Suamiku (Bukan) Biseksual

Suamiku (Bukan) Biseksual
Ancaman


__ADS_3

Seperti pinta Zafran siang tadi, sore ini ia mengajak Rey untuk menemaninya bertemu dengan Rendi. Ada rasa jijik sebenarnya di hati Rey saat nama itu terucap. Jika ia tidak menemani suaminya, pasti hal itu akan terjadi lagi. Jika Rey menemaninya, ia takut tak bisa mengendalikan diri untuk tidak berkata kasar pada laki-laki itu.


Zafran memarkirkan mobil di depan sebuah rumah besar bercat putih.


“Ayo Dek, turun!” Zafran mengajak Rey untuk ikut turun. Sedang wanita itu, masih asik scroll ponselnya untuk mencari beberapa artikel.


“Aku di mobil aja, Mas. Mas aja yang masuk. Tapi, nggak pake ngapa-ngapain, ya. Langsung kasih berkasnya kemudian pulang.” Pesan Rey mengingatkan suaminya.


“Tunggu ya, dek.” Zafran kemudian berlalu, terlihat memasuki gerbang rumah itu.


Rey masih asik mencari artikel tentang penyakit suaminya itu. Ya, harus diakui itu adalah sebuah penyakit.


Ternyata Rey salah mengira. Jika Zafran tertarik pada Rendi, dan bisa mencintai Rey juga, bukan g*y namanya. Bi***sual!


Bi***sual adalah orang-orang yang memiliki ketertarikan yang sama kuat pada laki-laki dan perempuan, baik secara emosional, romantis, intelektual, dan atau seksual. Ketertarikan ini bisa terjadi pada dua orang di saat yang bersamaan atau satu orang dan lainnya berlainan waktu. Dibutuhkan peran orang lain untuk menyembuhkan kelainan ini.


Ibarat pengguna narkoba, orang yang berperilaku akan sukar untuk keluar dari lingkungan yang mendukung perilaku tersebut.


Dengan kata lain, Zafran bisa dikatakan sembuh jika dijauhkan dari salah satu pasangannya. Jika dia benar-benar mau sembuh, dia harus siap jauh dari Rendi. Jika tidak, mungkin Rey yang akan menjauh.

__ADS_1


Sudah setengah jam Rey menunggu Suaminya yang tak kunjung kembali ke mobil. Semoga apa yang ditakutkan wanita itu idak terjadi lagi. Akhirnya Rey memberanikan diri masuk ke dalam rumah itu. Rumah yang sepi, hanya ada Rendi dan beberapa asisten rumah tangga. Rendi dan  Zafran sedang terikat pada sebuah proyek pekerjaan yang membuat mereka menjadi sering bertemu.


Rey menyusuri rumah Rendi semakin dalam, mencari keberadaan  Zafran. Tak lama terdengar suara gelak tawa Zafran dari arah ruang kerja Rendi. Terlihat pemandangan yang seharusnya tak pantas terlihat. Rendi yang sedang bertelanjang dada, berdiri membungkuk di belakang Zafran yang sedang sibuk dengan laptop di depannya. Sesekali Rendi terlihat mencium telinga Zafran. Menjijikan.


“Mas Zafran!” Teriakan Rey mengagetkan keduanya. Ret mencoba menahan tangis agar tak terlihat oleh mereka. Ia tak boleh kalah dengan laki-laki itu yang sudah merusak suaminya.


“Nih, Lo lanjutin sendiri. Tadi kan udah gue ajarin. Nanti kalau sudah, kirim ke email gue aja,” ucap Zafran pada Rendi kemudian beranjak dari meja kerja, lalu menghampiri Rey.


“Ayo Dek, kita pulang,” ajak Zafran dan mereka segera meninggalkan rumah itu.


“Shit!” Rendi terlihat sangat kesal dengan keberadaan Rey.


Sepanjang perjalanan pulang, Rey membisu. Ia tidak mengucap sepatah kata pun, selain hanya mendengarkan Zafran bercerita. Sampai diamnya terbawa ke dalam kamar sejak lima belas menit lalu. Ah! Rey berharap bisa mengutuk lelaki laknat itu.


“Sayang, coba tolong buka laci lemari itu. Nanti di dalamnya ada kotak kecil kamu ambil,” titah Zafran.


Rey membuka laci tersebut, benar saja, di sana ia temukan kotak kecil berwarna hitam.


“Ini Mas?”

__ADS_1


“Buka, Dek. Itu buat kamu.”


Rey membuka kotak kecil yang digenggamnya. Ternyata isinya gantungan kunci karakter lumba-lumba dengan pom-pom berwarna merah di tengahnya.


“Lucu ....” Rey gemas melihat benda itu. “Kapan belinya, Mas?”


“Waktu itu, lagi beli cincin buat kamu sama Mama. Kebetulan Mas liat itu dipajang. Tadinya memang tidak dijual, Mas beli paksa.”


“Mas sengaja beli buat aku, gitu?”


“Iya. Kamu tahu, kan, hewan mamalia laut itu selain lucu dan pintar, mereka juga paling setia pada pasangannya. Katanya mereka akan selalu melindungi pasangannya dari serangan hiu meski harus mempertaruhkan nyawa mereka.”


“Makasih, Mas.”


Rey mengukir senyuman. Dalam sekejap Zafran  berhasil membuatnya melupakan kekecewaan itu.


Tak berselang lama, ponsel Rey berbunyi. Satu pesan baru ia terima. Ia merai h benda pipihnya yang tergeletak di atas kasur.


[Akan kurebut kembali apa yang harusnya menjadi milikku. Kau hanya wanita lemah, Rey! Dia akan kembali ke pelukanku.]

__ADS_1


Nomor siapa ini? Berani mengancam Rey.


__ADS_2