STELLA

STELLA
Part 7


__ADS_3

Beberapa detik mata kami bertemu, tiba-tiba cahaya televisi redup dan suhu ruangan pun terasa lebih dingin karena penghangat ruangan mati. Ternyata listrik asrama padam!


"Jake.. jangan tinggalkan aku sendiri kumohon," ucapku dengan tangan melingkar pada lengan Jake.


"Aku bukan Jake... Jake telah pergi meninggalkan mu sendiri dalam flat berhantu ini..."


Reflek aku melepaskan tangan ku yang sebelumnya membelit lengannya. Kemudian terdengar suara tawa lepas darinya.


"Aku tidak sedang bercanda Jake," kataku seraya memukul pundak Jake. Rata-rata wanita selalu memukul apapun yang di dekatnya saat dirinya marah, tertawa, takut, dan reaksi yang lain.


"Aku tidak akan meninggalkan mu, Stella" ucapnya yang kemudian telapak tangannya mengusap kepala ku lembut.


Deg...


Jantungku kembali berdetak cepat


"Setiap hari minggu jam 9 malam akan selalu ada pemadaman secara rutin, selama dua jam" jelasnya.


Selang beberapa menit, kami tidak bersuara. Tangan ku tetap memeluk lengannya erat, mengapa kejadian ini terjadi saat kami menonton film horor. Ah... mungkin Jake sengaja membuatku menontonnya karena dia tau jadwal pemadaman listrik. Dasar mesum. Maki ku dalam hati.


"Aku tidak merencanakan ini Stella," tiba-tiba Jake berkata padaku, membuat ku terheran-heran. Mengapa ia selalu tau apa yang ku pikirkan.


"Ka..kau.. apakah kau bisa membaca pikiran orang?"


"Tidak, aku hanya mencoba menebak pikiran seorang wanita"


Aku tidak pernah menjumpai pria sepeka Jake, mereka yang ku kenal hanya tau apa yang wanita inginkan tapi tidak tau apa yang wanita pikirkan. Sudah ku duga Jake pasti seorang playboy tingkat berat, wajah tampan, nice body, kharismanya kuat, serta mengerti wanita. Pantas saja dia sangat populer di sekolah.


"Kau kedinginan?" tanyanya padaku.


aku menghentikan aktivitas ku yang sedang menggosok kedua telapak tangan ku untuk menghasilkan suhu hangat, "Tidak.."


Jake melepas lilitan tangan ku, lalu beranjang dari sofa. Ia melepas hoodie yang melekat pada tubuhnya, meraba-raba sekeliling sofa dan menemukan pundak ku, "Untung saja aku tepat memegang pundakmu.." ucapnya dengan cekikikan, aku memasang wajah yang sangat menyebalkan namun sia-sia karena gelap menutupinya, "..pakailah ini, aku akan mencari lilin" lanjutnya.


"Bagaimana dengan kau?" tanya ku.


"Tidak masalah, aku suka dingin"


Jake berusaha mencari lilin untuk menerangi kami berdua, hampir lima belas menit terdengar ia memaki-maki lilin yang tak ada saat dibutuhkan.


"Aku tidak menemukan lilin," ucapnya sembari kembali duduk di samping ku.


"Mengapa sangat lama Jake?"

__ADS_1


"Aku hanya meninggalkanmu sepuluh menit. Kau merindukan aku?"


"Maksud ku pemadaman listriknya, bodoh"


"Hahaha.. aku tidak tau, kau ingin kembali ke kamar mu?"


"Tidak.. aku ingin dekat dengan mu. Aku takut"


Jake mendekatkan tubuhku untuk masuk kedalam pelukannya, awalnya aku menahan dan mulai menjauh namun ia berkata, "Kau adalah teman ku Stella, kemari supaya tubuhmu hangat. Tidurlah, aku akan membangunkanmu saat listrik menyala"


Mendengar ucapannya ia mengatakan bahwa aku adalah temannya, sedikit membuatku tenang. Aku kembali mendekatkan diri, meringkuk didalam pelukan Jake.


"Ayahku seorang polisi, Jake" Ucapku sebelum benar-benar memejamkan mataku.


Jake hanya terdiam, senyum tipis mengembang pada bibirnya.


"Ayahmu seorang pembisnis, aku tau itu" katanya yang hampir tak ku dengar.


***


Cahaya pagi mulai bersinar, aku menerjap-nerjapkan mataku sebelum terbuka sempurna. Hal yang pertama kali kulihat pagi ini adalah, sosok Jake yang tertidur pulas disamping ku, kepalanya bersandar di punggung sofa dan tangan kirinya masih mendekap ku. Aku melihat diriku masih mengenakan hoodie Jake, dan ia hanya mengenakan kaos hitam tipis, syukurlah berarti Jake memegang ucapannya yang tidak akan macam-macam padaku. Suhu tadi malam sangat dingin lalu bagaimana dia bisa tertidur pulas dan dengan posisi tidur yang duduk membuat tubuh menjadi pegal. Aku bangkit dari posisiku, pelan-pelan karena tidak ingin Jake terbangun.


Aku melihat jam dinding menunjukkan pukul 7 pagi, hari senin kelas akan dimulai pukul 10. Ada beberapa jam untuk menyiapkan segalanya.


***


(JAKE POINT OF VIEW)


Aku menguap serta merenggangkan setiap otot tubuhku, mataku masih terpejam tak ingin membukanya. Entahlah, semalam aku hanya tertidur berapa jam. Pemadaman terlama yang kurasakan sejak pertama kali disini.


Aku membuka mataku perlahan, lalu membenarkan posisi duduk ku ditepi sofa. Kepala ku menunduk dan diam sesaat merelax kan otak ku.


Kemudian aku melangkahkan kaki menuju bar mini, disana telah tersedia segelas susu, sebuah sandwich dan.. catatatan kecil.


kuraih catatan yang bertuliskan 'Terima kasih telah menjaga ku tadi malam! xoxo'.


Ponsel ku berdering, satu pesan telah diterima. Dari Stella, 'Habiskan sandwich mu! aku membuatnya dengan susah payah'.


Aku tersenyum membacanya, Stella gadis lugu yang manis. Meski terkadang ia selalu menyebalkan.


Aku melahap sandwich itu tanpa tersisa, tak lupa segelas susu juga ku habiskan hingga tetes terakhir. Sandwich buatannya sangat enak, ternyata ia juga pandai memasak. Ku raih tissue untuk membersihkan mulut ku dari sisa makanan, saat aku akan membuangnya ketempat sampah perhatianku teralihkan oleh sebuah bungkus sandwich instan merk terkenal. Aku memungutnya, dan benar saja itu adalah bungkus sandwich dari sandwich beefy.


"Ia membuat sandwichnya sendiri" kataku pada diri sendiri serta geleng-geleng kepala. Stella, kau sangat menggemaskan.

__ADS_1


***


(STELLA POINT OF VIEW)


Suasana kelas sangat ramai karena Mrs. Dolce tak kunjung datang. Aku hanya duduk di salah satu bangku kelas, serta mengamati mereka yang sedang asik sendiri, tak jarang dari mereka berbisik satu sama lain. Tak jarang pula ada yang tersenyum manis padaku dan memperkenalkan diri.


"Kau murid baru?" seorang gadis berponi menurupi dahi dengan lolipop di mulutnya sedang duduk di hadapanku.


Aku tersenyum serta berkata, "Hai.. aku Stella Johnson,"


"Halo Stella, aku Kylie Swan"


"Senang bertemu dengan mu, Kylie,"


"Mengapa kau pindah sekolah?"


"Karena ayahku tidak ingin aku tinggal sendiri saat dirinya sedang bekerja di luar negeri dan aku sangat mencintai seni" terangku.


"Aah.. begitu ya. Selamat datang di.."


"Minggir kau," Jake datang lalu mengusir Kylie dari hadapanku. Ia sangat kasar.


Kylie hanya mendengus kesal seraya bangkit dari tempat duduknya, "Kita akan menjadi teman baik kan Stella," katanya.


Aku tersenyum lebar pada Kylie, "Tentu saja!"


Jake duduk di depan ku dengan posisi kursi yang ia menghadapku, ia meletakkan bola basket di atas meja untuk tumpuhan tangannya, ia menatapku dalam dengan senyum mengembang yang mampu membuatku salah tingkah.


"Terima kasih sarapannya, Stella" ucapnya lembut.


Aku menempelkan pungung tangan ku ke dahinya, lalu berkata "Kau tidak sehat?"


"Sandwich mu sangat enak,"


"Tentu saja, aku sangat pandai membuatnya" ucapku percaya diri.


Tiba-tiba semuanya berhamburan menuju bangku masing-masing karena Mrs. Dolce telah memasuki kelas. Jake dengan cekatan membalik kursinya menghadap depan, tak lama kemudian ia memutar kepalanya menghadapku "Aku ingin lagi, Stella"


Dan kelas pun di mulai.


bersambung...


see you the next chapter

__ADS_1


__ADS_2