
6
"Na, kas." Vien sebagai bendahara yang bertanggung jawab atas uang kas kelas.
"Oke, nih sekalian buat sebulan," kata Hanna sambil menyodorkan selembar uang Rp50.000.
"Van, kas! Lo udah ga bayar 1 bulan lebih loh. Gue ga mau tau, hari ini lo harus bayar!" Vien memang selalu jengkel dengan Revan. Ia selalu telat membayar uang kas. Padahal, Revan adalah seorang aktor cilik sejak Sekolah Dasar yang gajinya lebih dari cukup untuk membayar uang kas sebulan lebih.
"Besok ya, Vi... Uang gue pas buat jajan doang..." Revan selalu saja memiliki seribu alasan agar Revan tidak membayar hari itu juga.
"Eh, Na~ Uang kas lo kan sisa 10.000 tuh, buat gue yah?" Tawar Revan pada Hanna dengan wajah memelas.
"Gak, enak aja lo, mangkanya kalo di kasih uang jajan itu di tabung, buat bayar kas. Jadi gak perlu minta uang emak lo, kasian tau ga, lo udah mending-mending di rawat dari orok sampe sekarang.." Hanna selalu saja memberi nasehat pada Revan apabila Revan melakukan kesalahan, sudah seperti anaknya sendiri.
"Iyaa, besok-besok gue tabung deh uang jajannya, sekarang gue pinjem uang lo dulu ya?? Besok gue ganti deh," Revan memohon.
"Jangan besok-besok, kalo bisa mulai hari ini. Uangnya jangan di habisin buat jajan, harus belajar hemat lo tu. Yaudah 10.000 nya lo pake aja, gausah di ganti. Gantinya dengan cara lo nabung tiap hari, sisihin uang jajan lo." Jelas Hanna panjang lebar.
"Njih, Buk... Matur nuwun..." Jawab Revan mesem.
"Kalian tuh dah bener-bener kayak ibuk sama anak sumpah. Tapi bapaknya saha? Kaga ada bapaknya, cari bapak sono, Van. Kasian emak lo. Single parent, capek banget tuh ngerawat anak kaya lo." Nessie menyuruh Revan mencari sang 'bapak' yang belum di temukan.
"Aneh-aneh ae lu, klo gaada bapaknya mana bisa tu anak lahir. Anak gelap gitu? Neh aneh..." Terocos Hanna.
"Wah guys, ternyata Revan anak gelap, segelap daki lehernya Revan." Sambung Nessie.
"Cucu lo itu Ness, jan ngadi-ngadi." Tutur Hanna.
"Oh iya deng, lo kan anak gue, Na." Jawab Nessie mangut-mangut tanda setuju.
"Nah, kan. Kalo gitu, bapak gue siapa klo nyokapnya elo? Secara lo kan jomblo." Tanya Hanna pada Nessie.
"Ngejek banget sih kamu, ndhuk... Tapi kamu punya simbah loh ndhuk. Gimana kalo Raka jadi simbah kakung? Terus mbah putri nya Dina" Dina adalah sahabat sekat Raka ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Orang tua mereka juga sangat dekat seperti halnya Hanna dan Rendy.
"Eh, Van. Kayaknya lo udah dapet calon bapak deh. Yang mirip Mark Lee kemarin itu." Hanna mengingat kejadian kemarin saat ia bertemu 'mark lee kw' sambil mesem-mesem.
"Oke buk, tenang, anakmu ini akan mencari tahu tentang calon bapaknya sampe ke akar-akarnya. Untuk memastikan bahwa calon bapaknya itu orang yang pantas untuk ibuku tersayang." Jawab Revan panjang lebar dengan nada dan gaya angkuh.
"Utututu makasih ya anakku..." Hanna setuju sampai mengacungkan 2 jempol untuk Revan sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ibu anak sama-sama stress, untung temen," Batin semua murid yang ada di kelas.
__ADS_1
Kring... Kring... Kring...
"Serunya jamkos..., nyoto kuy!" Ajak Alfi pada teman-temannya.
"Skuy lah gaskeun!!" Jawab Nerin.
Lalu mereka ber-5 berjalan menuju kantin untuk membeli Soto Bu Nanik.
"Sini, gue aja yang pesen, siapa tau pas pesen ketemu Mark, wkwkwk. Soto 5, es teh 5, pake gorengan ga?" Tanya Hanna.
"Gue 1." Jawab mereka serempak.
"Shap, ditunggu ya qaqa..." Hanna berbicara ala-ala pelayan ramah, lalu segera memesan makanannya. Memesan makanan atau ketemu doi nih??😂
Beberapa menit kemudian...
"Silakan kaka-kaka sotonya... Selamat menikmati." Ucap Hanna masih dengan gaya bicara tadi.
"Gimana, Na? Ketemu sama mark-mark itu?" Tanya Vien sambil menggoda Hanna yang sepertinya tidak bertemu dengan calon gebetannya.
"Huftt, ga ketemu, semedi kalik ya di kelas?" Jawab Hanna tanpa semangat. Sedari tadi ia hanya mengaduk-aduk sotonya.
"Hahaha, dimakan, Na sotonya... Jangan di aduk mulu, ntar maag lu kambuh loh klo va makan, nanti bisa di cari mark nya. Ayok makan." Bujuk Alfi.
Setelah selesai makan, mereka lalu membayar soto,gorengan, dan es tehnya masing-masing. Mereka lalu segera balik ke kelas. Ketika di perjalanan...
"Eh Ness, Ness..., dia di depan kita!!" Bisik Hanna kepada Nessie sambil menyenggol lengan sahabatnya itu.
Ternyata si 'mark' dan temannya berjalan persis di depan Hanna dan Nessie.
"Eh, serius? Dia mark yang lo maksud? Ajak kenalan sono, di sapa. PDKT PDKT gitu lah..." Usul Nessie ngawur.
"Gak ah, lo aja, malu gue. Masa tiba-tiba ngajak PDKT, gila kali ah.."
"Aelah cuma kenalan doang, secara lo kan blm kenal, jadi maklum lah, gausah malu..." Bujuk Nessie pada Hanna agar teman baiknya yang 'pemalu' itu bisa leboh dekat dengan doinya.
"Gak gak... Besok kapan-kapan aja, di whatsapp, klo dah dapet nomernya." Hanna mengelak.
"Serah dah." Jawab Nessie pasrah.
__________
__ADS_1
"Ness, dia masuk kelas IPA-2 kelas sebelah kita!!" Hanna heboh.
"Hah?serius lo? Jadi, se angkatan dong? Anak kelas sebelah?" Tanya Nessie tak percaya.
"Iyaa, gue tadi ngikutin dia." Hanna meyakinkan Nessie.
"Vi... Lo kan punya temen di kelas sebelah kan? Mintain nomornya doi aing dong." Hanna memohon pada Vien.
"Aelah dasar bucin, ntar gue mintain. Emang namanya siapa?"
"Belom tau hehe" Hanna menjawab dengan cengegesan.
_-) -Vien
______
Hanna tiba di rumah hampir pukul 4 sore, karena ia harus hadir di rapat OSIS dadakan. Bundanya juga tidak di rumah, dikarenakan beliau ikut ayahnya ke Jakarta, alhasil ia harus pulang naik ojek online, padahal ia sedang ingin menghemat uang jajannya. Pengen nebeng Nessie tetapi ia naik sepeda. Kalau di suruh pulang bareng Reyhan, ntar malah dibawa ke basecamp sohibnya. Dan kalau suruh jemput Arka juga tidak memungkinkan, karena kakak pertamanya itu sangat sibuk dengan kuliahnya.
Hanna memasuki rumahnya yang terasa sangat sepi dan menyeramkan. Tetapi ia mencoba bersikap tidak peduli, ia segera menyalahkan seluruh lampu di rumahnya agar tidak tampak begitu seram, ia juga mengunci pintu depam, takutnya ada maling masuk dan Hanna tidak dengar. Ia naik tangga menuju kamarnya dan langsung merebahkan badannya karena ia merasa sangat lelah. Lalu ia segera mandi dan ganti baju, sekarang dirinya sudah fresh tidak selelah tadi.
Hanna mengambil ponselnya, membuka aplikasi hijau, tidak ada notifikasi. Ia lalu mematikan data, membuka YouTube, lalu menonton video Jurnalrisa edisi Jalan-jalan ke gunung kunci. Satu setengah jam lebih ia menonton akhirnya selesai juga.
Ting tong... Ting tong...
Tiba-tiba ada seseorang menekan bel rumahnya. Hanna terkejut, deg-degan. Keringat dingin muncul di pelipisnya. Hanna takut karena ia sedang dirumah seorang diri, apalagi ia habis menonton Jurnalrisa.
Hanna memberanikan diri untuk turun dan membukakan pintu. Saat ia sudah sampai persis di depan pintu, ia memutar kuncinya, lalu memutar knop pintu. Taraa..., tidak ada siapa-siapa. Ia menetralkan detakan jantungnya, mencoba untuk tidak berfikir negatif, mungkin hanya orang iseng. Saat ia membalikan badannya....
"DOR!!!!"
"ALLAHUAKBAR WALILLAHILHAMD" Hanna terkejut dan spontan menyebut nama tuhannya.
"HAHAHAHA, komuk banget muka lo, sampe nyebut lagi." Yaps, siapa lagi kalau bukan Reyhan, abangnya yang paling laknat itu.
"Kok lo bisa masuk ke dalem rumah?! Kan pintunya dah gue kunci!!" Tanya Hanna yang masih menahan keterkejutannya.
"Lo goblok apa sinting sih? Orang pintu belakang aja ga dikunci. Lo sih, pake kunci-kunci pintu depan segala. Di chat centang satu lagi. Yaudah gue lewat pintu belakang aja." Ucap Reyhan sambil mencoba menetralkan tawanya.
"Tetep aja lo ngeselin, eh btw, lo tadi mencet bel kaga?" Tanya Hanna heran.
"Engga tuh, gue chat elo, nunggu sebentar di depan rumah, terus kepikiran kalo pintu belakang ga di kunci. Gue langsung ke belakang aja. Emang kenapa?" Heran Reyhan.
__ADS_1
"Terus tadi siapa??..."
"AAAAAAAAA SETANNN!!!!!" Teriak mereka berdua, lalu berlari menuju kamar masing-masing.