
Sekarang, disinilah mereka berada, di ruang kesehatan serba putih yang di dipenuhi dengan berbagai jenis obat-obatan sebut saja Ruang UKS.
"Kamu enggak apa-apa?" Tanya Gerald memberikan segelas air ke Evan.
"A-aku baik." Jawabnya terbata-bata.
"Hah, kenapa nggak telpon aku." Ucap Gerald menghela napas berat, sembari mengambil kembali gelas dari tangan Evan kemudian menaruhnya di meja kecil samping ranjang tempat Evan sedang duduk setelah dibawa oleh Gerald.
"Maaf, aku tadi panik ge." Jelas Evan menunduk sambil memilas lengan bajunya yang panjang.
"Lain kali jangan gendong aku kayak tadi, cukup papah aku aja." Ucap Evan yang kemudian mendongak ke atas untuk bertatapan langsung dengan Gerald yang sedang berdiri di hadapannya.
"Aku nggak ada waktu buat papah kamu." Ucap Gerald merespon.
"Lagipula kalau pakai papah segala kelamaan, kamu juga nggak berat-berat amat." Jelas Gerald yang kini duduk di samping Evan di ranjang yang ada di UKS.
"Tapikan diliatin semua murid, aku gak mau nanti rumor itu semakin besar." Ucap Evan menjelaskan keadaan yang sedang menimpa mereka berdua kali ini. Rumor tentang Evan dan Gerald yang berpacaran, terdengar tidak masuk akal tapi entah bagaimana rumor itu bisa muncul, bagaimana bisa laki-laki berpacaran dengan laki-laki, itu salah satu pemikiran yang sangat bodoh bagi Evan.
"Aku nggak peduli, kamu tau kan kalau aku nggak bisa biarin kamu dalam keadaan seperti tadi lama-lama." Jelas Gerald yang lebih mementingkan kondisi Evan daripada rumor tersebut,lagipula menurutnya rumor tidak jelas itu tidak merugikannya.
Namun pemikiran Gerald salah, ia tidak memikirkan dampak apa yang terjadi kepada Evan setelah rumor bahwa mereka berpacaran. Memang tidak terjadi apapun dengan Gerald sebab tidak ada yang berani mencacinya dan kalaupun ada ia tidak akan tau sebab ia adalah ketua osis dan secara otomatis ia sangat sibuk mengurusi ini itu dan masa bodoh dengan pendapat orang lain yang menurutnya tidak akan merugikannya.
Tapi berbeda dengan Evan, sejak rumor jelek itu muncul ia tiba-tiba mulai di jauhi teman sekelasnya bahkan hal-hal buruk mulai terjadi, seperti mendapat cacian dari cewek yang menyukai Gerald bahkan mereka sudah mulai berani melewati batas, bukan hanya cacian yang Evan dapatkan tapi pembulian secara fisik juga mulai ia dapatkan.
Seperti yang terjadi seminggu yang lalu, dimana Evan dilempari telur oleh cewek-cewek yang menyukai sosok Gerald dan mereka murka setelah mendengar rumor kalau Evan dan Gerald berpacaran. Mereka terus-menerus menuduh Evan yang kecentilan hingga membuat Gerald belok, dan Gerald tidak tahu menahu soal kejadian itu sebab ia sibuk mengurusi keperluan MOS untuk adik-adik kelasnya.
Ia tidak memberitahukan kejadian itu pada Gerald sebab ia tidak mau menambah beban pikiran sahabatnya itu.
Sedikit info...
Gerald dan Devano adalah sahabat sejak mereka duduk di bangku kelas satu SMP. Evan dari dulu sudah mengidolakan sosok Gerald yang memiliki sifat tegas dan berwibawa, ia selalu berharap bahwa suatu saat ia akan bisa menjadi seperti Gerald.
Mereka mulai menjadi teman semenjak Evan yang tidak sengaja mengetahui kelemahan Gerald, yakni takut dengan hantu. Baginya sangat lucu setelah mengetahui Gerald yang tegas dan terlihat seperti tidak takut apapun rupanya takut dengan sosok gaib yang dijuluki hantu itu.
__ADS_1
*****
Baiklah mari kita flashback ke 5 tahun yang lalu, ketika Gerald dan Devano baru duduk di bangku kelas satu SMP dimana mereka di taruh dikelas yang sama.
Pada hari Senin itu adalah hari pertama dimulai nya MOS, dan mereka kali ini disuruh oleh kakak kelas untuk memperkenalkan diri sendiri di depan kelas tepatnya di hadapan murid-murid saat itu.
Berbagai jenis peragaan memperkenalkan diri sudah Evan lihat, dari yang mulai ketawa ketiwi padahal belum mengucapkan apapun, ada juga yang menjerit dan berteriak dengan lantang ketika memperkenalkan diri akibat grogi dan bahkan ada yang memperkenalkan diri sambil bernyanyi.
Dan kini adalah giliran Evan setelah namanya di panggil oleh kakak kelas untuk maju ke depan.
Ia sangat grogi saat itu, ia malu di tatapi oleh teman-teman kelasnya dengan tatapan penasaran, meski begitu Evan meyakini dirinya bahwa ia pasti bisa melakukannya dengan baik ketika ia secara tidak sengaja bertatapan langsung dengan idolanya yakni Gerald yang melihatnya dan kemudian meresponnya dengan mengepalkan tangannya sambil berkata ' Fighting' menyemangati nya.
"Na-nama saya De-de-de...." Ucapnya terbata-bata, padahal perkenalan itu kelihatan mudah kalau cuman di lihat tapi Evan salah, tenyata jika di peragakan emang sulit dan susah baginya.
"Hemm De apa?" Tanya Kakak kelas dengan nada penasaran padahal ia sudah tahu nama asli Evan.
"DEVANO REZA ANGGARA." Ucapnya tiba-tiba dengan lantang.
Kemudian tanpa sadar pipinya tiba-tiba memerah. Pipinya merona karena malu, karena kulitnya yang sangat putih turunan dari ibunya, membuat rona merah di pipinya terlihat jelas dan mungkin bisa dilihat oleh teman-temannya.
"Pipinya jadi tomat."
"Kawaii"
"Mukanya merah! Kok bisa?"
"Lucunya~" Ucap beberapa murid perempuan serempak.
Dan masih banyak lagi respon-respon positif dan terkejut dari teman-teman nya bahkan ada yang tidak percaya setelah melihat fenomena wajahnya yang awalnya putih pucat tiba-tiba memerah.
"Devano dari tadi kakak itu merhatiin kamu loh, kamu itu lucu banget tauk! Ihhhh gemesnya~" Ucap Kakak kelas itu yang sudah daritadi ingin mengunyel-unyel pipi Evan dan akhirnya kelepasan juga.
Evan yang tadinya grogi akhirnya tenang setelah di peluk-peluk dan di unyel-unyel kakak kelas itu, bahkan beberapa murid perempuan juga ikut bergabung mengunyel-unyel pipi nya.
__ADS_1
Bukannya risih di kerumuni banyak orang Evan malah semakin menjadi malu, pipinya mulai semakin merah hingga membuat seisi kelas ricuh seketika melihat perubahan di wajahnya, yang tadinya warna merah itu cuman ada di pipinya kini seluruh wajah dan telinga nya juga ikutan berwarna merah dan akhirnya murid laki-laki juga ada yang ikut melihatnya.
"Uohhh! Merah! Kayak tomat!" Teriak salah satu murid laki-laki.
"Bukan tomat tapi stoberi." Ucap salah satu murid laki-laki nyolot.
"Tomat lah." Ucap si A tidak mau kalah.
"Stoberi, stoberi lebih merah dari tomat." Jawab si B juga tidak mau kalah saing. Dan berujung mereka bersahut-sahutan beradu antara tomat dan stoberi dan menambah kericuhan di kelas.
"Buah naga nggak sih." Ucap Gerald yang tiba-tiba ikutan datang nyolot.
Seketika si A dan B bertatapan.
"Buah naga itu ungu bodoh." Ucap mereka berdua serempak.
"Heh iyakah? Kukira merah" Tanyanya sambil garuk-garuk kepala.
Akhirnya kelas sudah kembali tenang setelah salah satu guru dari kelas sebelah datang gara-gara kelas mereka yang kelewat ribut hingga terdengar sampai ke kelas sebelah.
Evan sudah duduk di bangkunya di barisan ke dua dari belakang. Namun tiba-tiba ia di pindahkan ke depan dan tepat berada di tengah atas perintah kakak kelas tersebut sebab semua mata selalu tertuju padanya bahkan yang duduk di belakang malah suka curi-curi pandang menghadap ke belakang melihat Evan dan akhirnya ia terpaksa pindah ke depan atas persetujuan hampir semua murid. Lagipula mereka lebih mudah melihat Evan kalau ia berada di depan dan tepat di tengah.
Perkenalan diri pun masih tetap berlanjut dan kini adalah giliran Gerald memperkenalkan dirinya. Semua perhatian mulai tertuju padanya apalagi dari murid perempuan, sejak Gerald ikut pendaftaran hingga awal-awal pemilihan kelas tatapan perhatian selalu tertuju padanya, seketika semua mata murid perempuan tertuju padanya saat itu.
Bagaimana tidak, wajahnya yang sudah tampan dengan rahang tegas,hidung mancung, bibir yang seksi, serta matanya yang berwarna coklat terang mampu menyihir perhatian semua orang.
"Hai semuanya, perkenalkan namaku Gerald Fauzan Aditama. Hobiku mendengarkan musik, musik yang paling kusuka itu musik klasik bergaya Eropa, aku juga suka main game dan nonton film. Salam kenal semuanya." Ucapnya memperkenalkan diri dan di akhiri dengan senyuman manisnya yang mampu melelehkan hati para perempuan di ruangan itu.
"Woe, katanya suka nonton film, nonton film 'Genderuwo the movie' nggak? Tanya tiba-tiba murid laki-laki.
"Nah iya, nonton nggak? Sayang loh kalau nggak tau." Timbal yang lain ikutan nyolot.
"Nonton dong, bahkan udah di adaptasi jadi game, main nggak?" Ucap Gerald balik bertanya.
__ADS_1
Seketika MOS yang harusnya memperkenalkan diri malah jadi tempat bercerita soal film dan game oleh Gerald dan murid laki-laki lainnya. Kakak kelas yang melihat kejadian itu hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka dan akhirnya memilih duduk di samping Evan sembari mengunyel-unyel adik kelasnya itu lagi.