
Dengan rasa kesal Dina pulang lagi ke rumah.
"Bu,tadi Dina ke rumah Mba Iroh. Katanya Ibu pinjam uang ya?" Dina berbicara langsung.
"Ya terserah Ibu mau pinjam atau tidak." Bu Yeni malah terlihat tidak peduli.
"Di warung Bu Inah juga Ibu banyak berhutang,tadi Bu Inah menagih ke saya," Dina berbicara sambil menahan kekesalannya,ia tahu yang dihadapi adalah orang tua,dia harus berusaha untuk tidak bersikap kasar.
"Ibu mau makan cemilan,jadi mengambil dulu dari Inah,biasanya kamu kan belanja disana,biar sekalian kamu bayar," Bu Yeni seolah memasrahkan hutangnya pada Dina.
"Ibu tahu berapa jumlah hutang di Bu Inah?" Dina masih menahan sabar.
"Ya tidak tahu,lagipula kamu sebagai menantu yang masih muda, harusnya menanggung biaya orang tua,bukannya Ibu," Bu Yeni terus menghindar dan mencoba lari dari tanggung jawab.
"Yang harusnya berbakti dan sepenuhnya menanggung hidup ibu adalah anak lelaki ibu,yaitu suami saya. Makanya saya mohon dengan sangat tolong ibu minta anak ibu untuk bekerja,biar dia bisa bayar hutang Ibu di Bu Inah yang satu juta lebih juga yang di Mba Iroh," Dina berbicara dengan perlahan agar mertuanya dapat mengerti apa yang Dina ucapkan.
"Apa?satu juta lebih?" Bu Yeni dengan menutup mulutnya karena kaget,dia tidak menyangka akan jadi sebesar itu. Dina hanya mampu menggelengkan kepala sambil membuang napas,tanda dia lelah dengan mertuanya.
"Ibu harus minta sama Dedi,biar dia kirim uang yang banyak," Bu Yeni dengan tersenyum,seraya mengambil ponselnya. Dia segera menelepon anaknya itu.
Bu Yeni memiliki dua anak,Hari adalah anak yang pertama,yang selalu dimanja dan diberikan fasilitas juga yang sangat dibanggakan olehnya karena seorang lulusan sarjana. Sedangkan anak yang satu lagi bernama Dedi,adalah anaknya dari suami kedua yang tidak pernah diperlakukan seperti Hari. Dedi tidak terlalu diperhatikan oleh Bu Yeni,bahkan kalau tidak dapat Beasiswa Dedi mungkin tidak akan disekolahkan ke jenjang SMA. Sekarang Dedi katanya menjadi seorang pengusaha sukses. Dia juga sering memberikan ibunya uang bulanan,tapi Bu Yeni selalu menghambur hamburkannya.
"Tuut.....tuut...tuut.....,"suara ponsel Bu Yeni yang masih belum diangkat.
"Assalamu'alaikum!" terdengar suara seorang lelaki.
"Wa'alaikum salam!,Dedi ini Ibu,kamu kesini dong ke rumah Ibu. Ibu sudah kangen sama kamu,besok ya ke sini!" Bu Yeni penuh drama.
Dina hanya tersenyum melihat kelakuan mertuanya. Saat mendengar kata rindu,Dina tahu kalau mertuanya hanya rindu dengan uang Dedi. Baguslah,berarti Dina tidak usah cape cape memikirkan dan membayar hutang suami dan mertuanya yang seabreg.
Hari berjalan menuju rumah. Puntung rokok yang sudah pendek dibuangnya sebelum masuk. Dina tanpa menyapa langsung keluar bersama anaknya,dia merasa sudah jengah walau sekedar melihat wajah suaminya. Sambil berjalan keluar,sebenarnya pikirannya menerawang jauh . Dia memikirkan tentang susu Rani,pada siapa lagi dia harus meminjam uang?. Lalu dia berpikir untuk meminjam uang pada sahabatnya. Noni sama seperti dirinya bukan orang yang berkecukupan,suaminya juga seorang pedagang yang tidak tentu penghasilannya,hanya bedanya suami Noni bertanggung jawab,tidak seperti Hari suaminya.
"Noni,aku mau minta tolong,boleh aku pinjam uang?aku sudah pusing tujuh keliling karena Rani terus merengek meminta susu," Dina mengeluarkan keluh kesahnya pada sahabatnya.
"Boleh,aku masih ada simpanan sedikit. Aku ambil dulu ya," Noni pergi ke kamarnya untuk mengambil uang.
Noni keluar dengan membawa uang.
"ini,bayarnya kapan saja," Noni sambil tersenyum dan menyodorkan uang pada Dina. Dia memang baik dan selalu membantu Dina.
"Terimakasih ya Noni,nanti sore atau besok,insyaallah aku bayar," Dina sembari menyimpan uang di sakunya.
"Santai saja!kapanpun boleh,itu uang simpananku."
__ADS_1
"Kalau begitu,aku mau beli susu dulu ya!" Dina pamit dengan rasa bahagia. Kali ini Dina bisa membeli susu untuk Rani.
"Iya," jawab Noni seraya mengangguk.
Dina lekas pergi ke toko susu dan membeli susu Rani.
"Alhamdulillah," ucap Dina dalam hati.
Setelah membeli susu,Dina langsung pulang dan menyeduh susu untuk Rani. Plong rasanya kebutuhan anak sudah terpenuhi,walau hasil pinjam,asalkan jangan hasil mencuri. Rani langsung ceria setelah minum susu.
Sore hari tugas terakhir Dina untuk menyetrika sampai malam. Uang hasil menyetrika itu disimpan Dina untuk keperluan besok.
* * *
Pagi ini mertua Dina terlihat begitu ceria. Dedi akan datang untuk berkunjung. Dia menyuruh Dina memasak banyak makanan.
"Tumben ibu masak banyak,mau ada acara apa?" Hari,anaknya merasa aneh.
"Ibu akan punya uang hari ini," Bu Yeni berkata sambil bersenandung.
"Uang dari mana?justru sekarang ibu membuang buang uang,masaknya banyak," Hari tak mengerti.
"Hus,kamu diam saja,nanti juga kamu akan tahu.Akan ada tamu istimewa hari ini," Bu Yeni menyiapkan makanan dengan begitu bersemangat.
"Memangnya siapa yang akan datang,Bu?" Hadi masih penasaran.
"Saya mau menyuapi Abang sama Rani, minta nasi sama lauknya ya Bu?" Rani meminta izin sebelum mengambil makanan.
"Ya sudah,ambil saja,"
Dina segera mengambil piring beserta makanan. Yang terpenting baginya adalah anaknya.
"Saya juga mau,Bu,boleh ya," Hari seraya mengambil ayam goreng.
Tapi Bu Yeni dengan cepat mengambil ayam goreng itu.
"Tidak boleh,nanti kalau Dedi sudah pulang," Bu Yeni keceplosan.
"Oh,ternyata Dedi yang mau kesini. Sekarang dia jadi anak kesayangan Ibu,kan dia sudah jadi orang kaya," Hari terlihat kurang suka mendengar nama Dedi.
"Kalau untuk aku Ibu tidak pernah menyuruh Dina untuk masak sebanyak ini?" Hari merasa iri.
"Kalau kamu maunya di beri uang terus,beda dengan Dedi,dari dulu dia sering memberi bahkan sebelum dia jadi orang kaya," Bu Yeni membandingkan anaknya.
__ADS_1
"Aku juga bisa memberi Ibu uang yang banyak kalau aku sudah dapat pekerjaan," Hari mulai kepanasan.
"Kapan?kapan kapan?" Bu Yeni menyindir anaknya yang pengangguran.
"Ibu tega sekali padaku," Hari merajuk,dengan wajah marah dia merebahkan diri di kursi.
"Makanya Mas,kerja,jangan tidur saja pekerjaannya,harga diri lelaki itu ada pada seberapa jauh dia bertanggung jawab pada keluarganya," Dina dengan nada menasehati.
"Kamu tahu apa soal harga diri lelaki," Hari menyepelekan Dina.
Dina tak menggubris kata kata suaminya. Dia tahu suaminya tak akan mengerti walaupun mulut Dina sudah penuh dengan busa. Dia melanjutkan menyuapi anaknya.Untung hari ini libur,jadi Dina tidak usah mengantar anaknya ke sekolah.
Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Langkah kaki terdengar mendekat memasuki rumah.
"Assalamu'alaikum!" seseorang mengucapkan salam dari luar rumah.
"Wa'alaikum salam!" jawab kami yang ada di rumah.
Bu Yeni segera keluar dan menyambut Dedi dan keluarganya.
"Anaku sayang,bagaimana kabarnya?" Bu Yeni sok dekat dengan anaknya.
Dedi dan istrinya berpandangan sambil tersenyum karena merasa aneh.
"Oh,kami baik baik saja,Bu," Dedi sambil mencium tangan ibunya.
Istrinya bergantian dengan suaminya,mencium tangan mertuanya.
"Ini ada sedikit oleh oleh dari kami,maaf hanya sedikit," Dedi dan istrinya membawa oleh oleh berupa makanan yang banyak.
"Padahal tidak usah,jadi merepotkan," Bu Yeni sambil mengambil oleh oleh dengan cepat.
Hari nampak tidak peduli dengan adiknya. Dari dulu memang Hari tak pernah merasa selevel dengan adiknya,dia merasa paling pintar dan disayang melebihi Dedi. Juga karena mereka bukan dari ayah yang sama,itu menjadi penyebab rasa tidak suka itu muncul. Jadi dia hanya bersalaman tanpa menyapa.
Dina dan anak anaknya bersalaman bergantian.
"Ini untuk jajan!" Dedi memberikan uang kepada Abang dan Rani. Mereka terlihat senang ketika menerimanya.
"Katakan,terimakasih Om!" Dina mengajari anaknya.
"Terimakasih,Om," kedua anak Dina berterimakasih.
"Jadi merepotkan",Dina dengan malu malu.
__ADS_1
"Tidak apa apa,Kak,jarang sekali saya kesini,mumpung ada disini jadi saya ingin berbagi rezeki," jawab Dedi.
"Mari duduk,kita mengobrol dulu,sudah lama kita tidak bertemu," Bu Yeni mempersilahkan tamu. Hari yang sedang duduk di kursi diusirnya segera.