berkencan saja aku tidak pernah seumur hidupku. Aku cukup cantik dan pintar, setiap laki-laki yang berusaha mendekati ku, aku selalu katakan padanya "Aku gadis dengan banyak utang" lalu mereka pergi. Jika cinta memang ada seharusnya Ibu ku tidak meninggalkan Ayah disaat yang paling menyedihkan.
"Stella..." Jake mengetuk pintu kamar ku berulang kali.
"Buka pintunya, maafkan aku jika kata-kata ku salah" ucapnya lagi.
Aku belum berniat berbicara dengan siapapun, tapi jika dipikir ulang Jake tidak bersalah. Ia tidak tau apapun, ucapanya hanya bercanda. Seharusnya aku tidak bersikap berlebihan padanya.
__ADS_1
"Masuklah Jake," ucapku dengan suara purau.
Pintu kamarku terbuka..