Suamiku (Bukan) Biseksual

Suamiku (Bukan) Biseksual
Ingin Sembuh


__ADS_3

Cahaya matahari merangkak naik ke permukaan. Perpaduan warna langit putih dan biru muda menambah kesan sejuk pagi ini. Lain hal lagi dengan perasaan Rey yang sedang kacau. Mata sembab, karena tangis semalam dan subuh tadi masih tersisa.


Rey melangkah ke lemari mencari jilbab. Ia melirik suaminya yang masih sibuk memainkan ponsel. Mendadak Rey terlihat seperti orang linglung berdiri di depan lemari menatap kosong tumpukan jilbab yang tersusun rapi. Bukan karena bingung mau memilih yang mana yang harus dipakai, tapi bingung harus bersikap bagaimana dengan  Zafran.


“Rey, eh ... Dek, melamun?” tegur Zafran, entah sejak kapan ia berdiri di samping Rey yang sedang menatap lemari.


Rey gelagapan sendiri “Eh, enggak. Pusing,” jawabnya asal.


“Dari tadi dipanggil Bunda, keluar yuk!” ajak Zafran sambil memilihkan jilbab mana yang harus Rey kenakan. Jilbab instan berwarna abu-abu menjadi pilihannya.


“Mas ...” lirih Rey memanggilnya..


“Iya, mas tahu. Jangan sampai Bunda tahu masalah kita kan?” tanyanya.


“Iya... Mas, duluan. Nanti aku nyusul.” Rey sengaja menyuruhnya keluar kamar lebih dulu. Ia ingin sedikit menyegarkan wajahnya agar tak terlalu terlihat sembab.


Selang dua puluh menit kemudian, Rey memutuskan untuk keluar kamar. Bunda masih sibuk menyiapkan sarapan, Zafran terlihat membantu Bunda sambil berbincang. Bukan harusnya Rey yang membantu bunda menyiapkan sarapan? Tapi, Rey yakin, bunda mengerti keadaannya saat ini. Zafran menghentikan pembicaraannya saat melihat kedatangan Rey. Begitu pun Bunda, melayangkan tatapan teduh kepada anak satu-satunya itu.


“Bunda, maaf Rey kesiangan,” ucap Rey merasa bersalah. “Harusnya Rey yang menyiapkan sarapan untuk Bunda dan Mas Zafran.”


“Duduklah, nak. Sebentar lagi selesai,” ucap bunda sambil menata beberapa piring yang disiapkan untuk kami sarapan.


“Bunda, saya ijin mau bawa Rey ke rumah Mama boleh?” Zafran meminta ijin pada Bunda.


“Boleh. Ayo sarapan dulu!” ajak bunda.


Tak banyak pembicaraan yang terdengar saat kami sarapan. Rey lebih memilih untuk diam, saat Bunda sesekali bertanya tentang rasa masakan ini.


“Tumis sayuran ini, Zafran loh yang buat. Gimana rasanya, Rey?” tanya Bunda. Rey hanya melirik ke arah Mas Zafran. Rey tahu jika suaminya itu ahli dalam hal masak memasak. Berbanding jauh dengan dirinya.  Rey memang sering membantu Bunda di dapur, tapi jika harus memasak masakan sendiri, dia akan angkat tangan. Rasanya jika tidak hambar, pasti keasinan. Payah memang.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


 Zafran bersedekap, bersandar dipunggung ranjang tempat tidur. Pria itu memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam. Meski matanya terpejam, alis tebalnya beradu, tanda dia sedang memikirkan sesuatu. Aku mematung diujungnya, menyisakan jarak yang cukup jauh dengan kedua bantal dan guling di tengahnya. Rey sedang berfikir keras, berusaha menebak isi pikiran Zafran.


Masih pengantin baru sudah marahan begini. Zafran membuka mata, meluruskan kaki yang semula bersilah. Menatap Rey dengan kening berkerut.


“Tadi Mas ijin Bunda, mau ajak kamu ke rumah Mama. Kita butuh bicara, Dek,” ucapnya lembut. Melihat istrinya masih terdiam, dia beranjak dari ranjangnya. “Lekas ganti pakaian. Mas tunggu di luar,” lanjutnya. Menatap nanar punggungnya, Rey masih sangat-sangat mencintainya. Rey berharap suaminya bisa sembuh. Menjadi suami yang sempurna untuk Rey.


Rey mengambil ponselnya di atas meja rias, mencoba menghubungi Naira, berharap sahabatnya itu mempunyai jalan keluar untuk msalahnya itu.


[Ra, besok aku ke rumah ya. Ada yang pengen aku omongin.]


[Wah, pengantin baru kenapa, ni.]


[Besok aja ceritanya]


Bergegas Rey keluar kamar, Zafran sudah terlalu lama menunggunya.


“Kita naik motor aja ya, ayo naik!” titahnya yang sedari tadi sudah siap di atas motor.


“Dek, di depan ada polisi tidur. Pegangan dulu sebentar. Nanti kamu jatuh. Aku gak suka lihat kamu terluka,” titahnya. Suka bercanda laki-laki ini. Tak ingin melihat Rey terluka katanya? Kenyataannya bagaimana?


“Bangunin aja polisi tidurnya, Mas,” balas Rey ketus. Dari tadi duduk di motor, Rey memang enggan berpegangan pada bahu atau memeluknya. Posisi duduknya yang miring membuat Rey bisa berpegangan pada jok belakang motor.


Motor tiba-tiba berhenti. Zafran mematikan mesinnya, lalu turun tanpa membuat Rey ikut turun. Dia berusaha menahan motor ini agar tetap seimbang. Astaga, ini sungguh konyol.


“Oke ... Oke ... aku pegangan,” ucap Rey usai  mendapatkan tatapan mata menusuk dari suaminya. “Mas Zafran naik lagi cepetan, aku malu diliatin orang.”


Zafran kembali naik ke atas motor, menyalakan mesinnya, kemudian melaju sedang setelah Rey berpegangan pada bahunya. Ia melirik suaminya dari kaca spion depan sedang begitu fokus pada jalanan. Tiba-tiba dia balik melirik Rey dari kaca spion. “Kamu cantik kalo lagi cemberut. Bawaannya pengen gadoin aja. Mubazir kalo dianggurin,” ledeknya Zafran.


“Emang aku makanan! Heuh." Rey mendengus pelan.


“Makanan itu kebutuhan, Dek. Kalo kamu itu kesayangan.”

__ADS_1


Blush! Rey tertegun, mungkin pipinya sudah merah merona sekarang. Zafran menggombal di saat Rey sedang kecewa padanya saat ini.


 Zafran memarkirkan motornya di pinggir jalan. Ternyata di trotar ada penjual es buah, Ia meminta Rey untuk turun lebih dulu.


“Bang, es campurnya dua ya. Di sini aja.” pinta Zafran pada abangnya.


“Begini loh, dek. Mas gak mau ngomong dirumah takut Bunda dengar.” Lanjut Zafran bicara pada Rey.


“Iya, aku paham.”


“Mas pengen sembuh, Dek. Mohon bantu, Mas! Setelah ini mas janji gak akan bikin Adek kecewa lagi. Jika harus berobat atau terapi, akan mas lakuin, yang penting mas bisa sembuh,” ucap Zafran mencoba meyakinkan istrinya.


“Iya, Mas. Asal mas mau benar bersungguh-sungguh, akan aku temani sampai sembuh.”


“Mas, janji akan lepas dari Rendi. Mas mau jadi milik Adek sepenuhnya. Maafin mas ya!” ujar Zafran sambil mengusap kepala Rey. Abang tukang es campur melirik.


“Kita baru kemarin nikah bang, maafkan atas keuwuan kita ya,” canda Zafran.


Tak berselang lama, ponsel Zafran berdering. Terlihat nama Rendi di sana.


“Iya, Ren!” Zafran menjawab panggilan itu sambil melirik Rey.


“Harus banget sore ini?"


“Yaudah, tunggu.” Zafran menutup panggilannya.


“Sore ikut mas ketemu Rendi ya,” pinta Zafran pada istrinya.


Baru saja tadi Zafran bilang mau sembuh, buat apa jika masih menemui laki-laki itu. Pasangan sesama jenis itu akan lebih posesif dengan pasangannya dari pada seorang istri pada suaminya.


 

__ADS_1


__ADS_2