
Kejadian tadi cukup membuat Dina Syok Suaminya mencuri uang istrinya sendiri.Sebenarnya uang itu ingin dibelikan beras dan lauk hari ini,tapi direbut paksa oleh suaminya. Dengan menarik napas panjang,akhirnya Dina mau tak mau harus merelakannya,walaupun dipenuhi rasa kecewa. Dina melangkah pergi menuju ke tempat kedua. Disana sudah disiapkan setumpuk cucian,namun yang ini sudah direndam dan Dina tinggal menguceknya satu persatu dan terakhir membilasnya untuk membersihkan. Dengan sabar Dina mengerjakan pekerjaannya selangkah demi selangkah. Setelah beberapa jam berlalu,Dina menyelesaikan pekerjaan yang kedua.
"Sudah selesai dijemur semua,Bu!" Dina memberitahu pemilik baju.
"Oh,iya ini upah untuk hari ini," dia memberikan uang 35 rb. Dina menerimanya dan langsung menuju warung Bu Inah.
"Bu Inah, beli beras 1 kg,tahu,tempe dan sisanya bawang merah," Dina berdiri di depan warung.
"Dina,suami dan mertuamu sering berhutang disini. Ini rincian hutangnya," Bu Inah sambil memberikan selembar kertas.
Tertulis hutang sebesar satu juta lebih. Dina sampai kaget.
"Ini satu juta bukan,Bu?" Dina tak percaya dan terus melihat kertas yang ada di tangannya.
"Iya,satu juta seratus ribu," jawab Bu Inah.
"Apa saja yang mereka ambil?".
"Makanan,minuman dan rokok," Bu Inah menjelaskan.
"Maaf,saya baru tahu kalau mereka berhutang pada,Bu Inah," Dina merasa tidak enak pada Bu Inah.
"Iya,mereka sering sekali mengambil barang dan berkata kalau kamu yang akan membayarnya."
"Kalau begitu,lain kali jangan diberi lagi ya,Bu,saya juga jadi bingung untuk membayarnya."
Pikiran Dina makin ruwet,belum selesai masalah di rumah,mereka malah mencari masalah diluar.
Dina segera membayar belanjaannya dan pulang untuk memasak. Dengan rasa dongkol Dina berjalan menuju rumah. Dina akan bertanya pada suami dan mertuanya tentang hutang itu.
Sampai di rumah,terlihat Hari sedang merokok sambil menonton tv dengan posisi santai. Mertuanya tidak ada sepertinya keluar mengajak Rani bermain.
"Mas,ini maksudnya apa?" Dina sambil memperlihatkan sebuah kertas.
Suami Dina langsung mengambil dan melihatnya.
"Apa ini?" Hari balik bertanya.
"Itu hutang Mas sama Ibu di warung Bu Inah. Mengapa bisa sampai satu juta lebih?"
"Tentu saja,aku butuh cemilan dan rokok,apa kamu tidak kasihan pada suamimu?" Mas Hari memosisikan diri seolah korban,padahal Dinalah yang menjadi korban.
"Apa Mas Hari juga tidak kasihan padaku?aku bekerja membanting tulang demi kita semua dan Mas Malah enak enakan makan cemilan yang belum dibayar?" napas Dina seolah semakin sesak dengan rasa kesal.
Hari diam tak menjawab.
"Aku ini tulang rusuk bukan tulang punggung,Mas. Kalau tulang rusuk dijadikan tulang punggung maka akan bengkok," Dina terus mengeluarkan unek unek yang ada dalam hatinya.
Hari masih terdiam tak mengeluarkan sepatah katapun.
"Aku ingin bertanya pada Mas,apa yang membuat Mas Hari tidak mau bekerja?" Dina mulai menurunkan emosinya. Mungkin saja ada celah untuk suaminya mengerti.
"Tidak ada pekerjaan yang cocok untukku," jawab Hari dengan singkat.
"Terus,pekerjaan yang cocok untuk Mas Yang seperti apa?" Dina dengan sabar menghadapi suaminya.
"Pekerjaan yang gajinya banyak,kerjanya santai dan teman teman kantor yang menyenangkan," Hari sambil mengunyah kacang dan membuangnya sembarangan.
"Terus sudah mencari yang seperti Mas inginkan?" Dina menahan diri untuk tidak marah melihat Hari buang sampah sembarangan.
__ADS_1
"Sudah,tapi belum dapat panggilan," Hari sambil merokok.
"Mas Hari dan ibu sekarang berhutang,saya angkat tangan dan tidak bisa membayarnya. Terus Mas Hari akan berbuat apa?"
"Mas akan menunggu kamu untuk membayarnya"
"Kalau saya tidak membayarnya?"
"Ya sudah,Mas juga tidak akan membayarnya," Hari tanpa ekspresi.
Dina tak habis pikir,apa yang sebenarnya ada dalam pikiran suaminya. Semua yang dilakukan suaminya tak bisa dipahami olehnya.
"Memang melelahkan mengobrol baik baik dengan orang seperti Mas Hari,berpendidikan tapi seperti tidak berpendidikan," Dina kesal karena suaminya tak mau mengerti.
"Apa katamu?aku bukan orang yang berpendidikan?aku itu sarjana,sedangkan kamu hanya lulusan SMP," Hari menyombongkan diri.
"Terus,untuk apa titel sarjana itu kalau tidak menghasilkan dan tidak berguna?" dengan lantang Dina berkata pada suaminya.
Kesombongan suaminya membuat Dina merasa terhinakan. Apapun yang dibanggakan suaminya tetap bernilai nol jika tidak memiliki manfaat. Di mata Dina suami yang bertanggung jawab walaupun tidak bersekolah lebih berharga dibanding sarjana yang malas bekerja.
Dina sudah nekad,apapun yang dikatakan suaminya akan dia lawan. Kalaupun Hari menceraikannya,itu lebih bagus.Dari dulu memang itu yang Dina inginkan.
"Apa?aku tidak berguna?" Hari sambil melayangkan tangannya untuk menampar.
"Tampar saja!memang Mas itu bisanya cuma diam tanpa mau berusaha. Untuk apa aku punya suami kalau sama saja seperti janda."
Hari menahan tangannya untuk menampar pipi istrinya. Walaupun Dina membuatnya marah tapi Hari mencoba untuk tidak melakukan kekerasan. Dengan kesal dia segera pergi dengan membawa rokok dan korek ditangannya.
Hati Dina terus terluka. Rasanya berat untuk melanjutkan pernikahan ini. Cukup lama Dina bersabar,tapi semakin Dina ingin lepas semakin Hari mencengkramnya dengan kuat.
" Apa lagi yang harus ku lakukan untuk menyadarkanmu,Mas." jeritan hati Dina.
Dengan hati yang runyam,Dina segera pergi ke dapur untuk memasak. Dari luar suara anaknya memanggil sudah terdengar.
"Abang diantar Bu Noni?" tanya Dina.
"Iya,tuh Bu Noninya lagi di luar," Abang sambil menunjuk keluar.
Dina segera pergi keluar. Ternyata Noni sedang mengobrol dengan tetangga Dina.
"Noni,terimakasih banyak ya sudah mengantarkan Abang ke sini,tadi katanya main dulu ke rumahmu ya."
"Iya,Abang mau main sama Egi katanya,makanya diajak ke rumah. Aku pulang dulu ya,mau masak,lapar," Noni pamit pulang.
"Ok!" Dina masuk ke rumah.
Dina merasa segala rasa lelah,kesal dan penat seketika hilang setelah melihat anak anaknya. Mereka pengobat dari segala kegundahan di hati. Seperti bumi yang terkena sinar matahari,hati Dina bisa sedikit merasakan terang.
"Abang mau makan?" tanya Dina.
"Abang sudah makan di rumah Egi tadi," jawab Abang.
"Oh,diberi makan juga sama Bu Noni?"
"Iya"
"Sudah bilang terimakasih belum?" Dina sambil memasak nasi.
"Sudah".
__ADS_1
"Bagus" Dina seraya mengangkat jempolnya.
Mertua Dina masuk ke rumah dengan membawa Rani yang menangis.
"kenapa Rani menangis,Bu?" Dina bertanya.
"Rani mau minum susu,sudah beli belum susunya?" tanya Bu Yeni.
"Susunya belum beli,Bu," Dina tanpa senyum.
Tangisan Rani makin kencang.
"Beli susunya besok ya!" Dina merayu Rani.
Tapi Rani malah berguling guling di lantai
"Mimi....mimi...."
"Bukannya beli susu dari kemarin," Bu Yeni terus menggerutu.
Dengan kesal Dina berkata,"Uangnya tidak ada,Bu,tadi juga malah diambil sama anak ibu."
"Wajarlah,suamimu cuma dikasih bubur,ya dia ambil lagi untuk beli makanan enak yang membuatnya berselera untuk makan," Bu Yeni membela anaknya.
Yeni tidak berkomentar,ia hanya fokus pada tangisan anaknya.
"Rani,nanti kita beli susu ya,sekarang berhenti dulu nangisnya,nanti nangisnya habis," Dina merayu Rani agar mau berhenti.
Rani terus menangis dan akhirnya berhenti karena tertidur.
"Sungguh kasihan anakku," gumam Dina dalam hati. Rani digendongnya dan dipindahkan ke kamar.
Dina tidak punya uang lagi,sedangkan Rani tidak bisa menunggu,uang tabungannya juga ternyata hanya cukup untuk kegiatan manasik Abang .Dina berpikir untuk meminjam uang,tapi dia tidak tahu pada siapa. Kemudian dia membayangkan seseorang dan berniat untuk meminjam pada orang itu.
"Ibu lapar,sudah masak belum?" Bu Yeni sambil pergi ke dapur.
"Baru mau masak,Bu."
"Bukannya dari tadi,ibu sudah lapar," Bu Yeni kesal.
Walau merasa jengkel tapi dengan segera Dina menyelesaikan kegiatan memasaknya. Seperti robot yang tidak memiliki jiwa,itulah yang Dina rasakan.
Setelah memasak Dina pergi ke Mba Iroh untuk meminjam uang.
"Assalamu'alaikum!" Dina mengetuk pintu.
"Wa'alaikum salam!".
"Oh,ada Dina,ayo masuk!" Mba Iroh mempersilahkan Dina masuk.
"Ada apa Dina?" tanya Mba Iroh.
"Saya mau meminjam uang untuk membeli susunya Rani. Dia menangis terus karena susunya habis,boleh,Mba?".
"Oh,maaf bukannya tidak mau,tapi uangnya sudah dipinjam sama ibu mertua Dina,Bu Yeni. Tadi dia datang ke sini dan meminjam uang," Mba Iroh menjelaskan.
Dina kembali terkejut. Padahal mertuanya tadi melihat Rani menangis,tapi tak sedikitpun dia berkata ada uang.
"Oh,kalau begitu,terimakasih. Maaf ya sudah mengganggu," Dina berpamitan.
__ADS_1
"Iya,tidak apa apa."
Dina pulang dengan rasa kecewa. Mertuanya sudah tua,tapi tidak ada cerminan teladan yang baik dari dirinya,pikir Dina. Menurut Dina perilaku suaminya juga sepertinya karena didikan kurang baik,terlalu dimanja sehingga penuh gengsi dan sombong, jadilah suaminya pemalas dan tidak bertanggung jawab.