
Dina akhirnya memutuskan untuk tidak meninggalkan rumah ini. Walau hatinya terpikat melihat pintu terbuka yang seolah melambai-lambai menjanjikan kebebasan,namun kakinya seolah tertancap dan tak bisa bergerak melihat tangisan anaknya.
"Kenapa kamu diam saja,bukannya kamu ingin pergi?" Hari seolah mengolok olok Dina. Hari merasa menang karena Dina sudah kembali dalam genggamannya.
Dina terdiam,matanya penuh dengan air mata.
Aku akan keluar dari tempat ini bersama anak anaku,tekad Dina dalam hati.
7 tahun yang lalu.....
Seorang lelaki tampan bernama Hari Permana,terlihat lewat ke depan rumah Dina sambil mengendarai mobil. Dia bermaksud mencari tempat untuk parkir dan akhirnya menemukan sebuah lapang,tidak jauh dari rumah Dina. Hari dan Dina memang sudah berpacaran selama 3 bulan. Selama mereka pacaran,Hari selalu membawa mobil mewah dan membawa buah tangan yang banyak untuk keluarga Dina.
"Dina,mana pacarmu yang ganteng itu?" Ibu bertanya pada Dina.
"Dia sedang parkir,Bu!" jawab Dina penuh rasa bahagia.
"Padahal lelaki yang kemarin melamarmu itu adalah seorang pengusaha yang sudah memiliki rumah,rajin ke masjid. Kenapa kamu tolak?" Bu Ani mempertanyakan penolakan anaknya.
Dengan malu malu Dina menjawab,"Lelaki itu kurang tampan,Dina tidak suka."
"Tampan itu memang adalah salah satu kriteria yang bisa kamu masukan sebagai syarat untuk memilih calon suami,tapi kesholehan dan kemapanan juga lebih penting dari hanya tampan saja."
"Hari juga punya mobil dan selalu membawakan makanan yang banyak ke rumah kita,pasti dia punya pekerjaan,Bu. Lagipula dia selalu mengingatkan Dina untuk shalat lima waktu," Dina membela Hari.
"Terus kamu tahu pekerjaan Hari?".
"Dina tidak enak kalau harus bertanya tentang pekerjaannya,takut tersinggung. Dina hanya melihat setiap dia kemari pasti membawa mobil dan makanan. Kalau Hari pengangguran mana mungkin dia seperti itu".
"Ya sudah,Mama hanya ingin kamu bisa memikirkan baik baik tiap calon yang akan menjadi suamimu,supaya kamu tidak salah memilih. Rumah tangga itu tidak seperti yang kita lihat ketika pacaran,nanti akan terlihat watak juga perilaku yang sebenarnya dari pasangan kita,mudah mudahan kamu mendapatkan lelaki soleh yang bertanggung jawab pada keluarga serta memiliki pekerjaan yang bagus," mengalir do'a ibu untuk anaknya.
"Aamiin,terimakasih untuk do'anya,Bu,"Dina sambil memeluk Ibunya.
__ADS_1
Dina adalah bunga desa di kampungnya. Cantik,ceria dan baik. Sebelum ayahnya meninggal ketika Dina SMP,kehidupan Dina bersama ibunya sangat berkecukupan. Tapi setelah ayahnya meninggal,hidupnya mulai terasa sulit. Ibu Dina hanya seorang guru honorer yang berpuluh tahun mengabdi tapi belum diangkat menjadi pegawai tetap. Dina akhirnya putus sekolah dan tidak bisa melanjutkan sekolah ke SMA karena ibunya jatuh sakit.
Hari sudah ada di depan rumah,Dina dan ibunya segera mempersilahkannya untuk masuk.
"Mau teh atau kopi,Mas?" Dina bertanya sebelum membuat minuman.
"Teh saja,"Hari dengan wajah tersenyum.
Dina langsung ke dapur dan membuatkan teh untuk Hari. Bu Ani menemani Hari di ruang tamu.
"Parkir mobilnya sebelah mana?" Bu Ani membuka percakapan.
"Di lapang sebelah sana,saya sampai muter muter."
"Nak Hari sedang libur bekerja?",Bu Ani mencoba mencari tahu lebih dalam.
"Oh,iya,kebetulan hari ini saya sedang libur,kalau di Bank hari sabtu libur," ujar Hari.
"Oh,Nak Hari bekerja di Bank,bagian apanya?kasir?."
"Oh,itu tugasnya apa ya?."
Hari belum sempat menjawab. Dina tiba tiba datang dari dapur dengan membawa nampan berisi air teh. Lalu disimpannya air teh itu di atas meja.
"Ibu mau istirahat dulu,masih sedikit pusing," Bu Ani undur diri,agar Ani dan Hadi bisa mengobrol.
"Ibu masih pusing?" Dina khawatir.
"Oh,sedikit saja,diistirahatkan juga sembuh. Ibu ke kamar dulu ya," Bu Ani sembari pergi ke kamar dengan sengaja untuk memberi ruang untuk mereka berbicara.
Tinggalah Hari dan Dina berdua. Mereka mengobrol tentang diri mereka masing masing dan juga kejelasan hubung mereka ke depan. Di akhir percakapan,tanpa basa basi lagi,Hari langsung melamar Dina.
__ADS_1
"Maukah kamu menikah denganku,Dina?" ucap Hari penuh harap.
Wajah Dina berubah memerah,dia menjawab dengan malu malu,"Iya,saya mau."
Malam itu adalah malam yang terindah bagi Dina. Pujaan hatinya melamarnya. Serasa dunia ini milik berdua. Rumah tangga yang indah dengan anak anak yang lucu sudah terbayang di pikiran Dina.
"Ini seperti mimpi",gumam Dina dalam hati. Dia membayangkan Hari adalah pangeran tampan yang akan membawanya mengarungi lautan rumah tangga,dengan menaiki kapal yang indah dan berakhir di istana yang megah.
Setelah beberapa bulan,akhirnya Dina dan Hari menikah.
"Saya terima nikahnya Dina Haerani binti Saleh dengan mas kawin seperangkat alat shalat dan emas 10 gr dibayar tunai."
Penghulu bertanya kepada saksi,"sah?".
"Sah",jawab para saksi.
Merekapun sah menjadi sepasang suami istri. Masa masa awal pernikahan begitu indah. Kata kata menempuh hidup baru adalah kata yang benar,karena hidup setelah berumah tangga adalah hidup baru yang tidak pernah terbayangkan ketika Dina masih gadis. Sebulan setelah mereka menikah Dina langsung hamil anak pertama. Namun semua kebahagiaan itu harus diwarnai dengan kesedihan,Bu Ani,Ibu Dina meninggal dunia. Kedua orang tua Dina telah pergi menghadap ilahi dan suaminyalah yang menjadi harapan dalam hidupnya.
"Hidupku bertumpu padamu. Jadilah imamku yang bertanggung jawab," harap Dina dalam hati ketika ibunya meninggal.
5 bulan setelah pernikahan......
Di siang bolong yang panas. Tak ada petir dan hujan. Tapi Dina serasa mendengar petir dari suaminya Hari,setelah dia menyampaikan sesuatu.
"Dina,Mas hari mau keluar kerja,cape banyak tekanan dari bos juga teman teman sekantor,"Hari mengatakan itu dengan santai.
"Tapi Mas,sebentar lagi kan kita mau punya anak,dari mana biaya untuk lahiran,peralatan bayi juga nanti syukuran anak kita?" Dina tidak setuju dengan apa yang akan dilakukan suaminya.
"Tenang,nanti Mas cari pekerjaan yang gajinya lebih besar,Mas mau berhenti kerja selain karena tekanan, juga gajinya kurang besar,seorang sarjana seperti Mas harusnya gajinya lebih tinggi dari yang sekarang," ucap Hari dengan nada sombong.
"Berapapun yang kita dapat harus kita syukuri,Mas. Kalau memang bisa mendapatkan gaji yang lebih ya kenapa tidak. Tapi kalau bisa,cari dulu pekerjaan yang lain,kalau sudah pasti baru keluar kerja," Dina memberi saran.
__ADS_1
"Pasti banyak yang butuh orang seperti Mas,kamu tidak usah khawatir,sayang," Hari terlalu percaya diri.
Haripun keluar dari tempat kerja tanpa pesangon,hanya dibayar sebesar gaji 4 bulan. Uang itu akhirnya habis dipakai hidup sehari hari. Dari sinilah penderitaan bermula. Kerja tak kunjung didapatkan,malah yang ada Hari jadi malas mencari pekerjaan. Biaya persalinan juga di bayar dari uang mahar ketika menikah. Dina merasa hidupnya tak seindah angan angannya dahulu. Dan hal yang baru Dina ketahui setelah menikah adalah mobil yang dulu sering dibawanya ketika berpacaran adalah mobil sewaan agar Dina dan keluarganya luluh dan mau menerima Hari.