Suami Yang Malas Mencari Nafkah

Suami Yang Malas Mencari Nafkah
Hidup yang Keras


__ADS_3

Pagi menjelang. Suara kokokan ayam membangunkan mimpi indah Dina. Ya,mimpinya memang indah,tak seindah kenyataan yang ada di depan matanya. Suara dengkuran suami Dina terdengar memecah keheningan di subuh hari. Setelah shalat Dina pergi ke dapur untuk memasak. Tapi hanya ada beras setengah liter tanpa lauk pauk. Tanpa banyak berpikir,Dina langsung membuat bubur.


Semua anggota keluarga telah bangun. Dina memberikan masing masing seporsi bubur tanpa ayam,hanya ada kerupuk sisa kemarin yang dibeli oleh Dina.


"Sarapannya kok bubur?" suami Dina protes.


Dina tak sedikitpun menjawab. Dia tidak ingin,pagi hari ini dimulai dengan pertengkaran.


"Jawab,Dina. Kamu ditanya suami diam saja,mengapa hari ini sarapannya bubur?aku tidak sakit,jadi jangan diberi bubur," suami Dina sembari melempar piring berisi bubur ke lantai.


Kembali Dina hanya diam. Dia tak sedikitpun marah atau mengoceh hari ini. Suaminya merasa aneh.


"Kamu sakit?".


Dina tidak menjawab,dia langsung membereskan bubur yang berantakan di lantai. Seperti patung,Dina tak berkata sedikitpun.


"Mana nasi punyaku!" suaminya membentak Dina.


Mertuanya keluar dari kamar.


"Hari ini sarapan bubur,kok tidak ada ayamnya?ibu mau ada ayamnya Dina!" Bu Yeni merengek seperti anak kecil. Tapi tak sedikitpun dijawab oleh Dina. Dina sudah merasa lelah. Tidak ada orang yang memikirkan tentang mencari uang untuk memenuhi kebutuhan,hanya meminta dan meminta.


Mata Bu Yeni dan Hari berpandangan,seraya memberi kode menanyakan tentang diamnya Dina. Tapi dasar batu,dua duanya terus merengek ingin sesuatu seperti yang mereka mau.


"Dina,ambilkan nasi dan lauknya untukku!" ujar Hari dengan berteriak.


"Buburnya pakai ayam,Dina,Ibu mau yang pakai ayam,biar enak!" ucap Bu Yeni.


Dina tidak bergeming. Dia diam dan terus menyuapi kedua anaknya.


Karena tak digubris,Hari menarik tangan Dina dan membawa Dina ke dapur.


"Mana nasi untukku Dina?" Hari bertanya lagi.


Dina seperti robot,tidak menjawab,malah ingin kembali ke ruang depan dimana orang orang berkumpul.


Suaminya lama lama merasa jengkel. Dia menarik badan Dina,menempelkan punggungnya ke tembok dan mengunci leher Dina dengan tangan kirinya.

__ADS_1


"Apa kamu sudah tuli,aku mau makan nasi," Hari terlihat penuh emosi karena tidak ditanggapi.


Dina menatap tajam suaminya,sambil berkata,"cari sendiri!" Dina berusaha melepas tangan suaminya tapi tak bisa karena kalah tenaga.


"Dina,jangan coba melawan," Hari membalas tatapan Dina,mencoba membuat Dina mengalah.


Akhirnya Dina diam kembali,tak melawan. Padahal tangan kiri itu seolah menghalangi pernapasannya. Dia seperti mayat hidup yang sudah pasrah. Suaminya sudah benar benar berubah, dulu tak pernah sedikitpun Dina diperlakukan seperti ini. Namun hidup mengubahnya. Dina juga sudah berubah, tak lagi seceria dan sepenurut dahulu. Jiwa memberontaknya muncul sebagai rasa kesal yang tak pernah berujung. Dan karena tak berujung akhirnya menyisakan sesak yang membuatnya lelah dan hanya bisa diam. Tak terasa lelehan air mata mengalir di pipinya.


Hari menatap wajah istrinya yang cantik dipenuhi bintik hitam karena kurang perawatan. Kini wajah itu dihiasi lelehan airmata kesedihan. Melihat itu Hari tak tega,kemudian dia melepaskan tangannya dan membiarkan Dina pergi.


Itulah bentuk kekecewaan Dina,tak ada kata bahagia untuknya setelah suaminya yang bertanggung jawab mati dan berganti menjadi suami malas yang menjengkelkan. Dina tidak perduli,suaminya mau makan bubur itu atau tidak. Kalau tidak mau,berarti hari ini Hari tidak akan makan,terkecuali dia mencari sendiri.


Bu Yeni yang dari tadi merengek,akhirnya makan bubur tanpa ayam dengan wajah cemberut. Sambil mengusap air mata,Dina tertawa dalam hati,dia senang melihat dua orang ini tak mendapatkan apa yang mereka mau. Dina ingin mereka berpikir dan menghargai apa yang ada. Kalau mau lebih ya bekerja,kalau tidak ya pilih apa yang ada. Apa yang kita usahakan itu yang akan kita dapatkan.


Suami Dina tidak makan,karena bubur yang Dina berikan ditumpahkannya. Hari merasa harus punya strategi untuk mendapatkan uang dari istrinya. Dia merasakan perutnya mulai bersuara tanda merasa lapar. Tapi hari dengan sabar menunggu istrinya beres kuli mencuci di rumah tetangganya pagi ini.


Rani kembali pada anak anaknya setelah mengusap air matanya. Seolah tak terjadi apapun dia memasang wajah ceria di hadapan mereka.


"Abang sama Rani,mandi dulu ya,"Dina dengan senyuman membawa kedua anaknya ke kamar mandi.


Setelah memandikan kedua anaknya,Dina memakaikan seragam pada anak pertamanya dan bersiap siap untuk mengantarkannya pergi ke sekolah.


"Wih,Abang ganteng sekali!" Dina dengan ekspresi kaget,berusaha tegar seolah tidak terjadi apa apa.


"Rani juga tatik!" Rani tidak ingin kalah.


"Iya,Rani juga cuaaantik!" Dina penuh senyum.


Kebahagiaan Dina ada pada anak anaknya. Dia bertekad tidak ingin anaknya menderita sedikitpun dan kekurangan apapun,meski mereka serba kekurangan.


Dina dan kedua anaknya pergi ke Taman Kanak kanak tempat anak pertamanya bersekolah.


Di sekolah Dina bertemu dengan Noni.


"Din,sini!" Noni melambaikan tangannya.


Dina segera menghampiri Noni.

__ADS_1


"Bu gurunya belum datang?" tanya Dina.


"Iya,sebentar lagi mungkin,"jawab Noni.


"Hari ini beras tinggal sedikit,makanya ku buat bubur. Mas Hari menumpahkan bubur itu dengan sengaja, karena tak ingin makan bubur. Aku tidak banyak bicara dan mungkin itu solusi yang baik untukku,biar tidak stres karena terus harus marah," curhat Dina pada sahabatnya.


"Sekali sekali memang harus begitu,jangan mau enaknya saja,tapi tak mau berusaha," Noni ikut jengkel.


"Non,untuk uang manasik,ambil dari tabunganku saja ya,tapi jangan bilang bilang Mas Hari sama mertuaku,nanti yang ada uangku ludes. Aku akan bilang kalau uang itu ku pinjam darimu ya."


"Ok!" Noni mengacungkan jari jempolnya.


Noni adalah sahabat Dina dari kecil,dia satu sekolah dengannya. Semua tentang kelakuan suami dan ibu mertua Dina sudah diketahuinya,makanya dia juga ikut jengkel dan menyarankan Dina untuk menyimpan sebagian hasil kuli mencuci dan menabungkannya di sekolah atas nama Noni,agar aman tidak diganggu oleh Suami Dina maupun mertuanya. Dina juga memiliki harapan dari tabungan itu,selain untuk memenuhi keperluan anaknya,juga untuk modal usaha. Kelak jika Dina bercerai dengan suaminya,dia ingin usaha sendiri.


Setelah mengantar anaknya ke sekolah, dan menitipkan anaknya ke mertuanya, Dina kembali bekerja di rumah tetangganya. Setiap hari jadwal Dina sangat padat,pagi ini saja jadwal mencuci di dua tempat dan di satu tempat lagi menyetrika. Hidup memang keras dirasakan oleh Dina,mencuci baju sendiri saja capenya luar biasa,apalagi mencuci baju orang lain sampai dua kali plus menyetrika lagi, tapi bedanya Dina dapat upah dari pekerjaannya jika dia mencuci untuk orang lain. Badan Dina pun tak segemuk waktu gadis,kini badannya kurus tak terurus. Wajah cantiknya mulai memudar,seiring make up yang tak terbeli. Bunga desa yang telah layu karena kurang dirawat pemiliknya dengan tanggung jawab dan disiram air kesejahteran.


"Mana cuciannya,Bu?" Dina bertanya pada yang punya rumah.


"Ini belum di ambil," ibu itu sambil mengambil setumpuk cucian kotor dari dalam rumah, yang ternyata menggunung ketika disimpan di bak. Walau terlihat mengerikan,tapi harus Dina hadapi. Dina berpikir,kalau terus mengeluh dia tidak akan dapat uang. Dengan semangat Dina mengalirkan air untuk merendam baju kotor itu.


Suami Dina ternyata mengikuti Dina dari belakang. Dia berniat untuk mengambil uang hasil kerja istrinya untuk dibelikan nasi uduk.


Kurang lebih dua jam setengah Dina berada di tempat itu. Dia akhirnya selesai menjemur pakaian yang terakhir. Mungkin yang punya rumah belum mencuci selama seminggu makanya cuciannya segunung,terlihat tempat jemuran seperti lapak tukang pakaian di pasar,semua berjajar dengan rapi.


Suami Dina makin gelisah,karena Dina tak kunjung keluar,lain kali dia akan menunggu di rumah biar tidak bosan,pikirnya.


Tugas yang pertama,selesai. Dina langsung dibayar atas kerja kerasnya. Uang


40 ribu sudah di tangannya. Dina tidak pernah mematok harga,semua dia serahkan pada orang yang mempekerjakannya. Saat Dina keluar rumah,Dina kaget karena suaminya sudah muncul di depannya.


"Mana uangnya?" Hari sambil merebut uang yang ada di tangan istrinya.


"Jangan,Mas,ini untuk beli beras," Dina merebut kembali uang itu dari tangan suaminya. Terjadi perebutan uang antara Hari dan Dina,dan tanpa sengaja uang itu terbelah menjadi dua.


"Mas Hari, uangnya jadi sobek," Dina sembari membuka tangan berisi potongan uang 20 ribu. Dengan segera Hari mengambil sobekan yang ada di tangan Dina dan langsung kabur.


"Mas Hari!" Dina sambil berteriak.

__ADS_1


__ADS_2