
Dina masuk ke rumah dengan rasa lelah. Terlihat rumah yang berantakan,padahal pagi tadi semua sudah dirapikan. Terdengar pula tangisan Rani anak Dina yang berumur 2 tahun,menangis karena ingin susu. Namun itu semua tak membuat suaminya melangkah untuk bergerak dari tempat tidur. Seketika amarah Dina membuncah seperti gunung berapi yang mau meletus dan mengeluarkan lahar panas.
"Aku minta cerai,sekarang juga!" sambil menggendong Rani,air mata jatuh di pipi Dina. Kesedihan dan kemarahannya sudah tak tertahankan. Bertahun tahun lamanya harus terus menanggung beban berat sendirian. Dina sudah berada pada titik jenuh. Rumah tangga yang diharapkan bisa dijalani seiringan kini hanya meninggalkan sebuah ketimpangan. Dina sebenarnya sudah tidak kuat melanjutkan rumah tangganya. Segala beban terasa ditumpukkan dipunggungnya,dari mulai urusan rumah tangga hingga mencari cuan untuk bertahan hidup. Namun suaminya Hari,seolah tak peduli dan hanya hidup seperti benalu,bergantung pada istri dan tidak berguna.
"Sudah ku bilang aku tidak mau!"dengan tatapan nanar Hari menatap istrinya yang cantik namun terlihat tak terurus. Dulu karena kecantikan Dina yang seorang kembang desa,membuat Hari jatuh cinta dan kini merasa berat untuk mengabulkan keinginan istrinya yang sudah berkali kali meminta cerai.
"Ceraikan aku,Mas. Aku sudah lelah dengan kamu yang tidak pernah mengerti,dengan tangisan anak kita yang terus merengek meminta susu,dengan pekerjaan rumah yang tak pernah habis,ditambah pekerjaan mencari nafkah. Apa kamu tidak kasihan padaku?",Dina berujar dengan wajah seolah ingin menangis. Kembali menghadapi suaminya yang bebal tanpa rasa kasihan pada dirinya.
"Sudah ku bilang,aku tidak mau,apa kamu tidak mengerti perkataanku?" bentak Hari pada istrinya. Waktu tidur siangnya yang terganggu juga permintaan istrinya yang menginginkan perceraian membuat amarah Hari keluar secara spontan.
"Aku memang tidak mengerti,mengapa kamu menjadi seperti ini?jin apa yang merasukimu hingga kamu jadi pemalas? apa kamu tidak merasa kasihan pada Rani yang dari tadi menangis meminta susu?" Dina bertanya seolah ingin penjelasan agar dia mengerti dengan tingkah laku suaminya.
"Kalau begitu buatkanlah susu untuk Rani,mengapa kamu harus meminta cerai?" Hari seolah tak berdosa. Dia malah kembali menarik selimut yang tadi dilepaskannya.
Tangisan Rani semakin menjadi. Emosi Dina semakin tersulut.
"Susu Rani habis,popok sekali pakainya juga. Anak kita yang pertama juga akan pergi jalan jalan dari sekolahnya. Beras habis,lauk pauk tidak ada,gas juga kosong. Kamu masih mau tidur?Kalau kamu tidak mau kehilangan kami,berusahalah lebih keras lagi,jangan hanya diam,kerjanya hanya nonton tv,tidur,makan. Apa Mas tidak tahu itu semua butuh uang?"dengan penuh emosi Dina membeberkan semua kebutuhan rumah tangga yang menunggu untuk dipenuhi.
__ADS_1
"Terus uang dari kuli mencuci dan menggosok kamu belikan apa?" Hari berdiri seolah mempertanyakan kerja keras istrinya yang dari pagi pergi bekerja mencuci dan menggosok di rumah tetangganya dan baru datang ketika sore.
"Ku bayarkan untuk membayar semua hutang kita,demi bertahan hidup. Apa kamu tidak tahu beras yang ku masak adalah hasil menghutang di warung?gas yang sudah habis juga belum ku bayar,sekarang susu Rani juga sudah habis. Sedangkan kamu enak enakan tidur siang dengan nyenyak,mau makan tinggal ambil tanpa pusing memikirkan bagaimana mendapatkannya. Kenapa kamu sulit melepaskan aku?apa karena kamu ingin terus menjadikanku sapi perah yang terus melayanimu tanpa perlu kamu bayar?istri juga butuh dinafkahi karena memang sudah kewajiban suami. Apa kamu tidak mengerti?"Dina berbicara panjang lebar,namun tak sedikitpun didengarkan oleh Hari. Dia malah tertidur dengan berselimutkan selimut hangat.
Hujan ditemani kilat dan petir mewarnai pembicaraan mereka. Semakin deras terdengar seperti air mata Dina yang seolah tak bisa berhenti. Suami yang dia miliki seperti sudah mati. Tak sedikitpun Hari menghargai Dina. Dina menurunkan Rani dari gendongannya. Dengan cepat dia mengambil koper dan memasukkan baju bajunya yang jelek yang sudah bertahun tahun dipakainya. Tangisan Rani dan hujan bersama sama bersahutan mengisi hari itu. Dia sudah tidak kuat dan berniat untuk pergi dari rumah ini.
Mendengar suara lemari dibuka,Hari membuka mata. Dia sebenarnya tidak tidur,itu dia lakukan agar Dina tidak terus meminta cerai dan banyak bicara.
"Kamu mau pergi ke mana?" Hari tahu istrinya mau pergi dari rumah,tapi tetap saja dia bertanya. Hari tidak ingin menceraikan istrinya,karena selain cantik juga karena Dina adalah istri pekerja keras. Dia mengandalkan Dina dan seketika merasa nyaman untuk terus diam dan hanya melihat istrinya pontang panting banting tulang untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya juga ibunya.
"Aku mau pergi dari sini!" Dina seraya terus memasukkan bajunya.
Ketika Dina ingin memasukkan baju Rani,Hari menghalanginya.
"Jangan halangi aku!" Rani mendorong Hari. Namun Hari tak bergeming sedikitpun.
"Kalau mau pergi jangan bawa Rani dan Abang. Biar mereka ku urus sendiri," Hari tahu kelemahan Dina adalah anak anak mereka,jadi dia sengaja menahan Dina agar tidak pergi.
__ADS_1
"Ha...ha....ha...kamu mau mengurus mereka?apa kamu sanggup memberi mereka makan dan memenuhi semua kebutuhan mereka?sedangkan selama ini aku yang menanggung hidupmu,"Dina tertawa disela tangisannya. Merasa lucu dan kesal dalam waktu bersamaan. Kembali Dina mendorong Hari dengan paksa tapi malah Dina yang terdorong dan terjatuh.
"Sekarang sedang hujan,apa kamu tega mereka basah kuyup kehujanan?" Hari seolah memedulikan anak anaknya,padahal itu semua adalah cara agar Dina tetap tinggal di rumah ini.
"Sejak kapan kamu peduli pada mereka?" Dina bangun dan mencoba menyingkirkan Hari lagi. Tapi badannya yang lemas karena kelelahan dan belum makan melawan tenaga suaminya yang seorang lelaki membuat Dina kembali terpental dan terjatuh ke belakang.
Hari menggendong Rani dengan segera. Anak yang menangis meminta susu kini meronta ingin dipeluk ibunya.
"Berikan Rani padaku!jangan coba coba mengambilnya dariku," teriakan Dina berlomba dengan petir yang semakin keras menembus bumi.
"Tidak,kalau kamu mau pergi,pergilah sendiri. Jangan bawa anak anak!"Hari ingin melihat sejauh mana Dina bisa bertahan. Dia tidak akan bisa pergi jika tidak dengan anak anak. Kalaupun sampai pergi pasti dia akan kembali,pikir Hari.
"Tidak,aku akan membawa anakku!Rani ayo pergi bersama Mama!" Dina menarik Rani dari gendongan Hari. Tapi Hari menghindar dan pergi keluar kamar. Dina mengejar Hari.
Rupanya suami Dina membuka pintu seolah mengusirnya.
"Pergilah jika kamu ingin pergi!"Hari ingin menguji Dina. Dia ingin tahu apakah Dina akan bersikukuh atau berlutut meminta maaf dan memohon untuk tetap bersama anaknya.
__ADS_1
Dina menatap ke luar. Terlihat kilat dengan cahayanya yang selintas,diikuti sahutan petir yang menggema menambah galau hati Dina. Antara pergi dan tetap tinggal di sini,jalan mana yang harus dia ambil?Dina bimbang,jika pergi sendiri,dia akan bebas tapi bagaimana dengan anak anaknya?jika tetap tinggal dia akan bersama anak anaknya,tapi hidupnya akan terus seperti ini,tak akan ada kemajuan,yang ada dia akan terus menderita.