Stop Mempermalukan Ku

Stop Mempermalukan Ku
BG IV


__ADS_3

Jam 05:50 pagi, Nouva sudah berada di kelasnya. Kali ini ia tidak sengaja datang ke awalan karena ada masalah di jadwal keberangkatan bus yang biasa ia tumpangi dan jadinya jadwal keberangkatannya di majukan.


Kemudian Nouva memutuskan untuk berjalan-jalan guna menghilangkan rasa bosan yang muncul akibat kelas yang masih sepi dan tenang karena masih banyak murid yang belum datang, kalaupun ada palingan cuman 4/5 orang saja termasuk Nouva, sebab ini masih terlalu pagi.


Tanpa Nouva sadari ia sudah berjalan cukup jauh dari area yang biasa ia lewati, kini Nouva berada di lorong tingkat 2, kawasannya kakak-kakak kelas XII berada.


Karna sadar bahwa dirinya yang sudah berjalan cukup jauh akhirnya ia hendak kembali ke kelasnya yang ada di tingkat pertama, menurutnya tidak seharusnya ia berlama-lama disini, Nouva tidak mau sampai harus bertemu para kakel dan berujung mendapatkan hujatan pedas oleh mereka.


Tiba-tiba matanya terpikat ke satu pintu kayu bergaya klasik dengan warna putih gading tepat di ujung lorong sebelah kiri.Entah kenapa ketika ia menatap pintu itu, seakan ada suara yang mengajaknya untuk membuka pintu itu, padahal Nouva sudah ada di depan tangga untuk turun ke lantai satu, namun perasaan penasaran akan isi ruangan dari balik pintu itu mampu mengguncang niatnya menuruni tangga kembali ke kelasnya.


Singkat cerita, kini Nouva sudah berada di depan pintu yang mampu membuatnya penasaran itu setelah lama bergelud dengan pikiran dan perasaan nya yang saling berbeda pendapat, pikirannya menyuruhnya agar cepat kembali ke kelas sedangkan perasaannya masih penasaran akan isi dibalik pintu itu.


karena waktu masih pagi, udara dingin plus hari yang mendung berhasil menciptakan suasana  menakutkan di lorong itu. Tanpa pikir panjang Nouva langsung memegang gagang pintu tersebut kemudian memutarnya setelah tau jika pintu itu tidak terkunci.


Klekkk...


Setelah pintu terbuka dirinya sontak terkagum-kagum melihat isi ruangan dari balik pintu tersebut. Pupil matanya bergerak kesana-kemari mengintrogasi setiap sudut dan celah ruangan serba putih itu. Ruangan itu tampak seperti ruang musik, sebab berbagai macam alat musik ada di ruangan itu mulai dari gitar, drum, Biola, seruling, terompet, kecapi dan masih banyak lagi yang tidak Nouva ketahui namanya. Namun, tiba-tiba matanya tertuju  ke sebuah Grand Piano  berwarna hitam.


Bagaikan tersihir, kakinya bergerak sendiri dan tanpa sadar kini Nouva sudah berada tepat didepan Piano besar itu. Entah kenapa tangannya tiba-tiba gatal ingin memencet not-not yang tertera di piano itu.


"Masih pagi, main sebentar tidak apa-apa kali ya?" Monolog nya bertanya ke diri sendiri


Tanpa pikir panjang Nouva tidak ingin melewatkan kesempatan bagus dimana semua murid belum datang dan ruangan musik itu sedang sepi, kini saatnya ia menunjukkan bakat tersembunyi nya sekalian melepas rindunya sebab sudah lama Nouva tidak pernah menyentuh piano lagi semenjak ia berhenti dari les kelas piano sebab masalah ekonominya yang kurang membuatnya mau tidak mau harus berhenti melanjutkan bakatnya itu.




Alunan suara yang dikeluarkan dari piano yang dimainkan Nouva kini memenuhi ruangan musik tersebut, meski sudah lama tidak menyentuh piano namun Nouva masih terlihat lihai memainkan alat musik tersebut.



Nouva memainkan musik klasik berjudul Fur Elise-Beethoven, jarinya sangat handal ketika menekan not-not yang tertera di piano itu. Nouva sangat menikmati suasana yang sudah lama tidak ia rasakan itu.



Tring! Tring! Tring!



Handphone nya berbunyi sekaligus bergetar tanda ada orang yang menghubungi nya. Namun, Nouva bagaikan orang yang terkena sihir, ia tidak mendengar bunyi deringan telponnya yang lumayan nyaring. Ia tidak menghiraukan apapun itu, kini Nouva sudah terbawa arus alunan musik yang dibuatnya. Nouva tidak akan berhenti sebelum lagu itu selesai.



Sementara itu, seorang Lanang yang baru sampai ke sekolah dan sedang berjalan di lorong dengan santai sembari memainkan ponselnya hendak menuju ke kelasnya.


__ADS_1


Namanya Gerald Fauzan Aditama, ketua osis sekaligus tukang pembuka kunci pintu kelas XII. Datang pagi memanglah rutinitasnya dan kewajibannya sebab dia memegang kunci setiap kelas di tingkat 2.



Dengan santainya ia menaiki tangga menuju ke tingkat 2 sembari menikmati hawa sejuk di pagi hari. Baru 3 langkah saja ia menginjakkan kakinya ke anak tangga, Gerald sudah bisa mendengar suara alunan piano dimainkan



"Siapa yang main piano pagi-pagi begini?"  Monolognya bertanya ke diri sendiri.



Perasaan penasaran muncul di benak lelaki itu, namun suasana mencekam akibat hawa dingin dan cuaca yang mendung mampu memunculkan rasa takut pada dirinya, bahkan rasa takut lebih kuat dibanding rasa penasarannya saat ini. Apalah daya, karena takut dengan hantu yang bahkan belum tentu ada, lelaki itu sudah memikirkan berbagai hal yang tak semestinya dan berakhir bersembunyi di balik dinding tangga sembari menoleh kesana kemari seakan ada yang mengawasinya.



"A-ha-ha-ha mana ada hantu pagi-pagi, hantu itu enggak ada!" Serunya sambil ketawa kikuk berusaha mengubris pikiran yang tak semestinya.



"Bismillahirrahmanirrahim." Ucapnya.



Klotak klotak klotak!




Sementara itu Nouva yang mendengar hentakan kaki yang keras seketika menghentikan jarinya memencet not-not piano itu. Ia sontak panik setelah tersadar dari khayalan nya menyadari kalau ada orang yang akan menuju kemari.



Dengan cepat Nouva langsung mengambil ponselnya dan kini ia sedang berdiri tepat di balik pintu keluar itu.



Pikirannya tiba-tiba kacau dan tanpa sadar bersembunyi di balik pintu keluar. Kemudian ia menghidupkan hp nya dan mendapatkan pesan dari Akira yang mencarinya di kelas.



Tanpa ba-bi-bu Nouva langsung nekat berlari keluar, ia sudah tidak peduli siapa dan apa respon dari orang itu.



"Anjir! Woi!!" Teriak Gerald terkejut sembari mengelus dada nya.

__ADS_1



Ia sontak terkejut bukan main ketika hampir sampai ke depan pintu kelas musik namun tiba-tiba dikejutkan oleh kemunculan gumpalan daging besar keluar dengan berlari tergesa-gesa serta tanpa sadar menyenggolnya.



"Sejak kapan disekolah ada genderuwo,"  monolognya.



Bagaimana dengan Nouva? Setelah berlari cukup jauh menurutnya yang hanya sebatas sepuluh langkah saja sebelum ia berbelok menuruni tangga, Nouva sudah terengah-engah bukan main, yeah bagaimana tidak. Berlari bukanlah hal yang cocok untuknya yang berat itu, Nouva tak sanggup apabila harus berlari lebih jauh lagi, untungnya jarak tangga dan ruangan musik tidak jauh jadi ia bisa segera berbelok dan menghilang dari pandangan kakel itu.



Kali ini ia sangat khawatir, ia takut kakel tadi mengenalinya dan berakhir di marahi karena masuk ke ruangan musik tanpa izin. Akhirnya Nouva memutuskan untuk segera kembali ke kelas karena hp nya yang terus berdering akibat di spam Akira yang mencarinya di kelas.



\*\*\*



Sementara itu di ruang OSIS.



"Oi, siapa yang make ruang musik tapi nggak kunci kembali?" Tanya Gerald yang sedang duduk senyaman nya sembari menyilangkan kakinya sembari melototi para anggota OSIS yang sudah berkumpul di hadapannya.



"Enggak ada yang ngaku?" Tanyanya kembali namun masih tidak mendapatkan respon apapun dari sekian banyaknya manusia di hadapannya itu.



"Pilih ngaku sekarang atau kucari sendiri," Ucapnya lagi bernada lembut namun penuh penekanan.



"Ya ya maap gua lupa." Ucap salah seorang cowok yang akhirnya mengakui kesalahannya.



"Cewe gua kemaren marah-marah suruh cepetan, mana ngancam pake bakal putus segala." Jelasnya sembari nyengir kuda



Brakk!!

__ADS_1


__ADS_2